Bed Friend

Bed Friend
Berikan Nyawamu


__ADS_3

Mendengar perkataan Leo jantung Kenzo pun berdegup semakin kencang. Leo yang melihat kepanikan di wajah Kenzo kemudian tersenyum.


"A.. Apa maksud Om?"


"Ya, bukankah seharusnya seperti itu? Kau harus mengalah pada Nathan untuk membalas budi padaku kan, Kenzo?" ucap Leo sambil tersenyum.


"Om Leo, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada anda dan Tante Calista, saya mohon maaf jika untuk hal ini saya tidak bisa mengalah pada Kak Nathan. Saya memang memiliki hutang budi yang begitu besar pada anda dan Tante Calista, dan saya mau melakukan apapun untuk membayar hutang budi saya pada anda tapi untuk masalah ini maaf saya tidak bisa."


"Apa kau sangat mencintai wanita itu?" tanya Leo sambil menatap tajam pada Kenzo.


"Sangat mencintainya, lebih dari apapun dalam hidupku."


"Tapi Nathan juga mencintainya, dia bahkan merelakan waktunya selama dua tahun untuk mengejar kekasihmu itu kan?"


"Kalau Kak Nathan membutuhkan waktu selama dua tahun, saya sudah selalu berusaha menjaga Cleo sepanjang hidup saya."


"Bukankah kau pernah kehilangan jejaknya selama dua tahun?"


"Ya, dan itu semua juga karena campur tangan dari putra anda, Kak Nathan. Saya mau melakukan apapun untuk kebahagiaan Cleo, termasuk merelakan Cleo untuk Kak Nathan jika Cleo benar-benar mencintainya, tapi sayangnya hati Cleo masih seutuhnya untukku, dan saya akan mempertahankan cinta kami berdua."


Leo lalu tersenyum sambil menatap Kenzo. "Om, tolonglah. Tolong minta apa saja yang Om inginkan dariku tapi tolong jangan minta agar kami berpisah, kami juga sudah memiliki seorang putra. Kami juga ingin putra kami mendapat kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya."


"Kau mau memberikan apapun yang kuminta kan, asal tidak memisahkan kau dan Cleo?"


"Ya, katakan saja Om, apa yang Om minta?" tanya Kenzo dengan begitu antusias.


"Bagaimana kalau aku minta nyawamu?" jawab Leo sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Nyawa?"


"Ya, Nyawamu! Berikan nyawamu padaku! Bukankah kau berhutang nyawa padaku, Kenzo!" jawab Leo sambil memberikan pisau buah yang ada di depannya.


"Berikan nyawamu padaku, Kenzo!" ucap Leo sambil menatap Kenzo lalu melihat pisau yang ada di depannya sebagai kode agar Kenzo bergegas mengambil pisau itu.


Kenzo pun menatap pisau yang ada di depannya, perlahan dia pun mengambil pisau itu meskipun dengan perasaan yang begitu campur aduk, jantungnya berdegup kian kencang dan hawa panas seakan merasuk ke dalam tubuhnya. Dia kemudian memberanikan diri mengangkat pisau itu sambil memejamkan matanya lalu menghunuskan pisau itu menuju ke arah perutnya. Namun belum sempat pisau itu menempel di perut Kenzo, tangan Leo pun mencekal tangan Kenzo hingga tertahan tepat di depan wajah Kenzo.


Kenzo yang terkejut tiba-tiba tangannya tertahan perlahan dia pun membuka matanya. Dia pun semakin terkejut melihat Leo yang kini sedang tersenyum begitu manis padanya. Leo kemudian mengambil pisau itu dan membuangnya lalu memeluk Kenzo sambil menangis.


"Putraku, Kenzo. Putra kecilku, ternyata kau memang sudah besar dan benar-benar sudah merasakan jatuh cinta. Waktu memang mengalir begitu cepat, Kenzo kecilku, kau lihat tanganku, tanganku ini yang selalu menimangmu saat kau menangis di malam hari. Aku memang sengaja membiarkan Calista tertidur saat malam karena aku tahu dia pasti merasa sangat lelah menjaga kalian bertiga. Kami memang bukan orang tua kandungmu tapi kami sangat menyayangimu, sama seperti Nala dan Nathan, dan kami sama sekali tidak mengharapkan balas budi darimu dalam bentuk apapun."


"Terimakasih banyak, Om Leo. Terimakasih banyak, aku sangat bangga pernah dibesarkan oleh kalian berdua."


"Kenzo, kalian sama saja di mataku, dan tidak ada alasan bagiku untuk memihak pada salah seorang dari kalian. Jika wanita itu benar-benar mencintaimu, aku juga tidak memiliki alasan untuk memisahkan kalian berdua tapi bagaimanapun juga kau dan Nathan adalah kakak beradik, aku tidak ingin melihat ada permusuhan diantara kalian berdua. Jadi Kenzo tolong bicarakan hal ini baik-baik dengan Nathan, selama ini kalian belum pernah membicarakan tentang hal ini baik-baik kan? Kalian hanya mengobarkan permusuhan dalam benak kalian masing-masing dan melalui tipu daya yang diperbuat oleh kalian berdua. Iya kan?"


Mendengar perkataan Leo, Kenzo pun mengangguk. "Ya, kami memang belum pernah bicara baik-baik."


"Jadi saya harus menemui Kak Nathan sekarang juga?"


"Ya, temui Nathan sekarang juga sebelum dia bertindak lebih jauh. Bicarakan hal ini sebagai sesama laki-laki dan juga sebagai kakak beradik, sejak kecil Nathan sangatlah menyayangimu, hanya saja saat dewasa dia sedikit sulit mengendalikan egonya."


"Kalau begitu, saya pergi dulu."


Leo pun menganggukan kepalanya, dia kemudian tersenyum melihat kepergian Kenzo, hingga tiba-tiba ada sebuah tepukan di bahunya.


"Kau yakin membiarkan mereka untuk bertemu? Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada mereka? Aku tidak yakin ini akan berjalan baik, Leo. Aku bahkan memiliki firasat yang sangat buruk."

__ADS_1


"Calista, mereka harus bicara dan menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka, bagaimanapun juga mereka adalah kakak beradik."


"Tapi Leo, mereka berdua masih sangat labil."


"Memangnya kau pikir aku tega membiarkan mereka berdua bertemu tanpa pengawasan dariku? Ayo cepat, kita ikuti kemana Kenzo pergi," ujar Leo kemudian menarik tangan Calista.


🍒🍒🍒


"Sudah, sudah cukup Kak Nathan. Suaramu jelek sekali, lama-lama aku pusing mendengar suaramu!" teriak Clarissa saat Nathan masih membacakan komik Doraemon untuknya, sesekali Nathan memegang kedua pipinya yang kini tampak memerah.


'Pipiku semakin perih saja terkena hembusan AC, baru sehari semalam aku bersama wanita galak ini tapi dia sudah tiga kali menamparku,' gumam Nathan sambil pura-pura tersenyum agar Clarissa tidak marah lagi padanya.


"Kak Nathan, kau lihat kan tangan kananku di gips?"


"Ya, memangnya kenapa?"


"Bahuku sangat pegal menopang tangan yang di gips ini, bolehkah aku meminta tolong padamu?"


"Ya, tentu saja. Katakan apa yang kau inginkan."


"Tolong pijat bahuku, bahuku pegal sekali," gerutu Clarissa sambil meringis.


'Astaga, oh tidak, jadi aku harus melihat tengkuknya yang seksi lagi?' gumam Nathan sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Kenapa kau diam saja? Kau mau kan?" bentak Clarissa.


"Oh iya, iya tentu saja aku mau," jawab Nathan. Dia kemudian mendekat ke ranjang Clarissa meskipun dengan menahan rasa sesak yang ada di dadanya, dia pun mencoba mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan karena degupan jantung yang semakin kencang. Tangannya yang kini juga ikut bergetar lalu mulai menyentuh bahu Clarissa, matanya seakan tidak bisa lepas melirik tengkuk Clarissa yang terasa sangat menggoda naluri kelaki-lakiannya hingga membuat bagian bawahnya ikut menegang.

__ADS_1


'Tolong jangan bangun, jangan bangun,' gumam Nathan sambil berulangkali menghembuskan nafas panjangnya dan menelan ludahnya. Di saat itulah terdengar ketukan dari arah pintu kamar perawatan tersebut.


TOK TOK TOK


__ADS_2