Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 276


__ADS_3

Raja langsung mematikan handponenya


"Hah bisa-bisanya dia bertanya bagaimana cara mencari kelemahan Arika, dasar laki-laki tak berguna, apa dia tidak tahu aku ini adalah kakak sepupunya,


ya ..ya.. kau terlihat tak ada usaha sama sekali


Bian, hmm rasakan saja, kau memang benar Arika itu gadis yang tak pernah takut apapun kecuali dengan Tuhan ia hanya takut jika berhadapan dengan orang tua, tapi kegelapan malam justru membuat ia lebih kuat"


Sejenak Raja tertawa geli memikirkan apa yang akan terjadi dengan Bian malam ini


"Aku sudah tak sabar ingin mendengarkan bagaimana suaranya saat besok pagi"


Raja tertawa geli, sebenarnya ia masih menyimpan rasa sakit hati gara-gara perlakuan Bian di kampus, tapi setidaknya ia bisa tertawa sejenak sebelum mengingat bagaimana keadaan cintanya dan Alea malam ini


Malam semakin larut, angin pantai berhembus kedaratan menyapu bulu kuduk Bian yang sedang duduk sendirian di tepi pantai.


Bian tersenyum lebar sambil menyeruput teh hangat yang disajikan pelayan padanya.


"Sungguh teh ini sangat manis sekali, semanis bibirnya Arika" Khayalan Bian sungguh sudah tinggi menghayal kemana-mana, meski sebenarnya jauh didalam hatinya ia takut dengan kegelapan tapi ini harus segera dilaksankan, karena ia ingin sekali menaklukkan singa garang itu


"Setelah aku menyeruput tetesan terakhir ini aku akan segera menyeruput setiap jengkal tubuh Arika"


Bian langsung merapikan rambutnya

__ADS_1


"Jarang-jarang menemukan laki-laki tampan seperti aku ini, dan Arika malam ini kita akan merasakan making love"


Bian langsung berdiri dan menemui petugas hotel meminta untuk dimatikan semua lampu saat ia masuk kedalam kamar


"Baik Tuan, jadi pada saat anda masuk langsung tutup pintu ya Tuan?"


"Iya sekitar lima menit saya masuk, tolong mengerti ya, karena saya tidak mau di ganggu terlepas kalian nanti akan mendengarkan suara apapun tolong jangan di hiraukan, saya harap kalian semua mengerti ya proses ini?"


"Tentu saja Tuan saya sangat paham"


petugas hotel tersenyum padanya


Bian langsung mengacungkan jempolnya, "Joss gandoss"


Sebelum masuk kamar ia dan petugas tersebut langsung mengacungkan jempolnya


"Siap "


Bian langsung masuk dan tersenyum lebar, tapi sialnya karena ia terlalu bersemangat ia langsung mengunci pintu dan melemparnya kesembarang arah


"Arika malam ini kita akan bersenang-senang sayang" Bian langsung membalikkan tubuhnya dan ternyata bajunya tersangkut dipintu


"Astaga, apa ini!"

__ADS_1


ia mendadak panik, apa lagi kunci kamar sudah ia lemparkan dibawah kasur,. sedangkan waktu terus berjalan untuk sang pelayan mematikan lampu hotel tersebut


Seketika ia langsung merinding sendiri, semua yang ia rencanakan mendadak tak semulus apa yang ia pikirkan sementara Arika sudah tertidur dengan lelapnya diatas kursi yang empuk tersebut


Lima


empat


tiga


dua


satu


Lampu langsung dimatikan


spontan Bian langsung berteriak histeris


"Aawwwwee tolong hidupkan lampunya dulu"


Tapi seperti yang diperintahkan oleh Bian mereka tak menghiraukan suara-suara tersebut,


Bian benar-benar sangat ketakutan seharusnya saat ini ia berada diatas tempat tidur dengan memegang handponenya dan menghidupkan lampu di handphonenya, tapi kenyataannya Bian malah berdiri didalam kamar berukuran besar itu, yang lebih parahnya lagi adalah sebenarnya suasana yang gelap adalah kesukaan Arika karena dengan gelapnya lampu saat ia tidur justru membiat ia semakin nyenyak tidur.

__ADS_1


__ADS_2