
"Kau jangan asal bicara, Nala!"
"Aku tidak asal bicara, Nathan! Aku memang akan membantu Laurie menyelesaikan masalah ini. Aku akan mencoba menemui Zack!"
"Kau jangan gila!"
"Aku tidak gila, Nathan. Selama ini dia sudah begitu keterlaluan dan kalian hanya bisa diam saja?"
"Nala, mengertilah Zack bukanlah orang sembarangan. Bukankah sudah kukatakan padamu dia adalah seorang mafia. Dia salah seorang mafia terbesar di Asia, Nala."
"Memangnya kenapa? Kenapa kalau dia salah satu mafia terbesar? Bukankah kita sama-sama manusia?Apanya yang harus ditakutkan?"
"Kau jangan pernah menganggap enteng, Nala. Yang kita hadapi tidaklah main-main. Dia adalah seorang mafia kejam, mafia yang sangat kejam."
"Tapi aku tidak takut."
"Jangan coba-coba bermain dengan Zack! Lagipula papa juga pasti tidak akan pernah mengizinkanmu untuk mencoba melawan Zack."
"Tidak masalah bagiku, Nathan. Aku akan tetap mencoba menantang Zack karena aku tidak mau keluarga kita terbelenggu seperti ini. Terbelenggu oleh Zack. Sudah cukup kita semua mendapat tekanan dan penderitaan yang Laurie rasakan. Kita semua harus bebas dari Zack."
"Aku tahu itu, dan kami pun sedang berusaha untuk melepaskan diri dari Zack, Nala. Tapi tidak semudah itu, semua ini tidak semudah yang kau bayangkan. Apa kau lupa, tadi sudah kukatakan Zack bisa menyingkirkan siapapun yang dia mau. Dia bisa membunuh siapapun yang menurut dia bisa mengganggu hidupnya."
"Apa itu termasuk aku jika aku mencoba menantangnya?"
"Cukup Nala! Kami tidak ingin kehilanganmu."
"Tidak Nathan, aku akan tetap berusaha untuk menyelamatkan Laurie dari Zack. Kau tidak perlu takut karena aku akan bermain cantik, aku tidak akan menantang Zack secara terang-terangan. Tapi aku akan menusuknya dari belakang."
"Tidak Nala, apapun yang kau lakukan itu sangat berbahaya."
"Nathan aku bisa menjaga diriku."
"Tolong jangan keras kepala Nala, aku yakin papa juga tidak akan mengizinkanmu untuk bertemu dengan Zack begitu saja."
__ADS_1
"Papa pasti akan mengerti karena hanya inilah cara satu-satunya untuk menyelamatkan Laurie."
"Tidak Nala, apapun caranya itu sama saja menyerahkan nyawamu pada Zack."
"Nathan, tolong percaya padaku."
"Cukup Nala, aku tidak mau berdebat denganmu, lebih baik kita pulang sekarang."
"Nathan please!"
"Kita pulang sekarang karena aku sudah tidak mau mendengar ocehanmu itu. Jangan pernah bermimpi untuk menantang Zack karena itu sama saja kau menyerahkan nyawamu."
Nala pun hanya terdiam, percuma membantah Nathan karena apapun yang dia katakan, Nathan tidak akan membiarkan dirinya untuk bertemu dengan Zack. Saat ini dia memang harus mengikuti kemauan Nathan tapi dia sudah bertekad di dalam hatinya untuk menyelamatkan Laurie apapun caranya, termasuk berhadapan dengan Zack.
'Laurie, kau tenang saja aku pasti akan mencoba membantumu untuk lepas dari Zack suamimu yang jahat itu. Aku tidak rela kau hidup dalam tekanan dan penderitaan karena harus hidup dengan laki-laki seperti Zack,' batin Nala di dalam hati.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, itu artinya jam kerja Alvaro telah habis. Dia kemudian memanggil salah seorang asisten perawat.
"Sudah tidak ada, Dok. Lalu apa masih ada kunjungan ke ruangan pasien lagi?"
"Juga sudah tidak ada."
"Kalau begitu, tugasku sudah selesai hari ini kan?"
"Iya dokter, anda sudah bisa pulang sekarang. Sudah tidak ada pasien lagi."
"Baik, terima kasih banyak."
Alvaro kemudian membereskan meja kerjanya, melepaskan snelli yang digunakan olehnya, lalu mencuci tangannya.
"Aku pulang dulu, Suster."
__ADS_1
"Iya Dok."
Alvaro kemudian keluar dari ruangannya menuju ke pintu keluar rumah sakit. Namun, saat dia berada di persimpangan koridor. Hatinya terasa begitu bimbang, kata hatinya seolah-olah menariknya untuk pergi ke ruang perawatan Laurie.
Rasa gundah mulai merasuk ke dalam hatinya, sama seperti tadi pagi yang dia rasakan. "Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi seperti ini? Kenapa rasanya aku sangat ingin melihat Laurie?" ujar Alvaro lirih.
Setelah termenung sejenak, Alvaro kemudian memutuskan untuk pergi ke ruang perawatan Laurie. Saat dia berada di depan pintu perawatan itu, seketika dia merasa begitu bimbang, menanyakan pada akal sehatnya, tentang dirinya yang tiba-tiba dia sudah berdiri di depan pintu itu.
'Bukankah seharusnya aku pulang ke rumah? Kenapa aku malah berada di sini? Kenapa kata hatiku seolah selalu menarikku agar aku bertemu dengan Laurie? Apa yang sebenarnya terjadi dengan hatiku?' batin Alvaro. Dengan penuh keraguan, akhirnya dia pun membuka pintu perawatan tersebut.
CEKLEK
Saat pintu itu terbuka, tampak Olivia sedang ada di dalam ruang perawatan itu, baru saja selesai membersihkan tubuh Laurie. Melihat kedatangan Alvaro, raut bahagia pun tergambar di wajah Olivia.
"Alvaro kebetulan sekali kau datang!"
"Memangnya ada apa, Tante Olivia?" tanya Alvaro yang terkejut mendengar perkataan Olivia.
"Oh ini, tante harus mengambil barang yang tertinggal di dalam mobil. Maukah kau menemani Laurie sebentar?" tanya Olivia.
Entah mengapa saat mendengar perkataan Olivia, rasa bahagia pun merasuk ke dalam hati Alvaro. "Oh tentu saja, Tante. Aku akan menemani Laurie di sini."
"Terima kasih, Alvaro. Tante keluar sebentar ya."
Olivia kemudian keluar dari ruangan itu, sementara Alvaro duduk di samping Laurie. Dia mengamati wajah cantik itu, wajah cantik yang terlihat begitu nyaman tertidur di atas brankar.
"Selamat sore Laurie, apa kabarmu? Jadi kau masih belum mau membuka matamu? Ataupun merespon sedikit saja dariku?"
"Baiklah kalau begitu, tidak apa-apa. Mungkin kau belum mau bercerita banyak tentang dirimu padaku, Laurie. Kalau kau belum mau bercerita tentang kesedihanmu padaku, maukah kau mendengar tentang kisah sedihku?"
Laurie pun hanya terdiam, sedangkan Alvaro hanya tersenyum simpul. "Bukankah diam itu pertanda setuju? Baiklah, sekarang akan kuceritakan sebuah kisah padamu. Tepatnya kisah sedihku, kisah cintaku yang begitu menyedihkan."
"Laurie, sekarang aku bertanya padamu, apakah kau tahu rasanya bagaimana patah hati? Sakit? Ya patah hati memang sakit, dan itu sangat menyedihkan. Itulah aku saat ini, aku mencintai seorang wanita dan berulang kali patah hati pada wanita yang sama. Memang ini terdengar begitu bodoh tapi inilah cinta, bukankah kata orang cinta itu buta dan tak mengenal logika? Cintaku begitu buta, aku bahkan tidak pernah bisa berpaling darinya. Meskipun aku tahu dia tidak pernah mencintaiku."
__ADS_1
Alvaro kemudian mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. "Aku bodoh kan Laurie? Ya, itulah aku. Aku adalah manusia bodoh itu, aku terkurung dalam cinta yang sama, bahkan saat aku tahu cinta itu tak terbalas dan hanya menimbulkan sebuah luka yang dalam, aku tetap tidak pernah bisa beranjak pada hati yang lain. Aku tetap terkurung dalam sebuah rasa cinta tanpa mempedulikan logika."
"Mungkin jika saat ini kau tidak tidur, kau pasti akan bertanya padaku, apakah saat ini aku masih mencintai dirinya? Jawabannya iya, aku masih sangat mencintai dirinya, tapi aku sadar, dia bukanlah untukku karena dia sudah menjadi milik yang lain, dan aku sedang berusaha untuk membunuh semua rasa itu, bagaimanapun juga aku harus ikhlas. Ya, ikhlas untuk melepaskan semua rasa ini. Laurie, mungkin seharusnya kau juga harus ikhlas, ikhlas melepas semua rasa sakit yang kau alami," ucap Alvaro. Saat dia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba setetes air mata keluar dari sudut mata Laurie.