
Siska sebenarnya juga merasakan hal yang sama perasaan yang bergetar hebat pada Arya hanya saja seorang perempuan paling jago untuk menyembunyikan perasaannya tidak sama dengan laki-laki
Kak Arya kenapa aku melihat ia dari tadi aneh ya, aku merasa ia sudah tak sabar lagi, ah sudahlah aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya, tak kusangka ia benar-benar bisa menjadi laki-laki yang setia, padahal tak menutup kemungkinan untuk ia menikah lagi, tapi tak ia lakukan, ia masih muda dan tampan, pastilah dengan mudah ia bisa mendapatkan gadis manapun yang ia mau, hmm... sungguh aku jadi merasa kagum sekali padanya, laki-laki yang menjadi suamiku, saat ini benar-benar sudah membuktikan jika cinta dan kesetiaan itu masih ada saat ini
Arya tak sadar jika Siska dari tadi juga sangat bahagia sekali karena sudah menjadi isterinya.
Arya sudah tak sabar untuk segera sampai, bukan apa-apa karena itu adalah hal yang wajar untuk seorang duda yang sudah lama tak berkelana dalam mencari kebahagiaan yang halal pastinya
Lama sekali perjalanan mobil ini, apa sopir ini sengaja? aku sudah tak sabar ini...
Berusaha menenangkan dirinya yang sama sekali tak bisa tenang,
"Maaf ya Tuan dan Nyonya, sesuai perintah Tuan Aditya saya tak boleh membawa mobil dengan kecepatan tinggi karena itu sangat berbahaya sekali untuk pengantin, jadi memang sesuai permintaan Tuan Aditya harus membawa mobil dengan hati-hati dan perlahan, jangan sampai membuat penumpang tidak nyaman"
ucapnya
Arya langsung menghela nafas panjang
"Hadeh, lagi-lagi Aditya selalu saja mengerjaiku, pantas saja aku merasa laju mobil ini sangat lambat sekali, bahkan aku merasa mobil ini tak bergerak sama sekali karena terlalu lambat"
Matanya melotot
"Ya sudahlah bawa saja lebih cepat kalau terlalu lama, bisa-bisa nanti aku buang air didalam mobil ini, apa bapak mau tanggung jawab ?"
gerutu Arya dengan kesal, karena ia dari tadu sudah tak tahan ingin sekali untuk segera mendekap erat tubuh Siska yang benar-benar membuat air liurnya menetes karena benar-benar menggoda ( bayangkan saja)
"Baiklah kalau Tuan ingin cepat-cepat aku akan melakukannya untuk anda, siap berpegangan lah kalian semua"
Dalam hitungan detik, mobil itu melaju sangat cepat sekali, dan mereka pun langsung sampai, rupanya hotel tempat mereka menginap sudah berada didepan mata
Arya langsung kaget, sedangkan Siska terlihat santai saja, karena ia memang sudah terbiasa naik mobil balap waktu muda,itu bukan masalah apa-apa baginya
"Astaga apa kau ingin membunuh kami ya?"
Arya benar-benar emosi, karena wajahnya barusan sungguh benar-benar sangat jelek sekali, terlihat begitu jelas jika ia sungguh sangat ketakutan sekali, lebih tepatnya ia malu karena berteriak dengan kencang sekali
"Heeh jangan marah Tuan, ini kan sesuai permintaan Tuan, tadi katanya tidak mau lambat-lambat ya sudah saya bawa ngebut jadinya, kenapa Tuan jadi marah begini sih"
ucapnya dengan sopan
"Ya sudah,pak masuk saja langsung kedalam, suami saya ini hanya kaget saja tadi jangan khawatir"
Perlahan Mobil tersebut pun langsung memasuki halaman parkir hotel dan langsung saja Arya kembali deg-degan, meski ia kesal karena sopir tersebut membawa mobil dengan cepat sekali
Kelewatan sekali sopir ini, tengil sekali tingkahnya, untunglah aku sedang tidak mau bertengkar sama sekali, padanya jika tidak
habis lah dia akan aku
"Sudah kak Arya jangan marah-marah kita sudah sampai ini, apa kak Arya tidak bahagia ada aku disamping kak Arya?"
sebuah pertanyaan yang sangat bodoh sekali untuk Siska,karena ia tau sebenarnya tau apa jawabannya, karena cinta Arya untuknya sangatlah luar biasa, mampu menembus samudera dan juga menembus segalanya
"Apa kau perlu aku jawab saat ini juga pertanyaannya?"
Siska menenangkan Arya yang sedang tersulut emosinya itu dengan cara bertanya sesuatu yang jawabannya sudah ia ketahui
"Iya, karena perempuan itu sangat suka sesuatu yang di ungkapkan, bukan hanya di pendam saja"
Arya tersenyum sinis
Hari ini akan tiba, kau jangan khawatir karena sebentar lagi aku akan mengungkapkan segalanya, apapun yang kau mau dan kau suka akan aku tunjukkan langsung hari ini, kau juga akan melihat bagaimana perkasanya aku, dengan segala kelebihan yang aku punya selama ini, Ups... tapi aku akan melakukan apa dulu ya nanti?. apa aku harus memegang tangannya dulu, atau aku harus memegang wajahnya atau bagaimana? kenapa aku jadi keki begini? padahal aku sudah sering sekali melakukannya
mula-mula nya aku harus bagaimana ya* ?"
Arya benar-benar gugup sekali padahal
Arya muda melakukan hal yang sama seperti itu merupakan hal yang biasa saja baginya, Tapi begitulah lelaki jika ia sudah sangat bersungguh-sungguh untuk berubah dalam mengikrarkan diri, maka ia akan menjadi laki-laki yang sempurna lahir batin baik dari segi iman dan kelakuan, Arya muda boleh saja seorang casanova, tapi Arya yang sudah matang memiliki sikap yang jauh lebih baik, sebelum ia dipertemukan kembali dengan Siska, itulah rencana Tuhan kita tidak pernah tau akhirnya bagaimana. Meski baru saat ini mereka dipertemukan kembali dalam keadaan yang sama-sama matang, Siska yang setia dan baik akhirnya dipertemukan kembali dengan Arya yang telah menjadi duda setia dan juga sifatnya tak sama dengan segala sesuatu yang tidak penting dahulu kala, yang terpenting Tuhan lebih tau jika mereka sama-sama memiliki hati yang baik
"Ayo kita turun kak Arya, apa lagi yang sedang kakak tunggu?"ucap Siska perlahan, sambil memegang tangan Arya, Siska benar-benar tak canggung lagi menyentuh Arya.
Zrrrrttt....
Zrttt.....
Arya langsung seperti tersentrum, kepalanya langsung berdiri, lebih tepatnya seluruh kepalanya.
"Jadi kita akan ..."
Arya terlihat benar-benar merah sekali wajahnya, baru saja disentuh tangannya saja padahal,belum yang lain hadeh... mungkin ini karena efek sudah lama sekali tidak merasakan ketegangan dan getaran gelora yang ada
Siska mengangguk malu sambil berbisik ketelinga Arya dengan mesra
"Terserah pada kak Arya saja, aku nanti pasrah aja"
Satu Kalimat berjuta rasa, Arya sangat bahagia. satu kalimat pamungkas yang sudah sangat lama ingin ia dengar, yang keluar dari mulutnya Siska , 'Terserah kak Arya saja" membuat Arya semakin ingin menari-nari di atas mobil ini rasanya detik itu juga, namun tetap tak bisa juga dilakukan saat ini juga
__ADS_1
Uyeeee aku merasa bahwa aku adalah laki-laki paling bahagia di dunia ini, bayangkan saja aku bisa merasakan bagaimana getaran-getaran yang ada yang membuat seluruh bulu kudukku merinding ,lama sekali Waktu ini lihatlah celana ku ini sudah mulai sempit, Siska nanti kau akan merasakan bagaimana aku dan pesonaku
"Pak masih lama ya ?"
ucap Arya dengan kesal sekali
"Lah ini hotelnya Pak, sebesar ini gedungnya masa bapak nggak kelihatan"
Arya terdiam ia benar-benar malu sekali, tapi ia tak kehabisan cara untuk membuat dirinya malu didepan Siska, dengan gagah beraninya
Arya langsung spontan menjawab
"Ya jelas lah, tidak nampak apa kau tak melihat aku ketutupan sama pesona bidadari yang ada disamping ini"
Sopir tersebut langsung ketawa "Ya..ya.. Tuan anda sungguh manis sekali, lihatlah Nyonya, suami anda ini jago sekali merayunya"
Wajah Siska kembali memerah, apa lagi saat mobil berhenti tepat diarea parkir yang berada di dekat taman, rupanya kedatangan mereka juga sudah ditunggu oleh para staf hotel dan belum sampai disitu saja, Aditya juga telah menyiapkan kejutan untuk mereka berdua, dengan membentangkan spanduk yang bertuliskan
"Happy wedding pengantin tua"
"Astaga spanduk apa itu?"
Arya langsung sok, sedangkan siska langsung tertawa geli, bukan apa-apa, ia tau sekali dari dulu Aditya dan Arya adalah dua sahabat sejati yang saling suka mengerjai satu sama lainnya
"Ya ampun spanduknya sungguh sangat lucu sekali"Siska tertawa terbahak-bahak
berbeda dengan Arya ia langsung mengusap wajahnya
"Hadeh Aditya, tak bisakah ia melakukan hal yang benar-benar waras sekali saja, aku ingin sekali meremas wajahnya"
Para staf langsung membuka pintu mobil mereka
"Selamat datang Tuan dan Nyonya, kami sudah lama sekali menunggu kedatangan anda"
"Benar sekali tamu spesial kita sudah tiba"
"Ya..ya pengantin tua kan, sesuai dengan yang ada di spanduk kalian itu" ucap Arya dengan kesalnya
"Ya tak apa Tuan Arya, biar Tua tapi bertenaga"
para staf pun langsung tertawa cekikikan
karena mereka tau bagaimana Arya sifatnya
"ini untuk anda Nyonya"
"Terimakasih "
sahut Siska dengan bahagia sekali
"Dimana kamarnya?"
Pertanyaan Arya yang spontan, langsung mengundang gelak tawa para staff hotel untuk kedua kalinya, padahal maksudnya Arya kan hanya bertanya, di tambah pula karena spanduk yang bertuliskan pengantin Tua itu justru membuat semuanya semakin tertawa terkekeh-kekeh
"Ya ampun Tuan Arya, anda sungguh sangat lucu sekali"
Ia langsung terdiam karena malu
Siska langsung menepuk pundak Arya
"Kak Arya "
Siska tertawa dan menggelengkan kepalanya
Awalnya Arya ingin marah, tapi lagi-lagi ia langsung berubah menjadi tersenyum karena pukulan Siska yang mengenai kulitnya,
Hmm kau berani memukuliku ya, awas kau yah sebentar lagi aku akan memukulmu dengan jurusan tanpa ampun ini,
Dari dulu hanya dengan tatapannya saja, bisa meluluh lantakkan segalanya, oh Siska aku sungguh sudah tak sabar lagi...
Mata Arya tampak seperti seorang pembu*uh
yang siap untuk menyerang Siska tanpa ampun
wkwkwkwk.
......
Tapi saat kebahagiaan menghampiri Arya dan Siska justru kondisi Arjuna semakin memburuk
sehingga Arika harus berangkat sore ini juga kejogja untuk bertemu dengan Papanya
"Panji akan menelpon kak Siska dulu Ma, untuk memberitahukan keadaan Papa"
"Ya nak, cepatlah katakan pada kakakmu,jika papa dalam kondisi yang semakin menurun"
__ADS_1
Silvi menangis
Arika yang kelelahan masih berbaring tergeletak didalam kamarnya, matanya juga sembap karena baru saja melihat dokumen milik Panji, laptop dan dokumen masih berserakan di atas tempat tidurnya, ia juga sangat kelelahan sekali
"Sungguh lelah sekali, padahal nggak ngapa-ngapain juga, akhirnya semuanya juga selesai hari ini juga, mama sudah bahagia dengan Papa Arya, dan Panji ternyata adalah anak kandung Papa dan mama"
Arika langsung merebahkan tubuhnya
ia hampir saja memejamkan matanya karena rasa kantuk yang menyerangnya tiba-tiba,
entah itu pertanda, entah juga itu karena ia yang sudah berjaga sebelum waktu subuh tiba
ditambah pula ia belum ada istirahat sama sekali
"Hoammm...ya ampun kenapa tiba-tiba ngantuk sekali ini"
Baru saja ia akan berlayar kepulau kapuk
Tiba-tiba suara telpon membuyarkan rasa kantuknya
Kring .. kring...
Arikaaaa dengan malasnya mencoba untuk bangun
"Siapa lagi yang menelpon ini "
ia sangat berat sekali untuk duduk, namun matanya langsung terbelalak saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya
"Panji?, Papa!"
Arika langsung cemas,
"Halo Panji"
Tanpa salam seperti biasanya, suara Panji terdengar begitu cemas sekali
"Kak Arika, bisa kah, kakak pulang saat ini juga, kak kondisi Papa semakin menurun"
Terdengar Panji seperti sedang menangis saat berbicara
"Apa dek, kenapa Paapaaa!"
Arika langsung terkejut dan sangat panik sekali saat menerima telpon dari Panji dengan ucapan yang membuat hatinya semakin deg-degan saja
"Baiklah kakak akan segera berangkat,jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja, tolong jaga Papa dulu dek, Panji harus kuat, ingatlah Papa kita seorang yang kuat, kakak akan segera kesana saat ini juga"
"Kak tapi bagaimana dengan Mama dan Papa, apa mereka tak bisa untuk diajak kemari sebentar saja, Panji takutnya umur Papa tidak lama lagi"
Tangisan Arika akhirnya pecah juga setelah ia tahan dari tadi " Panji jangan berkata begitu, papa kita akan sehat dan akan beraktivitas seperti biasanya, papa akan sembuh dan akan melihat anak cucu nya nanti"
"Kak, bisakah kakak ajak Mama Siska?"
pinta Panji dengan sangat lirih sekali
"Panji, bukannya kakak tidak mau mengajak Mama, tapi mama kan baru saja menikah, apa lagi mama sekarang juga sudah punya suami, jika meminta izin harus langsung sama papa Arya, dan kakak belum berani untuk mengatakan hal ini, takutnya nanti malah membuat Papa Arya menjadi tak karuan, apa lagi mereka baru saja menikah pagi tadi, maafkan kakak Panji"
Panji pun mengerti "Tak bisakah kakak mencoba dulu untuk menelpon Mama dan papa kak, please kak" sambil terisak-isak
"Panji maafkan kakak, tapi kakak tak bisa membantu soal ini, Panji kakak mohon mengertilah untuk saat ini"
"Baiklah kak kalau begitu, cepatlah kakak kemari Panji tak sanggup melihat mama Silvi yang dari tadi sibuk bertanya di mana kak arika, ia butuh kita kak, anak-anaknya"
"Baiklah kakak akan segera pergi saat ini juga, tunggu kakak disana ya dek. jangan lupa tenangkan Mama, jangan sampai Mama Silvi ngedrop karena ia baru saja kehilangan ibunya"
"Baik Kak, hati-hati"
Arika langsung menutup telponnya, dengan buru-buru ia langsung berlari keluar rumah
"Nek, Arika pergi dulu ya"
"Arikaaaa mau kemana?"
tanya mami Siska
"Pergi dulu Nek"
Terlihat terburu-buru sekali
"Mau kemana Arika, terburu-buru sekali sepertinya"
Mereka yang sedang mengobrol berdua langsung kaget
"Ah sudahlah, ayo lanjutkan kembali bercerita, palingan juga Arika nanti pulang juga, hehehe"
tertawa terkekeh-kekeh kembali
__ADS_1