Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 243


__ADS_3

Arya dan Aditya yang syok, benar-benar langsung kaget tak menyangka jika Dimas akan melakukan hal gila itu, apa lagi ini ditempat umum


"Waawww , ini sungguh amazing"


ucap Aditya sambil menggelengkan kepalanya


Arya pun sama matanya tak berkedip sama sekali karena terlalu kaget melihat apa yang terjadi dihadapan mereka


Arya dan Aditya langsung berpandangan dan dalam hitungan detik mereka langsung tertawa dengan keras sampai mengeluarkan air mata


"Astaga Dimas, aku tak menyangka kau punya tahi lalat yang sama seperti Arya,yang terletak pada bokongmu"


Aditya tertawa dengan sangat keras sekali


begitu juga dengan Arya


Namun gelak tawa Arya terhenti.


karena mendengar ungkapan hati Aditya mengenai bokongnya yang ada tahi lalat itu


"Dit, tapi bagaimana kau tau jika aku memiliki Tahi lalat di bokong?"


"Halah .... Sudahlah Arya, apa yang tidak aku ketahui tentang dirimu itu, apa saja simbol ditubuhmu itu aku sudah tau,santai saja"


Arya langsung menutup tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya


"Gila si Aditya, mengerikan sekali"


Dimas langsung kembali duduk, saat melihat kedua temannya yang sudah tertawa terkekeh-kekeh seperti orang paling bahagia di dunia ini


"Puas, kalian puas!, hah dasar. Bukankah aku sudah mengatakan jangankan noda, setitik rambut pun tidak akan kalian jumpai dibagian tubuhku ini, masih juga tidak percaya!"


"Ya kami percaya, kau benar-benar seperti bayi yang baru lahir"


ungkap Aditya penuh kemenangan dan tertawa puas melihat kedua tingkah temannya itu, namun Arya masih dongkol ia tetap tak bisa mengalahkan Aditya, Malah ia pula yang kena


Heh Aditya ini hebat sekali ya dia, seharusnya


ia jangan tertawa, kenapa malah jadinya aku dan Dimas yang kena,hah baiklah,


aku akan menyerang Aditya selanjutnya


Meski mereka berdua tak menyangka jika


Dimas akan melakukan hal yang tak terduga seperti itu


"Jangan pernah mengatakan hal yang hoak lagi seperti tadi ya, karena aku ini benar-benar mulus, sekali,ya hanya bulu kaki dan dada saja yang ada bulunya"


"Iya,iya tau, tapi tadi kelihatan dibagian depan agak. rimbun"


Aditya tak henti-hentinya tertawa geli


"Tapi serius ya, sepertinya siapapun yang memiliki Tahi lalat di bokong kisah cintanya memang agak tragis ya hahaha"


Arya dan Dimas saling berpandangan satu sama lainnya


"Iya deh yang kisah cintanya mulus seperti jalan tol"


Arya menjulurkan lidahnya pada Aditya


"Arya, dia itu awalnya dulu penuh kerikil, akhir-akhir nya aja dia mulus seperti jalan tol"


Dimas tak mau kalah, "Hahahaahah, ya sudah sekarang Arya lanjutkan lagi ceritamu,jangan setengah-setengah, ibarat buang air kalau lagi tanggung nggak enak"


Dimas langsung tertawa, dan melihat sekeliling, rupanya ada beberapa pelayan perempuan yang sedang senyum-senyum melihat kearah mereka


"Kenapa mereka, tersenyum begitu? apa tidak pernah melihat bokong gemoy sepertiku ini?"


Dimas sedikit emosi


Aditya dan Arya masih tertawa cekikikan


"Makanya kalau mau open bokong lihat Sikon dong kakak Dimas, jadi nya kan nggak kelihatan orang"


"Ah, sudahlah jangan banyak cerita, sebaiknya lanjutkan ceritamu Arya, dari tadi cerita nggak kelar-kelar. ribet banget sih"


"Oke baiklah, sebaiknya kalian lihat gigiku ini?"


Arya langsung melihatkan giginya


"Ada apa dengan gigimu Arya?"


"Ayo perhatikan, dengan benar?" Dimas dan Aditya saling berpandangan


"Ada apa sih dengan gigimu itu Arya?"


"Coba lihat baik-baik, ada apa?"


Dimas dan Aditya kembali berpandangan


"Kau jangan ikut-ikutan Dimas, kalau Dimas ngeluarin bokongnya kau malah ngeluarin gigi seperti itu, kan tidak enak dilihatnya malah terkesan jijik tau"


Aditya nampak bergidik sangat jijik sekali


"Oke baiklah aku akan menunjukkan betapa ganasnya permainan ku tadi, dan ini buktinya"


Arya mencabut salah satu benda disela-sela giginya


"Nah ini dia ?"


Menunjukkan didepan wajahnya Aditya dan Dimas "Ini dia, buktinya"


Aditya langsung berpindah tempat, begitu juga dengan Dimas


"Ih jorok sekali sih Arya ini, apa lagi itu?"


"Iya apa lagi itu, kelihatan juga nggak, tolong jelaskan apa itu"


"Baiklah kalau kalian benar-benar memaksa, ini adalah bulu yang terangkut disela-sela gigiku,dan tentu saja ini milik istriku Siska"


Tibaa-tiba Aditya dan Dimas langsung berdiri dan memegang mulutnya karena merasakan mual-mual, membayangkan apa yang dilakukan Arya pada Siska, sampai ada bulu digiginya itu"


"Huekk, aku sama sekali tak pernah sampai sejauh itu melakukannya Dit, ini sangat menjijikkan sekali, bayangkan saja bulu-bulu bisa ada digiginya, apa yang sedang ia lakukan. ya Tuhan"


"Dia benar-benar sang legenda Dit, aku mual sekali"


Arya masih tertawa cekikikan, namun momen ini yang sangat ia tunggu-tunggu dengan cepat ia langsung kembali melanjutkan ceritanya


"Pada saat aku mengangkat tangannya aku melihat juga begitu rimbun, langsung saja aku mulai dengan mencium dan menjilatinya, bulu-bulu yang tertimbun ditumpukkan lengan itu jauh lebih asik ternyata"


"Stop, aku sudah tak tahan, dengan ceritamu itu Arya, tolong hentikan. aku sudah sangat mual sekali, membayangkannya Arya huekkk"


Arya masih saja berbicara terus-menerus hingga akhirnya, Aditya dan Dimas langsung berlari ketoilet tak tahan lagi mendengar ocehan Arya yang tak berhenti seperti bebek yang terus -menerus berkotek-kotek


"Dit, aku mau ketoilet"


"Aku juga Dim"


Melihat kedua sahabatnya yang sudah menyerah, Arya langsung tersenyum bahagia dan sangat puas sekali, ia tertawa tak berhenti mendengar semuanya


"Bahahhaa, rasakan itu obatnya. orang yang terlalu kepo terhadap urusan orang lain, aku sungguh sangat puas sekali merasakannya, Arya you the winner"


Melihat kedua suaminya yang berlari kearah toilet. Ana dan Rima langsung berdiri


"Kak Aditya dan kak Dimas kenapa itu?"


Siska langsung menoleh kearah Arya yang sedang tertawa geli


Sepertinya rencana aku dan kak Arya berhasil, lihatlah mereka berdua lari tunggang-langgang


Tapi apa benar karena hal yang diceritakan itu,atau ada tambahan cerita lain yang dibuat-buat oleh kak Arya ya?"


Tak perlu waktu yang lama Aditya dan Dimas langsung mengajak Ana dan Rima untuk buru-buru pulang


"Sayang, sebaiknya kita segera pulang saja karena ini sudah benar-benar sangat kelewatan sekali, aku sudah tak tahan"


ucap Dimas pada Rima


Ana yang berdiri langsung menghampiri Aditya "Sayang,ada apa ini?"


"Sudah nanti saja aku ceritakan"


menarik tangan Ana untuk cepat-cepat pergi dari tempat itu, sedangkan Arya terus berteriak memanggil Aditya dan Dimas dari tempat duduknya


"Hei Dit, Dimas. ayo cepat kemarilah kita akan mengobrol bersama disini kawan,ayo"

__ADS_1


"Dit, lihatlah itu Arya memanggil kita lagi"


"aku rasa sudah cukup aku mendengar ceritanya Dim, aku akan segera pulang saja, tidak baik berlama-lama disini bisa semakin mual nanti"


"Aku setuju ayo kita segera pulang saja"


Ana dan Rima tampak heran


"Kalian Kenapa sih? kenapa kalian berdua kenapa?


"Kita tidak jadi menginap disini malam ini ?"


"Iya,tapi kenapa alasannya, tidak jadi menginap ada apa, kenapa mendadak begini?"


Ana terlihat heran sekali


"Nanti di rumah saja lah aku ceritakan, karena di rumah tampak lebih steril dan aman nyaman, tentram"


Siska diam saja tak bertanya apapun, Tapi ia tau jika ini adalah perbuatan Arya, wajah Aditya benar-benar terlihat sangat jijik sekali Sepertinya,


Aku tak pernah melihat wajah kak Aditya sejelek ini, aku jadi penasaran. bagaimana kak Arya menceritakan semuanya


"Pokoknya aku akan menceritakannya nanti saja"


Akhirnya giliran Dimas pula menarik tangan Rima, dengan wajah yang sangat jijik sekali juga


"Ayo sayang, kita pulang saja, aku tidak berminat tidur disini malam ini ,aku tak mau bertemu dengan Arya malam ini, bahaya nanti ia tak akan berhenti bercerita terus aku rasanya sudah mual mendengarkan ceritanya itu


"Loh kenapa, aneh sekali, kenapa mendadak begini?"


"Sudah, nanti saja kita ceritakan di rumah"


menarik tangan Rima sampai menuju dalam mobil dengan terburu-buru begitu juga dengan Aditya


"Siska kami pulang dulu ya.."


"Iya Siska selamat bersenang-senang"


sambil berjalan dengan tangan yang ditarik oleh suaminya masing-masing.


Sekarang tinggal Siska dengan sangat bingung sekali melihat keduanya, ia ragu jika Arya hanya bercerita sesuai permintaan mereka saja, karena dari wajahnya Arya benar-benar tak berhenti tertawa


"Aku yakin Kak Arya,bercerita berlebih-lebihan ini, mana mungkin sampai mereka tak mau menginap disini "


Siska langsung menoleh kearah Arya yang masih saja tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah semuanya


"Kak Arya, cepat sekarang katakan.


apa yang kau ceritakan pada mereka berdua sampai kabur seperti itu, pasti tak sama seperti yang aku katakan itu kan?"


Arya langsung berhenti tertawa dan menoleh kearah siska


"Yee, penasaran ya? pengen tau ya? hayoo!"


"Jawab jujur sekarang! pasti ada cerita yang kak Arya tambakan kan? cepat mengakulah?"


Arya langsung berdiri


"Hmm.. tiap setidaknya kita aman untuk malam ini karena dua pengganggu itu sudah pergi,ayo cepat kita bocan dulu "


"Bocan apaan?, aku masih penasaran dengan apa yang kak Arya lakukan pada mereka berdua, ayo cepat katakan kak?"


"Bocan adalah bobo cantik dong,sudah lah sayang biarkanlah mereka pergi, tidak terlalu penting juga, menganggu malam pertama pengantin seperti tadi, ayo sayang"


Arya langsung tertawa


"Aku tapi tak berminat untuk bocan"ujar Siska


"Jadi boda? "


"Apa lagi itu?"


"Bobo di atas dada"


Arya langsung kembali tertawa


"Astaga suamiku, ini sungguh sangat lucu sekali"


Siska dan Arya langsung tertawa bahagia


Siska tertawa


"Kalau pembukaan sudah selesai tadi siang"


"Ya sudah kalau begitu malam ini kita akan bonak, bobo enak"


Siska menutup mulutnya karena tertawa malu sendiri. karena ia bisa bersikap seperti itu, padahal selama ini ia sama sekali tak pernah berbicara langsung menggoda kepada siapapun termasuk dengan Arjuna, tapi benar yang dikatakan banyak orang jika seseorang merasa nyaman dengan seseorang maka ia akan dengan spontan mengucapkan isi hatinya masing-masing.


Seperti yang ada dipikiran Siska, ia bisa langsung melanjutkan ucapannya Arya dengan sangat enteng sekali,


"Jadi malam ini, kita akan kembali melanjutkan perjalanan cinta kita"


Arya menyenggol Siska dengan tak malu-malu lagi,


Siska langsung tertawa geli


'Aku milikmu "


Dengan cepat Arya langsung menggendong Siska "Aman malam ini tidak ada pengintai"


Lift terbuka dengan cepat Arya langsung berlari


keluar menuju kamarnya


"Ya Tuhan kak Arya, kau tak perlu melakukan ini, aku sungguh malu sekali"


"Aku sudah tak sabar untuk kembali berlayar kepulau cinta"


Siska tertawa geli.


.....


Siska dan Arya yang bahagia, lalu Aditya dan Dimas yang menderita


"Uwekkksssssss"


"Tolong matikan saja AC nya, jendelanya dibuka aku masih sangat mual sekali"


Ana langsung memegang perutnya


"Perasaan aku baru saja datang bulan, dan aku juga tak mungkin hamil lagi kan?"


Ana memegang perutnya


"Sayang, sebaiknya kau saja yang membawa mobil aku sungguh benar-benar tak kuat lagi"


ucap Aditya dengan memegang perutnya


Aditya sampai menyuruh Ana untuk membawakan mobilnya. itu tandanya ia benar-benar sudah tak tahan lagi.


"Iya baiklah, cepat pinggirkan mobilnya biar aku yang bawa"


Ana dan Aditya pun langsung berpindah posisi


Karena Aditya masih terus-menerus mual dari tadi tanpa henti-hentinya.


"Katakan ada apa suamiku, cepat ceritakan?" jangan sampai aku jadi penasaran begini,apa yang terjadi sebenarnya?"


"Nanti saja aku ceritakan, ini sungguh benar-benar sangat menjijikkan sekali,aku tak menyangka jika Arya akan menceritakan semuanya dengan sangat detail sekali"


Aditya memegang mulutnya dan menayangkan bagaimana bulu-bulu itu bisa menempel di giginya tandanya pertandingan itu benar-benar sangat ganas sekali


"Jangan nanti-nanti dong suamiju sayang, aku sangat ingin mendengar apa yang kau ceritakan saat ini, ayo cepat!"


"Nanti saja aku ceritakan, kau menyetir saja dulu ya Ana sayang Istriku yang cantik"


"Aku tidak akan mau menyetir jika kau tak bercerita, Sekarang pilih, mau bercerita atau tidak sama sekali!"


Aditya terdiam dan berpikir


Apa yang akan aku katakan pada Ana, jika aku menceritakan yang sesungguhnya padanya, bisa-bisa nanti ia akan marah besar padaku, pasti akan menambahkan masalah baru saja, tapi jika aku tak menceritakannya ia tak akan mau mengendarai mobilnya, ini akan membuat masalah ini akan semakin besar saja,


"Hei kak Adit, kenapa diam? apa kau akan menceritakan sesuatu yang buruk dan bahkan menjijikkan seputar kami para istri?"


Aditya tersenyum kearahnya Ana

__ADS_1


"Tidak mungkin lah sayang, Kami menceritakan sesuatu tentang para istri, karena istri itu adalah mutiara yang berkilau tak ada sedikitpun keburukan yang ada pada kaum istri, bayangkan saja karena terlalu sempurna, para kaum istri itu tempatnya sangatlah istimewa disetiap hati kami para suami"


Ana semakin curiga saja, karena dari cara Aditya berbicara itu menunjukkan bahwa ia sedang berbohong padanya


Perlahan ia mendekatkan wajahnya kearah Aditya


"Sekarang katakan, apa kau jujur dengan ucapanmu itu? atau kau sedang berbohong ha?"


Aditya memundurkan wajahnya dengan ketakutan "Sayang,tentu saja, aku ini jujur aku tak mungkin bisa membohongimu, kau adalah Mutiara Indah yang tak pantas untuk dibohongi, kau sangat istimewa sekali sayangku, sungguh sangat istimewa"


Berbisik perlahan "Aditya, jangan coba-coba untuk membohongiku, karena aku mengenalmu luar dalam tubuhmu itu!"


Aditya langsung mengangkat tubuhnya Ana,dengan satu tangannya


"Sebaiknya aku saja yang menyetir, kau dudulah yang manis di samping sini"


mendadak rasa ingin muntah itu hilang seketika karena takut Ana banyak bertanya padanya


Berbeda dengan Ana dan Aditya,


Dimas dan Rima malah justru tampak tenang sekali, sedangkan Dimas santai sekali didalam mobilnya hingga membuat Rima bertanya -tanya hanya dalam hatinya saja tak berani untuk bertanya lagi


Aku harap ia tak banyak bertanya tentang kenapa aku mual-mual ini, bisa habis aku kena marahi Rima nanti, apa lagi ia paling tidak suka jika masalah ranjang dibawa-bawa dalam obrolan persahabatan, menurutnya itu sangat menjijikkan sekali


"Kak Dimas, baik-baik saja kah?"


"Iya aku baik-baik saja sayang, biasalah aku sedang tidak baik-baik saja"


Melihat Dimas yang sudah mulai tenang, Rima baru memberanikan diri untuk bertanya lagi padanya "Kak Dimas, kenapa kita harus pulang dengan terburu-buru sekali kak Dimas?"


tanya Rima dengan lembut,


Jika sudah begini, Dimas sudah dipastikan ia dalam keadaan tidak baik-baik saja


"Oh itu istri ku aku tadi kaget karena menemukan kecoa berada didalam toilet, kau tau sendirilah aku adalah laki-laki yang paling takut dengan kehadiran kecoa yang berada didekatku, aku sungguh takut sekali"


Dimas jarang berbohong dan semoga saja Rima percaya dengan apa yang akan dikatakan oleh Dimas


Please percaya ya sayang, kak Dimas kan nggak pernah bohong, semoga saja ini bisa membuat dek Rima percaya dengan cerita-cerita kak Dimas ini


"Iya kak Dimas memang takut dengan kecoak, tapi kok sampai takut begitu sekali ya, jadi kan nggak enak dengan Siska dan Arya"


"Kenapa tidak enak, pasti mereka justru bahagia kalau kita pergi jadi tak ada yang menganggu kita"


ucap Dimas,


Rima mengangguk setuju namun ia berpikir dengan keras kembali


"Kalau kak Dimas takut kecoak, lalu kak Aditya kenapa ikut-ikutan mau pulang juga? apa kak Aditya takut kecoak juga ya?"


Rima melirik kearah Dimas


Dia melirik kearahku, apa bau-bau kebohongan ku telah terdeteksi secara otomatis ya,


"Kak Dimas, aku menyukai kejujuran.sekarang aku ingin tau apakah benar kak Dimas ini jujur ?"


Rima langsung menaruh tangannya diatas dada Dimas, sepertinya ia ingin tau getaran jantung Dimas, karena orang yang sedang berbohong itu biasa detak jantungnya terpacu lebih cepat dari pada biasanya


"Sayang apa yang kau lakukan"


Dimas langsung deg-degan karena detak jantungnya memang berdetak lebih kencang dari biasanya


Mampu*, bagaimana ini agar detak jantungku tidak cepat begini


Rima langsung menjewer telinganya Dimas


"Aku tau kak Dimas, sedang berbohong. tolonglah ya kak Dimas, jujur saja sekarang, apa yang sebenarnya kak Dimas rasakan dan apa yang menyebabkan kalian berdua langsung pulang saja tadi cepat!"


Rima langsung marah-marah karena Dimas yang ketahuan berbohong,


"Sekarang cepat katakan!"


Dimas sama sekali tak bisa berkelak lagi karena Rima jika sudah marah


,maka tak akan segampang itu untuk dirayu


"Berani sekali membohongi aku ya, kak Dimas tau tidak, jika kita itu sudah bertahun-tahun lamanya hidup bersama, jadi tak segampang itu kak Dimas mau membohongi aku, dasar ya kak Dimas ini, cepat jujur saja apa yang kalian lakukan tadi!"


"Tapi janji ya jangan marah?"


"Tergantung apa dulu, kalau sesuatu yang merugikan aku, tak akan mau diam saja"


"Iya kalau begitu lebih baik tak usah cerita saja"


"Cerita atau tidak?"


"Ingatlah manusia yang baik adalah manusia yang menepati janjinya"


ucap Dimas


Rima sangat penasaran sekali, tapi jika Dimas tak cerita, ia tak akan tau apa yang terjadi, namun jika yang diceritakan itu membuat ia marah-marah, itu berarti ia sudah melanggar janjinya dan ia termasuk golongan orang-orang yang munafik


"Bagaimana kita pulang saja lah ya, nanti sajalah kita bahas di rumah"


rayu Dimas


"Baik, ceritakanlah"


"Oke tapi janji jangan marah?"


"Iya , cepetan ceritanya apa?"


"Jadi begini apa kau pernah sekamar dengan Siska?"


"Sekamar dengan Siska?,ya tentu saja aku kan sering tidur berdua dengan Siska, memangnya kenapa kak?"


"Apa kau pernah melihat sesuatu yang aneh saat Siska sedang tidur?"


Rima semakin tak mengerti saja


"Maksudnya bagaimana sih?, sesuatu yang berbeda bagaimana kak?"


"Ya seperti kau melihat ada yang tak sama ditubuhnya dengan tubuhmu?"


"Maksudnya kau pikir Siska transgender?"


"Haduh, bukan begitu. aku hanya ingin tau apa kau melihat di tubuh Siska mengeluarkan benda-benda aneh begitu?"


"Benda-benda aneh? maksudnya Siska memiliki ilmu hitam?"


"Bukan... bukan... yaelah.."


"Ya, salah sendiri dari tadi pertanyaannya tidak jelas semua, jawab saja sejujurnya ada apa, jangan bertele-tele begitu!"


"iya..iya.. aku hanya ingin tau apa kau pernah melihat Siska memakai pakaian yang seksi?"


"Ya tentu saja saat berenang,dia akan memakai bikini bukan memakai baju tidur, lalu masalahmya dimana?"


"Nah itu, yang menjadi masalahnya, sekarang aku ingin tau, bagaimana rasanya menjadi perempuan yang melihat sesama perempuan dengan tubuh yang berbeda?"


"Ya ampun kak Dimas, kau ini kan kakaknya Siska masa iya kau tak pernah melihat Siska memakai pakaian seksi, dari kecil. aneh-aneh saja pertanyaannya, terkadang bikin emosi saja" menggelengkan kepalanya


Dimas terdiam


"Benar juga yang dikatakan oleh Rima, aku selama ini selalu bersama Siska, dan sama sekali tak pernah melihat bulu ekstrim itu berada pada tubuhnya,atau jangan-jangan ini hanyalah ulah Arya yang sedang mengerjai aku dan Aditya saja ya?"


Rima langsung menepuk suaminya


"Kak Dimas, kalau menyetir itu harus konsentrasi, kalau tidak konsentrasi bagaimana mungkin bisa sampai kerumah"


"Ini semua karena kamu yang memaksa aku bercerita sambil nyetir"


"Sekarang biar aku saja yang menyetir, kak Dimas yang duduk disini, cepat!"


"Oh tidak usah sayang aku masih bisa berkonsentrasi, jangan khawatir."


"Kalau begitu ayo lanjutkan, Kenapa dengan Siska emangnya? kak Arya cerita apa tadi ha?"


"Tidak, aku hanya heran kenapa ada bulu yang berukuran mini nyangkut disela-sela gigi Arya, bagaimana mungkin ada bulu nyangkut di gigi? apa bulu ketiak Siska, sangat lebat sekali apa ya?"


Rima langsung tertawa geli


"Bahaahaha, astaga pertanyaan apa-apaan ini? bulu ketiak nyangkut di gigi? aku pikir ada bulu yang lain yang nyangkut di gigi?"


Rima tertawa dengan keras sekali didalam mobil

__ADS_1


"Rima ... Rima.. kendalikan dirimu, jangan banyak tertawa,ini sudah malam.kenapa jadi lucu begini sih, padahal jelas-jelas tidak ada yang lucu sama sekali".


__ADS_2