Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 218


__ADS_3

Panji keluar dengan menutup wajahnya ia takut jika ada yang mengenali dirinya


ia mengunakan masker agar orang-orang tak curigai dengan wajahnya yang sangat mirip sekali dengan Arika itu


"Panji jadi kita adalah saudara? saudara kandung satu ayah satu ibu hanya saja kau lahir dari perut mama Siska , adikku "


Arika matanya kembali berkaca-kaca


"Baiklah benar yang dikatakan Panji aku tak boleh merusak kebahagiaan mama hari ini ,biar nanti saja membahas semuanya karena aku akan segera kembali ke Jogja untuk melihat Papa"


Arika langsung bersemangat lagi dengan sangat rapi ia menghapus air matanya dan membubuhkan riasan tipis diwajahnya kembali


Disaat yang bersamaan Siska yang sedang berpose dengan yang lainnya melihat punggung Panji yang berlalu meninggalkan tempat itu dari belakang


Kenapa aku seperti tak asing dengan lelaki itu ya , tapi dimana aku pernah melihatnya ya ...


Seketika pikiran Siska kembali buyar saat teriakan Arika menghampirinya dengan sangat keras sekali


"Mamaku sayang selamat menjadi seorang istri ya" ucap Arika menghampirinya kembali


lagi-lagi Siska dibuat pusing dengan kedatangan Arika


Wajah Arika nampak begitu ceria tak sama seperti yang tadi berpoto dengannya , sebenernya Siska sudah berpikir jika itu adalah panji ,namun mustahil sekali Panji muncul ditengah pernikahanmya lagi pula tak ada hubungannya sama sekali antara ia dan panji pikirnya


Siska berhentilah berpikir tentang hal-hal yang sudah kau tinggalkan ,aku tak mau mengingatnya ,meski anak itu pernah satu


Minggu di ajak oleh Arjuna untuk tidur berempat denganku dan arika rasanya benar-benar sangat sakit sekali jika harus membayangkan hal itu aku tak sesempurna itu untuk bisa menerima semuanya ,aku terlalu rapuh untuk bisa mendapatkan pahala dengan jalur itu aku hanya manusia biasa yang belum sempurna keimanan ku masih sangat lemah dan rapuh sekali


"Ma,. ayo kita Poto lagi "


Arika nampak sangat bersemangat lagi


"Sayang bukannya tadi kita sudah berpoto"


"Tadi kan beda Ma.,. ah mama ayo Ma "


"Baiklah "


Arika langsung berdiri disampingnya Siska


lagi-lagi Siska kaget kenapa Arika jadi sama tinggi dengannya


Aku yang sudah tua atau bagaimana ya , Kenapa Arika yang tadi lebih tinggi dan sekarang sudah normal kembali , uh sepertinya aku sudah terlalu lelah karena kebanyakan berpoto mungkinkan


Siska mengikuti saja apa yang diinginkan oleh Arika


Rupanya Bian yang telah kembali dan duduk manis melihat dari samping dan tersenyum -senyum malu melihat Arika yang berpoto dengan mengembangkan senyuman itu


"Dia benar-benar menarik sekali ya "


Bian langsung terdiam


"Astaga Bian apa yang sedang kau katakan Hentikan semuanya Bian , kenapa kau malah memujinya "


Bian mengusap wajahnya


untunglah Arika tak melihat ia yang sedang tersenyum-senyum dari tadi memperhatikannya karena sekarang ia bukanlah Panji , bisa habis Bian nanti kena pelototi Arika kalau sampai ketahuan memandangi nya seperti itu


"Nah Ma , sekali lagi ya "


"Baiklah Sayang "


Arika begitu bersemangat sekali hingga akhirnya ia menyadari Alea tak ada disana


"Mana Alea ya ?"


Alea yang dari tadi menunggu papanya kembali dari toilet tampak sangat kesal "Papa lama sekali kenapa sih lama banget ,masa buang air saja lama sekali uh !"


Siska langsung menyuruh Arika untuk memanggil Alea "Nak ayo ajak Alea kemari , ngapain dia hanya berdiri saja disana cepat Lihatlah "


"Baik Mama"


Arika langsung menarik tangan Alea


"Ayo kita berpoto bareng mama ,disana"


"Nanti saja Arika aku lagi menunggu papa lama sekali papa keluar dari toilet aku sangat kesal sekali , masa iya mama dari tadi berpoto sendirian sama kita-kita aja "


"Sudah biarkanlah papa kan lagi sakit perut jangan kau ganggu ayo cepat kita kesana saja ,mama menyuruhku untuk memanggilmu "


Alea langsung heran "Arika tunggu dulu "


"Ada apa lagi ?"


"Sebentar " Alea memandang wajah Arika dengan sangat aneh sekali ia memandang setiap sudut wajahnya Arika


"Tunggu dulu , kenapa wajahmu ada make up nya , bukannya tadi kau tak memakai makeup , dan kenapa sekarang kau baru mau berbicara dengan lancar sekali sedangkan dari tadi aku mengajakmu berbicara kau sama sekali tak menjawabnya ,ayo mengakulah "

__ADS_1


Arika terdiam


Hadeh rupanya ada juga yang teliti dengan wajahku , hmm hebat aku salut padamu Clara ,kau bisa tau ya ..hmm baiklah


Arika langsung tertawa dengan keras untuk menutupi semuanya agar Alea tak terus-menerus curiga dengan apa yang terjadi


Haha maafkan aku Alea aku tak mungkin menceritakannya sekarang jika itu adalah Panji adikku dan juga akan menjadi adikmu juga , ia yang tadi menyamar menjadi aku


"Oh itu tadi aku sengaja memang tak mau berbicara dan tidak memakai make up karena menurut kepercayaan leluhurku jangan sampai kita berbicara saat seseorang sedang melaksanakan akad nikah dan juga tak boleh make up "


"Oh ya aku baru mendengarnya , Kenapa harus begitu Arika ?"


"Karena yang menikah adalah janda dan duda jadi diharapkan agar pernikahan mereka ini menjadi pernikahan yang terakhir begitu"


"Wah kalau tau begitu aku tadi juga mengikuti tradisi leluhurmu itu Arika"


"Tidak usah menurut kepercayaan leluhurku cukup satu orang saja dari salah satu anggota keluarga pengantin , jadi kau tak perlu melakukannya santai saja"


Alea menganggukkan kepalanya tanda mengerti , lagi-lagi Arika tertawa didalam hatinya


"Maafkan aku Alea kau aku bohongi lagi tapi ini lah yang dinamakan berbohong lebih baik dari pada harus jujur ,bisa mengacaukan segalanya nanti "


Saat mereka sedang mengobrol tersebut , tiba-tiba Bian langsung menghampiri Arika dengan tersenyum-senyum manis , menghampiri mereka berdua ,Arika pun langsung berbisik pada alea " Alea kau lihat kenapa dia kemari ?"


Arika lupa jika dari tadi Panji duduk bersebelahan disampingnya Bian


"Ah kau amnesia ya , dari tadi bukannya kalian duduk bersebelahan jadi wajar saja dia melemparkan senyum manisnya padamu , ya kan kalian juga akan segera menikah sebentar lagi , setelah itu aku yang akan menikah dengan Raja "


"Aku rasa ini semua sama sekali tidak lucu , bercandamu kali ini "


Alea hanya tersenyum geli saja sambil menunggu papanya


"Duh ,papa lama sekali heran ya !"


marah


"Maaf menganggu kalian bolehkah aku bergabung ?"


tanya Bian mendekati mereka


membuat Arika sangat jijik sekali melihatnya ingin sekali ia memaki Bian persis seperti ditelpon malam tadi namun tak mungkin ia sedang berada ditengah keramaian


Kenapa tingkahnya menjadi menjijikkan sekali ya , aku bahkan melihat dengan tatapan sungguh jijik, kenapa dia sok dekat banget


Belum sempat Arika menjawabnya Bian ternyata juga ingin ikut berpoto seperti mereka


sapa Bian dengan lembut


Alea pun langsung mundur beberapa langkah dan hendak pergi meninggalkan mereka berdua agar lebih mudah untuk saling mengenal satu sama lainnya


"Ehemmm...ehem.... tenggorokanku tiba-tiba sangat gatal sekali ,aku ingin mencari minum"


Arika melirik Alea ,


"Alea tenggorokan mu gatal ya sudah sini aku bantu garuk ya ? "


Tatapan mata Arika mengisyaratkan agar Alea tidak pergi dari sisinya


Sialan Alea mau kemana dia , amit-amit sekali , kenapa sih dia harus kabur dan meninggalkan aku seorang diri disini sih ,Alea kau keterlaluan sekali !


"Sebentar Arika aku haus ,jika aku tak mencari air bisa kehausan aku nanti"


"Ya sudah biar aku temani saja bagaimana ?"


"Tidak usah sebaiknya kau disini saja , aku tak mau merepotkan orang lain hanya karena perkara air minum saja "


Arika melotot kearah Alea namun Alea sepertinya sama sekali tak perduli dengan tatapan Arika tersebut


"Maafkan aku Arika aku tak mau ikut-ikutan kau dengan Bian bisa bahaya nanti , kalian sebaiknya urus saja urusan kalian sendiri "


pergi meninggalkan Arika


"Alea kau keterlaluan sekali meninggalkan aku seorang diri seperti ini apa kau tak iba melihat aku ha?"


Arika tak mungkin kabur atau mengatakan hal yang tidak pantas pada Bian karena ada aditya dan Ana didekat situ , namun bisa juga itu karena pengaruh perjanjian mereka malam tadi Arika berusaha bersikap profesional saja meski rasa kesalnya sudah diubun-ubun sekali


Jika saja suasana tak ramai , sudah dipastikan Arika pasti juga ikut kabur , tapi tak bisa karena Ana dan Aditya sedang memandang kearah mereka berdua saat ini


"Pa kau lihat Bian dan arika sungguh sangat cocok sekali ya , bayangkan saja dari tadi mereka terus-menerus berduaan saja "


"biarkanlah Ma , namanya juga pendekatan biar nanti setelah menikah tidak canggung lagi , mama ini seperti tidak pernah muda saja "


"Bukan begitu Pa , mama melihat mereka berdua cepat sekali akrabnya jadi ingat kita dulu waktu muda ya "


" Tapi mereka tidak seperti kita , mereka berdua sepertinya saling jatuh cinta tak seperti kita yang benci dulu waktu cinta "


Ana pun langsung tersipu

__ADS_1


"kau dulu membenciku tapi setelah rudal ku menembus pertahananmu kau mulai jatuh cinta padaku kan "


Aditya mengangkat kedua alisnya ,dan menyenggol bahu Ana untuk menggodanya


Ana langsung malu-malu wajahnya pun langsung merah


"Papa ! dengar baik-baik ya ,kau salah besar mana mungkin gara-gara itu aku jatuh cinta padamu ,bikin malu saja "


Ana langsung marah


Melihat lirikan mata Ana yang sedang marah Aditya pun langsung membujuknya


"Sayang jangan marah dong, nanti hilang cantik nya , ayoo dong jangan malu-malu tua begitu malu dong sama anak muda "


"Ah papa saja yang tua ,mama masih muda "


Ana langsung berjalan meninggalkannya


"Kacau kalau seperti ini ceritanya malam nanti aku pasti akan tidur diluar begini hadeh... Aditya kau sungguh malang sekali nasibmu apesss , Padahal kan aku hanya sedang bercanda saja "


mengusap wajahnya


Sedangkan Bian masih mencoba untuk bersikap baik pada Arika karena pesona senyuman manis yang membuatnya klepek-klepek hari ini


"Kau mengajakku berpoto ya ?" tanya Arika sinis dengan lirikan mata yang sangat jijik sekali


"Iya Arika ayo ?"


"Apa ini termasuk dalam perjanjian kita untuk saling berpoto satu sama lainnya ?"


Menahan emosinya


"Iya tidak apa-apa kan kita harus bersikap profesional bukan begitu akan lebih baik ?"


Menyebalkan profesional apanya justru akan menyusahkan aku saja ,mana mama papamu dari tadi melihat kesini terus,oh Tante dan om kenapa kalian yang baik dan sempurna itu bisa melahirkan anak laki-laki seperti dia ini , munafik sekali sikapnya ,


Namun Bian merasa kembali aneh karena ucapan dan lirikan mata Arika yang berbeda dari tadi


Kenapa ia memakai make up ya , perasaan tadi ia tak memakai apapun diwajahnya dan juga apa aku yang merasa aneh perasaan tadi ia juga tak sependek ini atau tadi ia memakai sepatu hak tinggi ya ,


Bian yang mulai penasaran dengan apa yang ia rasakan langsung saja membuatnya bertanya langsung


"Arika tadi perasaan.kamu bisa sama tinggi denganku tapi sekarang kok udah sebahu ku lagi ya, dan juga tadi kamu tidak memakai make up lalu kenapa sekarang seperti.itu ,tadi juga kamu sangat ramah tapi sekarang balik lagi jutek, kok manusia seperti kamu bisa cepat sekali berubah ya ?"


Arika menarik nafasnya dalam


sungguh dia ini adalah makhluk yang benar-benar lupa bercermin , ini yang dinamakan , gajah di pelupuk mata tidak nampak namun semut disebrang lautan kelihatan , apa dia tidak sadar jika ia itu lebih munafik dari apapun


mm...aku pikir hanya Alea saja yang memperlihatkan penampilanku secara detail rupanya makhluk ini juga kenapa rasa jijik ini semakin besar saja , Tuhan bisakah aku menghilang saat ini dari hadapannya karena melihat ia menatapku saja membuat kepala ku langsung pusing tujuh keliling


Arika menarik nafasnya dalam-dalam dan menjawab semuanya , dengan emosi yang ia tahan


"Oh ya , aku rasa kau sudah mulai jompo , lagian masalah buat loh aku mau ngapain aja , mau pake make up,mau pendek, tinggi bukan urusanmu , permisi !"


Arika langsung buru-buru pergi meninggalkannya


"Sial ! kenapa jadi begini ya ,apa aku salah bertanya seperti itu ya , kan aku hanya bertanya saja , lagian kenapa dia benar-benar cepat sekali berubahnya , power ranges saja berubah butuh waktu juga nah Arika hanya satu menit langsung kembali pada sikapnya semula"


Menarik nafas dalam-dalam


"Rasakan berpoto saja sama pohon atau kursi yang ada didekatnya , menyebalkan memangnya ada yang salah dengan make up yang aku pakai, dengan ukuran tinggi badanku , menyebalkan sekali dia ,seball..."


Bian masih memandang Arika yang sedang pergi menghindar darinya


"Mau kemana lagi dia , tapi kok serius , manusia memang benar cepat sekali berubahnya ,Arika balik jutek lagi ya , padahal kenapa aku lebih suka melihat ia kalem seperti tadi , manis sekali senyuman nya dan lebih ayu, kalau sekarang ia benar-benar terlihat sangat ganas sekali seperti seekor harimau yang sibuk mengaum , tapi ya sudahlah mungkin saja ia tiba-tiba sedang datang bulan jadi moodnya hilang seketika ya kan"


Bian senyum-senyum sendiri membayangkan dirinya yang kelihatan tolol sendiri itu


"Hah kenapa aku jadi memikirkannya haduh Bian kacau "


sementara itu dari dalam toilet Arya langsung keluar dengan senyuman yang merekah bahagia sekali


"Uh akhirnya dunia baru kelihatan cerah nya"


Tersenyum sangat lebar sekali , sambil menepuk perutnya berkali-kali


Puk .


Puk..


"Ah lega sekali akhirnya keluar juga,perut jangan lupa bekerjasama lah dengan baik ya ...kak Arya mau mendekati dek Siska "


merapikan rambutnya dengan meniup ujung tangannya dan menyapukan kepalanya


"Hah..."


agar lebih tampan ucapnya dalam hati

__ADS_1


__ADS_2