
"Sungguh mood ku kembali hancur saat mendengarkan suara Papa yang mengatakan aku calon pengantin, ya Tuhan Papa, kenapa kalian semuanya egois sekali ya Pa?"
Bian naik menyusuri anak tangga setapak demi setapak, dengan lutut yang beradu karena gemetar
"Aku harus segera memberitahukan ini pada Arika, apa dia sudah tau atau tidak, atau dia saat ini sedang bersenang-senang karena ingin menjadi istri dari seorang Bian"
Para pembantu yang berada dibawah saat ini sudah memperhatikan ia dengan seksama sekali, melihat kekiri dan kekanan dengan sangat heran sekali,
"Tarian lutut orang kaya memang agak aneh ya?"
"Itulah orang kaya, kalau kita orang kampung yang seperti itu bukannya tarian, tapi lebih tepatnya langkah ketakutan karena melihat sesuatu yang menakutkan"
"Benar ya, sudahlah jangan terlalu dipikirkan, karena kita dan orang kaya itu berbeda, dia batuk saja menghasilkan dolar, nah kalau kita jangankan batuk, duduk saja kalau nggak bergerak nggak akan menghasilkan apa-apa"
"Justru itu kita harus bersyukur, dengan adanya orang-orang kaya yang kita lihat enak hidupnya, membuat kita untuk termotivasi agar lutut yang bergerak seperti itu saja menjadi sebuah tarian,"
"Benar aku juga ingin menciptakan tarian leher, rambut dan tarian jari"
Mereka pun langsung tertawa bersama-sama
Bian yang mendengar suara tawa tersebut langsung berbisik didalam hatinya
"Hah sungguh enak sekali mereka tertawa tanpa beban, mereka pasti tak akan merasakan bagaimana menjadi aku"
Melangkahkan kakinya kembali, dengan sekuat tenaga untuk segera masuk kedalam kamarnya, meski terlihat begitu sulit sekali untuk melangkah lebih cepat lagi
"Aku harus segera menelpon perempuan itu yah, saat ini juga"
Kebetulan malam semakin larut Arika yang sedang duduk sambil bercanda dengan Silvi dan juga Arjuna juga belum bisa tidur karena menghabiskan waktu bersama untuk bercerita tentang masa-masa indah mereka yang benar-benar sungguh nampak sangat bahagia sekali
"Mama dulu ingat sekali waktu Arika masih kecil ia membiarkan nyamuk-nyamuk untuk menggigit tubuhnya, Karena ia kasihan melihat anak-anak nyamuk yang belum makan".
Panji langsung tertawa
"Ah masa iya Ma?"tanya Arika
"Iya benar, mama sampai tertawa melihat kebaikan hati kak Arika, bahkan dengan seekor nyamuk saja ia sangat peduli"
memeluk silvi
"Mama bisa saja"
Panji tak mau kalah dengan kakaknya
"Kalau Panji Ma?"
"Nah ini, kalau Panji dia lebih kurang baik juga Sama seperti Arika, namun caranya salah, waktu itu ada seekor kura-kura yang sengaja dipelihara Nenek kalian, tau-taunya Panji iba melihat ia tak bisa berjalan seperti dirinya, ntah apa yang dilakukan Panji hingga membuat kura-kura itu terlepas dari tempurungnya"
Panji langsung tertawa terpingkal-pingkal
"Ya ampun mama masa iya aku begitu"
"Mama juga tidak tahu, bagaimana caranya ia melakukan hal itu, tapi neneknya yang menceritakan itu pada Mama"
Silvi dan Arika tertawa terpingkal-pingkal
"Tapi dari hal itu Mama bisa mengerti jika kedua anak mama ini memiliki kebaikan hati yang luar biasa hebatnya, meski berbeda caranya, Panji iba melihat sang kura-kura yang kesulitan berjalan karena membawa cangkang besar di punggungnya, begitu juga Arika iba karena nyamuk-nyamuk itu harus memberikan makanan pada anak-anaknya"
Arika dan Panji langsung memeluk Silvi
"Kami tak akan meninggalkan Mama, kami sangat menyayangi Mama, terlebih lagi mama adalah orang tua kami satu-satunya di kota ini"
"Terimakasih anak-anak baikku"
Namun tiba-tiba Wajah Silvi dan Panji langsung mendadak sedih, karena sadar jika kemesraan mereka ini akan segera berakhir karena Arika harus segera kembali lagi ketempat aslinya untuk melanjutkan kehidupannya yang sesungguhnya.
"Jadi kak Arika, setelah ini akan balik lagi kekota kelahiran Mama Siska lagi ya, untuk melanjutkan kuliahnya"
suara Panji terdengar begitu sangat lirih
"Iya Dek , mau bagaimana lagi kak Arika harus melanjutkan pendidikan di sana, pendidikan itu kan penting untuk kita kedepannya, bekal yang paling utama adalah pendidikan, makanya kak Arika harus segera kembali, menuntut ilmu pada saat kita masih muda itu mudah di serap, karena apa yang diberikan seorang guru, saat kita masih muda akan lebih mudah kita pahami
menurut kakak"
Silvi mengelus punggung Panji
"Nak, kakakmu juga ingin menjadi perempuan yang berilmu"
"Iya Panji tau, kalau kakak Panji ini adalah gadis cerdas yang sangat cantik, ya kan Ma?"
"Hmm mau kakak transfer berapa kerekeningmu" Canda Arika
karena Panji yang telah memujinya
Silvi benar-benar tampak bahagia sekali saat melihat kedua anaknya yang terlihat begitu akrab sekali
"Sayang"
Silvi pun sangat bahagia karena akhirnya anak-anaknya rukun dan bisa menerima kenyataan yang sebenarnya
"Kalian akur terus ya Nak, sampai tua"
Memeluk Arika "Iya Ma"
"Mama juga sehat terus ya Ma, sampai kak Arika dan Panji berkeluarga"
Arika langsung tertawa "Panji duluan aja menikah, kak Arika nggak apa-apa kok"
"Wee, enak aja. yang tua duluanlah baru yang muda iya kan Ma?"
"Sudah, sudah... jangan ribut ah"
"Nah, kalau begitu tunggu mama Silvi aja yang menikah ya kan?"
"Lah kok Mama yang kena jadinya?"
Silvi langsung menggelengkan kepalanya Sontak semuanya langsung tertawa geli
"Ya kan, kita nggak tau ya kan dek, mana tau jodoh mama masih ada di luaran sana sudah disiapkan oleh Tuhan"
"Haduh, sudah.. jangan dibahas lagi"
Saat mereka sedang asik mengobrol, Terdengar suara ponsel yang berbunyi
"Suara handphone siapa itu yang berbunyi tengah malam begini?"
"Paling juga handphone para pelayan didalam Ma, ini kan malam Minggu"
Semuanya kaget dan melirik kearah Panji
"Duile,Ma , dengar tu Panji paham betul dengan malam minggu, Ma. jangan-jangan dia ada seorang.Ma, diluar sana"
"Eeee apaan sih, kalian wee"
wajah Panji langsung merah
"Mama lihat kak Arika Ma .."
Sementara itu Bian yang menunggu Arika mengangkat telpon mulai kesal
" Kemana dia ini? aku kesal sekali. apa memang dia tidur seperti kerbau begini ha!"
Bian kesal karena telponnya tak juga diangkat Arika. "Baiklah aku akan menelpon sekali lagi, semoga saja kali ini diangkat"
Kring..
kring...
Arika yang masih bercengkrama dengan Panji dan silvi pun kembali dikagetkan dengan suara handphone yang bergetar kembali
"Nak, sepertinya itu handpone milikmu berbunyi , dengarlah suaranya dari kamar Arika"
Arika terdiam ia sengaja ingin mendengarkan suara nada deringnya tersebut,dan benar saja. rupanya itu adalah nada dering dari handphonenya
"Iya Ma benar itu suara handponenya Arika, tapi siapa coba yang menelpon jam segini" melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam
"Angkat saja kak, mana tau penting, ntah itu mama Siska dan Papa Arya ?"
"Iya dek, benar juga"
"Cepatlah Nak, mana tau itu telpon penting"
Arika langsung berlari menuju kamarnya, ia takut jika itu adalah nomor telepon penting dari namanya,
"Ya Tuhan semoga tidak ada hal-hal buruk yang terjadi pada keluargaku di rumah"
__ADS_1
Arika sedikit cemas bagaimana tidak, ia sangat cemas sekali karena trauma dengan kejadian yang menimpa Papanya Arjuna.
Masuk kedalam kamar, lalu handponenya tersebut langsung mati.
"Sial, parah sekali sih dia ini kalau sedang tidur lama sekali bangunnya, atau jangan-jangan ia sedang berada diluar lagi malam mingguan?"
Bian benar-benar emosi
"sungguh aku sangat marah sekali malam ini, mulai banyak yang aku curigai soal ini!"
Arika yang langsung memegang Handphone miliknya itu kaget saat melihat nomor telpon tak ada namanya tersebut
"Nomor baru, siapa ya? tapi aku rasa-rasanya tidak asing dengan nomor ini!"
tiba-tiba handponenya kembali berdering lagi
dengan cepat, Arika pun langsung saja menjawab telponnya. karena ia takut itu adalah nomor telepon penting
"Halo iya."
menjawab dengan suara yang sangat lembut sekali
Lembut sekali suaranya, Jangan-jangan ia mencoba untuk merayuku lagi
"Hei Arika, ini aku!"
jawab Bian dengan sangat emosional karena Arika yang lama sekali mengangkat telponnya.
mendengar suara tersebut ia langsung sadar dan emosi sekali
"Kau!"
Arika tak kalah emosi saat tau suara yang menelponnya itu
"Halah, tidak usah sok kaget, aku tau kau sekarang ini sedang bahagia sekali kan"
"Bahagia soal apa? kau pikir aku ini sedang apa ha?"
"Aku tak perduli kau sedang apa dan lagi apa yang aku ingin tau adalah kenapa kau lama sekali mengangkat telpon ini,apa telinga mu itu tidak bisa mencerna dengan baik"
Arika benar-benar sangat emosional sekali karena ulah Bian"Sebaiknya aku matikan saja telpon ini, kau hanya bisa menganggu saja tengah malam begini"
Bian langsung panik "Eee... tunggu dulu jangan dimatikan ini menyangkut kehidupan kita"
"Kehidupan apa? aku tak mengerti, jangan mengada-ada deh, tidak penting sama sekali"
Arika yang lembut tak pernah sampai marah-marah begitu kalau bukan karena emosi
yang sudah di ubun-ubun
Sungguh mengerikan sekali dia ini, kata Mama dia lembut sekali, tapi sedikitpun aku tak melihat ada sisi kelembutan dari dirinya
"Sabar Kenapa? aku cuma ingin memastikan apa kau sengaja agar kita bisa secepatnya menikah dalam beberapa hari ini?"
Arika langsung kaget
"Apa? apa yang kau katakan barusan? menikah? siapa yang mau menikah?"
"Tidak usah berlagak tolol lah Nona, mengaku sajalah. kau ingin menikah denganku bukan, ayo jujur katakanlah, kau akan menikah denganku kan?"
"Apa yang kau katakan? menikah?, tidak ... tidak kau sudah gila, jangan terlalu mengada-ada, tidak mungkin dan tidak akan pernah ada pernikahan, jangan terlalu berlebihan, aku juga tidak berminat sama sekali untuk menikah denganmu"
teriak Arika dengan tegas, apa lagi posisinya sedang berjalan menuju arah Panji dan silvi
Rupanya suara teriakan Arika yang begitu keras, membuat Panji dan Silvi langsung kaget.
"Nak, apa kau dengar.suara itu?"
"Iya Ma, Panji dengar.itu seperti suara kak Arika Ma"
"Iya Nak kau dengar kan, Tapi kenapa suaranya Arika keras sekali,ada apa ya?"
Silvi terlihat benar-benar sangat heran sekali mereka berdua saling berpandangan satu sama lainnya
"Kak Arika kenapa ya Ma?"
"Sudah pergi sana, Coba lihat Nak, siapa yang menelepon kakakmu,ayo cepat lihat?"
Dengan cepat Panji langsung berlari
"Kak, ada apa?"
tanya Panji dari belakang
Sontak saja Arika langsung kaget
"Oaaaaaa ... Panji kau malah mengagetkan kakak saja" mengelus dadanya, sementara itu didalam telpon tersebut terdengar suara Bian, yang sibuk mengoceh dari tadi didalam handponenya
"Oh, ini tidak ada apa-apa,kakak mau istirahat duluan ya,"
Arika langsung berlari kekamarnya
"Kak, tunggu. ada apa? siapa yang menelepon kak Arika?"
"Sudahlah dek, tidak penting sama sekali,dagh .."
Arika langsung menutup pintu kamarnya.
"Lah, kak Arika kenapa ya? kok bisa-bisanya ia marah-marah dengan cara berbisik seperti itu, siapa yang meneleponnya?"
"Panji ada apa? mana kakakmu?"
"Itu Ma,baru saja masuk kedalam kamarnya"
Panji tak mengerti dan heran
Namun Silvi yang pernah muda langsung mengerti, "Mm ya sudahlah, kalau begitu ayo kita segera tidur Nak, sudah malam biarkanlah kakak mu itu, ayo"
"Baik Ma ..."
Panji dan silvi pun langsung beristirahat malam ini juga,
Saat Arika masuk kedalam kamarnya, Bian tak berhenti untuk penasaran ia langsung berbicara dengan keras juga
"Hei Nona, kau sedang berbicara dengan siapa disana? hei ..."
Arika yang kesal langsung menjawab kembali
"Sabar, dulu. aku baru saja masuk kedalam kamar.dasar tidak tau diri sekali kau ini"
"Ya tapi aku mendengar kau sedang berbicara dengan seorang laki-laki ditengah malam begini!"
"Memangnya kenapa? kalau aku mau berbicara dengan siapapun juga apa urusanmu itu ha?"
"Biasa aja lagi Nona, aku hanya ingin bertanya takutnya, tidak enak menganggu Waktumu dengan pria yang tengah malam sedang bersamama mu itu, santai sajalah Nona"
Arika benar-benar emosi sekali
Dia ini benar-benar menguji imanku sekali ya, lihatlah aku benar-benar emosi sekali dibuatnya, apa ia pikir aku ini perempuan yang hobi keluyuran malam-malam!
"Kenapa tak menjawab ?apa kekasih mu itu marah padaku, karena aku menelponmu Nona, santai saja aku hanya ingin mengklarifikasi masalah ini, santai sajalah".
Arika langsung emosi kembali
"Asal kau tau ya, laki-laki sok tau itu adalah adikku ia bertanya siapa yang meneleponku, malam-malam begini, karena telah membuat adikku bertanya-tanya, siapa yang telah membuat kakak perempuannya menjadi emosional begini!"
"Oh ya, aku tidak percaya sama sekali?"
"Terserah .. aku juga tak perlu membuatmu percaya dengan semua ini, tidak ada untungnya sama sekali untukku"
"Oh ya, tidak ada untungnya benar.tapi aku hanya ingin memastikan kau sedang sendirian karena ini adalah obrolan yang sangat penting sekali menyangkut kehidupan kita semua, karena jika kita tidak menyelesaikan permasalah ini saat ini juga, maka semuanya akan sia-sia saja"
Arika masih berusaha untuk tetap sabar "jadi maunya apa?"
"Kita akan mengobrol dengan video call, tapi jika kau terasa aku menganggu tidak usah, saja"
Arika langsung mengalihkan telponnya langsung dengan video call, agar tak terjadi fitnah antara mereka satu sama lainnya
"Nah kau sudah lihat kan sekarang, kalau aku baik-baik saja, tidak ada siapapun disini, apa kau sudah lihat?"
Bian langsung terdiam, tak berani berbicara apapun lagi karena sudah berhadapan langsung dengan wajah Arika yang cantik
deg...
"Sekarang bagaimana ha? apa kau sudah percaya?"
__ADS_1
Bian langsung menjawab dengan terbata-bata
namun ia tetap cool,
langsung mengalihkan panggilan kembali kepada panggilan biasa lagi
Sungguh memang sangat cantik sekali, tapi sayang galaknya minta ampun ...
ucap Bian dalam hatinya
"Aku tak ingin kau melihat wajah tampanku ini, sebaiknya kita telponan saja"
"Baiklah, tunggu sebentar aku mau mengunci pintu kamar dulu"
Pintu kamar langsung dikunci oleh Arika
"Oke baiklah, Sekarang cepat kau katakan, siapa yang mengatakan perihal pernikahan ini?"
Arika mengajaknya untuk mengobrol dengan serius sekali kali ini,
"Mamaku, yang baru saja mengatakan, jika ia akan melangsungkan pernikahan kita ,setelah kau pulang dari Jogja,apa kau benar-benar sudah siap? dan apa memang Tante Siska sudah mengatakan hal ini padamu juga?"
Arika sungguh sangat kaget sekali,
"Astaga, sumpah aku sungguh benar-benar tak mengerti sekali, sekarang ini yang aku ingin tau bagaimana ceritanya? aku rasa Mamamu itu sedang bercanda, tak mungkin lah ini bakal terjadi, tanpa ada persetujuan dari ku, jangan terlalu berlebihan, jangan-jangan ini hanyalah alasan mu saja, ingin meneleponku ya kan?"
Wajah Bian yang sekarang memerah, untunglah mereka tak sedang telponan dengan bertatapan wajah bisa kacau kalau Arika melihat wajah Bian dalam keadaan seperti itu.
"Hei Nona, kau jangan terlalu berlebihan, aku menghubungimu ini benar-benar urgent, aku juga sama sekali tak berminat mendengar suara jelek mu itu, bahkan aku sangat berharap sekali agar kau tidak usah pulang saja, dari pada kau pulang dan kita dinikahkan".
Arika langsung naik pitam
"Kau tunggu sebentar ya aku ingin menelpon Mama dulu, aku ingin bertanya apa benar yang kau katakan ini,atau bagaimana. aku tak mau kau malah sibuk-sibuk sendiri seperti ini"
"Kita telepon bertiga saja bagaimana? jangan kau matikan teleponnya aku juga ingin dengar apa yang ingin kau bicarakan dengan Tante Siska"
"Kau ini kenapa sih, tidak percaya sekali!"
"Bukan masalah tidak percaya atau tidak, sekarang ini yang aku inginkan aku ingin mendengarkan secara langsung"
Arika sebenarnya sangat tidak suka dituduh sebagai seorang pembohong, meski secara tidak langsung sebenarnya Bian tidak menuduhnya, tapi caranya itu loh secara tidak langsung sudah mengarah kesana
Dengan menarik nafas panjang ia langsung mengatakan "Baiklah kalau begitu, aku akan segera menelpon Mama tunggu sebentar"
Malam yang dingin, cuaca yang mendukung untuk Arya dan Siska bergadang malam ini
"Aku sangat bahagia sekali Siska"
menaruh hidungnya bekali-kali kearah yang sangat ia sukai
"Ketek idaman"
Sambil tertawa terkekeh-kekeh teringat tragedi bulu ketiak yang panjang dan lebar itu
"Oh ya, aku ingin tau bagaimana perasaan Aditya dan Dimas malam ini"
"Aku rasa mereka tak akan bisa tidur malam ini"
"Ya aku rasa juga begitu, apa lagi kak Dimas paling anti sekali kalau sudah ngomong masalah perbuluan ini"
Arya tersenyum bahagia" Baiklah sayang ayo kita mulai lagi"
"Baiklah akan yang jadi kudanya atau kau yang menungganginya?"
Siska sudah mulai ganas sekali dan berani
"Aku sudah lelah aku ingin kau saja yang menjadi penunggangnya"
"Baiklah,"
Mereka pun langsung bertukar posisi dengan sangat cepat pula "Berikanlah tunggangan maut mu sayang, aku sudah sangat lama sekali menginginkannya"
"Siap sayang, tapi apa kau yakin kau masih kuat sayang?"
"Jangan khawatir Sayang,kita begadang sampai pagi , hiya... hiya..."
Siska mulai melancarkan aksinya, namun saat yang bersamaan suara handphone berbunyi
"Sayang siapa.yang menelpon malam-malam begini sayang?"
"Paling juga Aditya, kalau tidak Dimas yang ingin menagnggu kita lagi itu"
sambil menunggangi kuda
Telpon terus berdering membuat mereka berdua menjadi terganggu sekali
"Sayang tolong kau angkat,itu telponnya diatas kepalamu sayang,ah..."
"Bagaimana caranya oh .."
Dengan meraba-raba akhirnya Arya berhasil mengambil handphone milik Siska tersebut dan dengan cepat ia langsung memberikan pada Siska, tapi tak sempat melihat siapa yang meneleponnya
"Siapa yang menelepon sayang?"
"Tidak kelihatan sayang ah..."
"Baiklah sayang oh..."
Tapi Arya tiba-tiba tak sengaja terpencet tombol yes hingga membuat Arika dan Bian mendengar suara pertarungan itu
"Yah jatuh dilantai handponenya sayang?"
"Sudah tidak apa-apa handponenya juga jatuh diatas bantal itu lihat, biarkanlah tidak penting juga, ayo lanjutkan kembali, lebih cepat Sayang..."
"Iya sayang, apa begini"
"Benar agak maju sedikit, sayang.kesamping dua hentakan, kekiri dua hentakan"
"Mantap sayang, ini lebih enak dari pada martabak spesial sayang, spesial rasa cinta kita sayang"
"Oh yes... oh ...No..."
Bian dan Arika yang mendengar suara tersebut langsung terdiam
"Halo, Mama... Papa..."
"Oh ...enak sekali...mantap lanjutkan dua periode" wkkwwkwk
Bian langsung syok juga
"Arika sepertinya ini waktu yang tidak tepat untuk menelpon keduanya, tolong segera kau matikan saja telponnya segera"
karena Bian sudah dewasa dan laki-laki pula.
ia tentu saja sudah mengerti apa yang terjadi dengan sepasang anak manusia dewasa di tengah malam buta berduaan pula
"Tunggu dulu Bian, ini ada apa dengan Mama dan Papa, mereka kenapa? ini harus segera dicari tau, ada apa dengan Mama dan Papa ku, aku tak mau mereka kenapa-kenapa?"
Bian mengusap wajahnya"Astaga apa dia ini benar-benar gadis yang polos, apa dia tak pernah menonton film orang dewasa ya, sampai-sampai tak tahu bagaimana suaranya,ya Tuhan"
"Siska lebih cepat lagi agar cepat keluar kita ah.."
"Halo..Pa.. halo Ma, halo... cepat katakan mama dan Papa kenapa?"
Arika terdengar begitu panik sekali
"Ya Tuhan, ternyata masih ada gadis langka seperti ini didunia ini, aku pikir tidak ada lagi"
Bian menarik nafasnya dalam-dalam
"Arika, sebaiknya cepat kau matikan telpon mamamu, jangan menganggu orang yang Sedang beristirahat begini, kau tau lah kan sekarang aku ingin sekali berbicara berdua saja denganmu, tolong dengarkan aku"
"Tapi kau dengar kan Mama ku merintih itu, coba kau dengarkan baik-baik"
"Hentikan Arika, Jagan terlalu polos nanti aku kirimkan suara yang sama beserta videonya ya, agar kau bisa mencerna sendiri apa yang terjadi antara mama dan papamu"
"Tapi...."
"mau kau matikan atau aku yang matikan telepon ini?"
"Oke baiklah, tapi kau kirimkan ya apa yang kau maksud itu"
Kacau ia benar-benar minta aku kirimkan ia video dewasa itu hadeh... bagaimana lagi aku menjelaskannya
"iya..iya.. sudah matikan. cepat"
__ADS_1
"Baiklah ..."