
"Hufttt... Huftttt.. Hufttt!"
Darren yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya kemudian mencoba menetralkan nafasnya sambil mengusap keringat yang membasahi wajahnya.
"Shakila!" ucap Darren disertai nafas yang begitu tersengal-sengal. Setelah bisa menetralkan nafasnya, Darren lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mimpi itu lagi, mimpi itu lagi," gerutu Darren. Dia kemudian mengambil ponsel yang ada di sampingnya lalu membuka galeri pada ponsel tersebut.
"Shakila," ucap Darren saat menatap beberapa foto wanita muda yang ada di ponselnya.
Dia kemudian membuka sebuah aplikasi pesan dan melihat ribuan pesan dan ratusan panggilan dari Shakila yang tidak pernah dia buka ataupun angkat sama sekali.
"Maafkan aku, Shakila. Maaf jika aku harus melakukan semua ini padamu, maaf jika aku terlalu pengecut dan tidak pernah membuka pesan ini. Tahukah kau jika rasa rindu di dalam hatiku rasanya seperti bom waktu yang bisa saja meledak jika aku tidak bisa mengendalikannya, Shakila maafkan aku," ucap Darren sambil mengecup foto Shakila di ponselnya.
"Sudah dua tahun, kupikir aku akan dengan mudah melupakan dirimu, dan mengubur semua tentangmu. Tapi ternyata aku salah, ternyata rasa ini tak pernah berubah, ternyata hati ini tetap menginginkan dirimu. Kupikir pergi adalah cara terbaik, tapi ternyata aku salah, lari dari kenyataan ternyata adalah sebuah lelucon terbodoh yang pernah kulakukan. Aku pernah berharap, suatu saat nanti jika aku bertemu denganmu, aku bisa dengan lantang mengatakan jika aku sudah bisa melupakanmu, meskipun kata-kata yang kuucapkan adalah sebuah kepura-puraan untuk menutupi rasa rindu di dalam hatiku. Rindu yang tak pernah berlabuh, karena aku sadar sejatinya kau bukan milikku."
Darren kemudian menutup matanya kembali sambil membayangkan kecelakaan dua tahun lalu yang dialami olehnya. Saat dia membuka matanya, tampak Aini dan Roy sudah ada di sampingnya sambil menatapnya dengan tatapan mata yang begitu pilu. Saat itu, tubuhnya penuh dengan luka, bahkan kaki kanannya retak dan dia juga mengalami gegar otak ringan.
Namun, saat itu bukan luka kecelakaan itu yang terasa begitu menyakitkan bagi Darren, tapi perkataan kedua orang tuanya yang membuat hatinya terasa begitu hancur dan mengurungkan niatnya untuk kembali pulang.
"Bagaimana keadaan Shakila, Ma? Kudengar dia juga sakit?" tanya Darren saat dia mengingat kejadian dua tahun silam, saat Aini dan Roy sedang menunggunya di rumah sakit.
"Keadaannya sudah membaik. Tepat saat kau mengalami kecelakaan itu, tiba-tiba Shakila terbangun. Saat itu, kami sebenarnya sudah menyerah saat dokter mengatakan jika Shakila seperti sudah tidak ada harapan untuk hidup. Tapi di saat Mama mendengar kabar jika kau mengalami kecelakaan, entah kenapa dia tiba-tiba terbangun. Ini rasanya seperti sebuah keajaiban."
"Benarkah? Jadi Shakila sudah sadarkan diri?"
__ADS_1
"Iya Darren, Shakila sudah sadarkan diri."
"Lalu, saat ini siapa yang menunggu Shakila jika Papa dan Mama ada di sini?"
"Oma Fitri, Nak. Oma Fitri yang sedang menunggu Shakila," jawab Aini.
"Oma Fitri? Siapa Oma Fitri?" tanya Darren sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, Oma Fitri. Dia salah satu kerabat Mama yang ada di Jogja."
"Oh, tapi kenapa aku tidak pernah mendengar namanya dalam keluarga kita, Ma?"
"Emh... E.., begini. Sebenarnya Oma Fitri bukan keluarga kita, tapi dia yang akan menjadi bagian keluarga dari Shakila, jadi Shakila harus terbiasa dengan kehadiran Oma Fitri."
"Hanya menjadi bagian keluarga Shakila? Apa sebenarnya maksud Mama?"
Mendengar kata perjodohan yang diucapkan oleh orang tuanya, seketika hati Darren pun begitu hancur.
"Perjodohan?" tanya Darren.
"Ya, dua tahun lagi Shakila akan menikah dengan salah seorang kerabat dari Oma Fitri, jadi dia harus membiasakan diri dengan Oma Fitri mulai saat ini."
"Ta.., tapi kenapa Pa? Kenapa Shakila harus dijodohkan?"
"Maaf Darren, untuk saat ini kami belum bisa menjawab pertanyaanmu," jawab Roy yang semakin membuat perasaan Darren begitu hancur.
__ADS_1
'Awalnya, aku memang ingin pulang. Awalnya, aku memang sudah tidak mempedulikan lagi hubungan darah antara aku dan Shakila, bahkan rasanya ingin kukatakan pada dunia jika dia satu-satunya wanita yang sangat kucintai. Tapi sepertinya, semesta tidak berpihak pada kami berdua. Shakila, mungkin kecelakaan yang kualami saat ini adalah sebuah pertanda jika semesta pun menentang hubungan ini. Hubungan yang tidak pantas dijalani oleh dua orang saudara yang memiliki hubungan darah. Shakila, memang benar keputusan awal yang kuambil jika melupakan adalah jawaban terbaik untuk hubungan kita berdua. Kau adalah masa lalu. Masa lalu terindah, kita adalah masa lalu yang pernah berharap lebih namun selalu ditentang oleh keadaan,' batin Darren.
Darren pun membuka matanya kembali, rasa sakit kembali menyesakkan dadanya saat mengingat jika sekarang adalah tepat dua tahun setelah kejadian itu, dan di tahun inilah Shakila akan melangsungkan pernikahannya.
TOK TOK TOK
Tiba-tiba, sebuah ketukan pintu pun terdengar. Darren lalu bangkit dari tempat tidurnya kemudian membuka pintu kamar itu dan melihat Olivia yang sedang berdiri di depannya.
"Darren, apa kau sudah tidur?"
"Oh ya, tadi aku sedikit kelelahan jadi aku tidur secara tidak sengaja. Ada apa, Tante?"
"Minggu depan, Tante akan pulang ke Jakarta. Apa kau mau ikut pulang ke Jakarta?"
DEG
Jantung Darren pun seakan berhenti berdetak. "Akan kupikirkan," jawab Darren.
"Iya Darren, kabari Tante secepatnya," jawab Olivia.
Darren kemudian menutup pintu kamar itu lalu berjalan ke arah balkon kamar. "Shakila, aku tahu kau selalu memandang langit malam. Mungkin saat ini kau juga sedang menatap gelapnya langit malam. Bukankah langit malam itu sangat kelam Shakila? Itulah hatiku, hatiku sangat kelam dan tidak memiliki harapan apapun untuk memilikimu. Lalu, jika aku pulang, bagaimana aku bisa menata hatiku? Sementara sejak dulu saja, aku tidak bisa menata kepingan hati ini yang sudah hancur berantakan? Apakah ini sudah menjadi bagian dari takdirku jika harus melihatmu bersanding dengan laki-laki lain?"
Bersambung..
NOTE:
__ADS_1
Mampir juga ya ke karya bestie othor, novel Kak Santi Suki, dijamin ceritanya keren banget loh.