Bed Friend

Bed Friend
Berjodoh


__ADS_3

Shakila dan Darren kemudian berpandangan. "Devano?" ucap Shakila, Darren pun menggelengkan kepalanya. Shakila lalu mengambil ponselnya di dalam tasnya.


"Maaf Bu Rahma, apa Devano yang anda maksud itu dia?" tanya Shakila sambil memperlihatkan foto Devano di ponselnya. Rahma pun menganggukan kepalanya.


"Iya, dia Devano suami Luna. Emh, maksud saya Sachi."


Shakila lalu berpandangan dengan Darren kembali. "Kakak, benar. Dia adalah Devano, calon dari suami Sachi itu sendiri."


"Iya Shakila, ini benar-benar hal yang begitu luar biasa. Sachi terpisah dari keluarganya, namun dipertemukan dengan orang yang dijodohkan dengannya."


"Iya, Kak. Kurasa ini bukan hanya sebuah kebetulan kan?"


"Bukan, karena mereka memang benar-benar berjodoh."


"Ya, aku tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Benar-benar kisah cinta yang sangat indah, Kak."


"Iya, Shakila."


"Tapi, apa pernikahan itu sah, Kak?"


"Shakila, saat Sachi menikah dengan Devano, dia tidak tahu ayah kandungnya yang sebenarnya, bahkan dia tidak tahu asal-usulnya, jadi mereka tidak bisa disalahkan. Sebaiknya kita bicarakan nanti dengan orang tuamu saat masalah ini sudah selesai."


"Iya, Kak."


Mendengar perbincangan Shakila dan Darren, Rahma kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada mereka berdua.


"Maaf, sebenarnya apa maksud dari percakapan kalian? Apa kalian mengenal Devano? Sachi sudah menikah dengan Devano, lalu bagaimana dengan perjodohannya?"


"Ya, saya mengenal Devano. Mengenai perjodohan itu, itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan karena Sachi sudah menjadi istri dari laki-laki yang akan dijodohkan olehnya."


"Apa maksud kalian? Ja, jadi Devano adalah laki-laki yang akan dijodohkan dengan Sachi?"


Shakila pun menganggukan kepalanya, sedangkan Rahma saat ini tampak menutup mulutnya. "Astaga! Ini rasanya seperti sebuah keajaiban."


"Ya, ini adalah sebuah suratan takdir. Mereka memang berjodoh, mereka sudah dijodohkan, tapi cara mereka disatukan dengan jalan yang lain yang begitu indah."


"Tidak!" elak Rahma.


Shakila dan Darren pun mengerutkan kening mereka sambil saling bertatapan. "Apa maksud anda, Bu Rahma?"


"Nona Shakila, anda tadi mengatakan kalau kisah mereka indah? Kisah Luna sangat tidak indah. Bahkan penuh dengan air mata."


"Be-Benarkan? Bukankah dia dan Devano saling mencintai?"


Rahma mengangukkan kepalanya. "Ya, mereka memang saling mencintai, tapi kisah mereka tidaklah mudah. Ada cinta di mata Luna, ada kasih sayang yang begitu dalam pada sikap Devano, tapi sayangnya Luna bukanlah pilihan bagi orang tua Devano, karena bagi orang tuanya, wanita pilihan mereka adalah Sachi, yang tanpa mereka tahu adalah Luna itu sendiri."


"Jadi orang tua Devano tidak menyetujui hubungan mereka?"


Rahma kemudian menganggukan kepalanya. "Ya, saat itu mereka sempat berpacaran, lalu putus karena adu domba dari orang tua Devano. Orang tua Devano, sangat membenci Luna. Segala macam hinaan, pernah dia terima. Hingga akhirnya mereka sempat berselisih paham yang membuat keduanya saling membenci satu sama lain. Bahkan Devano yang berubah setelah mengenal Luna, kembali pada masa lalunya yang suka mempermainkan wanita. Kisah Luna sangat menyedihkan."


Rahma kemudian mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, mencoba menghilangkan rasa sesak di dalam dadanya. Sakit, mengingat Luna dengan segala perngorbannya terasa begitu menyakitikan untuknya. Di dalam lubuk hatinya, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Shakila. Luna bukanlah anak kandungnya, dia yang sudah memisahkan Luna dengan keluarganya demi egonya, dan Luna juga lah yang harus menanggung semua beban keluarganya.


'Maafkan Mama, Luna,' batin Rahma. Dia kemudian mengusap air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


"Bu Rahma, lalu bagaimana kisah Luna dan Devano hingga akhirnya mereka menikah?"


"Pada suatu hari, mereka kembali dipertemukan, dan Devano tahu kalau Luna mengandung. Awalnya Devano memang tidak mau mengakui bayi itu dan meminta bayi itu digugurkan, karena tidak yakin jika anak yang ada di dalam kandungan Luna adalah darah dagingnya. Tapi setelah mereka menikah, mungkin keduanya sudah bisa menyelesaikan kesalahan pahaman diantara keduanya. Aku tidak terlalu memahami bagaimana kehidupan rumah tangga mereka saat ini karena Luna tidak pernah bercerita apapun."


"Astaga," ujar Shakila lirih. Kedua sudut matanya kini mulai meneteskan tetesan bening. Darren pun menggengam tangannya.


"Kak Darren, aku harus mengakhiri semua ini. Aku tidak ingin adikku menderita dan dihina oleh keluarga Devano begitu saja. Luna adalah Sachi, dan tidak boleh ada yang berani menghina adikku seperti itu. Kau mengerti kan, Kak?"


"Iya Shakila aku tahu. Aku tahu itu."


Shakila kemudian menatap Rahma. "Bu Rahma, kami pamit. Terima kasih sudah mau menerima kami, dan sudah jujur pada kami. Saya juga minta maaf kalau saya sempat berkata kasar pada anda."


"Iya Nona Shakila, saya yang seharusnya minta maaf karena dosa saya sudah terlalu besar pada keluarga anda."


"Ya, semua sudah berlalu. Semua kejadian, pasti ada hikmahnya, Bu Rahma."


"Iya Nak."


"Bu Rahma, kami pamit dulu. Besok supir saya akan menjemput anda pukul sembilan pagi pergi ke rumah sakit," tambah Darren.

__ADS_1


"Iya, Tuan."


Shakila dan Darren kemudian keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam mobilnya.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Darren saat mereka ada di dalam mobil.


"Campur aduk, antara haru akhirnya aku bisa menemukan adikku, bahagia karena dia menikah dengan laki-laki yang sudah dijodohkan dengannya, tapi juga sedih kalau mengingat semua penderitaannya."


"Aku juga, aku sangat lega karena sebentar lagi aku akan memilikimu seutuhnya."


Shakila pun tersenyum. "Bukankah benar begitu? Dulu aku sangat cemburu saat mendengar nama Devano. Rasanya sangat sakit, kita bagaikan dikejar waktu untuk menemukan Sachi selama dua bulan."


"Tapi ternyata mereka malah sudah menikah. Hahahaha."


"Akhirnya kau tertawa. Aku sudah bosan melihatmu menangis, sekarang kita pergi ke rumahku ya. Ini sudah malam, sebaiknya kau menginap di rumahku saja. Biar nanti Mama yang ijin pada Tante Delia kalau kau mau menginap di rumahku."


Shakila pun menganggukan kepalanya. "Ya, kita pulang sekarang," ujar Shakila.


"Isi tenaga dulu," ujar Darren sambil mendekatkan wajahnya.


"Kak Darren!!"


***


Shakila tampak berjalan ringan masuk ke halaman rumahnya. Pagi ini, Darren memang tidak mengantarnya masuk ke dalam rumah seperti biasanya karena harus pergi ke kantor secepetnya, dia sedikit terlambat akibat bangun kesiangan setelah semalaman nonton film dengan Shakila.


"Ehemmm ehemmmm," sebuah suara menghentikan langkah Shakila.


"Oh Dea."


"Kakak baru pulang? Bukankah Kak Shakila pergi dengan Kak Darren kemarin sore?"


"Ya, tadi malam kami pulang terlalu larut jadi aku menginap di rumahnya. Mama Aini juga sudah ijin pada Mama Delia."


"Heh, aku tidak menyangka, kupikir kau polos, Kak."


"Dea, apa maksud dari perkataanmu?"


"Kupikir kau polos, tapi ternyata... "


"Memang kenyataannya seperti itu kan, Kak? Sudah berapa ronde tadi malam, Kak Shakila yang cantik?"


PLAK


****


Sementara itu Devano yang juga menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki Sachi, saat ini juga tengah menerima telepon dari anak buahnya.


"Hilang?" ujar Devano sambil mengerutkan keningnya.


"Iya Tuan, banyak yang mengatakan kalau Sachi itu sebenarnya hilang."


"Benarkah?"


"Ya kalau, Tuan tidak percaya mungkin Tuan bisa menyelidikinya ke sana langsung ke rumah Nyonya Fitri, tempat mereka dulu tinggal, sebelum mereka semua pindah ke Jakarta."


Devano terdiam, dan tampak berfikir sejenak. Dia kemudian menatap Fabian yang masih duduk di depannya.


"Kau tetap selidiki Sachi, dan akupun akan menyelidikinya dengan caraku sendiri juga."


"Baik tuan."


"Kau boleh pergi sekarang."


Fabian kemudian beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruang kerja Devano. Sementara itu Devano tampak menyandarkan tubuhnya ke sofa dan memijat keningnya.


"Kenapa aku jadi berfikir kalau Luna adalah Sachi? Bagiku tampaknya ini bukan hanya sebuah kebetulan. Tetapi semunya terasa seperti ada benang merahnya. Logikanya, bagaimana mungkin tiba-tiba Tante Delia memiliki foto Luna saat masih bayi? Lalu keberadaan Sachi pun masih sangat misterius. Bahkan mereka juga tidak mau menunjukkan foto Sachi untukku."


Devano kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Mereka mengatakan kalau tidak mau memberikan foto itu untuk memberikan kejutan padaku. Tapi bagiku alasan itu tidak terlalu mengada-ngada, ini benar-benar sangat mencurigakan. Kalau begitu sebaiknya aku pergi ke rumah Tante Delia sekarang juga, kalau benang merahnya sejalan, baru aku menyelidikinya ke Jogja, ke rumah Oma Fitri," ujar Devano.


Dia lalu bergegas keluar dari ruangannya kemudian pergi ke rumah Delia. Tak berapa lama, Devano pun sudah sampai di rumah mewah bergaya minimalis tersebut.


TETTTT TETTT

__ADS_1


Setelah pintu rumah itu terbuka, tampak seorang pembantu rumah tangga berdiri di depan Devano. "Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Bisakah saya bertemu dengan Tante Delia?"


"Oh iya, silahkan. Silahkan masuk Tuan," kata pembantu rumah tangga tersebut.


Devano lalu masuk ke dalam rumah itu, entah kenapa debaran jantungnya terasa berdegup begitu kencang.


Devano lalu mengamati sekeliling rumah itu. Dia kemudian melihat foto keluarga yang ada di ruang tamu rumah itu. Namun, dalam foto keluarga itu hanya terdapat Fitri, Dimas, Delia dan Shakila, tidak ada Sachi.


Devano kemudian mengamati beberapa foto yang ada di dinding sisi lain di dalam rumah tersebut. Namun, pada dinding itu hanya terdapat foto-foto Shakila, tidak ada wanita foto wanita muda lainnya, hanya ada foto Shakila di dinding rumah itu.


"Kenapa tidak ada foto Sachi di rumah ini? Ini benar-benar sangat mencurigakan. Namun, saat asyik mengamati beberapa foto tersebut sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Devano.


"Devano!" panggil suara tersebut. Devano lalu membalikkan tubuhnya dan melihat Delia yang sudah berdiri di belakangnya.


"Oh Tante Delia," sapa Devano.


"Devano, kenapa kau tidak bilang terlebih dulu kalau kau mau mampir ke rumah ini, Nak?" ujar Delia.


'Astaga, kenapa dia tidak bilang kalau mau ke rumah ini. Kalau aku tahu Devano mau datang ke rumah ini, aku tidak mungkin membiarkan Dea atau Sachi yang sebenarnya pergi mengambil berkasnya di kantor Kenzo,' batin Delia.


"Oh aku hanya tidak sengaja mampir Tante, kebetulan aku baru saja pergi ke salah satu seorang temanku yang rumahnya tidak jauh berada di dekat sini. Jadi, aku mampir ke sini. Bukankah kita sudah lama tidak bertemu?"


"Oh jadi begitu, kau memang anak yang baik Devano."


Devano pun tersenyum. "Astaga, maaf Tante lupa, mungkin Tante terlalu bahagia melihat kedatanganmu ke sini, jadi Tante lupa tidak menyuruhmu duduk. Ayo duduk dulu Devano!" ujar Delia sambil memerintahkan Devano duduk di sofa yang ada di ruang tamu tersebut.


"Bagaimana keadaanmu Devano?"


"Baik Tante. Bagaimana keadaan tante dan keluarga Tante?"


"Kami juga baik-baik saja Devano. Emh, Devano kebetulan Sachi sudah pulang dari Australia. Tetapi, saat ini dia sedang pergi menemui salah seorang temannya."


DEGGGG


Mendengar nama Sachi disebut, Devano pun tampak tertegun. "Sachi?" ucap Devano lirih.


"Ya, Sachi. Sachi putri kedua Tante. Tunanganmu Devano, dia sudah pulang dari luar negeri."


'Oh shhitttt, tidak!' umpat Devano dalam hati.


"Devano, karena Sachi sudah pulang, kita hanya tinggal mengatur rencana pernikahan kalian saja. Kami akan merencanakan pertemuan kalian dan melanjutkan perbincangan tentang pernikahan kalian. Nanti, kami tinggal menghubungi orang tuamu, dan membicarakan tanggal pernikahan kalian berdua."


Mendengar perkataan Delia, tubuh Devano pun menegang, seluruh tubuhnya bergetar hebat, seakan dialiri aliran listrik.


"Devano, sebenarnya tante ingin kalau kau dan Sachi bisa menikah bersama dengan Darren dan Shakila. Nanti kami bicarakan dengan kedua orang tuamu, semoga saja mereka setuju."


GLEK


Devano pun hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. 'Aku tidak mau menikah dengan Sachi,' batin Devano. Perasaannya pun begitu campur aduk, bahkan keringat dingin juga keluar dari sekujur tubuhnya.


'Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh diam saja. Aku harus melakukan sesuatu,' batin Devano.


"Tante, sepertinya aku harus kembali ke kantor. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan," kata Devano.


"Kenapa buru-buru sekali, Devano? Apa kau tidak ingin bertemu dengan Sachi?"


'Sachi lagi,' batin Devano.


"Oh kapan-kapan saja Tante, biar surprise."


"Baiklah. Tante yakin kau pasti sangat menyukai Sachi, karena dia adalah dia adalah gadis yang manis."


Devano pun hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Delia. "Ya, iya Tante," jawab Devano lemas.


"Kalau begitu, aku pulang sekarang, Tante."


"Iya Devano hati-hati di jalan."


Devano kemudian keluar dari rumah tersebut sambil mengumpat. "Aku pikir aku akan mendapat titik terang dari teka-teki Luna, tapi malah aku harus mendapat kenyataan pahit kalau ternyata Sachi ternyata sudah pulang dari luar negeri dan mereka semua akan merencanakan pernikahanku dengan Sachi? Astaga ini tidak boleh terjadi, aku harus menggagalkan rencana pernikahan ini, apapun caranya. Aku tidak sanggup kalau aku harus berpisah dengan Luna," ucap Devano sambil berjalan keluar dari rumah itu.


Sementara Shakila yang sejak tadi melihat perbincangan Devano dan Delia hanya bisa bergumam dalam hati. 'Benarkah Dea itu adalah Sachi? Bagaimana kalau ternyata Dea bukan Sachi? Kalau Dea ternyata bukan Sachi, Devano akan menikahi wanita yang salah. Oh tidak,' gumam Shakila.

__ADS_1


"Shakila, kau kenapa?" tanya Delia saat melihat Shakila yang kini tampak termenung di dalam rumah itu.


"Oh tidak apa-apa Ma, aku hanya sedang menunggu Kak Darren menjemputku," jawab Shakila untuk menutupi kegundahan hatinya.


__ADS_2