
Nathan lalu memandang Clarissa disertai tatapan cemas. "Siapa yang datang, Clarissa?"
"Aku tidak tahu Kak."
"Lebih baik kau cepat pakai pakaianmu, aku akan bersembunyi di dalam kamar," ujar Nathan sambil mengenakan pakaiannya. Clarissa lalu menganggukkan kepalanya, dia kemudian bergegas memakai pakaiannya kembali lalu berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu tersebut. Saat membuka pintu tampak seorang laki-laki berperawakan tinggi besar dengan mengenakan jaket kulit berwarna cokelat berdiri di hadapannya.
"Permisi Nona, maaf menggangu. Apakah benar ini apartemen milik Tuan Wijaya?"
"Oh maaf, bukan. Ini apartemen milik Papa saya, nama Papa saya Rayhan."
"Oh maaf, sepertinya saya salah alamat."
"Ya, anda salah alamat."
"Lalu siapa nama anda?"
"Oh.. E.. Saya..." Clarissa menghentikan jawabannya. 'Oh tidak, aku tidak boleh mengatakan namaku yang sebenarnya, jika tidak orang ini bisa menjadi bumerang bagiku, dia bisa saja menanyakan kembali tentang apartemen yang dicarinya pada security apartemen dan menyebut namaku. Oh tidak, jika security tersebut tahu aku di sini pasti dia akan menghubungi Papa dan Mama, ini benar-benar sungguh berbahaya lebih baik aku menyamarkan identitasku saja,' gumam Clarissa.
"Oh nama saya Sharen," jawab Clarissa.
"Oh iya Nona Sharen, maaf mengganggu anda. Saya permisi dulu."
"Ya," jawab Clarissa sambil menutup pintu.
'Maafkan aku Kak Sharen, maaf jika aku sudah menggunakan namamu untuk menutupi identitasku, untuk menutupi kenakalanku dengan Nathan, nanti biar aku minta tolong pada Kak Sharen untuk berpura-pura ada di apartemen ini saja,' gumam Clarissa sambil berjalan ke kamarnya.
"Papa.. Mama kita masuk saja ke kamar!" teriak Clarissa.
Nathan yang ada di dalam kamar tersebut pun semakin panik. "Astaga, kenapa Clarissa ceroboh sekali menyuruh orang tuanya masuk ke dalam kamar," gerutu Nathan. Dia kemudian mencoba masuk ke dalam walk in closet yang ada di dalam kamar tersebut. Namun saat dia akan memasuki walk in closet tersebut, tampak Clarissa yang sedang berdiri sendirian di ambang pintu sambil menyunggingkan senyum nakalnya. Clarissa kemudian menutup pintu kamar tersebut.
"Kau mau kemana Kak Nathan sayang?"
"Jadi kau sudah membohongiku?" gerutu Nathan sambil mendekat ke arah Clarissa. Clarissa pun tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.. Hahahaha, tidak ada tamu yang datang, hanya orang yang salah alamat," sahut Clarissa sambil tertawa terbahak-bahak.
"Berani sekali kau menipuku, benar-benar nakal!"
"Bukankah sejak awal aku sudah sangat nakal padamu? Kau selalu tertipu dengan kebohonganku? Kebohongan yang sangat kau sukai?" jawab Clarissa sambil meledek Nathan. Nathan kemudian menempelkan tubuhnya pada tubuh Clarissa.
"Anak nakal, karena kau selalu membohongiku sekarang kau harus mendapatkan hukumannya," ucap Nathan sambil menatap Clarissa dengan tatapan mata nakal.
"Memangnya kau bisa apa?"
"Hahahaha, kau berani meledekku Clarissa? Bisa apa? Aku bisa melakukan lebih dari yang kau tahu."
"Misalnya seperti apa? Apa seperti ini?" jawab Clarissa sambil meraba tubuh Nathan yang membuat Nathan memejamkan matanya. Perlahan Clarissa pun membuka pakaian yang dikenakan oleh Nathan.
__ADS_1
"Baru sebentar saja kau sudah sangat nakal padaku, Clarissa," ucap Nathan sambil membuka pakaian yang dikenakan oleh Clarissa, dia kemudian menempelkan wajahnya pada wajah Clarissa lalu menciumi wajahnya.
"How?"
"Yes, i'm yours."
"Don't afraid, i will marry you."
"Yes, i know."
"We will do now?"
"Yeah, everything you want."
Nathan kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Clarissa lalu mereka mulai memagut dengan penuh gairah. Dia kemudian berjalan sambil mendorong tubuh Clarissa ke arah belakang yang membuat Clarissa memundurkan langkahnya hingga mereka berdua jatuh di atas ranjang. Nathan yang sudah dipenuhi oleh naf*u yang begitu membara lalu langsung melepaskan sisa pakaian milik Clarissa dan pakaian yang menempel di tubuhnya lalu menikmati setiap bagian tubuh polos Clarissa yang kini tidak tertutup sehelai benangpun sambil sesekali me*ngulum dan me*ngisap b*ah da*a milik Clarissa yang membuat Clarissa mengeluarkan de*ahan.
"Oughhh Kak Nathan!"
"Teruskan Clarissa, teruskan saja," ucap Nathan. Dia pun mulai memasukkan asetnya ke dalam lubang hangat milik Clarissa yang masih sangat sempit hingga membuat keduanya meringis kesakitan.
"Kak Nathan! Sakit!" bentak Clarissa sambil memukul tubuh Nathan dengan menggunakan bantal.
"Tahan sebentar Clarissa, jangan memukulku seperti ini!"
"Sakit Kak!" bentak Clarissa lagi.
"Tahan Clarissa sayang, aku sedang berusaha. Masih sempit sekali," gerutu Nathan sambil berulangkali memasukkan asetnya.
"Sebentar lagi Clarissa, sebentar lagi," jawab Nathan sambil terus berusaha, hingga beberapa saat kemudian Nathan pun berhasil memasukkan aset miliknya. Dia kemudian mulai meminta memain*an pinggulnya di atas tubuh Clarissa yang kini terlihat sedang meringis sambil memejamkan matanya.
"Bagaimana sayang?"
"Sakit, sangat sakit, aku tidak mau melakukan ini lagi denganmu," gerutu Clarissa yang membuat Nathan tersenyum.
"Ini baru pertama kali Clarissa, nanti kalau sudah terbiasa rasanya tidak seperti ini."
"Benarkah?"
"Ya."
"Kalau begitu lakukan saja, lakukan sesukamu!" ucap Clarissa yang membuat Nathan semakin memacu gerakan pi*ggul dan kakinya yang membuat des*han dan e*angan kini kian memenuhi sudut kamar.
"Oughhh Clarissa! Clarissa!" teriak Nathan saat berada di pu*cak kenikmatan lalu menindih tubuh Clarissa setelah cairannya keluar di lembah kehangatan milik Clarissa.
"Kak Nathan," ucap Clarissa saat memandang wajah Nathan yang kini berada di atas tubuhnya.
"Kenapa Clarissa?"
__ADS_1
"Tolong jangan pernah tinggalkan aku."
"Tidak akan pernah, tidak akan pernah," jawab Nathan kemudian mencium kening Clarissa.
"I will marry you, i promise."
Clarissa lalu menganggukkan kepalanya. Nathan kemudian merebahkan tubuhnya di samping Clarissa. "Aku sudah sangat menginginkan saat-saat seperti ini."
"Benarkah?"
"Sejak kapan? Bukankah kita belum lama bertemu?"
"Sejak di rumah sakit."
"APA? DASAR ME*UM!!" teriak Clarissa sambil memukul Nathan denggan menggunakan bantal.
BUGHHHH BUGHHHH
🍒🍒🍒
Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan menggunakan jaket kulit berwarna cokelat kini tampak sedang berada di dalam basemen parkir mobil sambil terlihat sibuk menelepon seseorang.
[Saya sudah menyelidiki tempat Tuan Nathan saat ini berada, Tuan.]
[Bagus, lalu apakah dia ada bersama dengan teman-temannya?]
[Tidak, saat saya ke sana sepertinya apartemen itu tampak sepi, hanya ada seorang wanita.]
[Wanita?]
[Ya, di apartemen tersebut tampaknya hanya ada seorang wanita yang bernama Sharen.]
[Sharen?]
[Ya, tadi dia mengatakan jika namanya Sharen.]
[Baik Rio, terimakasih banyak. Tetap awasi gerak-gerik putraku.] ucap Leo kemudian menutup teleponnya. Calista lalu mendekat ke arahnya.
"Seperti dugaan kita, Calista. Dia tidak sedang bersama-sama dengan teman-temannya, tapi dia sedang bersama dengan seorang wanita."
"Jadi Nathan sedang bersama dengan seorang wanita di apartemen?"
"Mengkhawatirkan sekali, sebaiknya kita ke sana saja."
"Tunggu dulu, Calista. Jangan bertindak gegabah, jika kita bertindak gegabah, hanya akan memperburuk hubungan kita dengan Nathan."
"Memangnya siapa wanita itu, Leo?"
__ADS_1
"Namanya Sharen."
"Sharen?"