Bed Friend

Bed Friend
Koma


__ADS_3

"Bangun Alvaro!" ujar Firman sambil membantu Alvaro bangkit dari atas lantai.


"Apa Papa pernah patah hati?" tanya Alvaro. Firman hanya terdiam. Dia kemudian memapah tubuh Alvaro masuk ke dalam kamar.


"Apa Papa pernah patah hati?" tanya Alvaro kembali sepanjang Firman memapah tubuhnya ke dalam kamar. Setelah masuk kedalam kamar milik Alvaro, Firman merebahkan tubuh putranya ke atas tempat tidur. Lalu, dia mengambil air hangat dan secangkir teh untuknya.


Firman lalu membasuh wajah putranya dengan air hangat tersebut. "Minum dulu!" ujar Firman setelah selesai membasuh wajah Alvaro yang kini tampak jauh lebih segar.


"Terima kasih, Pa," ujar Alvaro yang kini kesadaran dirinya mulai pulih. Alvaro kemudian duduk di atas tempat tidur lalu menatap wajah Firman.


"Maaf aku sudah merepotkan Papa."


Firman kemudian tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya. "Jadi, semalaman Papa menungguku?"


Firman kemudian menganggukan kepalanya. "Setiap orang tua pasti mengkhawatirkan anaknya, meskipun anak itu sudah dewasa dan dia berpikir tidak membutuhkan orang tuanya lagi. Tapi, di setiap hembusan nafas orang tua, mereka selalu memikirkan anak-anak mereka. Begitu pula yang kami lakukan pada Cleo. Meskipun dia sudah berumah tangga dan hidup bahagia dengan Kenzo."


"Alvaro, setiap orang tua pasti juga ingin anak mereka bahagia, dan setiap orangtua pasti juga merasa sedih saat melihat anak mereka terpuruk. Sama seperti yang Papa rasakan sekarang, saat melihatmu seperti ini."


Alvaro kemudian menundukkan kepalanya. "Maafkan aku Pa. Maaf kalau aku tidak bisa mengendalikan perasaanku."


"Tadi, kau bertanya padaku, apakah dulu Papa pernah patah hati?" Alvaro hanya terdiam.


"Jawabannya iya. Papa pernah patah hati berkali-kali pada wanita yang sama, dan dia adalah cinta pertama Papa."


'Jadi, kisah papa sama sepertiku?' batin Alvaro.


"Alvaro, bukankah kau tahu. Papa tidak hanya patah hati. Tapi, papa juga pernah dipaksa untuk menikah dengan seorang wanita yang tidak papa cintai bahkan dipaksa untuk bertanggung jawab atas anak yang bukan darah daging papa."


"Aku tahu, aku tahu kisah pernikahan Papa dengan istri pertama Papa. Papa dulu dijebak oleh mereka kan? Aku tahu rasanya pasti sangat sakit, bertanggung jawab atas hal yang tidar kita lakukan. Meskipun, aku tidak tahu bagaimana hidup dengan orang yang tidak pernah kita cintai. Tapi rasanya pasti menyesakkan dada."


"Sangat sakit, Alvaro. Papa dan mantan pacar papa menikah di saat yang bersamaan. Kami dipaksa patah hati karena keadaan. Padahal, saat itu kami saling mencintai sama lain. Ya, kami benar-benar dipisahkan oleh keadaan. Mantan pacar papa harus menikah dengan laki-laki yang memperkosanya, sedangkan papa harus menikah dengan mantan istri papa yang berpura-pura mengandung darah daging papa."


"Aku tidak bisa membayangkan rasanya jadi Papa. Aku malu, Pa. Aku terlalu lemah."

__ADS_1


"Kau tidak lemah. Masalah hati memang rumit, karena ada campur tangan takdir, dua orang yang saling mencintai saja tidak bisa dipastikan bisa menikah, Alvaro. Sama seperti kisah papa, saat kami sudah bercerai dengan pasangan masing-masing, lagi-lagi papa juga harus patah hati karena dia lebih memilih laki-laki lain, laki-laki yang baru dia kenal dan dia temui. Kau tahu rasanya? Sangat sakit, bahkan papa pernah berpikir untuk meninggalkan dunia ini. Tapi akal sehat papa memilih untuk mencari kehidupan baru. Ya, papa mencari kehidupan baru, dan mencoba ikhlas."


"Dan yang lebih menyakitkan, saat papa sedang mencari kehidupan baru, di depan mata ini. Papa melihat orang yang papa cintai, sedang bermesraan dengan suaminya. Papa melihat mereka berciuman," ucap Firman sambil tersenyum kecut.


Alvaro tertegun mendengar kisah Firman, dia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap ayah kandungnya. Melihat wajah tampan yang mulai menua itu, ternyata pernah mengalami berbagai duka di masa mudanya dulu.


"Alvaro, apa kau tahu, berpisah dengan orang yang sama-sama pernah saling mencintai itu justru lebih menyakitkan, daripada harus merelakan orang yang hatinya tidak pernah kau miliki. Dan papa selalu dipaksa keadaan untuk berpisah dengan wanita itu, wanita yang menjadi cinta pertama papa. Tapi papa mencoba untuk di ikhlas, karena papa sadar dia bukanlah jodoh untukku."


"Lalu bagaimana dengan Mama? Papa mencintai Mama kan?"


"Kau bicara apa? Tentu saja papa sangat mencintai mama. Cinta pertama papa merupakan bagian dalam hidup papa yang tidak bisa dihilangkan begitu saja, ini sudah takdir. Dan, kita tidak bisa memilih dengan siapa saja kita dipertemukan terlebih dulu, sebelum akhirnya dipertemukan dengan cinta sejati kita."


"Mama cinta sejati Papa kan?"


Firman terkekeh mendengar pertanyaan Alvaro. "Tentu saja, bukankah kau tahu papa sangat mencintai mamamu. Vallen adalah wanita terindah dalam hidup papa. Vallen, begitu indah, sama seperti kisah cinta kami yang begitu indah. Kuncinya adalah keikhlasan, Alvaro. Setelah papa mengikhlaskan semua, akhirnya papa bertemu dengan mama. Apa kau tahu bahkan papa bertemu dengan mama hanya berselang beberapa detik saja setelah apa melihat mantan pacar papa bermesraan dengan suaminya. Mungkin ini yang disebut takdir, dia hadir dan menghapus semua luka hati papa saat papa merasakan jatuh sejatuh jatuhnya."


"Lalu papa bisa melupakan kisah kelam papa dan semua rasa sakit hati papa?"


"Tentu saja, bukankah tadi papa mengatakan kalau mamamu adalah wanita terindah dalam hidup papa? Jadi, mulai sekarang kau harus ikhlas melepaskan wanita itu, karena dia bukanlah jodohmu. Apa kau mengerti?"


"Alvaro, mulailah kehidupan baru. Kau seorang dokter, gunakan ilmumu agar bisa bermanfaat untuk orang lain."


"Iya Pa. Tapi, kenapa papa belum tidur? Bagaimana papa bisa tahu aku belum pulang, Pa?"


"Tadi papa melihatmu mengendarai mobil dengan kecepatan begitu tinggi. Papa mencemaskanmu, jadi Papa memilih untuk menunggumu dan tidak tidur semalaman."


"Maafkan aku, Pa."


"Tidak apa-apa, Alvaro."


"Tapi, bagaimana dengan Mama? Apa Mama tidak mencari Papa di kamar?"


Firman lalu tersenyum. "Mamamu malam ini tidak ada di rumah, Nak. Kau selamat, kalau mamamu di rumah mungkin dia sudah marah marah padamu."

__ADS_1


Alvaro pun tersenyum kecut. "Papa tidak akan mengatakan hal ini pada Mama kan?"


"Tentu saja tidak. Alvaro, ini rahasia kita berdua."


"Iya, Pa. Terima kasih banyak."


"Memangnya Mama dimana, Pa?"


"Mama masih di rumah sakit, tadi sore dia memang sudah pulang. Tapi malamnya memutuskan untuk kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani Tante Olivia."


"Tante Olivia? Siapa dia?"


"Oh dia, saudara sepupu dari mantan pacar papa," ucap Firman sambil tersenyum getir.


"Astaga Mama memang benar-benar berjiwa besar."


"Ya, itulah hebatnya mamamu. Dia selalu menolong siapapun yang membutuhkan bantuannya."


"Memangnya ada apa dengan Tante Olivia?"


"Bukan tante Olivia yang sakit Alvaro, tapi putrinya. Putri Tante Olivia bernama Laurie. Dia koma, suaminya sudah melukainya secara mental dan fisik, Alvaro."


"Astaga kasihan sekali."


"Siapa namanya?"


"Laurie."


"Laurie?" ucap Alvaro.


NOTE:


Mampir juga ya ke karya bestie othor, novelnya Kak Nirwana Asri, dijamin keren abis loh.

__ADS_1



__ADS_2