
Setelah memarkirkan mobilnya, Darren lalu keluar dari mobil dengan begitu tergesa-gesa, dan langsung menuju ke alat vending machine yang ada di dalam Bandara untuk pembelian tiket secara go show.
"Astaga, aku harus menunggu selama dua jam sampai pukul sepuluh pagi di sini? Sedangkan acara pertunangan Shakila pada pukul satu siang. Semoga aku belum terlambat, semoga aku belum terlambat," gerutu Darren saat memasuki counter check in sebelum masuk ke waiting room.
"Shakila, maafkan aku. Maafkan aku, aku memang laki-laki pengecut yang sangat bodoh. Maafkan aku, aku tidak membuka pesanmu karena aku terlalu mencintaimu, aku tidak sanggup menahan gejolak di dalam hatiku jika aku membuka pesan darimu. Tapi ternyata, aku telah melakukan kesalahan besar. Maafkan aku Shakila, tahukah kau jika aku sangat mencintaimu, Shakila! Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu," runtuk Darren saat menunggu penerbangan di waiting room.
Perasaan Darren pun semakin tak menentu. Detik demi detik yang dia lalui terasa begitu menyiksa dirinya.
Setelah dua jam lamanya menunggu di waiting room, akhirnya Darren pun masuk ke dalam pesawat. Selama perjalanan, dia hanya memandang langit di samping jendela yang terlihat begitu cerah.
"Langit, tolong sampaikan padanya saat ini aku datang. Aku datang untuk mengatakan pada dunia jika mencintainya. Aku ingin semua orang tau jika hanya dia lah satu-satunya wanita yang kucintai. Shakila, tunggu aku," ujar Darren sambil menahan perasaan cemas di dalam dadanya.
Dia kemudian menatap wajah Shakila di ponselnya lalu mengecup foto itu. "Shakila, aku mencintaimu, hanya kau yang ada di dalam hatiku sejak dulu, hari ini, esok dan seterusnya, hanya kau. Tidak akan pernah ada wanita lain selain dirimu," ujar Darren.
Setelah satu jam penerbangan, Darren akhirnya sampai di Jogjakarta. Dia pun keluar dari Bandara dengan begitu tergesa-gesa lalu menaiki sebuah taksi yang ada di komplek Bandara sambil memberikan alamat yang dituju olehnya pada supir taksi tersebut.
Setengah jam kemudian, taksi tersebut sudah sampai di sebuah rumah mewah bergaya joglo modern dengan halaman yang begitu luas dipenuhi oleh berbagai macam tanaman.
Darren lalu turun dari taksi kemudian masuk ke halaman rumah tersebut yang kini sudah ramai oleh tamu yang datang. Netranya kemudian bergerak dengan lincah mencari sosok Shakila yang ada di halaman rumah itu. Namun, Darren tak menemukan sosoknya. Dia kemudian bertanya pada salah seorang pelayan yang ada di rumah tersebut tentang keberadaan Shakila dan pelayan itu menunjukkan jika saat ini Shakila ada di taman dekat kolam renang tempat akan dilakukan pesta pertunangan.
Darren kemudian berlari ke arah tempat yang ditunjukkan oleh pelayan tersebut. Saat sudah sampai di tepi kolam, tampak sosok Shakila yang sedang duduk di sebuah bangku. Melihat Shakila yang saat ini terlihat begitu cantik mengenakan kebaya modern berwarna putih membuat jantung Darren berdegup semakin kencang, namun sayangnya wajah cantik itu kini terlihat begitu sendu.
Dia kemudian berlari mendekat pada Shakila karena sudah tak sanggup lagi menahan perasaannya yang begitu bergejolak.
Shakila pun begitu terkejut saat melihat kedatangan Darren yang kini sudah berdiri di depannya.
"Kak Darren," ucap Shakila. Dia kemudian berdiri di hadapan Darren lalu menatap lekat laki-laki yang sangat dicintainya itu, yang saat ini tengah menangis sambil menatap dirinya.
__ADS_1
Melihat Shakila yang kini berdiri di depannya, Darren lalu memeluk Shakila dengan begitu erat. Tampak beberapa tamu yang datang pun menatap mereka berdua.
"Shakila, maafkan aku Shakila. Maafkan aku, maaf aku terlambat membaca pesanmu. Maaf aku memang laki-laki yang sangat bodoh. Memang aku sangat pengecut, Shakila. Tolong maafkan aku, kembalilah padaku, Shakila. Aku sangat mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Shakila!" ucap Darren sambil memeluk tubuh Shakila. Sementara itu Shakila hanya menangis.
Mendengar tangis Shakila, Darren kemudian melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata yang menetes di wajah cantik Shakila.
"Jangan menangis, jangan menangis, Sayang," ujar Darren sambil menghapus air mata Shakila. Namun Shakila tetap saja menangis.
Melihat wajah Shakila yang saat ini begitu terluka, perlahan Darren menempelkan bibirnya pada bibir Shakila kemudian mulai memaggut dan ******* bibir tipis itu dengan begitu lembut, yang semakin membuat tamu yang hadir di pesta pertunangan tersebut kini melihat ke arah mereka berdua.
Shakila pun begitu terkejut melihat tingkah Darren yang tiba-tiba mencumbunya di hadapan banyak orang. Ingin rasanya dia melepaskan ciuman itu tapi hatinya tak kuasa menolak, dia pun akhirnya membalas paggutan lembut dari Darren.
Sadar kini dia dan Darren menjadi pusat perhatian, Shakila kemudian melepaskan bibir Darren. Sementara Fitri yang melihat tingkah Shakila dan Darren pun berniat memberi peringatan pada Shakila dan Darren, namun dicegah oleh Dimas.
"Jangan Ma, biarkan Shakila untuk memilih. Aku yang akan bertanggung jawab atas putriku," sahut Dimas.
"Shakila, bukankah aku pernah berkata padamu jika aku akan mengatakan pada dunia jika aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, Shakila."
"Tidak Kak, sudah terlambat! Sudah terlambat, Kak Darren. Lebih baik kau pergi sekarang juga! Aku sudah memilih dan kau bukanlah pilihanku!"
"Tidak Shakila, bukankah kita saling mencintai? Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini? Aku minta maaf jika aku telah menyakitimu. Aku minta maaf padamu, Shakila. Apa kau tidak mau memperjuangkan cinta kita?"
"Memperjuangkan cinta katamu, Kak? Kau yang tidak pernah mau memperjuangkan cita kita. Tahukah kau aku sangat tersiksa dan terluka karena mencintaimu. Rasanya aku hampir mati karena jatuh cinta padamu. Tapi apa pedulimu padaku? Kau selalu mengabaikanku dan aku hanya mendapat luka darimu! Aku sangat membencimu, Kak. Aku sangat membencimu! Lebih baik sekarang kau pergi dari hidupku! Pergi dari hidupku, Kak! Aku tidak mau terluka lagi karenamu! Aku lelah terluka karena mengejar cintamu!"
Shakila kini tampak begitu tersengal-sengal menahan emosi yang begitu berkecamuk.
"Kak Darren pergi dari sini, Kak! Pergi dari sini!" bentak Shakila.
__ADS_1
Darren pun begitu tertegun mendengar penolakan Shakila. Dia pun hanya bisa diam terpaku melihat Shakila yang saat ini menatapnya dengan tatapan tajam.
"Baik, aku terima keputusanmu. Jika bersamaku hanya membuatmu terluka, aku akan pergi dari hidupmu untuk selamanya. Selamat tinggal Shakila, semoga kau bahagia," ucap Darren.
Dia kemudian berjalan keluar dari rumah mewah tersebut dengan langkah yang begitu lunglai sambil menahan rasa sakit di dalam hatinya. Apalagi, saat keluar dari rumah tersebut, dia bertemu dengan rombongan calon tunangan Shakila.
'Tuhan, aku menyerah, saat ini aku menyerah pada takdir. Terima kasih sudah menegurku akan kebodohanku dan kesombonganku sendiri.'
Bersambung..
NOTE:
Mampir juga ya ke karya Bestie othor, novelnya Kak Chika Asi dijamin ceritanya keren abis dah.
Novel ini menceritakan kisah rumahtangga Nana, keponakan dari Liontin (PU Wanita Tenaga Kerja Indehoy).
Menikah muda, memang sudah menjadi pilihan Nana dan Natan. Mereka menjalani kehidupan sederhana selama bertahun-tahun. Namun, hobi baru Natan membuat kesabaran Nana diuji. Suaminya tiba-tiba membeli seekor burung elang langka dan memeliharanya.
"Mas, kita saja untuk tiap hari serba pas-pasan! Tapi apa ini? Mas Natan malah memelihara burung, yang nantinya membuat pengeluaran kita semakin membengkak!" seru Nana kesal.
"Suka-suka aku, dong! Uang-uangku sendiri!"
"Aku nggak masalah kalau hidup kita berkecukupan! Kamu saja kasih aku uang belanja pas-pasan, kadang kurang! Lalu gimana ke depannya nanti? Mas Natan juga larang aku buat kerja! Kalau pelihara burung ini, apa Mas Natan masih bisa mencukupi kebutuhan rumahtangga kita?"
Bagaimana kisah Nana Selanjutnya? Apakah dia tetap bertahan dalam kehidupan rumahtangganya? Atau memilih berpisah dan memulai hidup baru?
__ADS_1