
Mendengar perkataan Shakila semua orang yang ada di mobil pun menatapnya. "Apa maksudmu Shakila? Mengapa kau berkata seperti itu seperti itu?" tanya Delia.
"Aku berkata yang sebenarnya, Ma."
"Tidak ma Kak Shakila bohong, bukankah Mama tahu aku adalah anak yang ditemukan di kereta api itu seperti yang diceritakan oleh Ibu Panti? Aku anak kandung Mama."
"Dea, bukankah tadi sudah kukatakan, semua kemungkinan masih bisa terjadi. Karena Ibu Panti hanya menerimamu di panti asuhan tersebut, bukan yang menemukanmu di dalam gerbong kereta api yang dulu kita naiki."
"Kau jangan mengada-ada, Kak."
"Aku tidak mengada-ada. Aku mengatakan yang sebenarnya, kalau Dea bukan lah adikku. Dengarkan aku, Ma. Adikku adalah Luna."
"Siapa itu Luna? Kau jangan mengada-ada dengan karangan palsumu itu. Di panti asuhanku tidak ada yang bernama Luna! Jangan asal sebut nama hanya untuk memojokkanku saja, Kak."
"Aku tidak asal menyebut nama karena aku sudah menyelidiki semua ini! Adikku adalah Luna! Bayi yang ditemukan oleh Bu Rahma di dalam gerbong kereta api adalah Luna, tapi Bu Rahma membawa pulang Luna ke rumah karena bayi yang dilahirkan oleh Bu Rahma mengidap penyakit jantung bawaan sehingga membuatnya takut tidak bisa memberikan pengobatan untuk anak kandungnya itu. Dia juga takut suaminya marah padanya karena melahirkan bayi yang tak sempurna. Dan bayi yang dilahirkan oleh Bu Rahma adalah kau, Dea! Kau adalah anak kandung dari Bu Rahma! Kau bukan adikku!"
"TIDAK MA! KAK SHAKILA BOHONG! DIA BERKATA SEPERTI ITU KARENA DIA TIDAK MENYUKAIKU! DIA SUDAH MENGADA-ADA DAN MENGARANG CERITA SEPERTI INI!"
Delia pun tampak menggelengkan kepalanya sambil menutup telinganya. Namun, tak dapat dipungkiri semua perkataan Shakila telah begitu merasuk ke dalam sanubarinya. Melihat Delia yang kini tampak bimbang, Dea pun mendekat pada Delia.
"Mama tolong percaya padaku, Ma. Bukankah Mama tahu kan kalau ibu panti yang mengatakan kalau aku adalah anak Mama? Aku adalah satu-satunya bayi yang ditemukan di dalam gerbong kereta api itu, Ma. Dan semua perkataan Kak Shakila itu bohong dan hanya mengada-ada. Dia hanya mengarang cerita untuk menyingkirkanku dari kehidupan kalian karena dia tidak menyukaiku. Kak Shakila tidak pernah menyukaiku dan menyayangiku sebagai adiknya," ucap Dea sambil terisak.
Melihat Dea yang kini begitu tertekan, Delia kemudian menggengam tangannya. "Iya sayang, Mama tahu itu. Kau tenangkan dirimu," ucap Delia.
__ADS_1
"Mama tolong percaya padaku kalau kenyataan yang sebenarnya adikku adalah Luna bukan Dea. Aku tidak pernah mengada-ada dan asal bicara saja karena aku sudah melakukan penyelidikan tentang masa lalu Luna dan Dea."
"Kak Shakila, kenapa kau terus menerus bicara seperti itu Kak? Padahal Mama saja sudah percaya padaku. Kau harus membuktikan perkataanmu itu agar tidak asal menuduhku seperti ini!"
"Tenang saja aku pasti akan membuktikan semua perkataanku dan bersiaplah keluar dari rumahku karena kau bukanlah adikku!"
"Sudah, sudah cukup! Tolong akhiri pertengkaran ini! Mama lelah dan Mama ingin cepat pulang ke rumah. Mama sudah tidak ingin lagi mendengar perdebatan kalian. Kita bicarakan lagi kalau Papa dan Oma sudah pulang."
Melihat Delia yang kini terlihat begitu terpukul, Shakila kemudian menggengam tangan Delia. "Maafkan aku, Ma. Ayo kita pulang, Mama istirahat di rumah ya."
"Iya Shakila."
Shakila kemudian mengendarai mobilnya kembali ke rumah mereka sedangkan sepanjang perjalanan, Dea tampak begitu bimbang memikirkan semua perkataan Shakila.
'Lalu siapakah Luna yang dimaksud oleh Kak Shakila? Apakah dia adalah Luna yang pernah ketemui di food court beberapa bulan yang lalu? Bukankah saat itu dia datang ke food court bersama pacarnya? Ya meskipun saat itu aku tidak melihat pacar Luna tapi bukankah dia sudah punya pacar? Kalau Luna benar adik kandung dari Shakila, dia pasti menolak perjodohan itu karena dia sudah punya pacar. Jadi, aku masih punya kesempatan untuk menikah dengan laki-laki kaya jika perjodohan ini tetap dilanjutkan kan? Bagaimanapun juga aku harus berusaha agar aku tetap bisa menikah dengan Devano, aku harus bisa menikah dengan orang kaya itu karena aku tidak mau hidup miskin,' batin Dea dalam perjalanan pulang.
Sementara Shakila, saat melihat raut wajah cemas Dea melalui kaca mobil tampak tersenyum sinis. 'Suatu hari ini nanti setelah tes DNA itu keluar, aku pasti akan membuktikan kalau kau bukanlah adik kandungku, Dea. Kau hanyalah benalu yang tidak tahu diri yang tidak sengaja dipungut oleh Papa dan Mama. Kalau saja sifatmu tidak menyebalkan seperti ini, pasti aku mau menerimamu, meskipun kau bukan adik kandungku, tapi sikap aroganmu membuatku tidak nyaman berada di dekatmu,' batin Shakila.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah. Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah itu.
Delia tampak memebelai wajah Dea, dan menatapnya dengan tatapan teduh. "Dea Lebih baik kau langsung masuk ke dalam kamarmu. Lebih baik kau istirahat saja Nak, istirahatlah dan jangan terlalu banyak berfikir. Lupakan semua kejadian buruk yang terjadi hari ini. Kau harus menjaga kesehatanmu."
"Iya Ma jawab Dea. "
__ADS_1
Setelah Dea masuk ke dalam kamarnya, Delia lalu menarik tangan Shakila ke dalam kamar miliknya. "Shakila Apa maksud dari perkataan mu itu, Nak? Mengapa kau bicara seperti itu?"
"Aku bicara yang sebenarnya Ma! Itulah kenyataannya, adik kandungku adalah Luna bukan Dea. Semua yang kuceritakan di dalam mobil benar Ma, memang Bu Rahma menemukan Luna di dalam gerbong kereta, tapi dia membawa Luna pulang ke rumah, sedangkan anak kandungnya dia titipkan di dalam panti asuhan itu karena dia menderita penyakit jantung bawaan. Dan anak kandung Bu Rahma adalah Dea yang Mama pikir adalah anak kandung Mama."
"Kau tidak mengada-ngada kan Shakila?
"Untuk apa aku mengada-ngada? Aku sudah melakukan penyelidikan ini dengan Kak Deren, dan itulah kenyataannya, Bu Rahma sendiri yang menceritakan semua itu padaku. Itulah sebabnya golongan darah Dea tidak sama dengan golongan darah Papa dan Mama. Selain itu, tanpa Papa dan Mama tahu, aku pun sudah melakukan tes DNA."
"Tes DNA? Kenapa aku sampai tidak memikirkan semua itu? Perasaan bahagiaku saat bertemu Dea telah menghilangkan akal sehatku," ujar Delia lirih.
Delia pun termenung, hatinya terasa begitu campur aduk, memikirkan semua yang telah terjadi, termasuk kebodohannya yang terlalu cepat mengambil kesimpulan jika Dea adalah anak kandungnya.
"Luna... "
"Iya Ma, Luna adalah Sachi."
"Shakila, aku pernah bertemu dengan seorang wanita muda bernama Luna. Apakah Luna yang pernah kutemui itu adalah Sachi?"
"Sebentar Ma, aku punya foto Luna," ujar Shakila sambil mengambil ponselnya, dan memperlihatkan foto yang pernah dia ambil saat berada di rumah Rahma. Melihat foto Luna yang ada di ponsel Shakila, Dea pun begitu terperanjat.
"Astaga Shakila, dia adalah Luna. Dia adalah Luna yang pernah Mama temui, Mama pernah bertemu dengannya, Shakila," ucap Delia dengan begitu terisak.
"Benarkah Ma?"
__ADS_1
"Iya Shakila! Shakila, ayo temani Mama. Kita harus bertemu dengan Luna secepatnya!"