
Dokter tersebut kaget , begitu juga Dewa ia tak menyangka jika Dokter kandungan ternama dirumah sakit ini ternyata putrinya Dokter tersebut
Ya Tuhan aku tak menyangka jika dokter ini adalah anak dari Dokter tua yang aku anggap gila ini ,lalu kalau memang benar ia memberikan obat kanker itu pada Alena maka bagaimana dengan keadaan bayiku !
"Ayah bukan seperti itu aku akan menjelaskan pada ayah duduk persoalannya ,ayah tenang , dengarkan Maria dulu "
Laki-laki itupun duduk dengan wajah yang sangat marah sekali
"Cepat jelaskan !"
Wajah Dokter tersebut nampak pucat ,ia gemetaran dan mengambil beberapa berkas menunjukkan pada ayahnya dan juga Arya
"Lihat ini "
"Apaa ini ?"
Tertera nama Alena didalam berkas tersebut
"Siti mardalena "
"Siapa ini ?"
Dengan wajah yang sangat sedih dokter Maria mulai bercerita
"Maafkan saya Tuan Arya tapi ini adalah permintaan istri anda ,ia menderita kanker paru stadium akhir tapi tetap mempertahankan anak yang ia kandung dengan obat penahan rasa sakit itu sampai anaknya lahir "
Jreng...
Dokter kandungan bercerita sambil berlinangan air mata , Arya terdiam dan ia tak menyangka jika Alena telah mengorbankan seluruh hidupnya sampai begitu jauh sekali apa lagi ia tau jika sebagai manusia biasa ia sama sekali tak memperdulikan Alena hanya fokus pada anaknya saja , tangisnya kembali pecah ia langsung memukuli dinding dan menelpon Aditya dengan menangis histeris
"Maafkan saya Tuan Arya ini semua adalah permintaan istri anda "
Di saat yang bersamaan Alena yang tergantung dengan obat penahan rasa sakit mulai merasakan sakit yang amat dalam ,karena Dokter pun pernah mengatakan jika semakin besar usia kandungan maka semakin besar pula rasa sakit dan resiko komplikasi atas penyakit yang ia derita
"Dimana obat ku .."
Sambil memegang kepalanya ia mencari-cari tapi tak menemukannya hingga ia menyadari jika tadi obat tersebut tertinggal didalam mobil
"Aku sangat membutuhkan obat itu "
Darah segar keluar dari hidung dan mulutnya itu pertanda ia sudah tak kuat lagi
tapi Alena masih bertahan didalam kamar dan tak keluar karena ia memikirkan ibu Arya yang pasti akan panik sekali melihat keadaannya
"Aku akan menelpon kak Arya "
Arya yang sedang menangis histeris dirumah sakit terus -menerus menyalahkan dirinya sendiri
"Nyonya Alena sangat mencintai anda Tuan Arya ia melakukan itu karena rasa cintanya pada anda "
Hati Arya semakin tercabik-cabik ia menangis sesenggukan
hingga suara ponsel berbunyi tak ia hiraukan
sampai ponsel miliknya akhirnya terjatuh dan diambil oleh Dokter laki-laki yang juga ayah Dokter Maria
"Tuan Arya lihatlah ini lima panggilan tak terjawab dari istri anda "
Tertulis lima panggilan tak terjawab dari Alena
"Mana..mana Dokter ?"
Arya langsung mengambil ponsel nya dan menghubungi ponsel Alena namun tak diangkat
Kondisi Alena sudah terbaring lemah dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya
"Alena ayo angkat "
Dokter langsung mengatakan
"Tuan Arya sebaiknya anda segera pulang karena jika sampai nyonya Alena sampai terlambat memakan obat ini , maka ia akan semakin kesakitan apa lagi janin yang Didalam kandungannya semakin membesar"
Arya langsung terdiam "Aku harus segera pulang,harus "
Arya berlari keluar meninggalkan ruangan dokter tersebut , setelah sampai jauh berjalan ia kembali lagi kedalam karena ia lupa jika ia tadi bersama Dokter tersebut
"Dokter maafkan saya ..."
Dengan Tersenyum dokter tersebut langsung menepuk pundak Arya
"Tidak masalah cepat sekarang kejar istrimu ,aku bisa naik taksi kekantor Tuan Aditya"
"Terimakasih Dokter "
__ADS_1
Arya langsung berlari menuju mobilnya, dia menerobos lampu merah karena sangking paniknya
sesampainya dirumah ia tak menemukan ibunya dan juga Alena tapi ia melihat rumah dalam keadaan tidak terkunci dan ceceran darah dimana-mana
Untungnya satpam komplek lewat dan memberitahukan jika ibunya dan juga Alena baru saja dibawa ambulance kerumah sakit
"Tuan Arya ,tadi istri dan ibu anda baru saja dibawa ambulance kerumah sakit "
Tanpa berterimakasih pada satpam tersebut Arya pun langsung pergi menyusul Alena kerumah sakit
didalam mobil ibunya sudah menangis-nangis histeris
Tapi Alena Tersenyum dan menenangkan ibunya
"Bu Alena baik-baik saja ,jangan menangis .jika ibu menangis Alena dan cucu ibu akan menjadi sedih apa ibu mau melihat kita bersedih ,jangan menangis ya Bu"
Mengelap air mata ibunya
Sesampainya dirumah sakit Alena langsung masuk kedalam ruangan IGD Doktey Maria langsung menanganinya
"Nyonya Alena ?"
Arya pun langsung masuk dan menerobos memasuki ruangan pemeriksaan
"Maaf Tuan anda tunggu diluar saja !"
"Tidak bisa saya adalah suaminya , saya harus mengetahui bagaimana kondisi istri saya saat ini juga "
"Tuan mohon kerjasamanya jika anda tidak bisa diberi tau bagaimana kami bisa memeriksa istri anda dengan baik , tolong kerjasamanya Tuan !"
Arya masih tak terima hingga akhirnya ia pun langsung
masuk dan memegang tangan Alena
Dokter tak bisa menahannya lagi ,Dokter Maria juga membiarkan Alena begitu saja akhirnya
karena ia tau Alena berada dalam detik-detik terakhir kehidupannya
"Sudah biarkan saja mereka,siapkan kamar operasi , operasi harus segera dilakukan untuk menyelamatkan bayinya mengingat kondisi pasien yang terus -menerus mengalami penurunan "
"Baik Dokter "
Sementara itu Arya terus beruraian air mata
Air mata menetes dari pelupuk mata Alena
ia sangat bahagia mendengar ucapan Arya yang mengatakan jika ia sangat menyayangi dirinya
"Kak Arya terimakasih untuk ucapan indah ini aku sudah sejak lama menunggu kau mengucapkan kata-kata ini , terimakasih kak , aku sangat bersyukur untuk semuanya ,untuk semua hal yang selama ini Kakak lakukan untukku dan anak kita , maafkan aku belum bisa menjadi istri yang baik , aku titip anak kita ya kak ,jaga baik-baik "
Alena Tersenyum manis
"Maaf Tuan , nyonya Alena harus segera dibawa keruangan operasi "
"Dokter tapi...."
Suster langsung mendorong Alena "Maaf Tuan permisi "
Alena Tersenyum sebelum masuk
"Apapun yang terjadi aku sangat bahagia menjadi istrimu kak Arya "
Teriak Alena lemah
Itu lah saat terakhir Arya bertemu dengan Alena untuk terakhir kalinya
ia sampai sangat sedih sekali karena tak bisa berkata apapun , ibunya memeluknya dengan erat sekali sampai-sampai ia tak menyadari satu jam telah berlalu sampai dokter keluar dari dalam ruangan operasi dengan wajah yang sangat sedih sekali
Arya langsung berlari menghampiri Dokter tersebut
"Bagaimana Dokter, keadaan istri saya ?"
Dokter hanya menjawab "Maafkan saya Tuan "
Mereka langsung pergi , tapi Arya kembali berteriak "Apa maksudnya ha ? bagaimana keadaan istri saya ha ! bagaimana keadaannya ? apa kalian semuanya tuli ,mana istri saya "
Tak lama Mayat Alena keluar dengan ditutupi kain putih disusul dengan bayinya yang masuk didalam ruangan inkubator karena lahir dalam keadaan kurang bulan ia menangis dengan sangat kencang sekali
Tangis Arya pecah saat melihat Alena yang sudah terbujur kaku dengan wajah yang tersenyum indah ,ia seakan ikhlas dengan segala yang terjadi dalam hidupnya ,tak ada penyesalan sama sekali dalam hidupnya
ia sudah ikhlas sejak lama , Alena membuktikan cintanya pada Arya sampai akhir hidupnya ,ia menemukan kebahagiaan walaupun dengan kesakitan yang ia rasakan
ia mencintai dengan tulus tanpa mengharapkan balasan sama sekali
__ADS_1
"Alena kenapa kau memendam semuanya sendiri ,kenapa kau tak menceritakan semuanya padaku "
Ibunya nampak sangat tabah sekali ia langsung menenangkan Arya "Nak sabar jangan diratapi ya ,ikhlaskan Alena jangan disesalkan ia sudah bahagia pergi dengan tenang ia tak sakit lagi nak , lihatlah wajahnya tersenyum "
Puk...
"Papa ..."
Alea memeluk papanya
"Putriku "
Alea duduk dihadapannya begitulah Alea ia jika marah hanya sebentar saja , ia juga tak bisa melihat papanya bersedih
"Aku lihat papa dari tadi melamun saja papa sedang memikirkan apa "
Sambil makan kuaci didepan papanya
"Hmm tidak ada Nak , papa hanya capek saja ,Ayo cepat tidur , besok pagi kau harus berangkat kuliah dulu"
"Baik Papa"
Mengecup papanya
Alea langsung berlari kekamar neneknya
seperti biasa sebelum tidur neneknya akan berteriak karena keusilan gadis itu
"Aleaa apa ini ?"
"Itu mainan tikus nek apa nenek suka ?"
"Kau ini ada-ada saja ulah mu setiap hari,nenek sampai bingung bagaimana jika kau akan menikah nanti "
"Aku tidak akan menikah nenek aku akan membahagiakan nenek dan papa selamanya "
"Hei kenapa kau matikan lampunya , cepat hidupkan ,nenek tak bisa bernafas jika lampu mati "
Alea tertawa Didalam kamar
sedangkan Arya ia masuk kedalam kamar dengan menggelengkan kepalanya
"Anak itu kenapa jahil sekali aku sungguh tak mengerti lagi bagaimana cara membuat ia menjadi seperti anak perempuan pada umumnya , sungguh ia tak ada manis-manisnya sebagai perempuan "
.....
Dirumah Arika
"Mama...mama..."
"kenapa sayang ?"
"Arika boleh bertanya sesuatu pada Mama ?"
Gadis yang lembut dan sangat santun sekali dalam berbicara
"Bertanya apa sayang , tanyakan saja mama siap menjawabnya ?"
Siska melepaskan kacamatanya
"Mama apa mama tidak mau menikah lagi ?"
Siska tersenyum "Kenapa Arika bertanya seperti itu pada Mama ?"
"Tidak ada, Arika hanya ingin tau saja kenapa mama Arika yang masih muda dan cantik ini tidak mau menikah lagi"
"Karena tidak ada yang mau menikah dengan mama "
Siska tertawa
"Owww berarti jika ada yang mau menikah dengan mama ,mama mau ya menikah lagi? "
Siska berdiri "Sudahlah mama tidak mau membahas itu ,arika sebaiknya tidur saja ,ini sudah jam berapa besok mau kekampus kan ?"
"Baiklah Mama sayang ,kalau begitu Arika akan istirahat dulu , selamat malam mamaku sayang yang cantik dan berhati baik , aku sungguh bahagia memiliki mama sebaik dan secantik ini ,mama adalah perempuan paling hebat "
Siska terdiam dan memandangi pemandangan diatas langit ia teringat bagaimana peristiwa beberapa belas tahun silam yang terjadi padanya
Setelah kematian mamanya Siska dan Arjuna memutuskan untuk tinggal di jogjakarta selamanya , Untuk menjalankan wasiat ibunya
yang menginginkan Arjuna untuk kembali memimpin perusahaan dan keluarga besarnya di Jogja apa lagi ia adalah satu-satunya pewaris sah keturunan bangsawan di keluarganya
Gubrak ...
__ADS_1