
"Tapi ini ada acara apa Mi?"
Dimas masih benar-benar penasaran sekali
sampai-sampai mulutnya Dimas ternganga lebar
"Kak Dimas, tutup kenapa mulutnya!"
senggol Rima melihat suaminya yang sedang terheran-heran begitu
Mami Siska langsung menjawab
"Mami juga tidak tahu Dimas, tau-tau mereka sudah datang saja, mama pikir kalian berdua sudah tau,kan mami sudah tua sudah tak paham lagi hal-hal seperti ini"
"Lalu ini acara apa Mi?"
tanya Rima lagi
"Ya ampun Rima, kan Mami sudah bilang Nak, mami mu ini tidak tau apa-apa sayang"
Rima langsung tersipu malu sambil menyenggol lengan Dimas
"Aku jadi malu kak Dimas"
"Sudah diamlah saja"
Tak lama, mereka saling melemparkan pertanyaan satu sama lainnya.
sebuah mobil memasuki perkarangan rumah besar tersebut
"Nah itu mobil mereka bukan?"
"Mereka siapa?
"Mobil Arya itu"
Dimas memperhatikan nomor kendaraannya
"Nah benar sekali itu Arya dan Siska"
Wajah Rima nampak berbunga-bunga sekali apalagi ia sudah tak sabar ingin mengungkapkan maksud dan tujuannya datang kemari
"Kenapa aku jadi deg-degan begini ya saat mereka datang, aku jadi tidak karuan begini"
ungkap Rima dalam hatinya.sejatinya seorang ibu akan melakukan apapun untuk anak-anaknya tersayang
"Tunggu mereka turun saja, nanti kita tanyakan ada acara apa ini"
"Benar, coba tanyakan langsung dengan orangnya,ada acara apa ini, karena kita semua tidak mengerti atas apa yang terjadi ini"
Tapi Rima belum juga puas dengan pertanyaan yang ada dibenaknya
"Oh ya aku tidak melihat Alea dari tadi, kemana dia?"
"Oh Alea, dia belum pulang. masih di kampus, tadi ada mata kuliah sore katanya"
jawab ibunda Arya yang juga sekaligus akan menjadi neneknya Raja.
Sedangkan Siska dan Arya langsung takjub melihat tenda yang sangat megah itu,hanya dalam hitungan beberapa jam saja tenda itu sudah berdiri, benar-benar kekuatan uang itu sungguh sangat luar biasa sekali
tenda yang terbentang dihalaman rumah itu megah dan benar-benar mewah
"Wah cantik sekali tendanya ya, Ana memang juara sekali soal ini"
Siska benar-benar bahagia melihatnya,tenda cantik dan mewah dengan warna kesukaan Arika warna hijau muda itu
Cantik apanya, mama saja yang menikah dengan Papa Arya sekarang. repot sekali harus menyuruhku dan laki-laki sialan itu. bagaimana jika nanti dia melakukan kekerasan padaku, siapa yang akan bertanggung jawab.
Apa kalian tahu sifat aslinya ha? apa kalian tau bagaimana ia mengerikan sekali memperlakukan aku Papa dan Mama!
"Sayang apa nanti kita akan mengadakan resepsi seperti ini?"
tanya Arya bercanda hanya untuk mencairkan suasana saja, karena ia tau dari bentuk wajahnya Arika ia paham jika putri sambungnya itu sedang tertekan sekali
"Bagaimana Arika menurutmu"
"Terserah Papa dan Mama sajalah aku tidak perduli sama sekali!"
ungkap Arika lembut padahal ia sedang marah sekali itu
"Sudah, cepat. ayo turun!"ajak Siska
"Buka kuncinya Papa ..."
sahut Arika dengan suaranya yang sudah bergetar sekali, seperti ada sesuatu yang sesak yang sedang ia tahan di dada dari tadi
"Iya Nak, Papa lupa"
Nampak mata Arika sudah merah, nampak bulir-bulir air mata yang hendak tumpah ruah dikedua pipinya,
Arya mengerti sekali bagaimana perasaannya, namun apa yang dilakukan oleh mereka semua sebagai orang tua benar-benar sudah sangat tepat sekali, karena jika dibiarkan begitu saja nanti malah akan merepotkan orang tua saja
ujung-ujungnya akan membuat malu keluarga
"Arika ..."
ucap Arya sambil melihat dari kaca spion
Kenapa Papa, aku tau papa tak tega melihat aku kan, tapi percuma saja Pa, karena semuanya akan sia-sia saja
Cletak...
pintu mobil terbuka
Arika pun langsung keluar dari dalam mobil
dengan menangis, ternyata air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, karena sudah tak tahan lagi menahan rasa sesak di dadanya.
ia langsung masuk kedalam rumah melewati Dimas dan yang lainnya yang langsung kaget karena Arika yang lewat seperti bayangan secepat kilat.
"Arika menangis sayang?"
tanya Arya saat melihat Arika yang langsung berlari masuk kedalam
"Sudah biarkan saja, nanti juga tertawa. ayo kita masuk, sepertinya ada kak Dimas disana"
Melihat Arika yang berlari masuk Rima langsung kaget
"Nah Arika, kenapa ya?"
"Kenapa dia menangis tersedu-sedu, ada apa ini sebenarnya?"
Neneknya juga merasa heran, begitu juga Dimas dan yang lainnya "Kenapa Arika?, apa Yang terjadi?"
"Arika cucu nenek kenapa?"
Mami Siska hendak berjalan masuk namun Siska langsung berteriak
"Mami ..mami mau kemana?
panggil Siska dengan cepat karena Maminya hendak menyusul Arika.
Semua yang berada disana pun langsung Menatap dengan heran dan pertanyaan yang besar, sebenarnya ada apa
"Siska lihatlah wajah mereka semua sepertinya penasaran sekali?" bisik Arya dengan cemas
"Sudah lah kak, nanti itu menjadi urusanku. aku akan menjelaskan semuanya. jangan khawatirkan itu, lagi pula sebelum keluarga kita mendapatkan rasa malu yang lebih besar ya kan?"
"Ya benar sekali"
Arya dan Siska langsung menghampiri mereka semuanya,
"Siska ada apa?"
__ADS_1
tanya Dimas dengan heran
Arya langsung menunduk tak berani menjawab pertanyaan dari Dimas, ia memang Papa sambungnya Arika,namun ia takut jika cara penyampaiannya nanti ada yang salah lebih baik Siska saja yang menjelaskan secara langsung
"Sebaiknya Mami dan ibu bersiap-siaplah karena sebentar lagi Arika akan segera menikah dengan Bian"
"Menikah? cucuku akan segera menikah? apa bener ini?"
"Apa?" semua keluarga langsung kaget
"Kenapa cepat sekali, apa yang terjadi ? sebenarnya? Dimas nampak memaksa
Arya dan Siska pun saling berpandangan dan menceritakan apa yang baru saja terjadi
"Jadi begini ....."
Siska pun mulai bercerita panjang lebar diikuti Arya yang mengiyakan apa yang mereka lihat didepan mata"
Mami Siska dan yang lainnya langsung kaget
"Astaga! apa itu memang benar?"
Siska mengangguk
"Itulah yang terjadi Ma, Bu. tepat didepan kedua bola mata ini, jadi tak perlu bukti yang lain semuanya sudah benar-benar jelas dan nyata!"
"Ya Tuhan Arika,aku sungguh tak menyangka.dan itu anaknya Aditya juga seperti laki-laki yang tak banyak tingkah"
mengusap wajahnya
"Sekarang ini semuanya sudah terjadi tak ada lagi yang bisa disalahkan satu sama lainnya karena memang faktanya seperti itu, bayangkan saja bagaimana jadinya kalau kami semua tak ada ditempat itu ntah apa yang terjadi"
"Ya Tuhan aku tak menyangka jika mereka senekad itu"
Dimas dan Rima pun langsung berbisik
"Mereka juga harus segera dinikahkan sayang, bisa bahaya nanti, jelas -jelas Arika dan Bian ini anak baik-baik tapi lihat sendiri kan? nah tau sendiri bagaimana putra kita Raja,"
"Ya kau benar sayang, aku takut sekali jika Raja akan melakukan hal-hal yang tidak-tidak pada Alea, apa lagi anak itu sangat lugu sekali"
"Satu-satunya jalan adalah menikahi mereka secepatnya"
Dimas dan Rima benar-benar sudah bertekad
"Jadi mereka akan segera menikah saat ini juga?"
"Iya Bu, saat ini juga"
"Ya ampun, tapi itu lebih baik dari pada mereka harus melakukan hal-hal yang tidak diinginkan sungguh aku sangat khawatir sekali jika terjadi sesuatu pada mereka semua"
"Ya begitulah yang terjadi sebenarnya Bu"
"Siska itu sepertinya tim perias pengantin sudah datang"
Nampak MUA sudah datang, lengkap dengan timnya dan juga peralatan yang banyak sekali
"Nah benar sekali itu makeup Artistnya sudah datang, nampaknya mereka sekalian membawakan pakaian akad untuk Arika"
Sang make up artist pun menghampiri mereka
"Maaf, mana pengantin yang mau di make up itu ya?"
Siska langsung menunjuk kamarnya Arika
"Kamar yang berada di sebelah kiri pojokan ya"
"Oke baiklah kalau begitu saya permisi dulu Nyonya dan Tuan"
Siska langsung tersenyum "Sebenarnya aku sangat bahagia atas pernikahan Arika dan juga Bian ini, hanya saja mereka tak mau bersabar sedikit saja"
"Siska cepatlah ganti pakaian mu itu kita ini tak punya banyak waktu untuk berleha-leha, nanti rombongan Aditya dan keluarganya akan segera datang, lihatlah dua jam lagi waktunya"
"Kalau begitu aku dan Dimas sholat Jumat dulu sebentar, kalian berdua bersiap-siaplah dulu"
Sebelum pergi ke mesjid, Rima langsung menarik tangan Dimas
"Kak Dimas ingat ya nanti setelah selesai sholat bicarakan baik-baik pada Arya, katakan padanya maksud dan tujuan kita itu ya"
"Jangan khawatir, sudah aku pikirkan itu. tenang saja"
mengangkat kedua alisnya
"Baiklah kalau begitu kami berdua pergi dulu ya, kalian jaga rumah baik-baik"
"Itu sepertinya mobil yang mengantarkan catering makanan"
ucap Arya
"Sayang kau bantu urus ya,..."
"Siap kak Dimas"
Rima tersenyum bahagia
Karena jarak mesjid dari rumah tersebut cukup dekat jadi Dimas dan Arya memutuskan untuk jalan kaki saja
"Jalan kaki lebih sehat ya kan Arya, apa lagi untuk kita yang sudah tak muda lagi ini"
"Ya selain sehat, pahala yang kita dapatkan saat berjalan kaki untuk melaksanakan sholat Jumat di masjid itu akan di hitung setiap langkahnya kawan"
Dimas menggelengkan kepalanya
"Tak kusangka ya, kau benar-benar sudah berubah, ternyata setiap ujian yang diberikan Tuhan itu tak akan pernah sia-sia"
"Kau benar bahkan kau telah dikirimkan Tuhan sebagai ujian untukku"
Dimas langsung senyum-senyum tidak enak
"Jadi kau masih dendam denganku Arya?"
Arya langsung menepuk pundak Dimas
"Tak ada satupun yang aku sesali, dari setiap ujian yang diberikan Tuhan untukku, Jika Tuhan tak mengirimkan kau sebagai ujian maka aku tak akan pernah mendapatkan bidadari cantik yang dikirimkan Tuhan dalam diri Alea"
Mata Arya nampak berkaca-kaca, jawaban yang ia ucapkan dengan wajah yang seperti itu sudah mewakili perasaannya saat ini jika ia benar-benar sangat mencintai Alea.
"Baiklah kalau begitu bolehkah aku meminta izin untuk meminang putrimu Alea untuk putraku Raja
Karena Raja memintaku untuk segera menikahkan ia dengan anakmu. aku takutnya nanti, malah Alea dan Raja akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, apa lagi anak sekarang tidak seperti kita dulu yang memiliki banyak pertimbangan"
Arya terdiam
"Kau serius?"
Dimas mengangguk "Nanti saja kau jawab, sebaiknya kita sholat saja dulu"
Dimas dan Arya langsung masuk kedalam mesjid
sekitar satu jam akhirnya mereka pulang tak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh Arya pada Dimas,.ia benar-benar sedang berpikir keras
"Arya apa kau sudah memiliki jawaban atas pertanyaanku tadi?"
"Kita bicarakan di rumah saja Dimas, karena aku tak bisa mengambil keputusan secara sepihak, tanpa mendengar secara langsung dari mulut keduanya"
"Baiklah aku setuju"
mereka berdua pun berjalan beriringan hingga masuk kedalam rumah,
Rima nampak tak sabar lagi untuk mendengarkan hasilnya
"Nah itu mereka sudah pulang, bagaimana ya? apa jawaban dari kak Arya, aku sudah tak sabar lagi untuk mendengarkannya"
Raja yang dari tadi bolak-balik ke toilet karena gugup tak ada kelihatan batang hidungnya dari tadi
__ADS_1
"Aduh, Raja mana lagi. sudah jam berapa ini masih juga belum keluar dari toilet!"
Rima nampak gusar
Siska yang sudah tahu maksud dan tujuannya Rima dan Dimas pun langsung buru-buru pergi
"Rima aku masuk dulu ya, semoga semuanya lancar seperti yang kau harapkan ya"
Siska langsung izin masuk saat melihat wajah Arya
"Siska nanti saja kau masuknya temani aku dulu disini,ayo cepatlah!"
"Aku rasa aku harus segera masuk apa kau tak melihat wajahnya kak arya itu ia sepertinya tak ingin melepaskan Alea"
"Hah dari mana kau tau,ini demi kebaikan bersama juga kalau nanti sampai terjadi yang tidak-tidak siapa coba yang akan disalahkan hayoo..."
"Terserah padamu Rima, aku masuk dulu ya untuk ganti baju"
"Lah ....."
Arya dan Dimas langsung menghampiri Rima
"Bagaimana kak Dimas apa sudah disampaikan pada kak Arya bagaimana niat baik kita"
"Sudah "
Dimas mengangguk perlahan
"Kak Dimas, aku sebagai ibunya Raja sangat berharap sekali agar Alea bisa menjadi menantu kami, karena anak-anak zaman sekarang jika mereka benar-benar tertarik dengan satu sama lainnya mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya,jadi sebagai orang tua ada baiknya kita menjadi jembatan untuk anak-anak kita kedepannya agar bisa menjadi manusia yang lebih baik"
Arya terdiam namun apa yang disampaikan oleh Dimas dan Rima itu memang ada benarnya juga, bayangkan saja jika sampai Alea melakukan kesalahan yang sama dengan Arika dan Bian, apa lagi ia juga takut akan masa lalunya yang akan berakibat fatal pada anak gadisnya itu
"Arya jangan khawatir putraku Raja adalah laki-laki yang baik, meski ia masih muda tapi ia sudah bertanggung jawab atas banyak hal ia juga memimpin perusahaan hanya dengan handponenya saja, jangan khawatir Alea akan bahagia dari segi apapun Arya "
"Kak Arya aku dan kak Dimas, memang sengaja ingin kemari untuk melamar putrimu Alea, kami memang sejak awal menginginkan Alea untuk jadi menantu kami, tapi rupanya diam-diam dibelakang kami mereka berdua saling menyukai satu sama lainnya, dan ini benar-benar sangat surprise sekali"
"Iya aku paham, tapi aku ingin mendengarkan langsung dari bibir putriku, apa bener dia dan Putramu itu saling mencintai, karena aku takut ini hanya sepihak saja, atau biasalah namanya juga anak muda pasti ada saja hal-hal yang di luar nalar"
Rima dan Dimas pun langsung mengerti
sementara itu ibunya Arya nampak sudah cantik dan rapi keluar dari dalam kamarnya
"Kalian tidak ganti pakaian?"
"Tidak Bu, aku lebih nyaman memakai batik ini Bu"
Rima langsung memeluk ibunya Arya
"Nanti ibu akan menjadi Neneknya Raja"
"Raja? maksudnya?
"Kami berdua ingin meminang Alea untuk putra Kami Raja Bu, apa pendapat ibu?"
berharap dengan pendapat ibunya membuat Arya lebih yakin lagi
"Ibu setuju saja, karena Alea juga sering cerita tentang Raja dengan ibu"
"Benarkah itu Bu?"
"Lah iya dia selalu mengatakan jika sekarang bukan Papanya lagi di hatinya tapi ada laki-laki lain yaitu bocah yang bernama Raja ini"
Arya langsung kaget "Benarkah Bu?"
"Iya Arya, itu yang selalu di ceritakan Alea dengan ibu!"
Tak lama berselang mobil Alea pulang dan memasuki halaman rumah Siska, ia pun kaget tak kepalang
"hah acara apa ini?"
"Nah itu Alea" ucap ibunda Arya dengan tenang
Alea turun dengan terheran-heran
"Ada tenda? siapa yang akan menikah?"
ia masih melihat sekeliling . orang-orang terlihat begitu sibuk sekali menghiasinya dengan cepat dan dalam beberapa menit saja telah jadi tenda dekorasi yang benar-benar megah sekali itu
"Alea ..."
Teriak Arya
"Papaaaa ....."
Alea langsung memeluk Arya
"Papa Alea kangen sekali dengan Papa"
"Yakin kau hanya kangen Papa saja, tak ada laki-laki lain di hatimu?"
Arya memegang wajah putrinya itu seakan tak rela jika putrinya telah berubah menjadi dewasa dalam waktu yang sangat cepat menurutnya
"Kenapa Papa bertanya seperti itu Pa?"
Alea merasa heran ia pun langsung memandangi sekelilingnya
"Nak Papa ingin bertanya padamu,.ayo ikut Papa dulu kita akan berbicara empat mata"
Alea langsung heran "Pa ,ada apa?"
Nampak Dimas dan Rima saling berpandangan satu sama lainnya untuk saling menenangkan diri mereka
"Aku yakin Arya akan mengerti jangan khawatir Alea dan Raja saling mencintai"
"Iya kak. semoga saja"
Kedua Nenek-nenek itu masih berdiri,
seperti mimpi saja. ucap mereka,saat mendengarkan Arika yang akan menikah.
apa lagi dengan dandanan mereka yang benar-benar elegan khusus untuk orang tua
MUA nya memang hebat sekali
"Alea Papa ingin bertanya padamu,apa Alea sudah siap untuk menikah Nak?"
Alea langsung heran "Kenapa Papa tiba-tiba bertanya seperti itu Pa? ada apa memangnya"
Mata Arya nampak berkaca-kaca sekali karena tak sanggup jika pertanyaan yang ia lontarkan itu benar adanya
"Papa hanya ingin tau, apa putri kecil Papa ini akan segera meninggalkan Papa untuk berumah tangga?"
Arya menangis, dan Alea langsung memegang pipinya "Pa, coba katakan. ada apa?"
Arya masih tak bisa berkata apapun lagi karena ia memang belum siap melepaskan Alea, namun Alea harus segera di nikahkan karena Raja sudah mengutus orang tuanya untuk melamar Alea, ia takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bisa bahaya nanti.
"Apa Alea mencintai Raja?"
ucap Arya dengan perlahan
Alea langsung melepaskan tangannya pada wajah Arya "Paapa..."
Alea menundukkan wajahnya,dan Arya tau jika Alea sudah seperti itu, tandanya adalah benar
Arya langsung memegang wajah putrinya, namun Alea tak mau mengangkat kepalanya.
"Ayo sayang jawablah Nak .... papa baik-baik saja"
Alea masih tak mengeluarkan suara nya
bertepatan dengan itu ,Raja yang baru saja keluar dari toilet langsung kaget saat melihat Alea yang seperti sedang dipaksa oleh seorang laki-laki,
Raja pun tak tinggal diam dengan cepat ia langsung menghajar wajahnya Arya.
__ADS_1
Bug .....