
Siska langsung memegang wajah Panji,dan pelukannya kali ini terlihat benar-benar sangat tulus sekali "Nak, Panji anak hebat, mama bangga padanya" kasih sayang yang diberikan Silvi dan Arjuna lah yang membuatnya setegar ini, tapi cinta dan kasih sayang seorang ibu pada anaknya sampai kapanpun tak akan pernah tergantikan,
Siska langsung mencium kening remaja tampan tersebut berkali-kali, hingga membuat Panji heran dengan perubahan sikap Siska itu
"Mama ... "
Jangankan Panji, Arya sang suami saja sampai terheran-heran sekali melihat keadaan ini
karena tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya
Panji ini anaknya Arjuna, hmm tak bisa akau bayangkan bagaimana hatinya Siska yang terluka, tapi aku benar-benar salut pada Siska . karena ia benar-benar bisa bersikap baik pada anak dari suaminya.
"Panji pikir, Mama tak akan mau kemari"
"Tidak sayang, Mama tak akan mungkin bisa menolak keinginan putra Mama"
Panji juga begitu heran sekali, dengan perubahan sikapnya Siska, yang menurutnya sangat aneh sekali
Mama Siska, kenapa memperlakukan aku dengan begitu baik, apa hatinya sudah luluh
semenjak ia menikah dengan Papa Arya?
Untunglah ia berpikiran begitu, meskipun benar Arya telah membawa perubahan besar dalam hidupnya, meski hanya baru satu hari menikah
"Di mana Papamu di rawat Nak?"
Panji langsung menunjuk kamarnya
"Disebelah sana Ma,"
tapi sebelumnya ia langsung melepaskan tangan Siska, dan menghampiri Arya. soalnya tadi setelah selesai akad nikah Siska, ia belum sempat untuk bersalaman karena Arya buru-buru pergi ketoilet
"Ma, sebentar"
"Panji mau kemana Nak?"
Panji langsung menghampiri Arya dan mencium tangannya, ia benar-benar terdidik dengan adab yang luar biasa dari keluarganya, menghormati Arya yang sekarang adalah Papa sambungnya juga
"Pa, terimakasih sudah mau datang kemari bersama Mama Siska, maafkan Panji karena telah menganggu waktu Papa dan Mama"
Arya yang bingung karena Panji memanggilnya Papa juga . Namun di sisi lain ia melihat sosok anak muda yang benar-benar sangat be luar biasa pada laki-laki yang ada dihadapannya itu, cara ia berbicara, dan berbahasa sungguh-sungguh membuat siapapun langsung jatuh hati padanya, Arya pun langsung tersenyum dan menepuk pundaknya
"Tentu saja Nak, tidak usah sungkan.
ayo sekarang kita lihat Papamu saja dulu"
Arya sungguh berjiwa besar sekali, sungguh beruntung Siska mendapatkan suami seperti Arya, karena masa lalu seseorang tidak bisa dilihat dari bagaimana ia kedepannya, seseorang dengan masa lalu paling buruk sekalipun. jika ia bertekad untuk berubah dengan bersungguh-sungguh, lalu menyesal dengan segala perbuatannya maka tak mustahil kedepannya ia akan menjadi manusia paling baik. Karena kita tidak pernah tau kapan Tuhan akan mengangkat derajat orang-orang yang dengan tulus memohon ampun atas dosa-dosanya.
Panji berjalan beriringan bersama dengan Arya menuju kamar Arjuna, sedangkan Siska sudah berada lebih dulu beberapa langkah didepan mereka, jangan ditanya bagaimana perasaan Siska saat ini, campur aduk pastinya, di tambah lagi ia sudah setahun lamanya tak berjumpa dengan laki-laki yang belasan tahun menjadi suaminya itu.
Ya Tuhan apa yang terjadi dibalik kamar ini?
apa Arjuna baik-baik saja, atau kondisinya benar-benar parah sekali ya?, sampai ia harus dibawa kerumah sakit, bukannya dirumah perawatannya sangat lengkap, mama saja dulu dirawat di rumahnya, lalu kenapa ia harus dibawa kemari? ntah kenapa perasaanku menjadi tak karuan begini,
Jika detak jantung Siska bisa didengar secara kasat mata, mungkin semuanya akan kaget saat mendengarkannya
Deg ..deg ..
"Ayo Ma, masuk"
Panji langsung mempercepat langkahnya lebih dulu, dari mereka berdua, dan pintu kamar tersebut langsung terbuka dengan perlahan
Cekrek....
Tatapan mata Siska langsung terbelalak melihat seonggok tubuh manusia yang tak berdaya sedang terbaring lemah dengan alat-alat disekujur tubuhnya, spontan air matanya langsung tumpah tak percaya, karena biar bagaimanapun juga dulu Arjuna pernah mengisi hidupnya dan memperlakukannya bak seorang putri raja.
"Arjuna ?"
Wajah Siska langsung berubah seketika,
air matanya langsung mengalir deras tanpa permisi, tak bisa dipungkiri, jika seseorang mengalami rasa sakit yang amat dalam biasanya, ia akan mengalami kesedihan yang mendalam, itulah yang dialami oleh Siska saat ini, rasa cinta yang terlalu dalam yang ditunjukkan oleh Arjuna padanya dulu, cukup membuat ia merasa bahwa ia adalah satu-satunya manusia sempurna didunia ini dengan suami yang sangat mencintainya, namun ternyata kehidupan tak seindah yang ia pinta, karena kenyataannya takdir berkata jika kisah mereka harus segera usai.
Silvi langsung berdiri seakan tak percaya jika akhirnya Siska tiba juga ditempat itu,dan yang lebih mengagetkan adalah karena Arika juga berada disana.
"Mamaa!" teriak Arika memeluk Siska
"Arika, kapan sampai? kau tidak memberitahukan Mama nak, dengan siapa Arika pulang kemari?"
Arika langsung menunduk "Maafkan Arika Ma, jangan marah, bukankah sudah seharusnya seorang anak datang saat orang tuanya dalam keadaan seperti ini"
Siska langsung memeluk Arika dan mencium keningnya "Kau benar Nak, tidak ada alasan untuk orang tua, itu adalah suatu kewajiban"
"Arika tidak mau menganggu Mama dan Papa Arya"
Sambil menangis terisak-isak
"Apa yang terjadi dengan Papamu Nak?"
__ADS_1
ucap Siska dengan perlahan
Silvi langsung mendekati Siska, ia juga ikutan menangis setelah dari tadi ia berusaha untuk bersikap tetap tenang
"Mbak, akhirnya mbak datang juga, dan itu.."
Silvi melihat Arya dibelakangnya
Arya tak berbicara sepatah katapun untuk menjelaskan dirinya, karena ia juga kaget melihat kondisi Arjuna yang dulunya gagah dan tampan,sudah terbaring lemah dengan tubuhnya yang telah kurus seperti itu
Aku tak menyangka jika Arjuna akan jadi seperti ini, bayangkan saja bagaimana ia dulu sangat tampan, tapi tetap saja, lebih tampan aku
ucapnya dalam hati
"Dia adalah suamiku" ucap Siska perlahan
"Arya ?"
tanya silvi padanya
Memang benar sosok Arya sudah tak asing ditelinga Silvi, ia kerap bercerita bagaimana Arya dan Siska saling mencintai sebelum ia hadir didalam kehidupan Siska.
"Selamat Mbak, atas pernikahannya. semoga Mbak Siska dan suaminya bahagia sampai akhir hayat"
"Terimakasih Silvi"
Siska mencoba untuk tersenyum, meski ia langsung mengangguk dan menangis sejadinya, ia tak menyangka jika Arjuna akan jadi seperti ini
"Arika kenapa kau tak memberi tau Mama Nak, jika kondisi Papamu sudah seperti ini?"
Arika tak mampu untuk berkata apapun lagi, ia hanya menangis saja dari tadi
"Silvi sudah berapa lama Arjuna, mengalami hal seperti ini?"
"Semenjak Mas Arjuna dan Mbak Siska berpisah, kondisinya terus-menerus menurun"
"Ya Tuhan, kalian semua tak ada yang memberitahukan aku"
menutup mulutnya
"Seandainya Mbak tau, mbak yakin akan datang kemari lagi, tidak kan?"
jawab Silvi perlahan
Namun tiba-tiba, Terdengar suara perlahan dari Arjuna yang sudah tak sadarkan diri tersebut
"S-siska ... "
"Mas Arjuna ?"
Semua mata tertuju pada Arjuna saat ini juga
Arjuna perlahan membuka matanya.tapi Siska tak langsung mendekati Arjuna ia malah langsung memeluk Arya, karena semuanya harus izin suaminya dan Siska tau itu, ia tak mau Arya menjadi terluka, karena ia sangat paham betul bagaimana rasanya hati yang sakit dan terluka, cukup rasanya selama ini membuat Arya menderita dengan meninggalnya dan hidup menduda setelah kematian Alena.
"Kak Arya ... "
menangis dipelukan Arya
"Pergilah didekatnya, ia adalah ayah dari anakmu, ia juga dalam keadaan seperti itu, aku tidak masalah, pergilah kesana, karena kau adalah istriku saat ini, tak mungkin juga Arjuna akan merebut kau dariku bukan"
mengelus kepala Siska dengan lembut.
Siska yang sedang menangis tersedu-sedu itupun langsung segera mendekati Arjuna dan berada didekat kepalanya
"Iya aku disini"
jawabnya perlahan, dengan air mata yang jatuh beruraian
"Aku disini, berada disampingmu Arjuna, ayo lah kau harus bangun. kau akan melihat Arika menikah dan akan melihat Panji tumbuh besar dan gagah"
Tangisan semuanya terdengar didalam ruangan tersebut.
Panji langsung berdiri disampingnya Arya dengan menatapnya penuh hormat, karena jarang sekali ada laki-laki yang dengan berbesar hati seperti Papa sambungnya itu
"Terimakasih banyak Pa, atas pengertiannya, Panji tak tau lagi harus berbicara apa saja pada Papa, Panji bahagia karena mama menikah dengan Papa, tak salah jika kalian ditakdirkan Tuhan kembali bersama"
Arya tersenyum dan mengelus kepalanya Panji "Jangan khawatir Nak, aku sudah biasa"
menepuk pundak Panji, sambil tersenyum
"S-siska, k-au ,datang"
Arjuna nampak tersenyum, tampak bulir-bulir air mata, memenuhi pelupuk matanya.
"Jangan banyak berbicara apapun. Iya aku kemari untuk melihat keadaanmu, lihatkan kita semua berkumpul disini untukmu"
Siska menangis saat melihat Arjuna yang sangat susah sekali untuk sekedar berbicara
__ADS_1
"A-aku senang melihat kau kembali."
ucapnya dengan terbata-bata
Arya langsung keluar dari dalam kamar tersebut. ia tak mau ikut campur urusan mereka, lagi pula ia juga sengaja memberi ruang untuk Siska dan Arjuna saling berbicara. mengingat kondisi Arjuna yang sudah tak berdaya seperti itu, sepertinya Arya tau jika melihat dari kondisi Arjuna ia sudah tak lama lagi bentuknya, karena ia secara langsung dulu melepaskan Alena dengan kondisi yang seperti itu.
"Pa, mau kemana?"
tanya Panji, ia tak enak karena mungkin Arya merasa tidak sopan sama sekali karena Siska merdekati Papanya.
"Tenang Nak, jangan khawatir, Papa hanya ingin menunggu di luar saja, ayo sana, temani Papa dan Mamamu dulu"
Sebenarnya Arya jadi teringat saat -saat dulu Alena akan pergi meninggalkan dunia ini, persis seperti kondisi Arjuna saat ini.
Flash back
"Kau pasti kuat, bertahanlah Alena, putri kita sudah lahir, dan ia sangat cantik sekali seperti Mamanya"
Alena tersenyum "Akhirnya, setelah sekian lama aku bisa mendengar kak Arya memujiku, aku sangat bahagia sekali mendengarnya kak, terimakasih untuk pujiannya kak Arya, tapi aku benar-benar sudah tak sanggup lagi untuk bertahan, aku merasa hanya tinggal beberapa saat saja lagi"
Arya menangis "Sungguh tega sekali kau berbicara begitu padaku, bagaimana mungkin aku bisa mengurus anak kita seorang diri, aku tak akan mungkin bisa, kau tau aku adalah laki-laki yang bagaimana bren*seknya kan?"
Alena tersenyum "Aku yakin kak Arya akan menjadi papa yang sangat baik, bagi putri kita nanti, aku percaya itu"
"Aku tidak percaya!"
"Aku akan berdoa setelah aku tiada nanti, kak Arya akan hidup bahagia, dan menikah dengan perempuan yang luar biasa".
"Ya terserah kau saja, aku sangat marah ini"
melepaskan tangan Alena dan membalikkan tubuhnya, ia menangis sejadi-jadinya
"Keterlaluan, baru juga bahagia. tapi ia sudah berbicara seperti itu, kau pikir aku ini robot yang tak punya perasaan"
Tit..tit...
bunyi alat-alat terdengar diruangan itu
"Kak Arya, aku ingin sekali melihat senyuman manis kak Arya, aku ingin melihat wajah itu saat aku menutup mata, aku rasa tugasku sudah cukup, aku benar-benar sudah tak sanggup lagi"
Air mata Alena menetes
"Maafkan aku karena telah memaksa kak Arya untuk menikah denganku, maafkan aku sudah membuat kak Arya menderita, aku hanya ingin kak Arya tau jika aku mencintai kak Arya sampai kapanpun, titip putri kita ya, berikanlah ia nama Alea yang artinya Alena dan Arya, sayangi dia, karena ia nanti akan menjelma menjadi gadis cantik yang jelita, Alea akan tumbuh menjadi gadis yang kuat, ia adalah anugerah Tuhan, dalam pernikahan kita"
Arya masih saja memberikan punggungnya, ia benar-benar marah sekali, biasanya jika ia marah maka Alena akan datang untuk merayunya, itulah tujuannya sebenarnya
Arya sungguh tak mengerti, karena ia sama sekali tak tau jika sebentar lagi Alena akan segera pergi darinya
"Aku akan mencari Papa mertuaku nanti, setelah aku tiada, aku akan bertemu dengan bapak dan ibuku, dan juga Kakakku, aku sudah tak sabar ingin berkunjung ke tempat mereka"
Suaranya mulai susah didengar
"Kak Arya, maafkan aku telah hadir dihidupmu, tolong jaga anak kita ya, aku ingin sekali melihat ia bahagia, katakanlah padanya nanti jika aku sangat mencintainya, aku sangat menyayanginya melebihi segalanya didunia ini"
"Bodoh, apa kau tak ingin melihat wajahnya".
ucap Arya dengan ketus
"Tak perlu aku melihatnya, karena aku tau ia pasti mirip sekali dengan Papanya"
Arya menangis terus
"Kak Arya aku pergi ... "
Tit...tit...
tampak dilayar tersebut tak ada lagi angkanya
"Alena!"
Arya langsung membalikkan tubuhnya dan berteriak-teriak memanggil Alena
"Alena, Alena.... bangun Alena, Dokter!... Dokter... suster cepat kemari!"
Tangisannya benar-benar menggema sekali
Buru-buru Arya mengusap wajahnya
"Ya Tuhan aku tak sanggup jika mengingatnya kembali, Huh..ia adalah perempuan yang telah mengajarkan aku jika didunia ini ketulusan mencintai tanpa harus memiliki ada padanya, Alena"
Arya langsung menghela nafas panjang
pikirannya kembali pada Arjuna yang sudah terbaring dengan lemah
Aku melihat Arjuna sepertinya hanya menunggu kedatangan Siska saja, meski aku tak tau apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka, hanya saja aku sangat mengerti jika dari tatapan matanya yang sedang sakit seperti itu, aku tau jika rasa cintanya pada Siska masih sangatlah besar, aku tak mau melihatnya,
aku nanti merasa bersalah pula, menikahi Siska dalam keadaan ia yang sedang sakit parah seperti itu, walaupun mereka sudah bercerai, karena bercerai hidup dengan bercerai mati itu sangatlah berbeda rasanya.
__ADS_1
.....
Bantu Vote yan sayang kuh ๐