
"Baik lah kalau begitu kak ,aku mau melihat persiapan untuk besok lagi kak "
Siska menutup telponnya
"Tunggu "
Arya masih belum ingin Siska mematikan ponselnya
"Ada apa Kak?"
Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu ,apa kau juga memiliki persamaan hati padaku , kita memang tak lagi muda namun perasaan kita ini sama sekali belum terlambat kan ,
aku ingin sekali menghabiskan semua waktuku bersamamu
ingin sekali Arya untuk mengungkapkan perasaannya pada Siska namun ia masih malu-malu untuk mengatakannya , tak mungkin bisa ia ungkapkan perasaannya karena terlalu bahagia sekali
Arya malu-malu tak tau apa yang ingin ia bicarakan namun ia berusaha untuk menenangkan dirinya dari sikap gugupnya
"Aku mencintaimu "
bisik Arya perlahan karena ada ibunya disampingnya berdiri
"Apa kak aku tidak dengar ?"
Ibu Arya langsung tersenyum
"Hadeh besok juga mau menikah banyak sekali cerita ,sudah sabar saja sampai besok ,jangan lupa untuk banyak berdoa karena ibadah menikah ini adalah ibadah yang paling lama dan sangat tidak suka dengan pernikahan "
Arya melirik ibunya yang sedang mengoceh tersebut
"Iya Bu "
"Kak Arya kenapa diam saja ? ada apa Kak ?"
Hanya dengan mendengarkan suaranya saja sudah membuat jantungku terasa berdenyut-denyut penuh cinta , aku sangat mencintaimu duhai kau calon istriku
Terdengar suara Siska berkali-kali memanggilnya
"Hei Arya cepat jawab lah suara teleponmu itu , dengar itu calon istrimu sibuk memanggilmu !"
Arya langsung sadar dan buru-buru menjawabnya
"Hmm tidak ada ,jaga kesehatanmu ya untuk besok , aku ingin kau fit "
Wajah Siska memerah mendapatkan ucapan dari Arya , sementara itu ibunda Arjuna langsung berdehem kembali
karena ucapan arya tentang kata fit tersebut malah membuat pikiran Siska berkelana Kemana-mana
Kak Arya kenapa aku jadi malu mendengarnya , apa dia sudah benar-benar tak sabar lagi ingin menikah denganku , padahal aku sama sekali tak pernah mengatakan hal itu padanya
"Eehmmmm..ehemmm...."
ibunya kembali berdehem lagi
"Baiklah Siska selamat malam "
"Ya kak Arya , selamat malam juga terimakasih ,kakak juga jaga kesehatan untuk besok ya , baiklah kalau begitu aku semangat untuk bersiap-siap dulu "
"Dagh..."
Perasaan Arya berbunga-bunga sekali mendapatkan momen perhatian dari Siska tersebut
Ya ampun padahal tinggal satu hari lagi ia sah menjadi istriku , Tapi kan bagaimana nantinya
huh...aku harus jaga stamina untuk besok , Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar nanti , aku sudah tak sabar ingin mengasah pedang ini
Arya senyum-senyum sendiri
setelah selesai telponan dengan Arya .
Siska langsung menutup telponnya dan melanjutkan
persiapan untuk memeriksa apa lagi yang kurang di rumahnya
"Persiapan tenda sudah semua kah ?"
sambil memegang catatan
"Sudah siap semua Bu,Siska "
"Lampu dan juga kursi bagaimana ?"
"Tinggal sedikit lagi "
Maminya langsung menghampirinya
"Nak biarkan saja EO nya langsung yang mengerjakan kau duduk manis saja "
"Siska tak bisa diam saja Bu, apa lagi ini masalahnya adalah pernikahan Siska yang sakral "
Maminya langsung tersenyum
"Memangnya pernikahan pertama tidak sakral Nak ?"
"Bukan begitu Bu , pernikahan pertama tidak dengan hati dan persiapannya juga mendadak ,ibu kan tau itu "
Maminya memegang tangan Siska
"Jangan jadikan sebuah penyesalan Nak, jadikan pelajaran hidup jika manusia itu selalu melalui proses lika-liku yang sangat sulit dalam menjalankan kehidupan masing-masing "
Siska tersenyum "Antara cinta dan takdir ya Mi"
"Baiklah kalau begitu mami mau masuk dulu , jaga kesehatanmu jangan sampai kelelahan ingat !"
__ADS_1
"Baik Mi"
ucap Siska melepaskan tangan Maminya
ia pun kembali mengecek persiapan tenda dan juga dekorasi rumah , dan sudah mulai tampak begitu megah sekali . rencananya juga mereka akan mengadakan akad nikah dulu Minggu ini setelah itu bulan depan baru akan mengadakan resepsi yang akan mengundang banyak kerabat , karena Arya dan Siska menikah yang pertama dahulu hanya melakukan pernikahan saja tanpa adanya prosesi adat
Siska tersenyum sendiri melihat semuanya ,
Rima yang juga sekarang menjadi kakak iparnya pun langsung menghampiri Siska yang sedang takjub memandang semua persiapannya
"Seperti sebuah mimpi ya Sis, akhirnya kau dan kak Arya akan menjadi suami isteri dalam hitungan jam saja "
Siska langsung kaget sekali
"Rima..."
Tersenyum sambil merangkul pundak Siska
mereka kembali teringat masa muda dahulu
"Aku percaya Siska , rencana Tuhan itu pasti sangat indah sekali meski berliku-liku ,
bayangkan saja jika hari itu kau tidak menikah dengan Arjuna mungkin kau tak akan merasakan kebahagiaan sebesar ini karena ujian yang kau lewati "
Siska langsung tersenyum "Kau benar Tuhan sedang mengajarkan aku bagaimana rasa syukur dengan apa yang didapatkan dengan sangat susah payahnya "
"Kita tepatnya... Kita..."
"Bukan hanya kita Sis, tapi semua manusia memang memiliki ujian hidup masing-masing ntah itu ujian atau murkanya Tuhan sendiri "
"Maksudnya kau kak Arya sudah lulus ujian dari
azabnya "
"Bukan begitu juga Rima, aku tak berani mengatakan seseorang itu buruk hanya karena kelakuan buruknya, takutnya nanti malah ia lebih mulia disisi Tuhan karena rasa sabar yang ia punya "
Siska dan Rima saling tersenyum
"Satu hal ya Sis, pengalaman hidup telah banyak mengajarkan kita segalanya, tangis, air mata , semuanya sudah pernah kita lewati , semoga kedepannya apapun ujian yang diberikan oleh Tuhan kita berdua sanggup untuk menjalankannya karena sudah pernah melewati badai yang lebih besar"
"Aamiin"
.......
Dirumah Arya , sebuah ungkapan hati ibunya membuat perasaan Arya menjadi tak karuan kembali
"Nak ibu senang sekali akhirnya kau akan membina rumah tangga lagi, setelah bertahun-tahun lamanya kau seorang diri
hehehe , sebenarnya keinginan ibu ini terlalu recehan Nak "
terdiam
"Apa yang ibu inginkan katakan saja Bu, jangan sampai keinginan ibu tak Arya wujudkan "
Arya sungguh berbakti sekali pada orang tuanya , segalanya telah ia lakukan untuk ibunya
"Ayo Bu cepat katakan saja "
Arya memegang tangan ibunya
"Ibu hanya .. ingin merasakan bagaimana rasanya duduk dikursi disamping pengantin sebagai penerima tamu , ibu ingin sekali merasakannya Seperti orang-orang itu hehe"
tawa ibu Arya
Arya pun langsung tertawa lega
"Astaga hanya itu saja Bu, hadeh..hampir saja jantungku mau copot memikirkan keinginan ibu jangan khawatir ,tenang saja Bu nanti ibu dan Alea akan duduk di kursi disebelah Arya untuk menerima amplop yang diberikan oleh tamu undangan " Canda Arya
"Haduh , Arya sembarangan saja kau , bisa-bisanya memikirkan amplop undangan "
Arya langsung menggaruk kepalanya
saat Arya dan ibunya tertawa dan bercanda Riang ,
Didalam kamarnya Alea sedang memikirkan sesuatu yang sangat indah
ia nampak malu-malu dan tersenyum-senyum sendiri , ya ia sedang membayangkan dirinya dan raja juga ikut bersanding di pelaminan
Setelah Papa dan Tante Siska menikah selanjutnya aku akan menikah juga dan bersanding dengan kakanda Raja , mm aku sudah tidak sabar lagi , apalagi dari malam tadi dia sibuk sekali mengirimkan aku pesan
Alea memeluk boneka yang berada disampingnya
Rupanya secara diam-diam Raja juga menaruh hati pada Alea, makanya ia sengaja mengikuti Arika sampai ke Jogja maksud hati agar arika bisa menjodohkan ia tapi rupanya malah ia pergi ditinggalkan Arika begitu saja , semuanya pupus harapan
"Mmm aku tak Masalah menjalani hubungan Back street dengan Alea , menurutku ia adalah gadis yang sangat unik sekali , cantik , bersahaja dan tidak banyak gaya ,apa lagi ia adalah anak dari teman papa ,aku yakin langkah hidup kami pasti akan lebih dipermudah ,ya kan "
Raja memeluk erat bantal guling nya membayangkan hal yang sama dengan yang dibayangkan oleh Alea seperti kontak batin antara dua orang yang saling mencintai
Rasa rindu yang dirasakan Raja pada Alea membuat ia mencari seribu cara untuk bisa mendengar suara Alea
"Sungguh aku merindukan suaranya , hmm padahal baru satu hari tak melihat wajahnya , bagaimana caranya agar aku bisa menelponnya tanpa harus berbicara secara langsung ya "
Raja memikirkan caranya setelah beberapa menit baru ia menemukan sebuah ide
" Baiklah aku akan berpura-pura kembali salah menelpon saja ,aku ingin sekali mendengar suaranya , menunggu Arika lama sekali . aku sudah seperti tahanan kota saja "
Mengembuskan napas panjang
Ia kembali langsung memencet nomor telepon Alea
kring...
kring..
__ADS_1
Kebetulan Alea yang sedang berada dikamar langsung kaget saat mendengarkan ada beberapa anak tetangga yang memanggilnya untuk mengajaknya bermain , karena Arya memang hanya memperolehkan ia untuk bermain dengan anak-anak tetangga disekitarnya saja
"Kak Alea...kak Alea .."
"Siapa itu ?"
Tanya Arya
"Ya biasalah anak-anak kecil yang menjadi temannya Alea "
"Aleaa lihatlah didepan banyak sekali anak-anak yang mencari mu "ucap Arya
"Iya Pa , sebentar "
Alea langsung keluar dan karena buru-buru ia meletakkan handponenya di meja makan dekat Arya dan ibunya yang sedang mengobrol
"Alea main dulu ya sebentar "
"Ya pergi lah sana"
Alea langsung berada didepan rumah karena ada beberapa orang tetangga yang meminta bantuannya untuk membuatkan perahu kertas
Karena Alea sangat dekat dengan anak-anak kecil ia sangat senang sekali jika diminta bantuan untuk membuatkan sesuatu untuk anak-anak
Saat itu juga handphone milik Alea berdering dengan keras
"Dari handphone Alea "
"Biar aku angkat Bu"
"Ya coba lihat mana tau itu nomor penting "
Arya langsung mengangkatnya, karena nama yang tertera didalam ponsel Alea adalah
'Basketku '
Alea sengaja memberikan nama itu didalam ponselnya karena pertandingan bola basket tersebut yang telah membuatnya terpesona pada Raja
"Basket ku ?"
Arya melihat dengan heran
"Siapa Nak ?"
"Tidak tau juga Bu tapi nama yang tertera dalam handphone ini agak aneh 'Basketku ' apa itu artinya basah ketek?"
Raja sudah menyiapkan kertas ditangannya ia sudah siap mengungkapkan perasaannya saat Alea mengangkat telpon darinya nanti
"Semangat Raja kau pasti bisa ini pertama kalinya aku mengungkapkan perasaan ku dalam bentuk puisi ciptaanku dan hanya perempuan yang akan aku jadikan istri saja yang mendengarnya , aku sangat yakin puisi yang aku tuliskan ini mampu membuat Alea bertekuk lutut dihadapanku , percaya saja "
Namun ia tak menyadari jika handponenya Alea tersebut berada ditangan Sang papa yang sangat over protective sekali
Arya masih bingung dengan nama yang tertera diponselnya Alea
berkali-kali ia membaca ulang
"Basket ?"
Mengangkat handponenya keatas
"Sudah angkat saja mungkin itu pelatih basketnya , jangan membuat sesuatu yang akan menambah kerepotan dirimu sendiri , ayo cepat angkat saja dulu !"
"Tapi Alea tidak suka olahraga Bu"
terjadi perdebatan diantara ibu dan anai tersebut
"Ah dari mana kau tau ,mana mungkin ia selalu melaporkan padamu tentang hobinya,Alea itu bukan anak kecil lagi , dia sudah menjelma menjadi seorang gadis cantik ,dan sudah saatnya ia menentukan pilihannya tanpa harus meminta izin padamu Arya ,sudah cepat angkat mana tau itu penting ,ayo cepat "
Arya terdiam sejenak ia berpikir mungkin yang dikatakan ibunya itu ada benarnya juga
meski ia sama sekali belum menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi pada putrinya ,apa lagi seorang ayah akan selalu menganggap bahwa putrinya akan selalu menjadi gadis kecil selamanya
"Benar juga yang ibu katakan ya , bisa jadi ia sedang berlatih agar menjadi atlit basket ,lalu ia diam-diam membuat aku bangga dengan prestasinya "
Pikiran Arya sudah terlalu ketinggian sampai-sampai memikirkan Alea yang akan menjadi atlit bola basket
Karena terlalu lama Arya mengangkat telponnya membuat Raja sampai ingin buang air kecil
"Aduh aku sudah tidak tahan lagi "Raja menaruh ponselnya dan masuk ketoilet
di saat bersamaan Arya langsung memencet tombol yes
ia mendengarkan suara tapi tak ada jawaban
"Bu tidak ada jawaban ?"
"Masa iya ,Coba kau berbicara ?"
Baru saja Arya mau mengatakan Halo terdengar suara Raja membacakan puisi
"Duhai Dinda. sang rembulan yang bersinar dimalam hari , apa kabarmu hari ini ?
tak kudengar suara mu malam ini malah membuat hatiku tenggelam dalam khayalan malam kelam , aku memandang langit dan melihat dengan jelas bayangan lampu-lampu yang berwarna diatas langit sungguh membuat siapapun yang melihatnya akan semakin senang dan bahagia , takjub sekali melihatnya cahaya terang benderang yang memukau sanubari"
Dari dalam toilet dengan kran air yang masih terbuka dengan keras
Arya dan ibunya pun langsung kaget saat mendengar suara Raja tersebut , tapi Raja terus menerus membacakan puisi hasil karyanya sendiri itu dengan sangat percaya diri sekali
puisi yang ia buat dalam beberapa menit saia untuk pertama kalinya hanya dengan cara membayangkan wajah Alea saja
"Aku adalah seorang lelaki yang kesepian ditengah keramaian ,aku adalah petualang yang sibuk dengan urusan duniawi yang tak menentu ,namun saat pertama kali aku menatap wajahmu,aku merasakan petualangan ini harus segera berakhir , kedua bola matamu yang seperti bola ping-pong , rambutmu yang tergerai Seperti daun pisang , membuat ku semakin yakin jika kau lah pelabuhan terakhir ku , Meski jarak antara kita saat ini terasa jauh namun percayalah semua nafasku ada disamping mu , pasti kau bisa merasakannya
setiap getaran yang ada dihati ku sama dengan getaran yang ada di hatimu juga "
__ADS_1
Ibunya Arya tertawa terkekeh-kekeh mendengarkan puisi yang dibacakan oleh Raja
"Siapa dia yang membacakan puisi aneh itu , apa dia seorang sastrawan atau hanya teman Alea saja "