Bed Friend

Bed Friend
Patah Hati


__ADS_3

"Hari ini kamu pulang cepat, Devano."


"Kangen," bisik Devano yang membuat Luna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Ini untukmu, Sayang," kata Devano sambil memberikan sebuket bunga dan sebuah paper bag.


"Apa ini?"


"Kaca mata, dan masker. Nanti dipake ya, abang mau liat Neng pake kaca mata sama masker warna merah."


Mendengar jawaban Devano, wajah Luna pun bersemu merah. Sedangkan Alvaro hanya bisa menyaksikan pemandangan yang ada di depannya dengan hati yang begitu hancur. Dadanya terasa begitu sesak, bahkan seluruh tubuhnya seakan bergetar menahan lara.


"Selamat sore, Devano," sapa Cleo.


"Selamat sore, Cleo."


"Kau romantis sekali, Devano. Bahkan Kenzo pun jarang sekali membelikan oleh-oleh untukku, apalagi sampai membelikan kaca mata dan masker. Kau perhatian sekali sampai membelikan masker untuk Luna, padahal Luna jarang keluar rumah kan? Tapi kau berinisiatif membelikan masker untuk Luna."


"Oh tentu saja, Cleo. Bahkan masker yang kubelikan ini sangat cocok dipakai Dora."


"Dora? Siapa Dora, Devano?"


"Panggilan kesayangan."


"Wow, luar biasa. Sepertinya Kenzo perlu banyak belajar darimu."


"Tentu Cleo, Kenzo harus banyak belajar dariku. Sebentar lagi kami juga mau karokean bersama."

__ADS_1


"Astaga, oh em ji. Romantis sekali, memangnya kalian suka karokean lagu apa?"


"BTS, karena luna adalah Army."


"Devano, jangan mengada-ada. Oh iya sayang, kenalkan dia temanku namanya Alvaro. Kami berteman sejak di bangku sekolah dasar sampai bangku SMA. Dan, dia ternyata adalah putra dari dokter Vallen. Selama ini aku tak tahu kalau Alvaro adalah putra dari dokter Vallen. Aku hanya tahu Cleo, kakaknya Alvaro tapi aku tak tahu kalau mereka ternyata anak-anak dari Dokter Vallen."


"Wow ini kebetulan sekali," ujar Devano. Dia kemudian mengulurkan tangannya pada Alvaro. Beberapa detik setelah mengulurkan tangannya, uluran tangan itu baru dibalas oleh Alvaro. Butuh waktu, untuk meredam sakit hati dan emosi yang ada di dalam hatinya, sampai Alvaro membalas uluran tangan dari Devano.


"Devano," ucap Devano memperkenalkan dirinya. Sedangkan Alvaro terdiam sejenak, lalu baru baru menyebutkan namanya beberapa saat kemudian, sambil menatap Devano dengan tatapan kosong.


"Alvaro," jawabnya dengan bibir yang bergetar. Namun, tak ada yang menyadarinya karena mereka sibuk dengan perbincangan mereka yang membuat Alvaro semakin merasakan sesak di dada. Ingin rasanya, Alvaro pergi dari tempat itu. Namun dia ingin menunjukkan pada Luna, kalau dia baik-baik saja, dan sudah melupakan wanita yang ada di depannya itu.


"Senang bisa mengenal anda, Alvaro. Tampaknya kita harus sering ngobrol. Tolong kau ceritakan masa lalu istriku, pasti dia dulu unyu-unyu sekali, kan?" kekeh Devano. Alvaro hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat sulit untuk diartikan. Sebuah senyuman yang sebenarnya ingin dia tujukkan pada Luna kalau dia tidak ada lagi di dalam hatinya, tapi rasa lara itu tetap tak dapat ditutupi. Meskipun dengan sebuah senyuman, karena mata tidak pernah bisa berbohong.


"Cleo, Alvaro, kami masuk dulu. Mau karokean," ujar Devano sambil meringis.


'Jadi dia laki-laki yang bisa merebut hatimu? Jadi dia laki-laki yang bisa membuatmu jatuh ke dalam pelukannya? Aku dan Devano memang sangatlah berbeda. Apa yang ada di dalam diriku, ternyata tidak pernah bisa membuatmu jatuh cinta padaku, meskipun aku sudah berulang kali mengutarakan rasa ini padamu, tapi kau tetap juga tidak bisa menerimaku. Aku mencoba ikhlas meskipun sulit, karena cinta adalah sebuah keikhlasan, tanpa tapi, dan tanpa sebab,' batin Alvaro, sambil menahan perasaannya yang begitu hancur. Apalagi, saat ini Devano tampak mengangkat tubuh Luna ke dalam gendongannya.


"Alvaro, kenapa kau diam? Ayo kita masuk dalam!" tegur Cleo. Alvaro menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti langkah Cleo yang sudah terlebih dulu berjalan di depannya menuju ke dalam rumah mereka.


Alvaro masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia mencoba memejamkan matanya, dan berharap saat mata itu terbuka, dia sudah melupakan semuanya. Melupakan semua tentang Luna, tentang rasa cintanya, sakit hatinya, dan rasa kecewanya atas penantiannya yang seakan-akan terasa begitu sia-sia.


"Sepuluh tahun Luna, sepuluh tahun lamanya, aku terpenjara dalam cintamu. Sepuluh tahun lamanya, aku menantimu, sepuluh tahun lamanya aku berharap padamu. Tapi ternyata, aku tetap bukanlah yang menjadi pilihan hatimu. Sepuluh tahun memang bukan waktu yang singkat, aku pun tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku. Karena rasa, tak dapat disalahkan. Memang aku saja yang bodoh, aku yang sudah bodoh terlalu berharap padamu, padahal kau sudah berulang kali menolakku. Seharusnya aku menyadari hal itu, dan mencoba melupakanmu. Bukannya malah membiarkan rasa ini terus tumbuh di dalam hatiku."


Akhirnya, mata Alvaro pun terpejam. Mungkin karena sudah begitu lelah menahan rasa sakit didalam hatinya, atau lelah karena perjalanan pulang yang dia lalui.


Entah berapa lama Alvaro tertidur, saat dia membuka matanya, hari sudah gelap. Dia kemudian melihat arlojinya, yang ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

__ADS_1


"Sudah pukul sepuluh malam?" ujar Alvaro. Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar lalu bangkit dari atas tempat tidurnya, dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah itu, Alvaro berjalan ke arah balkon kamar untuk membuang rasa penat dan mencari angin segar. Namun, lagi-lagi hati itu harus kembali hancur saat tanpa sengaja, dia menatap ke arah samping rumahnya dan melihat Luna yang saat itu sedang berpelukan dengan Devano.


Alvaro pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, hatinya rasanya sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit. Dia kemudian berjalan keluar dari rumahnya dan mengendarai mobilnya dengan begitu kencang.


"LUNAAAAAAAAAA!" teriak Alvaro di dalam mobil.


*****


Firman tampak beberapa kali melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Semua orang di rumah itu sudah tidur, tetapi tidak dengan dirinya yang merasa cemas karena anak laki-lakinya yang baru saja pulang dari negeri orang, saat ini belum bertemu dengannya ataupun dengan Vallen.


Firman semakin curiga saat melihat Alvaro yang keluar dari rumahnya dengan mengendarai mobil dengan kecepatan yang begitu tinggi.


Saat masih dirundung rasa cemas di dalam hatinya, tiba-tiba sebuah suara dari dari arah pintu pun mengagetkan dirinya.


CEKLEK


Beberapa saat kemudian pintu itu tampak terbuka.


GUBRAK


Setelah pintu itu terbuka, tampak sosok laki-laki jatuh di ambang pintu tersebut. Firman kemudian bergegas mendekat ke arahnya.


"Alvaro!" panggil Firman.


"Alvaro kau mabuk?" bentak Firman. Dia kemudian mengangkat wajah Alvaro. Wajah tampan itu, kini terlihat memerah. Namun tidak hanya wajah itu yang memerah, tapi juga matanya.

__ADS_1


"Papa... Apa Papa pernah merasakan patah hati?"


__ADS_2