Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 213


__ADS_3

Dimas langsung berlari masuk meninggalkan rumah maminya , dengan cepat menuju rumahnya sendiri yang berada tak jauh dari rumah maminya


"Sebaiknya aku pulang saja , sepertinya aku benar-benar sudah memasuki usia jompo ini pikiranku sudah mulai tak stabil , bisa-bisanya aku membayangkan Arika dan Arika lagi ,suara Arika , haduh ... Dimas kau benar-benar.butuh liburan sepertinya"


Para panitia melihatnya dengan tatapan aneh


"Ya ampun Tuan hati-hati nanti kakinya tersandung kabel itu lihatlah "


"Jangan khawatir aku masih bisa melihat dengan sangat normal sekali "


Namun lagi-lagi baru saja ia berbicara seperti itu kaki Dimas langsung tersangkut dan membuatnya jatuh tersungkur


"Aduh...."


memegang pinggangnya


"Kan sudah saya katakan tadi Tuan jangan berlari ada kabel , Tuan ini"


Lagi-lagi Dimas menyadari jika ia memang tak lagi muda


"Aku yang sudah tak lagi muda haduh, lihatlah bahkan kabel saja tak kelihatan olehku "


Ucap Dimas sambil dibantu berdiri oleh beberapa orang


"Jangan khawatir aku masih bisa berdiri sendiri"


Dimas merasa tidak enak sendirian padahal ia memang masih muda dan tampan hanya karena ulah Arika dan Panji justru membuat ia semakin bingung sendiri


.....


Arika langsung masuk kedalam rumah dan memperhatikan banyak sekali orang-orang yang sibuk , tapi dia merasa aman karena memang orang-orang itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing


"Syukurlah kalau begitu "


Arika langsung Menuju kamarnya


namun tak bisa di buka


"Aduh kenapa lagi ini apa aku lupa membawa kunci kamar "


Pletak...


pletak....


Panji langsung berdiri


"Apa itu kak Arika ?"


Ia takut dan tak mau bersuara , bagaimana jika bukan kakaknya ,akan menambah masalah saja nanti , Panji langsung mencabut kunci kamar tersebut dan mengintip dari lubang kunci untuk memastikan siapa yang berada diluar kamar


"Benar kak Arika "


Ia langsung meletakkan kunci kembali pada tempatnya


Pletak... bunyi kunci terbuka


"Syukurlah akhirnya bisa terbuka "


Arika langsung masuk kedalam kamar dan melihat Panji sudah berdiri dihadapannya ia langsung buru-buru mengunci pintunya kembali,


"Aduh syukurlah kau berhasil masuk kedalam kamar ini ya Dek ,kakak hampir saja takut jika kau salah masuk kedalam kamar "


Arika langsung menutup tirai di jendela kamarnya " Iya kak tadi memang Panji salah masuk kamar , tapi untungnya didepan pintu kamar kak Arika ada namanya kakak itu"


"Oh ya baguslah , tadi yang berjalan menghampiri kamu itu namanya Om Dimas kakaknya Mama, papanya mas Raja, tadi ia nanyain apa aja dek ?"


"Dia nanyain kenapa Panji lebih tinggi dari dia ,itu aja kak, Panji juga cemas tadi kalau sampai om Dimas itu ngelihat kakinya Panji , kan ketahuan nanti kalau Panji ini cowok ,lihat pakaian kakak itu tidak menutup mata kaki Panji "


Arika langsung tertawa geli "Ya ampun syukurlah kalau begitu ,bisa berabe kalau sampai om Dimas melihat kakimu tadi ya "


"Ya begitulah kak Arika ,Panji juga cemas tadi , tapi untungnya Panji langsung


Panji pun langsung duduk sambil minum air putih yang berada didalam gelas dikamar Arika tersebut


"Oh ya tadi jam berapa Panji menunggu kakak disana tadi, kok pada saat Kakak mau menelpon ,Panji udah didepan aja "


"Baru saja kok Kak, lagian kebiasaan banguj subuh kan kita jadi ngapain lama-lama di apartemen ".ucap Panji dengan suara yang sangat lembut sekali


Arika langsung mengeluarkan pakaiannya


" Oke baiklah , tunggu ya kakak akan carikan pakaian yang pas "


membuka lemarinya dan mengeluarkan pakaian miliknya


"Nah ini dia ,cantik sekali mama yang memberikannya , nanti kau pakai ini ya "


"Baik kak "


"Oke nggak apa-apa , sebentar lagi Mua itu akan masuk dan meriasmu"


Panji terdiam


"Kak... "


"Apa lagi dek ?"


"Kak bisa tidak jika Panji tidak mau di make up , karena itu sangat menggelikan kak , belum lagi nanti kalau MUA nya minta alis Panji dicukur itukan bisa berabe kak , bagaimana kalau sebaiknya kakak saja yang di make up ya atau kita tak usah menggunakan make up sama sekali kak ? bagaimana ?"


Arika terdiam ,ia memikirkan apa yang diucapkan oleh panji itu memang benar adanya


"Benar juga adikku tak mungkin nanti alisnya akan di cukur bisa pingsan nanti mama Silvi saat melihat anak laki -lakinya dengan alis yang tercukur seperti itu , dia pasti akan mengira jjka Panji oh...tidak.. tidak sebaiknya jangan "

__ADS_1


Arika menyetujui secara langsung apa yang di pinta oleh Panji " baiklah kakak setuju , tapi nanti kau tak boleh bicara dan mengeluarkan sepatah katapun ya ,jika ada yang bertanya siapapun itu , cukup tersenyum saja , ingat , bisa ketahuan nanti kita , hancur berantakan acara mama nanti "


"Baik Kak siap , , kalau begitu nanti Panji akan memberikan senyuman kepadanya semua orang , tapi sebelumnya apa bolehkah Panji menemui mama Siska sebentar saja kak , sebelum mama akad nikah nanti ?"


"Hah menemui Mama , untuk apa ? lebih baik jangan kau tak mungkin tak bersuarakan nanti jika mama bertanya , lebih baik tidak usah sama sekali ya "


Panji nampak sangat sedih sekali


Arika pun langsung menyadari jika wajah adiknya itu berubah menjadi aneh


"Aku hanya ingin menemui mama sebentar saja kak , hanya itu"


Aduh apa yang akan ia lakukan pada mama , Panji mau ngapain ya , sepertinya ia sangat antusias sekali dengan pernikahan mama ini padahal kan ia mamaku bukan mama kandungnya , heran juga kenapa dengan sikapnya


"Panji apa yang nanti akan kau lakukan sebenarnya ,kakak khawatir jika kau akan melakukan hal yang tidak-tidak nanti dihadapan Mama"


Arika langsung cemas ia sangat takut jika Panji akan melakukan hal-hal yang bisa membatalkan pernikahan Siska dan Arya


"Tenang saja Kak ,jangan khawatir ,kakak tak mungkin lah Panji akan melakukan hal yang seperti kakak pikirkan itu , Panji tak akan mau kak melakukan hal -hal yang membuat malu Keluarga kita , Panji tak akan mungki merusak kebahagiaan mama Siska "


Arika langsung percaya karena Panji memang tak pernah berbohong sama sekali padanya


apa lagi pancaran matanya benar-benar terlihat begitu tulus sekali


"Kalau begitu Panji akan keluar ya kak ?"


"Tunggu dulu kakak ingin melihat dulu situasi diluar ya , pakai cepat pakaian mu dulu "


Setelah melihat situasi menjadi aman Arika langsung menyuruh Panji untuk keluar


"Ayo dek sudah aman , nanti kamu pergi ke kamar mama itu yang didepan ada bunganya ya "


"Iya Kak Panji tau ,tadi salah masuk kamar ,kok"


Arika tertawa "Hahaha enak juga ya memiliki wajah serupa , tapi kenapa kamu lebih mirip dengan mama Siska ya , perasaan kakak padahal kamu kan .."


Panji hanya tersenyum saja ,Arika langsung memberikan kerudung tersebut padanya


"Nah jangan lupa pakai ini , jangan bersuara nanti ketahuan oke "


"Siap kak "


Panji langsung membuka pintu kamar Arika dan berjalan membuka pintu dengan menarik nafas dalam-dalam ia langsung masuk dan tampaklah Siska sedang duduk bersiap-siap untuk di make up , Panji spontan langsung memeluk Siska


"Arika ,kau mengagetkan mama saja Nak, tumben kamu pakai kerudung subuh-subuh begini "


Panji mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan tulisan "Lagi pakai masker putih telur Ma, jangan diajak bicara "


jurus terakhir yang ia lakukan


"Maaf mbak bisa minggir sebentar karena pengantinnya mau di make up "


"Oh oke sayang , anak mama yang cantik , mama mau make up dulu ya "


Wajah Siska nampak berbunga-bunga sekali


Karena akan segera menikah , dan Panji tau jika Siska sedang berbahagia hari ini


"Arika mama deg-degan sekali Nak ,padahal ini pernikahan kedua Mama"


Panji tersenyum saja ntah apa yang ada dipikirannya tapi terlihat jelas jika ia sedang berada didalam fase pasrah terhadap kehidupannya


Panji baru sadar jika ia lupa pakaian yang ia kenakan tak sampai menutup mata kakinya


untunglah Siska tak melihat Panji sampai ketumitnya , karena jika sampai ia melihatnya maka ,akan terlihat lah bulu kaki Panji yang sangat lebat sama halnya seperti bulu-bulu yang tumbuh di tubuhnya Arjuna


Cekrek...


Dimas masuk kedalam kamar Siska rupanya setelah ia berlari pulang kembali kerumahnya ,Rima langsung marah padanya karena mengagetkan ia yang sedang bersiap-siap untuk memakai make up apa lagi jika perempuan memakai make up , membutuhkan waktu sampai berjam-jam lamanya


"Siska dimana kipas angin yang besar tersebut?"


tanya Dimas masuk kedalam kamarnya


"Dikamarnya Arika sana ,masuk saja Mas"


"Maaf Nyonya sebaiknya jangan banyak bicara dulu lihatkan lipstick nya jadi berantakan begini "


Siska langsung terdiam kembali "


Dimas pun melihat Panji yang sedang berdiri disampingnya Siska dan lagi-lagi ia kaget


"Nah belum mandi ya , lihat mamamu sudah cantik itu "


Tertawa lalu ia langsung saja menerobos masuk kedalam kamar Arika yang dulunya adalah kamar dia


Arika yang tak sabar menunggu kedatangan Panji , memilih untuk menelpon Alea dulu pagii ini ia ingin memastikan bagaimana persiapan Alea pagi ini


Sebaiknya aku telpon Alea saja pagi ini ,aku ingin tau ia lagi ngapain


Kring...


kring


"Alea ponsel siapa itu berbunyi ?"


"Milik Alea itu yang berbunyi "


ucap ibunda Arya yang sedang menyiapkan makanan untuk sarapan pagi ini


"Nenek saja yang angkat Alea lagi mandi "

__ADS_1


"Nenek lagi menyiapkan masakan ini "


"Kalau gitu papa aja ya Pa , tolonglah Alea harus mandi dengan secantik mungkin ,agar bisa tampil paripurna dan sempurna Pa"


Arya langsung menghela nafasnya


"Sebenarnya siapa yang ingin menikah aku atau dia "


Arya langsung mengambil handphone Alea


"Jika si basket itu lagu yang menelponku maka akan aku pastikan dia menyesal karena sudah menelepon pagi ini "


Arya langsung melihat namanya "My sister Arika , oh Arika "


Arya pun mengangkatnya ia kelihatan benar-benar gugup sekali padahal hanya tinggal hitungan jam saja ia akan segera menjadi papa sambungnya Arika


"Halo iya Nak?"


Hah om Arya yang mengangkatnya , kemana Alea


"Om maaf menganggu Alea mana ya Om?"


"Alea dari tadi sudah berjam-jam dikamar mandi katanya supaya tampil cantik hari ini ,haduh..."


Saat Arika tertawa ,alea langsung keluar dari kamar mandi dan merebut handphonenya dari tangan Arya


"Paapaaa alea akan bersiap-siap dulu ya "


"Alea,halo..."


"Iya halo Arika ,apa yang kau lakukan apa kau tidak bersiap-siap untuk acara kita besok pagi ?"


"Acara kita ? acara mama dan papa kita maksudnya ?"


"Iya acara kita kan "


"Aku sudah siap paling sebentar lagi mau ganti baju , memangnya kamu mau bersiap untuk apa Alea ?"


"Haduh Arika tentu saja aku sudah menyiapkan semuanya dengan sangat rapi sekali , tema keluarga kita kebayanya kan warna gold ,jadi aku harus make up dengan riasan yang sangat cantik sekali karena nanti aku akan bertemu Raja ku "


Arika diam saja ia tak mengatakan apapun jiak Raja tak akan hadir diacara pernikahan itu


"Kau belebihan sekali sih , Alea ini kan hanya pernikahan saja resepsinya besok bulan depan"


"Nah itu masalahnya justru pernikahan ini yang harus benar-benar dirayakan ,bukan apa-apa karena kita tau bagaimana rasanya seseorang yang akan segera memulai untuk hidup berumah tangga itu Arika "


Alea malah mengatakan hal-hal yang sok dewasa sekali padanya


"Arika sekarang kau harus cepat berdandan lah yang cantik agar Poto -poto kita nanti semakin keren "


Arika menarik nafasnya dalam-dalam ia tau kenapa Alea melakukan itu padanya karena Alea pikir ia akan bertemu dengan Raja dan ia pun harus berdandah dengan sangat cantik sekali


Hah Alea aku tau kenapa kau terlalu berlebih-lebihan sekali kau pikir kau akan bertemu dengan Raja kan ,bahaya juga ya kalau kamu sedang jatuh cinta , kalau aku tak perlu berdandan, lagi pula aku juga akan bertemu dengan Bian , benar-benar sama sekali tidak penting


"Baiklah kalau begitu , selamat berdandan aku juga akan bersiap-siap dulu , dagh my sister ku"


Menutup telponnya


tiba-tiba pintu kamarnya berbunyi


cekrek


pintu kamar tersebut memang lupa dikunci Arika karena ia pikir Panji akan segera kembali namun rupanya Arika salah ,


saat sesosok kepala masuk kedalam kamarnya


"Astaga Om Dimas , aku lupa mengunci pintunya gawat , bagaimana ini "


ia langsung benar -benar sangat kaget sekali apa lagi ia melihat Dimas berdiri


"Arika mana kipas angin besar itu bawa kemari ,dulu , Om mau menaruhnya di depan "


untunglah Dimas itu pelupa jadi ia menganggap Arika yang berada didalam kamar tersebut tak ada masalah sama sekali


"Oh iya Om ambil lah ,kipas angin yang ini kan ?"


Memberikan kipas angin tersebut , Dimas yang sudah lama sekali tak menginjakkan kaki dikamarnya sempat bernostalgia sebentar namun Arika tak menyia-nyiakan kesempatan itu , setelah memberikan kipas angin tersebut ia pun langsung keluar dari dalam kamar


"Aku harus segera kabur dari kamar ini , cepat Arika ayo..."


lagi-lagi ia berpapasan dengan panji yang baru saja keluar dari dalam kamar Siska


"Arikaaaa "


Dimas menyadari jika ia seorang diri di dalam kamar tersebut


"Panji cepat masuk lah "


Panji langsung buru-buru masuk kedalam kamar Siska


dan Dimas kemudian baru menyadari lagi hal yang aneh lagi


"Arika ? dan itu Arika ?"


Dimas kembali bengong


.....


Hai ..hai... mau crazy up nggak nih ? mau lah ya masa nggak...


nah gimana author mau semangat kalau nggak kasih Vote sebanyak-banyaknya ummm.

__ADS_1


__ADS_2