Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 214


__ADS_3

Dimas langsung keluar dari kamar tersebut


Panji pun langsung buru-buru masuk dan menutup pintu kamarnya dengan terburu-buru


lagi-lagi Dimas menjadi bingung sekali


"Apa aku yang sudah tua atau mata ini yang sudah bertambah minusnya "


Dimas pun mengusap wajahnya sambil berjalan membawakan kipas angin


Sedangkan Arika langsung Tersenyum-senyum geli melihat Dimas yang dari tadi kebingungan


"Maafkan Arika ya Om Dimas , Arika tak bermaksud mengerjai om Dimas tapi ini adalah permintaan Panji , jadi maaf sekali om Dimas jadi korban dari tadi , lagian om Dimas terus yang dari tadi bertemu dengan Panji "


Setelah Dimas benar-benar pergi kedepan a


Arika pun langsung masuk kedalam kamarnya lagi


" Panji, cepat buka pintunya ini kakak "


"Iya Kak sebentar "


Panji langsung membuka pintunya


"Hadeh hampir saja ketahuan dengan om Dimas , huh"


Arika mengelus dadanya


"Kak apa om Dimas Itu yang ..."


ucapan Panji terhenti


"Ia itu om Dimas kenapa dia memangnya ?"


Panji langsung mengalihkan obrolan ketempat lain "Tidak kak , tidak ada apa-apa"


Arika langsung tak ambil pusing ,apa lagi hari sudah mulai terang


"Panji ayo sekarang cepatlah kau bersiap-siap lihat hari sudah terang "


Hari yang sudah mulai pagi membuat Arika yang tak mau di makeup pun memilih untuk langsung memakai pakaiannya saja


namun Tim Mua malah mengetuk pintu kamarnya lagi


Tok... tok...


"Permisi , Mua "


"Nggak usah kita nggak usah di makeup "


Panji langsung menegur Arika


"Kak kita ?"


"Iya kan kita berdua memang tak mau di makeup iya kan ?"


Panji langsung mengingatkan Arika "Kak tapi mereka kan taunya cuma kakak saja ,bukan kita , bagaimana sih kakak ".


"Aastaga kau benar ,Kakak lupa"


Arika langsung membuka pintu kamarnya


"Mbak maaf ya sebelumnya tapi tadi kan saya sudah katakan tak usah di makeup wajah saya masih alergi soalnya"


"Oh iya mbak , terimakasih maaf menganggu'


Arika segera menutup pintu kamar dan langsung buru-buru memakai pakaian seragam yang cantik itu tapi Panji malah cemberut


"Kak Panji pakai baju yang mana ?"


"Ya pakai saja mana pakaian yang kamu suka ambil saja sana didalam lemari kakak "


"kak tapi tak mungkin kan Panji nggak pakai baju seragam kak "


Arika pun kembali tersadar


Ya ampun benar kalau aku memakai pakaian ini lalu Panji bagaimana ? padahal kan ia mau duduk bersama Mama , hmm baiklah kalau begitu aku berikan Panji saja memakainya kan kasihan


Tapi karena pakaian seragamnya hanya satu , mau tidak mau ia merelakan adiknya Panji untuk memakai nya


ya karena Panji terus-menerus memohon untuk mendampingi Siska dari malam tadi


"Kak biarkan Panji saja ya please "


"Hmm tapi kakak juga mau mendampingi mama Dek , ini kan hal yang sakral untuk mama, haduh..., "Arika benar-benar sangat dilema sekali


tapi akhirnya ia luluh juga panji yang terus -menerus memohon hingga akhirnya hati Arika kembali luluh apa lagi melihat wajah Panji yang tampan tersebut , benar-benar mirip sekali dengannya


"Ya sudah kamu aja yang pakai ini nanti gantian ya, setelah kamu berpoto dengan mama kakak lagi yang memakainya untuk berpoto lagi ".


"Iya Kak ,Siap"


Panji yang masih remaja pun langsung tersenyum bahagia ,ya walaupun ia masih duduk di kelas satu sekolah menengah atas tapi tubuhnya sudah menjulang sangat tinggi seperti lelaki dewasa pada umumnya


"Ya sudah pakai cepat , sebelum kakak berubah pikiran lagi "


Arika pun langsung menyuruh Panji untuk memakainya


alhasil baju dress tersebut tampak menggantung dikakinya


"Kak ?"

__ADS_1


Panji memutar balik tubuhnya


"Sudah pas sekali kamu mirip dengan kakak, sekarang cepatlah keluar lihatkan itu para tamu undangan sudah mulai berdatangan ,ayo cepat keluar "


"Kak iya tapi lihat ini "


Panji langsung menoleh kearah bawah dan menunjukkan pada Arika


Astaga ?"


Arika langsung buru-buru mengambil kaos kaki


"Ya sudah sekarang pakai saja ini ,aduh bagaimana mungkin bulu kakimu bisa sebanyak itu , nggak bisa dicukur dulu kenapa ?"


Panji langsung menggelengkan kepalanya "Kak itu sangat menjijikkan harus mencukur bulu kaki Panji tidak mau , nanti kalau dicukur ia bisa tumbuh dengan sangat lebat sekali nanti , tidak mau ah "


"Hadeh merepotkan saja ,ya baiklah , cepat duduk kakak tau kamu tidak bisa memasang kaos kaki kalau bentuknya begitu "


Arika langsung memasang kaus kakinya , setelah itu ia pun bersiap-siap memakai pakaian yang lainnya dengan menggunakan masker diwajahnya dan juga kacamata


"Beres...."


"Kakak , kak Arika juga keluar dari kamar?"


"Ya iyalah kakak keluar dari dalam kamar ngapain disini , lagi pula kakak juga tak mau melewatkan kesempatan bahagia mama ini , jika kau mau ya kau saja keluar juga sana "


ngotot


"Kak jadi Panji duluan ya, kak arika nggak marah kan ?"


Arika menghela nafas panjang karena ia tau memang Panji itu sangat lah tidak enakan kalau sama orang ,apa lagi ia tidak biasa melakukan itu pada Arika kakak perempuan yang sangat dihormatinya


"Jangan memancing kemarahan kakak "


Arika berkacak pinggang itu tandanya Panji harus segera pergi dari hadapannya saat ini juga "


"baik kak ,Panji akan keluar "


"Iya sudah cepat sana, para tamu undangan sudah datang semua itu disana ,lihat kau. juga belum pernah melihat calon suami mama kan ayo "


Panji keluar duluan dari dalam kamarnya terlihat semuanya sudah ramai sekali , Panji yang ramah pun langsung tersenyum pada saat keluar dari dalam kamar , ditambah juga Arika mengatakan jika ia tak boleh mengeluarkan suaranya sama sekali dan jadilah ia Arika yang ramah sekali dengan semua orang yang ia temui


"Bagus Panji kau sempurna sekali dengan kaos kaki pink yang lucu itu , wig nya juga kelihatan seperti asli "


Arika tertawa geli sendiri melihat mereka hari ini


Kebetulan Aditya dan Ana juga sudah datang ,


disana ,ia langsung memanggil Panji yang dikira Arika


"Arika , sayang kau cantik sekali Nak , ayo kemarilah "


ucap Ana dengan menarik tangan Panji untunglah Panji sangat ramah pada siapapun ia langsung tersenyum tanpa bersuara dengan wig rambut panjang yang ia dapatkan dari kamar Arika ,meski ia sama sekali tak tau siapa yang menarik tangannya


"Astaga itu Tante Ana ,nariknya kuat sekali ,ya ampun aku sungguh sangat cemas "


Dan ia pun langsung melihat Bian yang berdiri disampingnya Panji


Bian langsung jijik melihat kearah Arika


namun Panji malah memberikan senyuman terbaiknya pada Bian


Otomatis Bian langsung kaget saat mendapatkan tatapan manis dan senyuman Panji tersebut


"Astaga kenapa dia begitu padaku "


Wajah Bian langsung tersipu saat mendapatkan Panji tersenyum manis padanya


yang ia kira Arika


Arika yang melihat Panji tersenyum pada Bian langsung emosi "Astaga Panji kau telah menjatuhkan harga diri kakak, kenapa kau harus tersenyum dengan dia , kau tau dia adalah musuh kakak ,kau tak pantas sama sekali untuk tersenyum ramah padanya , bisa besar kepala dia nanti , argghhhhhhhh !"


Arika sudah sangat geram sekali , jika Panji tidak ada sudah dipastikan iya akan melabrak Bian saat ini juga


"Sebaiknya aku masuk saja dulu melihat mama, jika lama-lama diluar melihat Bian bisa membuat tensi darahku malah naik huh.."


Ia pun memilih untuk masuk kedalam rumah dan melihat mamanya didalam kamar dan sangat cantik sekali


"Maamaaa"


Arika masuk dan memeluk mamanya


"Arika sayang kau belum bersiap-siap Nak ?"


Arika langsung buru-buru keluar dari dalam kamar mamanya "Oh ya mama ini Arika mau ganti baju dulu , lupa arikanya "


Arika langsung memakai maskernya segera kembali masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya yang lain ,bisa kacau jika mamanya nanti diluar Melihat Panji dan melihat ia dengan pakaian yang tadi " Terpaksa aku ganti baju lagi , ya ampun hadeh... ceroboh sekali kau Arika "


Setelah selesai mengganti pakaiannya , dengan memakai kerudung ia langsung berlari keluar rumah , Tampak Arya dan Alea baru saja tiba ,wajah Alea nampak sangat bahagia sekali mendampingi Arya , dengan sangat berbunga-bunga ia keluar dari dalam mobil menuju tempat yang sudah disiapkan untuk pernikahan papanya


"Nah itu Alea "


Hampir saja Arika memanggil Alea , setelah itu ia baru menyadari jika saat ini ia sedang menyamar menjadi orang lain


"Ya ampun hampir saja aku menggagalkan semuanya "


bernafas lega


kemudian tatapan mata Arika tertuju pada Bian yang dari tadi duduk disebelah Panji ,wajah Bian nampak manis sekali ia terus -menerus memandang Panji yang berada disampingnya


"Heh apa yang sedang ia lakukan , menatap Panji dengan tatapan menjijikkan itu "

__ADS_1


Arika merasa jijik


nampak juga Alea yang lewat dihadapannya tapi malah sama sekali tak menyapanya sama sekali


"Alea .. Alea kau sama sekali tak mengenaliku ya ,tega sekali kau malah menyapa Panji huhuhu"


Alea malah melambaikan tangannya kearah Panji


Panji pun membalas melambaikan tangannya


"Arika kau cantik sekali hari ini"


Alea mengacungkan jempolnya pada Arika ,


Panji sangatlah ramah ia tersenyum dengan siapa saja , membuat Bian yang berada disampingnya terpesona sendiri melihat tingkah Panji yang ayu sekali tersebut


untunglah ia tak melihat Panji yang sedang memakai kaos kaki tersebut ,ia hanya fokus pada pesona wajahnya Panji


Arika langsung kesal sekali saat melihat Bian yang memandang Panji


"Dia ternyata diam-diam memandangi aku ya ,hmm tidak boleh sama sekali , kenapa tatapan nya sangat ingin membuat aku muntah"


Arika yang menggunakan masker langsung berdiri disampingnya dan berpura-pura menginjak kaki Bian


"Aku harus melakukan ini "


"Awwwwww,sakit sekali "


"Sorry "


Arika langsung pergi kearah mamanya yang sudah duduk disampingnya Arya


Rasakan bagaimana rasanya, aku sangat tidak suka jika ada orang yang berani sekali memandang wajah ku dengan tatapan mesum seperti itu , kau paham aku tidak suka !"


"Kurang ajar sakit sekali , ya ampun siapa dia !"


Panji yang melihat Bian kesakitan langsung bergegas memegang kaki Bian tanpa sepatah katapun


"Sudah tak usah ,aku baik-baik saja"


bian menjadi malu karena ia mendadak melepaskan emosi nya ,


Melihat tingkah Panji , Ana dan Adita langsung tersenyum manis


"Sayang kau lihat Arika dan Bian"


"aku sangat bahagia sekali melihatnya , setelah ini aku akan memastikan mereka berdua akan segera menyusul Siska dan Arya "


"Aku setuju sekali sayang"


Mereka saling berpandangan dan melemparkan senyuman


Lagi-lagi dari kejauhan Arika melihat Panji melakukan hal yang menjijikkan pada Bian


"Heii Panji kenapa kau melakukan hal tolol itu padanya , sialaan bisa besar kepala dia , Panji, tolong hentikan dia itu orang yang paling kakak benci , argghhhhhhhh"


Saat Panji hendak berdiri Alea langsung menarik tangan Panji


"Arikaaaa ayo kita duduk disana kenapa kau malah duduk disini ,ayo cepatlah kita duduk didekat mama dan papa"


Panji langsung mengikuti Alea duduk disampingnya Arya dan Siska


Acara akad nikah akan segera dimulai , nampak Arya sudah duduk dengan tampannya ,meski ini adalah pernikahan kedua baginya ,tapi Pernikahan ini adalah pernikahan yang dilakukan menggunakan hati oleh mereka berdua, jangan ditanya bagaimana perasaan Arya saat ini , jantung nya sudah berdenyut-denyut tak karuan dari tadi detakannya sudah tak karuan , nafasnya sudah naik turun dari tadi


Arya melirik ke arah Siska diam-diam apa lagi Siska tampil sangat cantik sekali , sialnya tatapan matanya tersebut malah membuat , Dimas langsung menjadikan ia bahan keisengan yang biasa mereka lakukan


"Hei sabar . sabar...jangan lirik-lirik dulu belum halal "


"Dim, kau ini tak pengertian sekali sih , harap maklum aja kenapa, tak tau apa jika sikawan itu sudah lama tak mengasah senjatanya takutnya sudah tumpul "


Aditya tertawa geli


Wajah Siska langsung merah mendengarkan ucapan Dimas dan Aditya tersebut


Ana dan Rima pun langsung tertawa geli


"Sabar ya Siska sebentar lagi kalian akan sah"


Sementara itu Alea yang menggandeng tangan Panji yang dikiranya Arika langsung melihat sekeliling


"Arika kenapa dari tadi aku sama sekali tak melihat keberadaan Mas Raja ,dia ada dimana?"


Panji langsung kaget , bagaimana menjawabnya apa lagi Alea terus-menerus bertanya padanya tentang Raja , ia langsung menoleh kearah Arika


tatapannya mengisyaratkan sebuah pertolongan , arika tau apa yang ingin dikatakan oleh Panji ,apa lagi melihat alea yang dari tadi grasak-grusuk melihat sekeliling


"Aku tau pasti Alea sedang menanyakan keberadaan Mas Raja , hadeh , benar -benar sangat merepotkan sekali si alea ini"


Saat Arika ingin meminta Panji bertukar posisi,Bian malah memajukan kursinya dan duduk disampingnya Panji , sambil memberikan setangkai bunga


"Eh ini ada bunga jatuh ambil untuk mu "


Tingkah Bian langka membuat arika kembali emosi


Astaga Panji aku lupa mengatakan padanya jika makhluk ini akan menjadi masalah untukku ,


Panji langsung tersenyum dan mencium bunga tersebut


Arika yang melihat langsung kembali menjadi jijik "Cuihhh... Panji, astaga aku sama sekali tak pernah melakukan hal itu pada nya ,issss menjauh lah darinya, dia itu musuh kakak , hadeh kenapa kau tersenyum ramah padanya ,ihh bisa besar kepala dia nanti !


Panji hanya menjalankan perintah Arika ,yaitu tak usah bicara sama sekali cukup memberikan senyuman saja pada semua orang , dan tentu saja semua yang dilakukan Panji sudah sangat tepat sekali

__ADS_1


Panji kau membuat Kakak merasa sangat jijik hari ini , ya Tuhan aku sungguh muak sekali melihat nya


__ADS_2