
"Jadi namanya Raja ?"
"Iya Pa, Alea yakin pasti papa akan suka ,kalau melihat ia pertama kali , karena selera Alea dan papa kan sama "
ucap Alea dengan penuh bersemangat
Hmmm iyakah? selera kau dan papa sama ?
belum tentu sayang aku memiliki banyak kriteria untuk laki-laki yang ingin mendekatimu , kau adalah putriku satu-satunya dan aku menjagamu dengan sepenuh jiwa dan ragaku ,
tidak sembarangan laki-laki yang bisa mendekatimu ,yah meskipun kau mengatakan ia sangat baik dan bertanggung jawab , tapi saat aku mengatakan dia tidak pantas untukmu maka , maafkan papa Alea . dia harus angkat kaki dari hatimu , karena orang tua tau mana lelaki yang baik dan buruk
"Baiklah kalau begitu Alea beristirahatlah dahulu , papa tidak melarang Alea untuk menyukai Siapapun ,namun Alea tau kan ilmu agama, walaupun papa bukan seorang ahli agama yang taat tapi papa selalu menekankan pada Alea jika tanggung jawab papa itu pada Alea dihadapan Tuhan sangatlah besar ,hati itu memang tempat untuk menyimpan atau mengungkapkan sebuah perasaan , tapi ingat cinta yang sebenarnya adalah yang membuat pelakunya menjadi lebih baik , bukan sebaliknya menjadi lebih buruk "
Nasehat Arya pada putrinya
"Baik Papa Alea mengerti "
"Papa ini sudah malang melintang di dunia percintaan , untuk masalah hati bisa dikatakan papa mengetahuinya, mulai dari hati yang bahagia ,sampai hati yang paling tersakiti ,
Alea jangan pernah tertipu dengan sikap manis para laki-laki diluaran sana , karena papa ini laki-laki dan rata-rata otak lelaki itu sama saja , papa tidak bisa melarang Alea untuk tidak menyukai siapapun saja, tapi ingat jangan terlalu berlebih-lebihan dalam menyukai seseorang karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik "
Alea langsung mengangguk ,baru kali ini mereka berbicara serius Antara ayah dan anak ,
meski mereka berdua tidak menyadari jika dari dalam kamar neneknya dari tadi memperhatikan apa saja yang mereka lakukan berdua
"Aastaga rupanya cucuku sudah dewasa dan ia sedang mengalami perasaan tertarik pada lawan jenis"
Alea langsung memeluk Arya "Papa, Alea hanya ingin bercerita saja pada papa, papa jangan khawatir tidak ada seorangpun laki-laki didunia ini yang bisa mengalahkan cinta Alea untuk Papa "
Arya tersenyum seakan tak rela jika putrinya telah beranjak dewasa namun ini memang sudah menjadi hal yang wajar ,jika Alea semakin hari telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan berbakat
"Ya sudahlah sekarang kembali kekamar mu karena besok pagi Alea akan ikut papa bertemu dengan teman-teman baik papa dan keluarganya , selama ini kan Alea tak pernah tau siapa saja teman-temannya papa hanya sesekali saja bertemu dan mendengar namanya"
Alea langsung tersenyum
Tentu saja Papa, Alea memang tak tau siapa teman-teman papa tapi Alea tau siapa teman papa yang masih bersembunyi didalam hati papa, Tante Siska kan Pa ?" mamanya arika ?"
Alea tersenyum manis "Baiklah Papa, Alea akan tidur dengan nyenyak Malam ini , Alea juga selalu berdoa yang terbaik untuk papa, karena Alea sangat menyayangi papa "
mengecup kening putrinya ,Alea pun berlari masuk kedalam kamarnya
Setelah Alea masuk kedalam kamarnya , sekarang tinggal Arya yang berdiri sendirian diluar kamar , perlahan-lahan ibunya membuka pintu kamar dan menghampiri putranya tersebut ,ia tau apa yang ada didalam pikiran Arya , ia tau bagaimana perasaan Arya saat ini
"Nak ..."
"Ibu belum tidur ?"
"Belum , ayo duduk didepan ibu ingin berbicara denganmu "
Arya langsung mengikuti ibunya yang mengajaknya untuk berbicara didepan teras rumahnya
"Bu sudah malam apa sebaiknya kita tidak berbicara didalam rumah saja Bu ?"
"Ibu ingin melihat langit malam ini Nak, Seperti nya banyak sekali bintang yang sedang bertebaran diatas sana "
Arya pun mengikuti langkah kaki gontai tersebut keluar rumah
"Nah duduklah dulu disini "
Arya pun langsung duduk disamping ibunya
dengan menghela nafas panjang sekali
"Ada apa Bu "
"Nak ibu tau bagaimana perasaanmu saat ini , memang tak mudah bagimu untuk menghadapi situasi ini ,namun memang fase ini harus kau lalui , Alea sudah menjelma menjadi gadis remaja , bukan anak kecil lagi , ibu tau memang sangat sulit sekali bagimu untuk menerima kenyataan, namun ini harus terjadi Arya , kewajiban seorang ayah adalah membesar dan mendidik anaknya , namun kau harus melepaskannya nanti itu memang suatu keharusan Nak ,lambat laun jika bukan Alea yang jatuh hati maka akan ada laki-laki lain yang jatuh hati padanya , karena putrimu memang dianugerahi wajah yang cantik "
Alea langsung menempelkan kepalanya didinding "Sama halnya Alea yang semakin dewasa , ibu pun begitu , lihatlah ibu sudah semakin tua saja , tinggal menunggu sisa-sisa hidup lagi , kau masih muda dan masih sangat tampan , ada baiknya kau juga memikirkan pendamping untuk menemani masa tuamu nanti , Alea juga butuh kasih sayang dari seorang ibu , meski ibu , kau menjaganya dan merawatnya dengan berlimpahan kasih sayang , namun tetap saja kasih sayang seorang ibu itu sangat lah penting untuknya ,apa lagi dimasa remaja saat sekarang ia mengenal rasa tertarik kepada lawan jenisnya , kau sibuk nak ,alea butuh teman untuk berbagi cerita , ibu tak selamanya ada didunia ,ini sewaktu-waktu ibu bisa saja tidak ada lagi di samping kalian "
Mendengar ucapan ibunya Arya langsung terdiam ,ia merenungi apa yang diucapkan oleh Ibunya
"Renungkanlah apa yang ibu katakan karena hidup ini bukan hanya memikirkan diri sendiri saja ,namun juga memikirkan kedepannya , bagaimana kedepannya , kehidupan yang bagaimana yang harus kita jalankan ,masa tua kita mau dihabiskan seperti apa? , karena anak perempuan setelah menikah ia memiliki kewajiban untuk patuh kepada suaminya , bukan kepada ayahnya lagi, ibu takut kau tak siap menghadapi hari itu nanti , jika tak memiliki pendamping hidup nanti "
Arya tak berbicara apapun lagi karena apa yang dikatakan ibunya itu memang benar adanya ,dan memang harus terjadi
ibunya mengelus kepala Arya
"Ibu mau masuk dulu , pikirkanlah semuanya baik-baik Nak, sama halnya ibu melihat dirimu nak ibu selalu menganggap kau putra kecil kesayangan ibu "
Tertawa terkekeh-kekeh dan kembali masuk kedalam rumah , Arya memandangi langkah gontai ibunya yang masuk kedalam rumah, ternyata ia baru menyadari jika ibunya sudah Tua dan tak berdaya lagi ,Meski uban diatas kepalanya sudah berubah menjadi warna biru langit
ia tersenyum sambil memandangi langit malam ini , sekali lagi maksud ibunya membawanya duduk diluar adalah untuk melihat dan memandangi langit malam
"Hmm ibu memang hebat , ia sengaja mengajakku untuk duduk di luar ,saat aku mulai merasakan kegundahan hati , selain Tuhan , suasana khidmat dan sunyi di tengah malam memang menenangkan "
__ADS_1
Malam itu Arya lama duduk diluar memikirkan apa yang diucapkan oleh ibunya
Keesokan pagi
Arika dan Siska bangun lebih awal
"Arika sayang jangan lupa untuk memakai pakaian yang mama belikan itu ya "
"Iya Ma "
"Apa kita akan berangkat sepagi ini Ma ?"
"Iya sayang , Tante Siska sengaja menyuruh kita untuk datang lebih awal , untuk membantunya mempersiapkan semuanya "
Arika mengangguk mengerti "Tapi Ma , bukannya ini hanya acara reunian saja ya Ma ?"
"Iya walaupun cuma hanya reunian ,tapi kan nak ini adalah pertemuan yang sudah sangat lama sekali ingin dilakukan , mama sudah tak sabar lagi "
Padahal Siska dan Ana sudah merencanakan sesuatu untuk mempertemukan Arika a dan Bian ,agar mereka lebih saling mengenal satu sama lainnya ,maka dari itu Siska dan Ana sengaja untuk mempertemukan mereka dengan cepat
tapi Siska tak menyadari jika Aditya dan Ana juga sedang merencanakan sesuatu yaitu mempertemukan ia dan Arya kembali ,agar bisa menyambung tali yang pernah putus
Tak lama kemudian terdengar suara mami Siska yang keluar dari dalam kamarnya
"Nah sudah rapi dan cantik sekali kalian pagi ini mau kemana ?"
Arika langsung memeluk neneknya "Mau kerumah Tante Ana ,nek soalnya mami mau mengadakan reunian bersama teman-temannya "
"Mmm.. emangnya mami mu punya teman ya ?" Neneknya tertawa geli
"Mami, untuk apa punya banyak teman kalau saat kita sedang kesusahan saja tidak ada gunanya ,lebih baik hanya punya beberapa saja ,tapi tidak diragukan lagi bagaimana kompaknya "
"Tuh dengar Arika , mamamu sudah berbicara itu sekaligus memberi tau mu bagaimana caranya memilih teman "
Arika langsung tersenyum kecil "Mama kan galak ,makanya temannya cuma dikit , siapa yang macam-macam kan bakal kena hantam "
bisik Siska
"Arika apa yang kau katakan itu ha ?"
tanya Siska sambil merapikan meja didapur
"Tidak ada mama cantik ,ayo Ma ,kita berangkat , lihatlah ini sudah jam tujuh "
Maminya tertawa "Ya sudahlah ayo cepat kita berangkat sekarang "
Arika tampak sangat bersemangat sekali karena melihat maminya yang juga amat sangat bahagia
tapi baru saja mobil mereka keluar ,Raja sudah berdiri didepan pagar "Halo Tante ?
"Raja kenapa kamu berdiri di sana, apa kamu tidak ikut mamamu?"
"Hmm ini masih pagi Tante , nanti saja kalian yang terlalu cepat pergi , lihatlah ini masih jam tujuh "
Siska langsung terdiam , Raja dan Rima kan tidak tau jika ia sengaja datang pagi-pagi sekali untuk mempertemukan Bian dan Arika
"Baiklah Raja Tante mah berkeliling mencari sesuatu dulu ,jangan lupa berpakaian lah yang rapi ya ,mana tau nanti ketemu sama tuan putri" Siska tersenyum
Raja lalu menegur Arika "Nah itu ada putri tidur"
Arika tersenyum "Dagh Mas Raja kita pergi duluan ya "
mobil Siska pun melaju meninggalkan rumah tersebut
"Halah reunian tidak penting sama sekali "
Raja langsung masuk kedalam rumah neneknya tersebut
"Haloha senorita, senorita "
memanggil mami Siska
"Raja kau mengagetkan nenek saja , ada apa ha ?"
"Aku lapar Nek "
Raja langsung saja kebelakang mengambil makanan ,ia memang tak seperti cucu tiri
bahkan sama saja seperti Arika , apa lagi saat Dokter mengatakan jika Dimas dinyatakan tak bisa memiliki keturunan alias mandul , maka Raja lah yang tetap menjadi raja di keluarga mereka
Didalam mobil Siska langsung menelpon Ana
"Aku udah dijalan bersama Arika "
"Oke baiklah semuanya sudah aku persiapkan kebetulan Bian lagi mengaji , nanti kau ajak Arika untuk lewat jalan disamping ya "
__ADS_1
"Baiklah "Sidak langsung mematikan ponselnya
"Kenapa Ma , Tante Ana ?"
"Oh tidak apa-apa sayang , Tante Ana sudah menunggu kita "
Ana dan Karin langsung bersiap-siap membuat Bian fokus agar suara ia yang sedang mengaji Terdengar oleh Arika , Bian memang selalu begitu apa lagi saat hari Minggu ia akan mengaji dari subuh sampai pagi , kebiasaan tersebut membuat suasana didalam rumah semakin cerah , apa lagi Aditya dan Ana selalu mengucapkan rasa syukur karena dianugerahi anak laki-laki yang baik dan taat seperti Bian
"Cocok sekali ya Ma kak Bian sama kak Arika "
"Benar nak ,kak Arika dan kak Bian adalah pasangan yang sangat serasi sekali , agghhh... mama sudah tak sabar untuk menjadi seorang nenek, kalau bisa nanti setelah kak Bian wisuda mama ingin mereka cepat-cepat untuk segera menikah "
"Ya Ma Karin setuju apa lagi karin kan tidak punya kakak perempuan"
Mereka tertawa cekikikan .
Tak lama mobil Siska memasuki halaman rumah Aditya
"Ini ma ,rumah Tante Ana "
"Iya Nak "
"Besar juga ya Ma , Tante Ana memang nya juga kaya ya ma "
"Iya suaminya Tante Ana om Aditya adalah pemilik Brawijaya grup "
Arika hanya mengangguk saja , karena ia sama sekali tak terlalu perduli dengan kekayaan orang lain , karena ia saja sudah sangat kaya raya
Siska langsung memarkirkan mobilnya , Karin langsung menyambut mereka , sesuai instruksi Ana mereka akan melewati pintu samping tempat mushola kecil didalam rumah tersebut
"Kak Arika"
Karin langsung memeluk Arika
"Hai Karin Sayang..."
Arika langsung memeluk nya
"Karin mana mama mu nak ?"
"Mama didalam Tante ,ayo masuk saja "
Karin langsung mengajak Siska dan Arika masuk kedalam rumah mereka , pada saat berjalan memasuki ruangan Karin sengaja menarik tangan Arika
"Kak temani Karin sebentar kesana yuk "
"Kemana sayang "
"Mengambil boneka Karin "
Siska dan Ana langsung saling menyapa "Ya ampun akhirnya kalian sampai juga dirumah ku"
Arika tapi tak langsung mengiyakan permintaan Karin Karena ia tak enak , karena baru pertama kali datang kerumah itu
"Mama,Tante Siska ,karin mau ajak kak Arika untuk berkeliling dulu ya "
"Oh iya sayang pergilah ajak kak Arika untuk berkeliling ,nanti dia suntuk mendengarkan mama dan Tante Siska mengobrol "
"Iya Arika pergilah Nak temani dulu Karin"
"Baik Mama "
Arika dan Ana sudah saling memberikan isyarat
Arika dan Karin pun berjalan melewati musholla kecil yang berada didalam rumah tersebut
sayup-sayup terdengar suara seseorang yang begitu indah sekali melantunkan ayat suci Alquran
Arika langsung berhenti dan bertanya pada Karin
"Karin itu siapa yang ngaji ?"
Nampak seorang laki-laki yang mengenakan baju Koko lengkap dengan peci dikepalanya ,tapi sayangnya hanya kelihatan punggungnya saja " Itu kak Bian kak , kak Bian memang selalu begitu setiap hari Minggu ia akan mengaji sampai jam segini "
Arika langsung tertegun takjub
Ya ampun , laki-laki ini sungguh benar-benar keren sekali ya ampun , benar kata mama Bian yang ini sungguh berbeda , sungguh mama tak pernah salah ,aku mengenal dua orang dengan nama yang sama tapi kelakuan yang berbanding terbalik bagaikan bumi dan langit
......
Mau tambahin lagi nggak nih ?
vote dulu dong sayang ππ
biar semangat crazy up nya ya π
__ADS_1