Bed Friend

Bed Friend
Tante Dokter


__ADS_3

"Sombong sekali! Tante bisa berkata seperti itu karena belum tahu siapa diriku yang sebenarnya!"


"Memangnya kau siapa? Hanya sebatas laki-laki tidak bermoral yang sudah menuduh hal yang tidak-tidak pada wanita yang sedang mengandung darah dagingmu kan?"


"Aku masih ragu apakah dia sedang mengandung darah dagingku!"


"Cihhh dasar laki-laki pengecut! Munafik! Penjahat kellammin!"


"Tante sangat tidak sopan, apa Tante tahu sedang berbicara dengan siapa?"


"Memangnya dengan siapa aku bicara, hah?"


"Saya pemilik perusahaan konstruksi Ranch Building, salah satu perusahaan konstruksi terbaik di negeri ini."


"Apa kau bilang?" ujar Vallen sambil mendekatkan telinganya.


"Ranch Building Tante, kenapa Tante seperti sedang mengolokku seperti ini?"


"Memang kau pantas untuk diolok-olok! Aku pantas berkata seperti itu pada laki-laki tidak bermoral sepertimu," ujar Vallen sambil terkekeh.


"Dokter yang sangat aneh!"


"Apa aneh? Apa kau tahu, dengan siapa kau berbicara?"


"Dengan Tante Dokter yang tidak tahu diri," jawab Devano ketus.


"Hei sebentar lagi kau harus mencabut kata-katamu karena aku bisa saja mematikan semua proyekmu!"


"Hah mana mungkin seorang dokter seperti Tante mematikan proyek pengusaha besar sepertiku!"


"Tentu saja bisa, sekarang dengarkan baik-baik kata-kataku. Apa kau mengenal Kenzo Mahendrata?"


"Kenzo Mahendrata? Tentu saja, dia salah satu investor terbesar di perusahaan kami."


"HAHAHAHAHA... HAHAHAHAHA!"


"Kenapa Tante Dokter tertawa? Apa ada yang lucu?"


"Ya, sangat lucu. Dan itu adalah dirimu! Kau sangat lucu, bodoh, dan tidak bermoral."


"Tante jangan main-main, kenapa Tante tertawa?"


"Tentu saja aku harus tertawa, berani-beraninya kau menyobongkan diri di depan mertua dari Kenzo Mahendrata. Hahahahaha."


"A-apa maksud Tante? Mertua dari Kenzo Mahendrata? Jadi Tante adalah mertua dari Pak Kenzo?"


"Tentu saja, akulah mertua dari Kenzo! Bahkan sebelum anakku lahir, Kenzo sudah jadi menantuku! Apa kau mengerti, hah?"


Devano pun terdiam dan kini terlihat salah tingkah. "Kenapa kau diam? Coba kau keluarkan kata-kata sombongmu lagi di depanku!"


Devano pun hanya tersenyum getir. "Tidak Tante," ujar Devano sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Vallen kemudian mendekat ke arah Devano lalu memegang rahangnya. "Sekarang minta maaf pada Luna dan tolong bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat! Kau harus bertanggung jawab atas bayi yang ada di dalam kandungan Luna!"


"Tidak, bagaimana jika aku tidak mau?"


"Kalau kau tidak mau, aku akan memerintahkan Kenzo untuk mencabut investasi yang dia tanamkan di perusahaanmu! Itu sangat mudah bagiku! Sangat mudah bagiku untuk membuat perusahaanmu gulung tikar! Apa kau mengerti?"


Devano pun menutup matanya lalu menganggukan kepalanya. Vallen kemudian melepaskan cengkraman tangannya pada rahang Devano.

__ADS_1


"Sekarang berjanjilah agar kau menikahi Luna secepatnya, dan tidak hanya itu saja, tapi kau juga harus membahagiakan Luna! Aku akan terus memantau perkembangan kalian! Jika ternyata kau bersikap tidak baik pada Luna, aku tidak segan-segan untuk menyuruh Kenzo untuk mencabut investasinya! Apa kau mengerti?"


Devano pun kembali terdiam. "Apa kau mengerti?" bentak Vallen kembali.


"Iya Tante Dokter saya mengerti!"


"Bagus, kutunggu secepatnya realisasimu untuk menikahi Luna secepatnya! Kalau perlu besok!"


"Besok apa itu tidak terlalu cepat, Tante?"


"Baik, kalau begitu kutelepon Kenzo sekarang juga!"


"I-iya Tante, besok saya akan menikahi Luna."


"Masih kurang."


"Apanya yang kurang, Tante?"


"Menikahi Luna dan bersikap baik serta selalu menjaganya!"


"Iya itu, Tante."


"Cepat katakan!"


"Saya akan menikahi Luna, bersikap baik padanya, dan selalu menjaganya."


"Luna, tolong kau katakan padaku jika dia menyakitimu. Aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan hidup Devano jika dia berani berbuat Macam-macam padamu, apa kau mengerti, Luna?"


"Tapi Dokter, apakah ini tidak berlebihan?" tanya Luna.


"Tidak, tidak ada yang berlebihan karena sudah sepantasnya dia melakukan itu! Dia tidak pantas untuk menuduh yang tidak-tidak padamu!"


"Terima kasih Dokter Vallen."


"Iya Luna," jawab Vallen sambil melirik Devano dengan tatapan tajam.


"Kalau kau masih mempertanyakan mengenai kandungan Luna! Akan kubuktikan kalau janin yang dikandung Luna adalah darah dagingmu! Yang perlu kau ingat adalah kapan pertemuan kalian berdua!" bentak Vallen.


"Sekarang cepat minta maaf pada Luna!" tambah Vallen.


"Kenapa kau diam Devano! Cepat minta maaf pada Luna lalu ikut aku ke ruanganku!"


'Astaga menyebalkan sekali, kenapa aku harus bertemu dengan wanita tua comel seperti dia?' gumam Devano.


"Kenapa kau diam?"


"Maafkan aku," ujar Devano.


Luna hanya terdiam. 'Seandainya saja kau bersikap setulus ini, Devano. Tapi mustahil, kau melakukan seperti ini hanya karena takut pada Dokter Vallen,' gumam Luna.


"Luna sayang, kau tenang saja. Aku akan selalu ada untuk menolongmu. Kau jangan pernah sungkan padaku. Jika Devano berbuat buruk padamu, tolong katakan saja padaku. Aku melakukan semua ini juga untuk bayi yang ada di dalam kandunganmu. Aku ingin kau dan bayimu bisa dalam kondisi sehat saat kau melahirkan, kau mengerti kan Luna?"


"Iya Dokter, sekali lagi terima kasih banyak. Dokter, apa benar dokter mertua dari Pak Kenzo?"


"Ya, Kenzo menantuku. Memangnya ada apa Luna?"


"Saya bekerja di perusahaan milik Pak Kenzo, Dokter."


"Astaga, jadi kau bekerja pada Kenzo? Dunia memang sesempit ini! Hahahahaha."

__ADS_1


"Iya Dokter."


Vallen pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Sekarang, beristirahatlah dan tenangkan pikiranmu. Nanti aku yang bicara pada Kenzo."


"Terima kasih, dokter."


Vallen pun mengangguk. Sedangkan Luna, dia tampak merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan matanya. 'Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka semua ini akan terjadi di dalam hidupku. Membayangkan Devano mau bertanggung jawab pun aku tidak berani,' batin Luna sambil memejamkan matanya.


Saat hampir saja terlelap, tiba-tiba Luna dikejutkan oleh sebuah belaian hangat yang mendarat di rambutnya. Luna kemudian membuka matanya, dan melihat Devano sedang menatapnya dengan tatapan sayu.


"Dia anakku?"


"Kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau pergi ke ruangan Dokter Vallen untuk mendengar penjelasan darinya jika anak kandung ini adalah darah dagingmu?"


"Bukankah memang ada yang harus dibicarakan dengan menggunakan kepala dingin?"


"Apa kau bisa menahan emosimu padaku? Emosimu begitu besar, Devano."


"Aku akui, itulah kekuranganku. Aku selalu kesulitan mengendalikan emosiku."


"Kau masih marah padaku?"


"Entahlah, karena rasanya masih sangat sakit saat melihatmu melihatmu masuk ke dalam kamar hotel dengan laki-laki lain. Tapi kenyataannya, jika dibuktikan dari usia kehamilanmu, dia memang anak kandungku karena saat itu kita selalu bersama."


"Tolong percaya padaku, aku tidak pernah memiliki hubungan apapun, termasuk dengan Brian. Aku memang tidak memiliki bukti, tapi jika kau benar-benar mencintaiku, kau pasti tahu aku tidak pernah berbohong padamu."


Devano kemudian mengangkat sudut bibirnya sambil tersenyum kecut. "Benarkah kau tidak pernah berbohong padaku, Luna? Apa kau sudah lupa kalau kau pernah berpura-pura sedang menstruasi padaku. Sekarang, aku tanya padamu. Kau atau aku yang tidak pernah berbohong padamu? Seharusnya kau ingat kalau aku sama sekali tidak pernah berbohong padamu. Termasuk hal sekecil apapun dalam hidupku, aku tidak pernah berbohong padamu. Kau seharusnya tahu, aku begitu mencintaimu. Sekarang aku tanya padamu, apa aku pernah mengecewakanmu setelah menjalin hubungan denganmu? Apa aku pernah menyakitimu? Bahkan semua kulakukan hanya untukmu."


"Kalau kau tidak percaya padaku, untuk apa kau akan menikahiku? Apa karena Dokter Vallen memaksamu? Kalau alasanmu hanya itu, aku yang akan bicara pada Dokter Vallen kalau aku yang tak mau menikah denganmu. Tolong, jangan memaksaku ke dalam sebuah hubungan yang hanya membuatku semakin terluka."


"Apa kehadiranku membuatmu terluka?"


"Kau yang membuat luka Devano, harus berapa kali kukatakan kalau aku tidak pernah berselingkuh dengan Brian."


"Aku hanya perlu sebuah bukti, sebuah bukti saja agar aku percaya padamu."


Luna kemudian memejamkan matanya, rasanya dia begitu putus asa dan hatinya juga begitu lelah menerangkan semua pada Devano. Tiba-tiba, suara ponselnya pun berbunyi. Dia kemudian mengambil ponsel miliknya dan membuka sebuah pesan dari Kenzo jika Vallen sudah memberikan ijin padanya.


Melihat pesan itu, Luna pun mengulaskan sebuah senyum di bibirnya, dia lalu menatap Devano yang saat ini sedang termenung.


"Kau ingin sebuah bukti kan Devano?"


Devano pun hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Bagaimana dengan ini? Tolong kau baca pesan ini!" ucap Luna sambil memberikan ponselnya dan memperlihatkan sebuah pesan dari Kenzo.


"Lihat daftar panggilan di ponselku dan baca pesan ini baik-baik, itu pesan dari Kenzo kalau dia yang menyuruhku untuk datang ke hotel itu untuk memberikan berkasnya yang tertinggal di kantor. Bukankah kau tahu, saat itu aku juga memang berniat keluar dari perusahaan Kenzo untuk pergi denganmu? Jadi, terpaksa aku menyusul Kenzo ke hotel itu."


Devano lalu mengecek panggilan telepon dan mengamati pesan yang dikirimkan oleh Kenzo beberapa hari yang lalu. "Sekarang bagaimana? Kau percaya padaku kan? Aku ada di hotel itu untuk mengirimkan berkas pada Kenzo, lalu aku tidak sengaja bertemu dengan Brian karena dia menabrakku. Asal kau tahu Devano, saat aku akan menyebrang jalan di depan hotel tersebut, mobil Brian menyerempetku, jadi dia menyuruhku beristirahat di dalam salah satu kamar sambil menunggumu selesai pada pertemuan itu."


Devano pun kini terdiam, hatinya terasa begitu berkecamuk. "Apa kau percaya padaku? Aku minta maaf padamu, aku minta maaf jika seringkali membuatmu terluka. Aku tahu kau sangat mencintaiku, dan sering kali tersakiti oleh sikap acuhku padamu," ucap Luna.


Devano kemudian menatap Luna dengan tatapan begitu dalam, raut wajah emosi dan sorotan mata tajamnya yang menakutkan sekarang terlihat memudar. "Maaf," ucap Devano lirih.


"Maaf untuk apa? Bukankah aku yang menyakitimu? Aku tahu kau hampir saja mengakhiri hidupmu di atas gedung sampai ada seorang karyawan yang mencegahmu kan? Itulah alasannya malam itu kau masih ada di dalam kantor, iya kan?"


"Darimana kau tahu?"


"Tadi aku diperintahkan menggantikan meeting oleh Pak Kenzo, dan ternyata aku meeting dengan salah satu stafmu, dia yang sudah menceritakan semua padaku. Maaf jika aku tidak berhati-hati dan kurang menjaga sikapku, maaf jika ternyata aku sudah begitu menyakitimu sampai membuatmu bertindak sejauh itu."


Devano terdiam, perlahan dia menggenggam tangan Luna. "Aku memang tidak bisa mengendalikan emosiku jika ada hubungannya denganmu karena cintaku padamu, mungkin terlalu dalam hingga terkadang aku kehilangan kewarasanku. Aku terlalu mencintaimu..."

__ADS_1


Belum selesai Devano melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.


__ADS_2