Bed Friend

Bed Friend
Bukan Orang Sembarangan


__ADS_3

Laurie pun begitu terkejut mendengar perkataan Alvaro, dia pun hanya termenung. Pikirannya melayang saat tadi Alvaro mengatakan ungkapan cinta saat membicarakan Nala. Melihat Laurie yang diam membisu, Alvaro pun begitu resah. Dia takut Laurie merasa tak nyaman dengan ungkapan cintanya, dan langsung menolaknya begitu saja. Dia pun bergegas melepaskan pelukannya dari Laurie, lalu menatap mata gadis itu yang kini tampak kebingungan.


"Laurie, maafkan aku. Maaf kalau aku sudah lancang mengatakan semua ini padamu, aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman. Sekali lagi maafkan aku, kalau aku sudah lancang seperti ini."


"Kenapa harus minta maaf?"


"Kau tidak nyaman kan kalau aku mengatakan seperti ini?"


"Kenapa kau berfikir seperti itu?"


"Karena kau hanya diam. Kupikir kau tidak menyukai apa yang baru saja kukatakan padamu."


Laurie pun tersenyum, sebenarnya dia merasa begitu bahagia mendengar ungkapan cinta dari Alvaro, tapi bagaimana dengan Nala? Sejenak dia pun ragu dengan perkataan Alvaro, jika yang diungkapkan oleh Alvaro hanya untuk menyenangkan dirinya saja.


"Aku tidak yakin dengan perkataanmu. Kau hanya berbohong padaku, kan?"


"Berbohong? Kenapa kau bicara seperti itu, Laurie?"


"Apa kau sudah lupa, tadi kau mengatakan kau mengungkapkan ungkapan cinta pada Nala?"


"Kapan aku mengatakan seperti itu?"


"Tidak usah banyak alasan, Alvaro. Tadi di depan kau jelas-jelas mengatakan tentang ungkapan cinta saat aku mengatakan Nala!"


Saat ini giliran Alvaro yang tersenyum. "Apa kau cemburu pada Nala?"


"Cemburu? Tentu saja tidak, memangnya apa urusanku? Bukankah kita hanya sebatas pasien dan dokter?"

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku menginginkan lebih?"


"Alvaroooo! Kau ternyata sangat flamboyan! Bukankah kau juga mengungkapkan hal yang sama pada Nala sepupuku? Kau benar-benar tidak tahu diri!"


"Siapa? Siapa yang mengatakan seperti itu? Di depan tadi aku tidak mengatakan kalau aku mengungkapkan cinta pada Nala, kau yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Memang ada ungkapan cinta diantara kami, tapi Nala yang mengungkapkannya padaku. Sedangkan aku? Aku tidak merasakan hal yang sama padanya. Jadi, saat dia mengatakan kalau dia mencintaiku, aku menjawab kalau aku tidak bisa membalas cintanya. Maaf jika ini terdengar kejam karena aku telah menolak cinta dari seorang wanita. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku, aku sudah menyukai wanita lain, yaitu kau!" jawab Alvaro.


Laurie pun menatap Alvaro dengan tatapan kosong, dia menyadari kalau dia memang terlalu cepat mengambil kesimpulan, tadi memang Alvaro belum mengatakan apapun tentang ungkapan cinta itu dan dia sudah menarik kesimpulan kalau dia mengungkapkan cintanya pada Nala. Mungkin, rasa cemburu yang begitu menggebu membuatnya kehilangan akal sehatnya. Laurie pun menghembuskan nafas panjangnya sambil menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku, aku sudah salah paham padamu, Alvaro," ucapnya lirih.


"Jadi sekarang kau sudah percaya padaku kan?"


Laurie pun terdiam, entah kenapa lidahnya terasa begitu kelu. Dia merasa sangat malu sudah berfikir yang tidak-tidak pada Alvaro. Melihat Laurie yang menundukkan kepalanya disertai rona wajah yang memerah, Alvaro kemudian mengangkat dagu Laurie, lalu menatap wajah cantik itu dengan tatapan yang begitu hangat, hingga wanita cantik itu menarik kedua sudut bibirnya, lalu mencetak sebuah senyuman di wajah cantik itu yang membuat Alvaro merasa gemas. Perlahan, dia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Laurie lalu menempelkan bibirnya dan memaggut bibir itu dengan begitu lembut.


Laurie yang terkejut tiba-tiba Alvaro mencium bibirnya awalnya terdiam, tapi detik berikutnya dia ikut membalas ciuman hangat dari Alvaro, dan saling mengecap rasa manis di bibir mereka masing-masing. Cukup lama mereka berciuman dengan begitu lembut, hingga akhirnya Laurie mendorong sedikit dada Alvaro lalu melepaskan ciuman mereka.


"Aku tidak butuh jawaban, balasan ciuman darimu sudah cukup menunjukkan bagaimana perasaanmu padaku."


"Bagaimana kalau aku cuma hanyut pada ciuman itu? Dan tidak memiliki perasaan apapun padamu?"


"Benarkah? Lalu, kalau kau tidak memiliki perasaan apapun padaku, bagaimana mungkin kau sampai membohongiku? Cemburu pada Nala, bahkan sampai menanyakan hubungan kita ke depan."


"Berbohong? Memangnya aku berbohong apa padamu?"


Alvaro kemudian menarik pinggang Laurie agar tubuhnya menempel kembali padanya. "Laurie, Zack sebenarnya sudah melepaskanmu kan? Dia juga sedang mengajukan proses gugatan cerai padamu? Iya kan?"


Deg

__ADS_1


Laurie pun begitu terkejut Alvaro kini sudah tahu rahasianya. Dia pun kembali terdiam, dan bersikap salah tingkah. Rasanya Laurie begitu malu, saat Alvaro sudah mengetahui kebohongannya. Dia pun kembali menundukkan kepalanya lagi, berusaha menghindar dari tatapan Alvaro yang membuat jantungnya berdegup begitu kencang.


"Kau kenapa?"


"Ma-maafkan aku Alvaro, maaf aku sudah membohongimu," jawab Laurie sambil menundukkan kepalanya, untuk saat ini dia memang belum ada keberanian untuk menatap Alvaro. Saat merasa begitu salah tingkah, tiba-tiba Alvaro memeluknya.


"Aku yang seharusnya minta maaf."


"Kau? Kenapa harus kamu? Aku yang sudah membohongimu, Alvaro."


"Kau sampai berbohong padaku karena sikapku kan? Aku terlalu naif pada perasaanku sendiri, aku terlalu bodoh hingga membuatmu merasa bingung pada semua sikapku kan? Sikapku menunjukkan kalau aku tertarik padamu. Tapi, tidak dengan ucapanku. Aku sadar apa yang kulakukan pasti membuatmu merasa bingung. Aku mengajakmu menikah, lalu pergi menjauh dari Zack, tapi aku selalu menampik rasa cinta yang ada di dalam hatiku. Maafkan kalau sikapku membuatmu merasa tersiksa hingga kau sampai berbohong seperti ini. Kau pasti ingin mengulur waktu untuk tetap bersamaku kan? Kau pasti sebenarnya ingin mencari tahu bagaimana perasaanku dan hubungan kita ke depan kan? Sekarang kau sudah mendapatkan jawabannya Laurie. Meskipun aku tahu ini terlambat. Tapi, asal kau tahu, aku tulus padamu. Sekali la... "


Belum sempat Alvaro melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Laurie menutup bibir Alvaro dengan jari telunjuknya. "Sudah cukup tidak usah minta maaf lagi, yang terpenting kita sudah tahu bagaimana perasaan kita masing-masing, lupakan saja semua yang sudah berlalu, Alvaro."


Alvaro pun menganggukkan kepalanya. "Laurie, kalau dipikir-pikir sebenarnya pernikahanmu dengan Zack tidak sah kan? Karena kau hanya menikah berdua tanpa persetujuan dari orang tuamu. Dan Zack juga mendapat surat nikah itu dengan mengancam pihak kantor urusan agama, tanpa proses yang wajar. Tapi bagaimanapun juga kita harus menunggu kau selesai menjalani proses cerai karena pernikahanmu tercatat dalam hukum negara. Setelah masa idahmu selesai, aku akan menikahimu."


"Itulah alasannya aku tidak mau disentuh oleh Zack, karena aku tidak yakin apakah pernikahan ini sah atau tidak. Bahkan saat itu tidak ada saksi."


Alvaro lalu menghembuskan nafas perlahan. "Sudahlah, kita tunggu saja surat ceraimu keluar. Kau mau kan menikah denganku?"


"Apa masih perlu kujawab?" Alvaro tersenyum lalu memmagut bibir tipis itu kembali.


***


Sementara itu, Zack yang baru saja akan berjalan ke arah brankar, tiba-tiba dikejutkan oleh vibrasi ponsel Nala. Namun, gadis itu tidak bergeming dan tetap tertidur dengan begitu pulas, sedangkan panggilan pada ponsel itu tak juga kunjung berhenti. Zack yang merasa penasaran lalu melihat ponsel yang Nala taruh di atas meja. Zack kemudian mengambil ponsel itu, dan melihat nama Mama di layar ponsel Nala. Karena merasa penasaran Zack pun mengangkat panggilan telepon itu.


[Halo Nala, bagaimana kabarmu, Sayang? Dua hari lagi Mama sama Papa mau ke Tiongkok, kalau sempat nanti kami mampir ke Macau, kau masih di Macau kan Nala sayang?]

__ADS_1


Mendengar perkataan di ujung sambungan telepon, Zack pun merasa begitu terkejut. "Nala? Dia Nala bukan Caca? Lalu orang tuanya pergi ke Tiongkok? Bukankah dia mengatakan kalau dia orang tidak mampu? Bagaimana bisa orang tuanya pergi ke Tiongkok? Apa ini artinya dia bukan orang sembarangan?" gumam Zack.


__ADS_2