
"Mama," panggil Nathan, namun Calista tidak menyahut panggilan Nathan.
"Kenapa Kak?" tanya Clarissa.
"Aneh sekali, mama meneleponku tapi dia yang malah yang memutuskan sambungan teleponnya."
"Mungkin Mamamu mendadak ada urusan, jadi dia menutup teleponnya begitu saja."
"Ya, mungkin seperti itu."
Sementara di ujung sambungan telepon, Leo tampak sedang mendekat pada Calista yang baru saja menutup sambungan teleponnya.
"Apa kau bilang, Calista? Suara wanita?"
"Iya Leo, sepertinya Nathan sedang bersama seorang wanita?"
Leo pun tersenyum kecut. "Bagus, seperti dugaanku dia pasti sudah bisa membuka hatinya kembali, jika saja dia mau melakukan itu sejak dulu pasti dia sudah menikah bukannya menunggu dalam ketidakpastian."
"Mungkin saja dia baru menemukan wanita yang tepat di hidupnya, kau pikir mudah mencari seseorang yang tepat? Sekarang kutanyakan padamu berapa wanita yang sudah kau kencani dulu? Puluhan? Atau ratusan?"
"Calista, tolong jangan ungkit itu lagi, lebih baik sekarang kau telepon lagi putramu dan suruh dia pulang sekarang juga, ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan anak itu!" perintah Leo.
Calista kemudian menganggukkan kepalanya lalu menelepon Nathan kembali. Tak berapa lama, sambungan telepon itu pun terangkat.
[Halo Nathan.]
[Halo Ma.]
[Nathan, kau ada dimana? Bagaimana keadanmu Nathan? Pulanglah, Papamu sudah tidak marah lagi padamu, kami semua bahkan sudah sangat merindukanmu.]
[Emh aku di rumah temanku, Ma. Aku baik-baik saja, maaf hari ini sepertinya aku belum bisa pulang karena aku sedang ada urusan dengan beberapa temanku, kami ada acara di luar kota, besok aku baru bisa pulang ke rumah Ma.]
[Oh baiklah, tapi tolong hindari berbuat hal negatif dengan teman-temanmu, kau tahu kan bagaimana pergaulan di sini?]
[Ya, aku tahu Ma. Mama tenang saja, aku tahu mana yang baik dan yang buruk untukku.]
__ADS_1
[Bagus, Mama tunggu kepulanganmu besok.]
[Iya Ma.]
Calista kemudian menatap Leo. "Ada apa?"
"Dia menolak pulang hari ini, dia mengatakan jika dia pergi bersama dengan teman-temannya. Tapi aku tidak percaya dengan kata-katanya."
"Aku juga, mungkin dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan wanita itu."
"Tapi, siapa wanita itu Leo? Bukankah sejak mengenal Cleo, dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun? Dia juga tidak pernah tertarik pada teman-teman wanitanya dulu saat sedang bersekolah."
"Apa maksud Calista?"
"Bagaimana jika orang tersebut adalah orang yang dekat dengan Kenzo dan Cleo?" jawab Calista yang membuat Leo terdiam.
"Akan kuselidiki," jawab Leo.
🍒🍒🍒
"Kenzo, kau mengagetkanku," ujar Cleo.
Kenzo lalu merebahkan tubuhnya di samping Cleo setelah sebelumnya menaruh ponselnya di atas nakas yang berada di samping ranjang. "Bagaimana Kenzo? Pernikahan kita tinggal tiga hari lagi, apa kau sudah membuat keputusan?"
"Keputusan?" tanya Kenzo sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, mengenai Papa Abimana. Pernikahan kita tinggal tiga hari lagi tapi kau belum membuat keputusan mengenai ayahmu. Kau harus mengundangnya ke pernikahan kita, Kenzo."
Mendengar perkataan Cleo, Kenzo pun terdiam. "Masih sangat sulit, Cleo. Masih sangat sulit menerima semua itu, apalagi saat mengingat wajahnya. Aku benar-benar membencinya, Cleo."
"Kenzo, buanglah semua dendam yang ada di dalam hatimu. Semua orang pasti pernah berbuat kesalahan, memaafkan atau tidak itu tergantung kebesaran dan keihklasan dalam hatimu, dan aku harap suamiku adalah seorang laki-laki yang berjiwa besar dan ikhlas memaafkan kesalahan yang diperbuat oleh ayah kandungnya sendiri."
Cleo lalu memeluk tubuh Kenzo yang ada di sampingnya. "Bukankah sudah pernah kukatakan padamu jika saja Papa Abimana tidak pernah membuangmu, mungkin kau tidak akan pernah mengenal Tante Calista dan Om Leo. Jika kau tidak mengenal mereka lalu bagaimana kelanjutan hubungan kita? Bukankah aku juga pernah mengatakan jika kemalangan yang kau alami di masa lalu itu memiliki hikmah yang sangat besar untuk hubungan kita, apa kau juga belum bisa memahami semua itu Kenzo?"
Kenzo pun hanya terdiam sambil menatap langit-langit kamar. "Come on, Kenzo," bisik Cleo di telinga Kenzo sambil menggodanya.
__ADS_1
"Cleo, tolong pahami aku."
"Kenzo, bukannya aku tidak memahamimu tapi ini adalah pernikahan kita, aku ingin semua orang hadir dan ikut merasakan kebahagiaan yang kita rasakan. Apalagi dia adalah ayah kandungmu, dia juga berhak merasakan kebahagiaan yang kau rasakan, Kenzo. Dia pasti juga ingin melihat senyummu di hari pernikahan kita. Kenzo, please!" ucap Cleo dengan tatapan mata yang begitu mengiba.
"Baik, baiklah, baik aku akan mengabulkan permintaanmu."
"Terimakasih Kenzo sayang," ucap Cleo. Dia kemudian bangun dari atas ranjang lalu mengambil ponsel Kenzo yang ada di atas nakas.
"Apa maksudmu, Cleo? Kenapa kau memberikan ponsel itu padaku?" tanya Kenzo sambil mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau jadi bingung, Kenzo? Bukankah kau mengatakan sudah bersedia untuk mengundang Papa Abimana ke pernikahan kita? Sekarang telpon Papamu."
"Apa kau bilang? Aku? Aku yang harus menelepon orang itu?"
"Siapa lagi? Bukankah kau putranya?"
"Tidak Cleo!"
"Jadi kau tidak mau? Baiklah aku juga tidak mau menikah denganmu! Aku sudah lelah menasehatimu, aku tidak ingin memiliki suami yang pendendam sepertimu! Aku hanya meminta ayah kandungmu untuk datang ke pesta pernikahan kita saja kau tidak mau mengabulkanny! Aku tidak mau memiliki suami seperti dirimu, Kenzo! Bermimpilah untuk bisa menikah denganku, karena aku akan pergi meninggalkanmu sekarang juga, sama seperti dulu! Aku tidak mau menikah denganmu!" gerutu Cleo sambil mendengus kesal, dia kemudian bangkit dari atas ranjangnya. Melihat Cleo yang terlihat marah, Kenzo lalu mencekal tangan Cleo.
"Cleo, Cleo tunggu Cleo, tolong jangan berkata seperti itu. Tolong jangan tinggalkan aku lagi, baik aku akan menghubungi Abimana sekarang juga," ucap Kenzo sambil memegang kedua tangan Cleo.
Mendengar perkataan Kenzo, Cleo pun duduk kembali lalu memberikan ponsel milik Kenzo padanya.
"Telepon papamu sekarang juga!"
Kenzo kemudian menghembuskan nafas panjangnya lalu mengambil ponselnya dari tangan Cleo. Dia kemudian menghubungi Abimana sambil menahan perasaan yang begitu berkecamuk. Rasa marah bercampur kesal masih terasa campur aduk di dalam hatinya, tapi dia terpaksa melakukannya, apalagi kini Cleo sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
Beberapa saat kemudian sambungan telepon itu pun terangkat.
[Halo Kenzo.] sapa sebuah suara di ujung sambungan telepon.
[Kami mengundang anda ke pesta pernikahan kami. Anda mau kan datang ke pesta pernikahan kami?]
[Kau mengundangku ke pesta pernikahanmu, Kenzo?]
__ADS_1
[Ya, kami mengundang anda ke pesta pernikahan kami. Apa anda bersedia datang ke pesta pernikahan kami?]