
Tiga orang tamu yang mengaku sebagai debt colektor kemudian mengambil mobil milik Nala begitu saja, meskipun saat ini Zack tampak sedang marah-marah sambil mengeluarkan berbagai umpatan dari mulutnya.
"Brrengsek! Berani-beraninya dia sudah membohongiku! Apa dia tidak tahu siapa yang sedang dia hadapi, hah? Dasar gadis bodoh! Memangnya dia siapa? Dia cuma orang miskin yang belum mengenal dunia kan? Karena kau sudah berani bermain-main denganku, aku akan mencari tahu siapa kau sebenarnya gadis bodoh!"
Zack kemudian masuk ke dalam rumahnya. Sebenarnya dia masih ingin mengunjungi Laurie, tapi dia masih sangat kesal, dan malas untuk berdebat kembali dengan Olivia jika pergi ke rumah sakit. Sementara itu, ketiga orang yang berhasil membawa mobil milik Nala, tampak menelpon seseorang.
[Halo, Bos.]
[Iya, bagaimana?]
[Kami sudah berhasil membawa mobil milik Bos.]
[Bagus, terima kasih banyak. Kalau begitu antar mobil itu ke rumah sakit sekarang.]
[Iya Bos.]
Ketiga orang suruhan Nala kemudian mengantar mobil Nala ke rumah sakit.
"Siapa yang meneleponmu, Nala? Ada apa dengan mobilmu?" tanya Olivia.
"Oh itu tadi anak buah Papa. Tadi ada sedikit kendala pada mobilku, jadi aku memerintahkan anak buah Papa untuk membawa mobilku ke bengkel. Lalu, katanya mobil itu sudah selesai diperbaiki, jadi aku memerintahkan mereka mengantar mobilku ke rumah sakit."
"Oh," jawab Olivia.
"Tante Olivia, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
"Mau tanya tentang apa Nala?"
"Ini tentang Dokter Alvaro."
"Kenapa dengan Dokter Alvaro?"
"Tante, siapa sebenarnya Dokter Alvaro? Kenapa sepertinya Tante sangat akrab dengannya?"
"Oh Dokter Alvaro? Dia adalah putra dari Vallen. Kedua orang tuamu juga mengenal Vallen."
"Tante Vallen? Siapa itu? Aku belum pernah mengenalnya."
"Ya, memang sudah lama aku dan Kak Calista tidak bertemu dengan Vallen, karena kesibukan masing-masing."
"Oh jadi dia teman dari tante dan mama yang sudah lama tidak bertemu?"
"Iya seperti itu."
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang Dokter Alvaro? Apa kau tertarik padanya?"
Nala pun tampak tersipu malu. "Bagaimana menurut Tante? Apakah aku cocok dengan Alvaro?"
Olivia kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Terima kasih tante, tante memang yang terbaik. Sementara itu, Laurie kini terlihat begitu kesal mendengar perkataan Nala. Entah kenapa rasanya dia tidak rela kalau Nala menyukai Alvaro, padahal tidak ada yang salah kalau Nala menyukai Alvaro karena saat ini mereka sama-sama tidak memiliki pasangan.
'Ah, rasanya aneh sekali. Kenapaa tiba-tiba aku merasa kesal seperti ini? Bukankah itu hal yang wajar kalau Nala tertarik pada seseorang? Kenapa aku harus merasa kesal seperti ini?' batin Laurie.
"Tante Olivia bolehkah aku keluar sebentar?"
"Keluar? Kau mau keluar kemana Nala?"
"Mau mencari Dokter Alvaro," jawab Nala. Mendengar perkataan Nala, Laurie pun semakin kesal. Dia dengan sengaja tanpa sepengetahuan Olivia dan Nala kemudian menjatuhkan sebuah majalah yang baru saja dibaca Olivia, yang ada di tempat duduk di samping brankar Laurie.
Melihat majalah yang tiba-tiba terjatuh, Olivia dan Nala kemudian mengalihkan pandangannya ke arah majalah tersebut.
__ADS_1
"Tante Olivia, kenapa tiba-tiba majalah itu jatuh?"
"Entahlah Nala, mungkin angin," jawab Olivia sambil mengerutkan keningnya.
"Angin? Mana ada angin di ruangan ber-AC seperti ini, Tante?"
"Aku juga tidak tahu," jawab Olivia ragu.
"Astaga jangan-jangan di ruangan ini ada hantunya!" pekik Nala.
"Hantu? Kau jangan mengada-ada Nala? Sejak kemarin tante ada di ruangan ini, tante tidak pernah meraskan hal yang janggal."
"Aku juga tidak mengerti, Tante. Coba Tante pikir, siapa yang tiba-tiba menjatuhkan menjalah itu jatuh begitu saja? Tidak mungkin kalau tidak ada yang menyentuhnya Tante, dan aku yakin pelakunya adalah hantu."
"Hantu?"
"Iya Tante mungkin saja hantu yang melakukannya, kalau begitu lebih baik aku pulang saja, aku takut kalau hantu itu juga menyukaiku karena dia baru menggangu kita waktu aku datang ke sini, saat tante sendiri, hantu itu tidak mengganggu tante kan? Tante aku di sini sampai anak buah papa mengantarkan mobilku ya? Tante tidak apa-apa kan sendiri?"
"Tidak apa-apa."
"Sebentar lagi, tante juga mau pulang karena nanti malam Dokter Alvaro akan melakukan observasi pada Laurie."
"Apa observasi?"
"Iya observasi untuk mengetahui bagian saraf mana yang dari Laurie yang masih berfungsi."
"Jadi Laurie akan berduaan dengan Dokter Alvaro?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kalau begitu aku mau sakit seperti Laurie, aku pun mau berduaan dengan Dokter Alvaro."
"Kau ada-ada saja Nala."
"Tante, aku pulang dulu. Anak buah papa sudah mengantarkan mobilku."
"Iya Nala, hati-hati di jalan," jawab Olivia.
'Akhirnya kau pergi juga Nala,' kekeh Laurie di dalam hati.
Nala kemudian keluar dari ruang perawatan Laurie, lalu pergi ke ruang perawatan Alvaro setelah bertanya pada beberapa perawat yang ada di rumah sakit tersebut. Langkah Nala akhirnya terhenti di depan sebuah ruangan berpintu warna putih.
Tok tok tok..
"Masuk!" jawab suara dari dalam ruangan. Nala kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
"Oh kau, Nala."
Nala pun tersenyum. "Apa aku mengganggumu, Alvaro?"
"Tidak, ada apa Nala?"
"Apa kau sedang sibuk?"
"Tidak juga, memangnya kenapa?"
"Apa kau mau berkencan denganku?"
"Kencan?"
__ADS_1
"Ya kencan. Apa kau sudah pernah berkencan?"
"Belum Nala, karena aku belum pernah pacaran."
"Oh bagus, bagaimana kalo aku jadi pacarmu?" ucap Nala sambil memainkan jarinya. Mendengar ucapan Nala, Alvaro kemudian menggelengkan kepalanya. "Hahahahaha, tenang saja aku hanya becanda," sambung Nala sambil meringis. Alvaro pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa kita bisa berkencan sekarang?"
Alvaro kemudian mengerutkan keningnya. "Mungkin lain kali. Hari ini aku harus mempersiapkan observasi untuk Laurie."
"Oh baiklah, kalau begitu aku pulang dulu."
"Iya Nala."
"Hanya itu?"
"Lalu?"
"Berikan aku pelukan," jawab Nala yang membuat Alvaro tertegun. Namun, belum hilang rasa terkejutnya tiba-tiba Nala sudah memeluk dirinya. Meskipun ragu karena baru pernah berpelukan dengan seorang wanita, Alvaro pun akhirnya membalas pelukan itu."
"Terima kasih, aku pulang dulu Alvaro."
"Iya Nala."
Nala kemudian keluar dari ruangan Alvaro, sementara itu setelah Nala tak lagi terlihat Alvaro tampak tersenyum. "Gadis yang cantik dan lucu, tapi entah mengapa berdekatan dengannya rasanya berbeda, tidak sama seperti saat aku bersama Laurie," gumam Alvaro.
****
Sebuah mobil tampak berhenti di depan sebuah panti asuhan, lalu seorang sopir keluar dari mobil itu dan membuka pintu belakang mobil. Setelah pintu belakang terbuka tampak seorang laki-laki memakai pakaian formal masuk ke dalam komplek panti disambut oleh seseorang yang berdiri di depan gerbang panti itu.
"Apa kau sudah urus jasad pengkhianat itu?"
"Sudah Tuan, seperti yang tuan perintahkan, saya sudah menyayat beberapa bagian tubuhnya, kemudian saya bakar dan dibuang ke beberapa tempat yang berbeda."
"Bagus, jadi ternyata salah satu anak buah di panti ini ada yang menjadi mata-mata pengkhianat itu?"
"Iya Tuan."
"Pakai orang itu untuk memancing Gerald keluar dari sarangnya, nanti malam kita selesaikan ini. Jangan lupa siapkan senjataku dan anak buah kita untuk menghadapi mereka."
"Baik Tuan."
"Apa barang kita sudah sampai semua?"
"Belum Tuan, ada beberapa yang masih tersendat di pelabuhan."
"APA? JADI KAU BELUM MENYELESAIKAN MASALAH ITU? SELESAIKAN SIANG INI JUGA! KALAU NANTI MALAM KAU BELUM BISA MENYELESAIKANNYA, JANGAN HARAP KAU DAN KELUARGAMU BESOK MASIH HIDUP DI DUNIA INI! BAHKAN SEBELUM KEMATIANMU KAU AKAN MELIHAT SELURUH ANGGOTA KELUARGAMU MATI SECARA PERLAHAN DAN PENUH SIKSAAN DARIKU!"
"Ba-baik, Tuan Zack."
"Aku mau melihat barang-barang kita dulu," ucap Zack sambil berjalan ke bagian belakang panti, ke dalam sebuah bangunan yang menjadi gudang baginya menyimpan barang-barang haram miliknya. Sebuah bangunan di belakang Panti Asuhan.
Tampak dari depan bangunan itu hanyalah sebuah bangunan panti asuhan biasa, yang memiliki banyak anak-anak asuh, namun itu semua hanyalah kedok dari seorang Zack menyimpan barang haram miliknya.
****
Malamnya...
CEKLEK
__ADS_1
Pintu ruang perawatan Laurie terbuka, sosok laki-laki masuk ke dalam ruang perawatan itu. Entah kenapa saat laki-laki itu masuk ke dalam ruang perawatan tersebut, jantung Laurie berdegup begitu kencang. Laurie pun membuka matanya, saat di depannya sosok laki-laki tampan sudah tersenyum padanya. Senyum yang membuat Laurie merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Selamat malam, Laurie. Kita pergi sekarang?"