Bed Friend

Bed Friend
Menerima Perjodohan


__ADS_3

"Devano?" tanya Dea sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, namanya Devano. Dia putra dari Tante Viona dan Om Roni, pemilik Rach Building."


"Oh."


"Kenapa Sachi? Apa kau tidak suka kalau tiba-tiba sudah memiliki tunangan?"


"Oh tidak, aku hanya terkejut. Maaf Ma, ini semua terasa begitu cepat bagiku. Aku yang selama ini hidup di panti asuhan, tiba-tiba memiliki keluarga yang utuh dan sangat terpandang. Lalu, ternyata aku juga sudah memiliki tunangan. Ini rasanya seperti mimpi."


Delia lalu menggengam tangan Dea. "Aku tahu, aku tahu itu Sachi. Itu bukanlah hal yang mudah bagimu."


Dea lalu menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum di bibirnya. "Mama, bolehkan aku menanyakan sesuatu?"


"Ya, tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan, Sachi?"


"Ma. Kenapa aku harus bertunangan dan menikah dengan Devano? "


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau keberatan? Apa kau sudah punya pacar dan takut mengecewakan pacarmu itu?"


"Oh bukan, Ma. Bukan seperti itu."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin tahu alasannya, Ma. Bukankah aku punya hak untuk mengetahui alasan saat aku bertunangan dengan seseorang? Apalagi suatu saat aku akan menikah dengannya."


"Iya Sachi, maaf kalau Mama berfikir yang tidak-tidak padamu."


"Tidak apa-apa, Ma."


"Lalu, apa alasannya?"


"Oh begini, Sachi. Sebenarnya ini adalah sebuah perjanjian lama yang terjalin antara keluarga kita dengan keluarga Devano karena sejak dulu, keluarga mereka bersahabat dekat dengan Opa dan Oma. Sebenarnya perjodohan itu seharusnya terjalin antara Papa Dimas dan anak mereka, tapi dulu Papa Dimas pernah memperkosa seorang wanita yang pernah menjadi istri pertamanya, jadi mereka memutuskan perjodohan itu. Pada suatu hari, keluarga dari Devano mengalami kebangkrutan yang cukup parah hingga mereka hampir kehilangan seluruh aset miliknya. Lalu, kakek dari Devano meminta tolong pada Oma Fitri agar membantu keuangan mereka. Tentu saja Oma Fitri mau membantu mereka, tapi dengan syarat jika perjodohan itu kembali dilanjutkan untuk mengenang almarhum Opa. Namun, bukan dengan anak mereka tapi dengan cucu mereka, dan cucu mereka satu-satunya adalah Devano. Sedangkan cucu dari keluarga kita adalah kau dan Shakila."


"Oh, jadi seperti itu."


"Iya."


"Sekali lagi maafkan kami, Sachi. Kau harus mendapat kenyataan seperti ini saat kau baru saja bertemu dengan keluarga kandungamu."


"Oh tidak apa-apa, Ma."

__ADS_1


"Tapi kau tenang saja, Mama yakin kau pasti juga menyukai Devano. Dia laki-laki yang baik, dan sangat tampan," ujar Delia. Dia kemudian mengambil ponselnya lalu menunjukkan foto seorang laki-laki tampan pada Dea.


"Ini Devano, bagaimana?"


'Dia memang tampan,' batin Dea.


"Bagaimana Sachi? Dia tampan kan?"


Dea lalu menarik sudut bibirnya. "Iya Ma, dia laki-laki yang sangat tampan."


"Apa kau tertarik padanya?"


Terpaksa, Dea pun tersenyum. "Bagus, nanti Mama atur pertemuan agar kau bisa bertemu dengan Devano."


"Iya Ma," jawab Dea singkat.


"Kalau begitu, istirahatlah kembali, Dea. Tadi di jalan, Kenzo mengatakan kalau kau sedang kurang enak badan, kan?"


"Iya, Ma."


"Emh, memangnya kau sakit apa?"


"Jantung, tapi sudah tidak terlalu parah. Mama jangan mencemaskanku."


"Sejak kapan kau punya penyakit jantung, Sachi?" tanya Delia dengan begitu cemas.


"Menurut Ibu Panti, sejak aku bayi aku sudah memiliki penyakit jantung bawaan, Ma."


"Astaga, benarkah?"


"Iya Ma. Tapi Mama tenang saja, penyakit ini tidak parah. Hanya kambuh saat aku mengalami stres parah, dan itu pun sangat jarang."


"Oh, syukurlah. Kalau begitu kau istirahat saja ya, Sayang."


"Iya, Ma."


Delia kemudian keluar dari kamar Dea. Sementara Dea kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil tersenyum kecut.


"Devano? Jadi tunanganku bernama Devano? Ah, ya Devano, dia memang laki-laki yang tampan. Tapi, untuk menjalin sebuah hubungan ataupun jatuh cinta dengan seseorang apa hanya mengandalkan dari fisiknya saja? Sepertinya tidak. Ya, kuakui jika Devano memang tampan. Tapi, bagiku dia tidaklah menarik, rasanya sangat berbeda saat aku melihat Kenzo dengan segala wibawa yang melekat pada dirinya. Ah Kenzo, mengingatmu memang terasa begitu menyejukkan bagiku," ujar Dea.


Sementara Delia yang keluar dari kamar Dea tampak berujar pelan. "Jadi, selama ini Sachi menderita penyakit jantung? Aku benar-benar tidak tahu jika putriku menderita penyakit jantung. Kasihan sekali. Selama ini hidupnya pasti tidak mudah."

__ADS_1


***


Pagi hari yang indah, saat matahari tampak masih malu-malu bersembunyi di balik awan, Dea tampak sedang memainkan poselnya sambil duduk di taman depan rumahnya.


"Selamat pagi, Sachi," ucap sebuah suara yang ada di sampingnya. Dea lalu mengangkat kepalanya, dan menengok ke arah samping.


"Oh Kak Shakila," ucap Dea.


"Apa aku menggangumu?" tanya Shakila sambil menghidangkan secangkir coffe late di atas meja.


"Oh tidak, Kak. Aku sedang bersantai, hanya sedang menghubungi Kenzo jika aku akan resign dari kantornya."


"Oh. Silahkan diminum, Sachi. Aku membuatkan minuman ini khusus untuk kita berdua."


"Terima kasih banyak, Kak."


"Sama-sama. Sachi, jadi kau akan keluar dari kantor Kenzo?"


"Ya. Mama menyuruhku untuk keluar secepatnya dari kantor Kenzo, karena aku harus fokus dengan pernikahanku."


"Oh, apa Mama sudah memberitahumu tentang Devano?"


"Ya, Mama sudah memberitahuku tentang Devano."


"Bagaimana menurutmu? Bukankah dia laki-laki yang sangat tampan?"


"Memang, tapi dalam menjalin hubungan dan menumbuhkan rasa cinta, apa hanya didasari sebatas melihat penampilan fisik? Tidak kan, Ka?"


Shakila lalu menganggukkan kepalanya. "Kau benar, cinta memang tidak hanya sebatas fisik."


"Jadi kau menyadari itu, Kak? Bukankah kau sangat beruntung bisa menikah dengan orang yang kau cintai? Tidak sepertiku yang harus menerima perjodohan seperti ini?"


"Sachi. Aku yakin, Devano laki-laki yang baik, kau pasti bisa hidup bahagia dengannya."


"Kau bisa mengatakan seperti itu karena kau tidak mengalami perjodohan ini, Kak. Kau selalu hidup bahagia, tidak sepertiku! Meskipun kita bersaudara, tapi kehidupan kita sangat berbeda, Kak. Terkadang aku merasa hidup ini benar-benar tidak adil!"


"Sachi, tolong jangan berkata seperti itu."


"Jangan berkata seperti itu? Mudah sekali kau mengatakannya, Kak. Selama ini kau tidak mengalami hidup menderita sepertiku hingga kau bisa berkata seperti itu kan? Hidup ini memang benar-benar tidak adil, Kak Shakila. Sejak kecil, kau hidup bahagia dengan keluarga Tante Aini, sedangkan aku? Aku hidup di panti asuhan dengan segala kekurangannya. Selama ini kau tidak pernah hidup kesusahan, tidak pernah mencari uang tambahan untuk biaya hidup, dan juga selalu mendapatkan apa yang kau inginkan. Sangat berbeda denganku kan? Namun, tidak cukup hanya sampai di situ. Saat aku merasakan kebahagiaan bisa bertemu dengan keluargaku, di saat itu juga aku harus menerima kenyataan jika aku juga dijodohkan dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai, bahkan tidak kukenal."


Hembusan nafas Dea kini terlihat begitu tak beraturan menahan emosi di dalam hatinya. "Sachi," ucap Shakila lirih.

__ADS_1


"Apa lagi, Kak? Kau mau menertawakanku karena ketidakadilan yang selalu kualami?" bentak Dea sambil berlalu meninggalkan Shakila yang masih termenung.


__ADS_2