Bed Friend

Bed Friend
Pelangi Bagi Nathan


__ADS_3

"Vansh adalah sepupu dari Nathan, dia keponakanku. Anak dari adikku, Olivia," jawab Calista.


"Oh."


" Inara, Sharen. Tolong maafkan Nathan, dia memang sangat keras pendiriannya, dia sebenarnya tidak bermaksud menyakitimu dengan mengabaikan keberadaanmu di rumah ini. Putraku Nathan adalah orang yang sangat sulit untuk jatuh cinta, tapi jika dia sudah mencintai seorang wanita dia akan mempertahankan wanita itu apapun caranya, dan kejadian ini adalah hal yang begitu berat untuknya, jadi sebisa mungkin dia akan menjaga perasaan kekasihnya itu termasuk dengan menjaga jarak darimu, sekali lagi tolong maafkan Nathan."


"Tidak apa-apa, Tante Calista. Nathan tidak bersalah, akulah yang tiba-tiba hadir diantara mereka dan keberadaanku mengancam hubungan mereka, aku cukup tahu diri dan tidak meminta lebih pada Nathan, hanya saja sekarang aku terus menerus diusik oleh orang-orang yang ada di sekitarku jadi aku terpaksa melakukan ini, terpaksa aku datang dan meminta tinggal di rumah kalian."


"Terimakasih banyak atas pengertianmu, Sharen. Sekarang, ayo kita masuk ke dalam."


Sharen pun memandang Inara. "Ayo Ma."


"Sharen, Mama harus pulang sekarang, hari ini Mama harus menemani Papamu pergi melakukan kontrol ke dokter. Kak Calista, aku harus pulang sekarang, Abimana membutuhkanku, aku titip Sharen. Maaf jika kami sudah merepotkan kalian."


"Baik Inara, kau tenang saja, kalian tidak merepotkan kami, hati-hati di jalan."


"Hati-hati di jalan, Ma."


"Iya," jawab Inara, saat dia akan melangkahkan kakinya keluar dari rumah Calista, tiba-tiba Calista memanggilnya kembali.


"Tunggu Inara, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"


"Ada apa Kak Calista? Katakan saja."


"Emh begini, tolong jangan katakan tentang hal ini pada Amanda dan Rayhan."


"Oh baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun pada mereka."


"Terimakasih Inara."

__ADS_1


Inara pun mengangguk lalu pergi meninggalkan rumah Calista.


"Sharen, ayo kita masuk ke dalam. Saat ini Nala sedang ada di Paris, mengurus bisnis restorannya disana. Sedangkan Om Leo dia sedang dalam perjalanan pulang dari Jepang, nanti sore dia baru pulang, jadi di rumah ini hanya ada kau dan aku. Bagaimanapun juga kau adalah istri dari Nathan, kau akan kuantar ke kamar Nathan di atas."


Sharen pun mengangguk, dia kemudian mengikuti langkah Calista naik ke lantai atas. Mereka lalu berhenti di depan sebuah kamar, dan Calista membuka pintu kamar itu.


"Masuklah Sharen, ini kamar Nathan, beristirahatlah di dalam dan rapikan barang-barangmu. Kalau kau sudah selesai beristirahat kau bisa menemuiku di taman, aku sedang merawat bunga-bungaku."


"Iya Tante Calista," jawab Sharen. Dia kemudian menutup pintu kamar itu saat Calista sudah pergi dari hadapannya. Perlahan Sharen pun memasuki kamar Nathan, aroma maskulin di dalam kamar itu pun membuat Sharen merasa begitu nyaman. Dia kemudian merapikan barang-barangnya di walk in closet yang ada di dalam kamar Nathan. Saat memasuki walk in closet itu, tampak berjejer pakaian dan beberapa koleksi jam tangan milik Nathan. Sharen lalu memandangi pakaian milik Nathan kemudian mengambil salah satunya dan tersenyum.


"Hanya pakaiannya, tapi tidak ada orangnya," ucap Sharen sambil tersenyum kecut.


Setelah selesai merapikan barang-barangnya, dia lalu berjalan keluar dari walk in closet, lalu tiba-tiba netranya tertuju pada selembar kertas yang ada di atas meja yang ada di dalam kamar itu. Sharen lalu mengambil kertas itu, tampak beberapa coretan di atas kertas yang terlihat seperti sebuah surat bagi seseorang.


"Sepertinya ini adalah oret-oretan Nathan saat membuat surat cinta untuk kekasihnya," ucap Sharen, dia kemudian membaca oret-oretan kertas itu.


"Rasa cintamu itu seperti hujan yang turun dengan derasnya, tapi sayangnya dia memilih berteduh pada yang lain. Lebih baik kau hentikan semua itu, karena setelah hujan berhenti pasti akan ada pelangi yang bisa menghiasi hidupmu jauh lebih indah"


Perkataan wanita tersebut memang benar, kini aku sudah bisa menghentikan derasnya hujan yang ada di dalam hatiku, dan benar saja, setelah hujan itu reda ada pelangi yang kini menghiasi hidupku jauh lebih indah. Wahai pelangiku, menikahlah denganku, aku ingin kau selamanya menjadi pelangi yang menghiasi hidupku, aku sangat mencintaimu pelangiku.


Pelangiku, menikahlah denganku.


"Pelangiku? Jadi Nathan menganggap kekasihnya itu adalah pelangi baginya? Dia juga memanggil kekasihnya dengan sebutan pelangiku? Siapa sebenarnya pelangi bagi Nathan?"


🍒🍒🍒


Jam di dinding baru saja menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Clarissa tampak begitu cemas menunggu kedatangan seseorang, berulangkali dia mengamati ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya tapi setelah itu dengusan kesal kembali keluar dari bibirnya.


"Hishhh nakal sekali bukankah kemarin dia mengatakan jika hari ini akan ke sini? Tapi kenapa sejak tadi dia tidak membalas pesanku? Benar-benar menyebalkan, awas saja kalau sampai dia melupakan aku karena pekerjaannya, apalagi kalau sampai dia tidak menjemputku, akan kuberi perhitungan!" gerutu Clarissa. Dengan perasaan dongkol, dia pun membaca komik Doraemon yang dikirimkan Nathan sehari setelah dia berada di Jakarta. Saat tengah asyik membaca komik tersebut, tiba-tiba Clarissa pun mendengar suara bel yang berbunyi.

__ADS_1


TEEEETTT TEEETTTTTTT


Clarissa kemudian bergegas bangun dari atas sofa lalu berlari ke arah pintu dan membuka pintu tersebut. Namun saat membuka pintu, bukan sosok Nathan yang dia lihat tapi sebuket bunga mawar merah berukuran jumbo tampak menutup hampir setengah badan seseorang yang membawanya.


"Selamat malam, kekasihku sayang," ucap seseorang di balik buket bunga itu.


"Kak Nathan! Kau mengagetkanku saja!" ujar Clarissa sambil setengah berteriak. Nathan kemudian menurunkan buket bunga yang menutupi wajahnya lalu tersenyum pada Clarissa yang kini ada di depannya dengan raut wajah yang tampak sedikit kesal.


"Ayo kita masuk dulu ke dalam."


Nathan lalu masuk ke dalam apartemen, diikuti Clarissa di belakangnya. "Ini untukmu," ucap Nathan sambil memberikan sebuket bunga mawar tersebut.


"Besar sekali," jawab Clarissa sambil tersenyum.


"Tapi sayangnya lebih besar cintaku padamu."


"Gombal!" sahut Clarissa kemudian mengambil bunga itu lalu menatapnya sambil tersenyum.


"Terimakasih Kak, ini cantik sekali!"


"Sama cantiknya sepertimu."


"Jika menurutmu aku cantik, kenapa kau tidak membalas pesanku? Jahat sekali!" gerutu Clarissa. Nathan kemudian tersenyum lalu mencubit kedua pipi Clarrisa.


"Maafkan aku, tadi aku sangat sibuk karena harus menyelesaikan semua pekerjaanku hari ini juga agar aku bisa bertemu denganmu. Tahukah kau semua itu kulakukan karena aku sudah tidak bisa menahan rasa rinduku padamu, pelangiku aku sangat merindukanmu," ujar Nathan sambil membelai wajah Clarissa yang membuat Clarissa tersenyum kemudian memeluk tubuh Nathan.


"Aku juga sangat merindukanmu, Kak."


Nathan pun balas membalas pelukan Clarissa dengan pelukan yang begitu kencang. 'Apa yang harus kulakukan? Jika aku mengatakan yang sejujurnya, apakah aku bisa merasakan kebahagiaan yang kurasakan saat ini? Aku tidak mau hubunganku hancur, aku tidak ingin kehilangan pelangiku, pelangi yang begitu indah, yang membantuku bangun saat ku terjatuh, aku tidak ingin kehilanganmu, pelangiku.'

__ADS_1


__ADS_2