
Nathan melirik pada Clarissa yang kini duduk di sampingnya sambil menangis, rasa penyesalan pun semakin merasuk ke dalam hatinya.
"Maafkan aku," ucap Nathan. Namun Clarissa tidak menjawab kata-katanya, yang keluar dari bibirnya hanyalah sebuah isak tangis dan rintihan.
'Astaga, kenapa aku ceroboh sekali, karena kecerobohanku sekarang aku tidak bisa bertemu dengan Cleo dan harus mengurus wanita ini,' gumam Nathan dalam hati.
"Maaf, siapa nama anda?" tanya Nathan memberanikan diri.
"Clarissa," jawab Clarissa dengan sedikit ketus.
'Sepertinya dia marah padaku,' gumam Nathan sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Sekali lagi maafkan aku, tadi aku sedang terburu-buru jadi aku tidak melihatmu."
Mendengar perkataan Nathan, Clarissa hanya terdiam sambil terus pura-pura merintih kesakitan. Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. Nathan lalu membantu Clarissa keluar dari mobil, dibantu oleh petugas medis yang menaikan Clarissa ke atas kursi roda lalu membawanya ke dalam ruang UGD. Sementara Nathan menunggu di depan ruang UGD dengan perasaan campur aduk, rasa cemas disertai rasa bersalah begitu berkecamuk di dalam hatinya. Dia kemudian teringat sesuatu lalu mengambil ponsel di sakunya untuk menelpon seseorang.
TUTTTTT TUTTTTT
[Halo Cleo.]
[Halo Nathan, kau dimana? Aku sudah menunggumu di cafe.]
[Kau sudah ada di cafe, Cleo?]
[Ya, cepat datanglah ke cafe, aku sudah menunggumu, sebenarnya ada hal sangat penting yang ingin kubicarakan, ini mengenai hubungan diantara kita.]
'SIAL!' gumam Nathan dalam hati.
[Emh maafkan aku Cleo, hari ini aku tidak bisa menemuimu di cafe karena aku mengalami musibah kecil.]
[Musibah, apa sesuatu telah terjadi padamu? Bagaimana keadaanmu, Nathan?]
[Tidak Cleo, aku baik-baik saja. Maaf untuk saat ini aku tidak bisa menemuimu, bagaimana kalau besok?]
[Tidak bisa Nathan, kesempatanku untuk bertemu denganmu hanya hari ini.]
[Kenapa harus hari ini?]
[Besok aku sudah dipingit, aku tidak bisa keluar rumah kalau tidak bersama Kenzo.]
'SIAL! BRE*GSEK!' gumam Nathan di dalam hati.
[Ya sudah Nathan, aku tutup teleponnya dulu.] ucap Cleo kemudian menutup panggilan dari Nathan. Dia kemudian tersenyum pada Kenzo yang kini duduk di sampingnya sambil terkekeh saat sedang mengendarai mobilnya menuju ke tempat seorang desainer untuk melakukan fitting baju pengantin.
"Sepertinya dia sangat kesal tidak bisa menemuiku."
__ADS_1
"Bukankah itu yang kita inginkan, Cleo?"
Cleo pun tersenyum sambil mengangguk, beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di tempat desainer tersebut. Cleo dan Kenzo lalu keluar dari mobil lalu masuk ke dalam tempat desainer itu. Saat Kenzo sedang duduk menunggu Cleo yang sedang berganti gaun pengantin, tanpa dia sadari sepasang mata kini tampak mengamati dirinya.
'Bukankah itu Kak Kenzo?' gumam orang tersebut. Kenzo kini terlihat tersenyum dan tertawa saat melihat Cleo yang sudah mengenakan gaun pengantinnya.
"Bagaimana Kenzo?"
Kenzo lalu mendekat ke arah Cleo. "Cantik sekali," bisik Kenzo di telinga Cleo.
"Awww Tuan Kenzo, tolong kalian jangan bermesraan di depan kami! banyak karyawanku yang belum menikah, nanti mereka iri dengan kemesraan kalian!" teriak desainer gemulai itu.
Kenzo dan Cleo lalu saling berpandangan dan tersenyum. Seseorang yang sedang mengamati gerak-gerik mereka lalu mengambil ponselnya lalu memfoto Kenzo yang kini sedang berdiri di dekat Cleo sambil memantantaskan penampilan mereka di depan cermin sebuah cerita besar.
Sementara Nathan yang sedang menunggu Clarissa kini mendekat pada seorang dokter yang keluar dari ruangan UGD tersebut.
"Bagaimana keadaan Clarissa, dokter?"
"Nona Clarissa mengalami retak tulang di tangan kanannya dan beberapa memar di beberapa bagian tubuhnya tapi anda tenang saja, saya sudah menanganinya, tangan kanannya juga sudah di gips, untuk tiga hari ke depan sebaiknya dia dirawat di rumah sakit ini."
"Haruskah dirawat disini?"
"Ya, kami perlu memantau keadaan Nona Clarissa selama tiga hari ke depan untuk memastikan dia tidak mengalami cedera dalam."
"Iya dok, lakukan yang terbaik untuk Clarissa, berapapun biayanya itu tidak masalah bagi saya."
"Iya Tuan, saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk Nona Clarissa, permisi saya mau mengecek keadaan pasien yang lain dulu."
"Iya dok, silahkan."
Setelah dokter itu pergi dari hadapannya, Nathan lalu masuk ke ruang UGD kemudian menghampiri Clarissa yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya dengan tangan kirinya karena tangan kanannya di gips. Nathan tersenyum pada Clarissa tapi senyumnya tidak dibalas sama sekali, hanya tatapan sinis yang kini terlihat di matanya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Apa kau tidak lihat?"
"Sekali lagi maafkan aku. Bisakah kau memberitahu nomor ponsel kedua orang tuamu? Aku akan menghubungi orang tuamu dan meminta maaf pada mereka."
"Aku tinggal sendiri, orang tuaku tinggal di Surabaya. Aku sedang kuliah di sini, tolong jangan hubungi mereka, kalau mereka tahu aku mengalami kecelakaan, mereka bisa menyuruhku pulang," ucap Clarissa dengan ketus.
'Astaga, ini benar-benar sebuah bencana! Mama dan Papa juga tidak boleh tahu aku telah menabrak seseorang, aku bisa diamuk oleh mereka. Lalu aku harus bagaimana? Wanita ini tangan kanannya mengalami cidera, dia pasti tidak bisa mengurus dirinya sendiri, haruskah aku selalu menemaninya? gumam Nathan.
'Tapi dia galak sekali,' gumam Nathan lagi sambil menutup wajahnya.
"Kau sedang apa? Kenapa kau menutup wajahmu?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa bersalah padamu karena telah membuat keadaanmu jadi seperti ini."
"Bagus kalau kau merasa bersalah."
"Ya, karena itulah ijinkan aku untuk merawatmu, apa boleh aku menemanimu di sini?"
"Oh tentu saja, bukankah memang itu yang harus mau lakukan?"
"Ya, kau tenang saja. Aku pasti akan bertanggung jawab atas kesalahanku padamu, apalagi tangan kananmu mengalami cidera."
"Baguslah kalau kau menyadarinya."
"Ya, tentu saja, aku sadar, aku memang telah bersalah padamu."
Di saat itu juga, seorang pengantar makanan pasien mendekat ke arah mereka. "Silahkan Nona, anda harus banyak makan agar lekas sembuh, apalagi tangan anda mengalami cidera tulang, makanan ini mengandung banyak kalsium, sangat bagus untuk anda konsumsi."
"Iya terimakasih," jawab Clarissa sambil tersenyum, dia lalu mengalihkan pandangannya pada Nathan.
"Kenapa kau hanya diam saja?"
"Aku? Memangnya apa yang harus kulakukan?"
"Bukankah tadi kau mengatakan akan merawatku?"
"Ya, aku memang akan merawatmu."
"Lalu kenapa kau diam saja?"
"Memangnya apa yang harus kulakukan?"
"Astaga, ternyata kau sangat bodoh!" gerutu Clarissa.
"Hai, bukankah aku sudah berbaik hati mau merawatmu, kenapa kau malah mengataiku bodoh?" balas Nathan.
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan akan merawatku, kenapa saat ada makanan datang kau malah diam saja! Memangnya kau pikir aku bisa makan sendiri dengan keadaan tanganku yang seperti ini?" teriak Clarissa yang membuat Nathan meringis.
"Ba... Baiklah, aku akan menyuapimu," ucap Nathan kemudian mengambil makanan yang ada di atas nakas lalu mulai menyuapi Clarissa. Tanpa Nathan sadar, Clarissa memotret Nathan yang sedang menyuapinya lalu mengirimkan pada Kenzo.
'Ini belum apa-apa Nathan, karena besok kau pasti akan lebih sibuk mengurusku!'
NOTE:
Baca juga karya bestie aku ya, karya Kak Dionesia judulnya Bukan Suami Pengganti dijamin ceritanya seru abis, nyesel deh kalo ga mampir 😘😍🥰
__ADS_1