
"Dasar gila!" bentak Sharen lalu bergegas meninggalkan laki-laki itu untuk masuk ke mobilnya.
"Cantik! Kau belum menjawab pertanyaanku! Cantik tunggu aku!"
"DENNIS!" teriak sebuah suara.
"Mama," jawab Dennis sambil tersenyum getir.
"Dennis, apa yang kau lakukan? Dari tadi mama mencarimu, dan ternyata kau disini? Pasti kau habis mengganggu wanita lagi kan? Dasar memalukan!"
"Mama, aku baru saja bertemu dengan wanita idamanku Ma, dia begitu perfect, cit cuittttt," ucap Dennis sambil bersiul.
"Dasar ada-ada saja kau! Kalau kau mau mendekati wanita, lebih baik ubah dulu sikapmu, Dennis! Kalau kau selalu bersikap nakal seperti itu, tidak mungkin ada wanita yang mau denganmu!"
"Mama, untuk mencintai dan mendapatkan seseorang kita tidak perlu mengubah apa yang ada dalam diriku Ma, dia harus bisa menerimaku apa adanya! Itulah Prinsip Cinta Dennis. Dan lihat saja Dennis pasti akan mendapatkan wanita itu, dia adalah calon menantu Mama. Selamat Ma, akhirnya Mama memiliki calon menantu!" ucap Dennis sambil terkekeh.
"Astaga, ada apa sebenarnya dengan otak putraku? Terserah kau saja!" gerutu Laras sambil memijit keningnya.
"Dennis apa kau sudah bertemu dengan Vansh?" tanya Laras kembali pada Dennis.
"Oh tentu sudah."
"Dia di dalam baik-baik saja kan?"
"Tentu, dia sudah tidak murung lagi, Ma. Dia bahkan sangat bahagia, jadi Mama tidak usah mencemaskannya. Dia baik-baik saja."
"Oh bagus kalau begitu, Mama juga ingin bertemu dengan Vansh. Mama ke rumah Vansh dulu ya, tolong kau temani Papamu sarapan," ujar Laras kemudian melangkahkan kakinya menuju ke rumah Vansh.
"Mama! Stop Ma, tidak, tidak, tolong berhenti, Ma. Sebaiknya Mama tidak usah masuk ke rumah itu."
"Kenapa Dennis? Mama cuma ingin bertemu dengan Vansh."
"Tidak Ma, itu sangat berbahaya."
"Berbahaya? Berbahaya apanya Dennis? Kau jangan mengada-ada."
__ADS_1
"Benar Ma, aku tidak mengada-ada. Mama tau kan rumah Kak Vansh sudah satu tahun kosong, dan hanya dibersihkan siang hari oleh Bi Siti, itu juga tidak setiap hari. Saat tadi pagi aku ke rumah Kak Vansh, tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita tertawa Ma, sungguh sangat menyeramkan. Tidak hanya itu, jendela yang tadinya tertutup pun terbuka dengan sendirinya. Rumah itu benar-benar jadi rumah angker yang berhantu. Tadi pagi sebenarnya aku benar-benar takut Ma, tapi aku menepis rasa takutku dan tetap saja masuk ke dalam rumah itu. Dan tahukah Mama saat aku masuk ke dalam rumah itu... "
"Cukup Dennis, cukup cukup tidak usah kau ceritakan lagi. Bukankah kau tahu mama sangat penakut. Mama tidak sanggup jika mendengar cerita seperti itu, bisa-bisa mama tidak berani masuk lagi ke rumah Mba Olive."
"Iya Ma, sebaiknya sekarang Mama pulang dan temani Papa sarapan. Tenang saja Ma, aku pasti akan menjaga Kak Vansh dengan baik, jadi serahkan semuanya pada Dennis yang tampan ini."
"Haruskah mama percaya padamu?"
"Tentu karena akulah satu-satunya anak Mama yang baik, dan sangat bisa diandalkan."
"Mama sebenarnya tidak yakin, tapi sudahlah. Terpaksa mama harus percaya padamu daripada mama harus masuk ke dalam rumah itu dan bertemu dengan hantu-hantu itu," gerutu Laras.
"Ya, dan sekarang sebaiknya Mama pulang saja. Cepat Ma, apa Mama mau Papa sarapan ditemani pembantu kita yang seksi itu? Apa Mama mau Papa akhirnya terpikat pada Inem pembantu seksi kita itu?"
"Baiklah, baiklah. Mama pulang sekarang!" ucap Laras kemudian berjalan meninggalkan Dennis yang sekarang sedang terkekeh.
"Tenang saja, Kak Vansh. Rahasiamu menyembuhkan pacarmu di rumah itu, aman!" ujar Dennis sambil terkekeh.
Sementara Laras yang sedang berjalan masuk ke dalam rumahnya tampak mengerutkan keningnya. "Ada hantu di rumah Mba Olive? Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Sebaiknya aku harus menelepon Mba Calista, biar Mba Calista panggilkan ustadz buat usir hantu-hantu itu," ucap Laras. Laras kemudian mengambil ponselnya untuk menelpon Calista.
[Halo Mba Calista.]
[Ada apa Laras, apa kau sudah melihat keadaan Vansh?]
[Belum Mba, tapi Dennis sudah bertemu dengan Vansh dan dia baik-baik saja, hanya saja...]
[Hanya saja apa Laras?] tanya Calista dengan sedikit panik.
[Mba Calista, tadi Dennis mengatakan padaku jika ada hantu di rumah Mba Olive. Ya, kemungkinan memang benar Mba. Rumah sebesar itu dan tidak dihuni selama satu tahun pasti bisa mengundang keberadaan makhluk halus untuk menempati rumah itu, Mba.]
[Laras kamu ngomong apa sih? Di dunia ini, kita memang hidup berdampingan dengan makhluk gaib. Di setiap tempat keberadaan mereka tidak bisa dipungkiri. Selama tidak saling mengganggu satu sama lain, itu bukanlah sebuah masalah yang besar, Laras.]
[Tapi sepertinya mereka menggangu, Mba. Dennis yang mengatakan seperti itu. Bahkan makhluk gaib itu juga mengganggu Dennis saat masuk ke rumah itu, Mba.]
[Benarkah?]
__ADS_1
[Iya Mba, biarpun Dennis seperti itu, dia tidak mungkin berbohong tentang makhluk halus.]
[Oh baik, Laras. Nanti aku bicarakan dengan Leo agar memanggil seorang ustadz atau pemuka agama agar datang ke rumah itu, agar makhluk halus yang ada di dalam rumah itu tidak menggangu lagi. Bagaimana?]
[Iya Mba, itulah tujuanku menelepon Mba Calista, agar mendatangkan seorang ustadz ke rumah itu, Mba.]
[Iya Laras, terima kasih banyak sudah memberitahuku.]
[Iya Mba, Laras tutup dulu teleponnya ya Mba. Laras mau menemani Ramon sarapan dulu, takut Ramon terpikat sama si Inem.]
[Inem? Inem siapa Ras?]
[Pembantu baru kami, Mba. Ya sudah Laras tutup dulu teleponnya.] ujar Laras kemudian menutup telepon itu. Sementara Calista tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Vansh dan Maya tampak sedang asyik memaggut satu sama lain di dalam kamar. Tangan Maya dia kalungkan di leher Vansh sedangkan tangan Vansh merengkuh pinggang Maya.
Ciuman yang awalnya lembut itu pun kini terasa semakin menuntut. Vansh melepaskan tangan kanannya dari pinggang Maya kemudian memegang tengkuk Maya agar lebih mendekatkan kepalanya lagi padanya.
Ciuman lembut nan hangat yang kini sudah menjadi ciuman panas yang begitu menuntut itu pun membuat dessahhan lirih keluar dari bibir keduanya. Maya yang mulai terbuai pun melepaskan tangannya dari leher Vansh lalu mulai meraba seluruh tubuh Vansh dan berhenti di bawah perut Vansh, dia tampak meraba pinggang itu yang membuat Vansh memejamkan matanya. Namun, sebelum Vansh makin terbuai dengan sentuhan Maya, dia buru-buru melepaskan ciuman itu lalu membelai wajah Maya.
"Jangan Sayang, cukup seperti ini saja, nanti ada yang bangun. Ini belum saatnya, kita harus tahu batas. Kau mengerti kan?"
"Iya Kak."
"Terima kasih, Sayang."
"Kak, aku lapar."
"Kau sudah lapar? Sebaiknya sekarang kita sarapan di luar saja, makanan yang kita beli sudah habis dimakan oleh Dennis."
Maya pun menganggukan kepalanya. Saat mereka berjalan keluar dari kamar itu, tiba-tiba ponsel Vansh berbunyi. Dia kemudian mengambil ponsel itu di dalam saku celananya.
"Tante Calista," ujar Vansh saat melihat nama Calista di ponselnya.
__ADS_1