
"Papaaa..."
Panji nampak sangat bahagia sekali seketika melihat papanya dalam keadaan sadar sudah respon untuk langsung duduk
Perlahan matanya terbuka dan berbicara dengan sangat lambat sekali ,Panji langsung takjub dan tersenyum melihat perubahan papany ,hanya karena kehadiran Arika saja
"Mana Arika Nak ,papa Mendengar suara kakakmu "ucap Arjuna dengan terbata-bata
"Kak Arika...kak Arika...papa...papa...."
Panji langsung Berteriak-teriak dengan keras sehingga terdengar sampai keluar ruangan
Arika dan Silvi yang sedang berada diluar langsung kaget
"Ma ,itu suara Panji ?"
Arika mencoba untuk memasati suaranya
Wajah Silvi langsung panik seketika
"Astaga ya Tuhan , kenapa dengan papamu Nak"
"Panji ,Ma ... jangan-jangan Papa"
Mereka saling berpandangan dan langsung berlari masuk kedalam kamar Arjuna dengan sangat cepat sekali
Pintu pun terbuka dan Arika langsung terbelalak saat melihat papanya yang sedang tersenyum padanya ,meski dengan perasaan yang sangat sedih sekali
wajah yang selama ini sangat ia rindukan didalam diamnya , Arjuna nampak sangat bahagia sekali melihat putrinya berada dihadapannya saat ini setelah hampir satu tahun lamanya mereka tak berjumpa ataupun saling bertegur sapa meski melalui handphone saja
"A RI KA "
ia mengucapkan sepatah demi sepatah nama Arika yang membuat hati Arika semakin tertusuk-tusuk menahan sakit karena keadaan orang tuanya yang seperti itu
Arika tak kuasa menahan air matanya yang sudah tumpah dan mengalir di pipi
"Paapaaa"
huhuhuhuhu
Tangisan yang keluar dari kelopak matanya Arika pun , membuat suasana menjadi semakin haru kembali ,Panji dan Silvi pun tak kuasa menahan air matanya melihat suasana tersebut , mereka tau Arjuna menyimpan kerinduan yang amat besar sekali pada Arika
meski Silvi sangat mencintai Arjuna tapi ia tau dan sadar diri jika sampai kapanpun namanya tak akan pernah ada didalam hati dan pikiran
Arjuna buktinya saja saat ia sadar Arika lah yang ia tanyakan langsung ,bukan Silvi
"Papa , Arika disini Pa, Arika akan menjaga papa, papa harus sehat ya ..." Arika memberikan semangat pada Arjuna membuat laki-laki yang menjadi cinta pertama setiap anak perempuannya itu pun langsung tersenyum ,Arjuna langsung menganggguk bahagia meski alat-alat medis masih terpasang ditubuhnya
"Iya Nak" Tersenyum dengan bahagia sekali
Panji langsung memeluk Silvi dengan erat "Ma,papa sudah bangun Ma, papa"
Panji sangatlah terharu meski bukan ia yang ditanyakan pertama kali namun ia cukup bahagia melihat Papanya yang menyebutkan nama kakaknya saja itu berarti kesadaran Arjuna telah kembali
"Iya Nak ,kakakmu sudah membuat ia terbangun dari tidur panjangnya "
Silvi amat sangat bahagia sekali
mereka berdua memang memiliki hati yang sangat luar biasa sekali ,tak ada tanda-tanda iri hati ataupun dengki melihat semua yang terjadi pada keduanya
sungguh luar biasa sekali Silvi dan Panji melihat kenyataan ini
Syukurlah papa sudah sadar dan mendapatkan perkembangan yang baik jadi aku tak perlu terlalu khawatir untuk meninggalkan papa hari ini , semuanya akan baik-baik saja ,papa hanya butuh penyemangat saja untuk melanjutkan hidupnya , aku yakin kuasa Tuhan itu nyata adanya , semoga papa bisa sembuh dan tak ada penyakit yang tumbuh di tubuhnya
Melihat keadaan Papanya yang sudah sadar Arika semakin yakin untuk kembali pulang dulu sesuai permintaan mamanya,ia menarik nafasnya dalam-dalam dan berjalan mendekati Silvi yang sedang berdiri bersama Arjuna
"Pa , Arika mau pergi keluar sebentar ya , nanti kembali lagi , papa jangan khawatir Arika akan segera kembali nanti "
Arika membohongi Arjuna ia takut jika ia mengatakan akan pergi Arjuna akan kembali drop , Arjuna langsung memegang tangan Arika
tandanya ia tak mau ditinggalkan oleh Arika seorang diri "Mana mama mu Siska mana?"
berbicara dengan terbata-bata , satu pertanyaan dari Arjuna yang langsung membuat Arika kembali ngedrop tak terkira ,
Pertanyaan yang semakin membuat luka di hati Arika kembali terbuka , ia sangat bingung menjawabnya apa lagi ia bukanlah seseorang yang ahli dalam berbohong , terutama dihadapan orang tuanya , ia tak mungkin melakukan itu namun karena situasi yang tak memungkinkan untuk jujur terpaksa ia kembali berbohong juga untuk membuat papanya kembali tenang
Papaa, maafkan Arika ,mama akan segera menikah dengan laki-laki yang sangat ia cintai , Arika tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya dengan papa, Arika sangat menyayangi Mama juga papa
Namun banyak hal didunia ini yang terkadang tak harus kita dapatkan , mungkin maksud papa baik , tapi papa salah tidak mengungkapkan secara langsung apa yang terjadi pada mama, mama terluka selama ini dan Arika juga Pa , papa harus ikhlas untuk melepaskan mama Pa , seperti Arika yang sudah berusaha menerima segala kenyataan yang ada didunia ini , Arika sangat menyayangi Mama , kebahagiaan mama adalah prioritas utama Arika , namun papa tetaplah orang tua Arika jika tak ada papa maka Arika pun tak akan ada didunia ini , Arika sangat menyayangi papa dan mama, maafkan Arika kali ini Pa, maafkan Arika
Tak lama dokter masuk karena ia baru tiba , gantian masuk dengan dokter jaga yang lainnya
"Selamat pagi ,Maaf saya datang terlambat beberapa menit , tukaran shift sama dokter yang semalaman , bagaimana keadaan Tuan Arjuna ?"
"Baru saja Papa, berbicara dan hendak duduk Dok"
Dokter yang masuk untuk memeriksa keadaan Arjuna tersebut tak menunjukkan wajah yang bahagia
__ADS_1
namun ia juga tak banyak memberikan komentar apapun mereka hanya disuruh untuk berdoa saja
"Dok bagaimana menurut Anda Dok, keadaan papa saya ,apa papa saya baik-baik saja ,dan ada kemungkinan untuk sehat kembali ?"
Dokter langsung terdiam sama halnya seperti bungkamnya mulut silvi , ia sama sekali tak mengatakan apapun yang membuat semuanya menjadi tenang dan bahagia , justru membuat semuanya semakin bertanya-tanya dengan apa yang terjadi
"Nona banyak-banyak berdoa saja ya, karena semua yang terjadi didunia ini atas kehendaknya ,kita hanya mampu memberikan yang terbaik saja ,tapi keputusan terakhir ya itu kembali lagi kepada sang pencipta , banyak-banyak berdoa ya " Menepuk pundak Arika dengan wajahnya yang tampak aneh
Arika sama sekali tak mengerti kenapa justru keadaan papanya yang membaik malah membuat dokter tak memberikan secercah harapan yang membuat ia tenang sekalipun
Dokter ini bisa ngobatin orang apa nggak sih ? kenapa ia tak memberikan sebuah jawaban yang membuat hati ku tenang sama sekali justru malah semakin membuat semuanya menjadi berantakan seperti ini , membuat aku tak jadi tenang kalau begini jadinya
"Baiklah kalau begitu saya keluar dulu, nanti jika ada apa-apa panggilkan saja saya "
Dokter langsung keluar dari ruangan tersebut
sekarang tinggal mereka saja yang menunggu Arjuna , Arika yang memiliki banyak pertanyaan diotaknya pun langsung mengatakan pada Silvi dengan rasa penasaran yang sangat tinggi sekali
"Kenapa dokter tersebut Malah mengatakan hal yang membuat Arika tak bersemangat Mama"
Arika sangat marah sekali
Arjuna nampak langsung kembali lagi memejamkan matanya secara perlahan setelah memberikan suntikan yang dimasukkan kedalam infus Arjuna
"Maa lihatlah tak ada perubahan sama sekali dengan Papa apa kita tak sebaiknya mencarikan dokter yang lain saja Ma !"
Silvi dan Panji sangat mengerti sekali apa yang dirasakan oleh Arika aoa lagi setelah sekian lama tak ada perubahan sama sekali pada Arjuna
"Sudah Nak, tenangkan dirimu , Dokter yang merawat papa adalah dokter terbaik yang mama pilihkan semuanya tergantung Tuhan semuanya ,kita manusia hanya bisa berusaha dan berdoa saja selebihnya utusan Tuhan "
ucap Silvi
"Kak Arika jangan khawatir ,papa pasti baik-baik saja ,ini semua sudah takdirnya papa kak ,jangan berpikir yang membuat kakak menjadi tambah kesakitan ya kak "
"Iya Nak paapaaa akan baik-baik saja sebaiknya kau segera kembali dan temui mamamu , tapi mama minta jika bisa Arika ajak mbak Siska kembali lagi ya , agar tak ada penyesalan dalam hidup kita , kita tak pernah tau akan tiga hal , Maut, rezeki dan jodoh , mama ingin Arika bisa membawa mbak Siska kembali , tolong Nak pertemukan kembali ia dengan papamu , andai saja mama diizinkan untuk meninggalkan papamu ,pasti akan mama lakukan, tapi tradisi di keluarga kita jika seorang perempuan menikah dengan sesama dari keturunan keluarga Suroso ia tidak diperbolehkan untuk cerai , kecuali jika posisi perempuannya tersebut bukan berasal dari keluarga Suroso seperti kami Nak , keluaga kita berbeda dengan keluarga orang kaya didaerah ini , apalagi tradisi yang berasal dari keluarga kita adalah tradisi turun-temurun yang memang sudah ditentukan dari dahulu kala"
Silvi menundukkan kepalanya dan ia berbicara dengan bahasa yang membuat Arika langsung luluh dan tenang sekali ,itulah hebatnya Silvi ia selalu menjadi pemenang untuk siapapun meski dirinya sendiri butuh ketenangan
"Baiklah Ma kalau begitu Arika pamit sekarang ya "
"Iya Nak hati-hati dijalan ya ,jangan lupa ajak mama Siska untuk kembali "
Arika langsung mengangguk "Maafkan Arika Ma,tak bisa ikut dalam kegiatan tahlilan untuk Nenek malam ini "
"Iya Nak tidak masalah sama sekali "
.....
Sementara itu di rumah Arya
semuanya tampak sangat sibuk sekali
"Nenek bagaimana kalau baju kita warna pink semua "
"Warna pink ? haduh tidak sesuai dengan warna rambutnya nenek Arika sayang , coba saja Arika lihat ini , rambut nenek warnanya biru ,masa baju nenek warnanya pink"
Alea terdiam
"Hadeh repot sekali sih nenek-nenek ini "
Alea kembali berpikir bagaimana caranya untuk merayu nenek agar mau memakai kebaya warna pink
Hmmm aku ada ide bagaimana kalau rambut nenek aku warnai saja lagi agar ia mau memakai kebaya yang senada dengan keinginan ku ,aku yakin nenek pasti suka
"Nek tunggu sebentar ya , Alea mau pergi ke warung sebentar "
"Iya pergilah ,nenek tunggu dirumah saja "
Tak lama Arya pulang dengan membawa banyak perlengkapan pakaian ia sengaja mengambil cuti hari ini , untuk mempersiapkan semuanya
"Bu ini pakaian yang sudah diberikan oleh Aditya untuk kita semua "
"Wah . ini Bagus sekali Nak ,warna krem kesukaan ibu "
"Iya ibu coba saja , Alea mana Bu ?"
Alea pergi ke warung katanya
kring...
kring...
Handphone Arya berbunyi "Siska ? astaga kenapa aku jadi gugup begini untuk mengangkatnya ya "
Arya langsung deg ..deggan padahal ia biasanya juga sering mengobrol dengan Siska
Astaga Kenapa calon istriku ini harus menelpon jam segini , aduh .. kenapa aku jadi deg..deggan seperti ini ya , padahal aku hanya ingin ...ah sudahlah , aku merasa sangat cemas
__ADS_1
"Angkat ..atau tidak ya..."
ibunya merasa heran melihat Arya yang terus-menerus memegang handponenya
"Arya kenapa tak kau angkat telpon ditanganmu itu ha?"
"Ehh anu Bu, ini ..."
"Dari Siska ya "
ibunya langsung melihatnya
Arya kembali mengangguk
"Cieee gugup ya , ayo angkat dia itu bakal jadi istrimu kalau kau selalu gugup bagaimana nanti setelah menikah "
Tangan Arya langsung gemetaran saat hendak mengangkat telponnya
"I..iyaa Bu , Arya juga heran kenapa jadi gugup begini "
"Sudah angkat cepat nanti dia marah ,dan membatalkan pernikahan kalian ,ingat perasaan perempuan itu sensitif "
Mendengar kata Batal ,Arya langsung berdiri dengan tegap sekali
"Baiklah Bu , kalau begitu aku akan segera mengangkatnya "
Ehemmmm
"Iya Halo Siska "
Dari ujung telpon malah terdengar suara gelak tawa yang sangat kencang sekali "Bhuahahahaah , kenapa lambat sekali mengangkatnya kak Arya apa kakak sedang grogi , Karena mendapatkan telpon dariku "
Wajah Arya langsung berubah menjadi sangat
aneh sekali "Hah kau rupanya ,aku pikir calon istriku tadi yang menelpon "
"Santai calon istrimu sedang sibuk sekali dari tadi , handponenya pun sampai sembarangan ia taruh , ya tentu saja aku langsung saja menelponmu kak Arya"
tertawa dengan keras sekali
"Hentikan Dimas , lelucon mu ini sungguh menjijikkan sekali ! bisa tidak kau tak usah tertawa sekeras itu membuat aku sangat kesal sekali"
"Santai dong adik ipar jangan nge-gas gitu dong ,santai tarik nafas dalam-dalam dan tahan , huhuhu "
Melihat Dimas yang tertawa dengan keras membuat Siska yang sedang sibuk langsung melihat kearahnya
"Kak Dimas Kenapa?"
Siska pun tersadar jika handphonenya lupa ia taruh dimana "Aduh mana handponeku tadi ya "
Ia mencari disekelilingnya tapi tak menemukannya
"Aduh dimana sih aku lupa untuk menaruhnya tadi "
Sambil berjalan mendekati Dimas ia baru sadar jika , Dimas sedang memegang handponenya
"Kak Dimas itu bukannya handpone ku "
Dimas masih tertawa "Ya benar ini ambillah handponenya "
Ia langsung pergi dalam keadaan tertawa
Membiarkan Arya yang terus-menerus mengoceh habis-habisan padanya
"Ya kau lihat saja Dimas kakak ipar setelah ini aku akan membantingmu, menyebalkan sekali tawa mu itu apa kau dengar ?"
Arya tak menyadari jika handponenya sudah kembali berada di tangan Siska
"Kak Arya ..."
Terdengar suara lembut Siska menyapanya
"Siska ?"
Arya menjadi tak enak sendiri karena ia yang terlanjur membentak Dimas rupanya Siska
"Kak Arya maafkan aku, handpone milikku rad aku lupa menaruhnya dimana, jadi kak Arya menjadi korban keisengan kak Dimas "
"Oh tidak apa-apa ,jangan khawatir aku tak pernah mengambil hati dengan tingkah Dimas ia kan calon kakak ipar ku ,jangan khawatir "
Padahal sebenernya Arya sedang marah sekali dengan Dimas , namun karena Siska saja rasa kesalnya langsung mereda wkwkwkwkw.
catatan : Suroso adalah orang paling kaya di daerah itu , dengan tradisi keluarga yang sangat ketat sekali
didalam Novel ini
dan tidak ada kaitannya dengan kehidupan bangsawan Jogjakarta yang asli , terimakasih ๐
__ADS_1