Bed Friend

Bed Friend
Insiden


__ADS_3

"Sebentar Kenzo, bagaimana kalau aku hamil?"


"Aku ambil pengaman dulu, Cleo."


"Kau sudah mempersiapkan pengaman? Jadi kau sudah merencanakan semua ini padaku?"


"Untuk berjaga-jaga Cleo karena kita tinggal satu atap."


"Kapan kau membelinya?"


"Sudah lama."


"Ahhh Kenzo jadi kau sudah lama menyukaiku? Kau memang benar-benar munafik, Kenzo," gerutu Cleo.


"Sudah jangan dibahas," ucap Kenzo sambil memasukkan a*etnya kembali hingga de*ahan dan e*angan pun kembali terdengar memenuhi sudut kamar. Kenzo pun menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Cleo saat mereka sudah mencapai pu*cak kenikmatan.


"I love you," bisik Kenzo di telinga Cleo saat menindih tubuhnya. Cleo pun hanya tersipu malu.


"Kenzo," ucap Cleo sambil memegang wajah Kenzo yang masih ada di depannya kemudian mulai menciumi bibirnya kembali.


"Apa? Lagi?"


"Tidak ini sudah cukup."


"Tapi aku menginginkannya lagi,"


"KENZOOOO!"


🍒🍒🍒


Sepulang dari kantornya, Amanda memberhentikan mobilnya di depan sebuah toko kue untuk membelikan kue kesukaan Clarissa, namun baru saja dia keluar dari mobil itu tiba-tiba dia dikejutkan oleh sepeda motor yang berjalan dengan kecepatan begitu tinggi. Rasanya ingin dia berlari, namun rasa panik yang merasuki hatinya membuatnya kini hanya berdiri terpaku sambil berteriak dan memejamkan matanya. Saat sudah merasa pasrah, tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh seseorang hingga terhempas ke atas tanah.


BUGHHH

__ADS_1


"Awwwww!!" teriak Amanda. Dia pun kemudian membuka matanya dan melihat seorang wanita yang kini terkapar di sampingnya dengan luka di bagian tangan dan kakinya. Supir pribadinya pun kemudian menolong Amanda dan wanita yang menolongnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Amanda dengan begitu panik pada wanita muda itu.


"Tidak apa-apa, saya baik-baik saja Nyonya Amanda," ucap wanita itu kemudian duduk di atas tanah sambil membersihkan tubuhnya.


"Terimakasih banyak, apa benar kau baik-baik saja? Tapi tubuhmu banyak yang mengalami luka, lalu pelipismu juga mulai mengeluarkan darah. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang."


"Saya tidak apa-apa Nyonya Amanda, nanti juga sembuh."


"Tapi kau terluka, Nak. Kau tidak usah banyak protes, ayo kita ke rumah sakit sekarang. Aku tidak ingin luka-luka itu membuatmu infeksi."


Amanda lalu memerintahkan sopir pribadinya untuk membantu wanita itu bangun lalu menuntunnya masuk ke dalam mobil miliknya.


"Sekali lagi terimakasih banyak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau tidak menyelamatkan aku," ucap Amanda saat berada di dalam mobil.


"Tidak apa-apa Nyonya Amanda. Kebetulan saya memang mau pergi ke toko kue lalu melihat Nyonya Amanda yang hampir saja tertabrak motor jadi saya reflek berlari untuk menyelamatkan Nyonya."


"Oh itu karena saya bekerja di perusahaan milik anda, Nyonya Amanda. Saya salah satu staf marketing di perusahaan milik anda."


"Ohhh maafkan aku, aku bahkan tidak tahu kau bekerja untukku, maaf aku tidak terlalu mengenal semua karyawanku."


"Tidak apa-apa, Nyonya Amanda. Anda memiliki ribuan karyawan, tidak mungkin anda mengenal mereka satu per satu."


'Sombong sekali kau Amanda, padahal kemarin kita sempat bertabrakan, kau bahkan memarahiku di depan begitu banyak karyawan lalu sekarang kau bilang tidak mengenalku? Dasar wanita angkuh.'


"Oh iya, siapa namamu?"


"Aleta, nama saya Aleta Nyonya Amanda."


"Jadi kau bekerja sebagai salah satu staf marketing di perusahaanku?"


"Iya Nyonya."

__ADS_1


"Emh begini Aleta, setelah kita mengobati luka-lukamu, sebaiknya kau tidak usah berangkat dulu untuk beberapa hari. Setalah itu kau tidak usah menjadi staf marketing lagi, bagaimana kalau kau jadi asisten pribadiku saja, kau yang akan mengurus semua kepentingan pekerjaanku, bukankah itu jauh lebih mudah dibandingkan menjadi bekerja sebagai staf marketing yang penuh dengan tekanan?"


"Be...Be.. Benarkah Nyonya Amanda?"


"Ya, bekerjalah sebagai asisten pribadiku, aku percaya kau wanita yang baik Aleta, aku tidak akan salah memilihmu menjadi asisten pribadiku."


"Terimakasih banyak Nyonya Amanda, terimaksih banyak."


"Iya sama-sama, akulah yang seharusnya mengucapkan terimakasih padamu karena aku sudah berhutang budi padamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau tidak menyelamatkanku. Bisa saja aku kehilangan nyawaku."


"Jangan berkata seperti itu Nyonya Amanda."


"Ya itulah kenyataannya, jadi sekali lagi terimakasih karena sudah menolongku."


"Iya Nyonya, sama-sama," ucap Aleta kemudian tersenyum menyeringai sambil melirik Amanda.


Sesampainya di rumah sakit, Aleta lalu mendapatkan perawatan luka-lukanya dengan ditemani oleh Amanda. Setelah selesai mendapatkan perawatan luka, Amanda lalu mengantarkan Aleta pulang ke rumahnya.


"Sekali lagi terimakasih Aleta, semoga cepat sembuh," ucap Amanda setelah mengantarkan Aleta ke rumahnya.


"Iya Nyonya Amanda, terimakasih sudah membawa saya ke rumah sakit, dan juga terimakasih untuk pekerjaan baru yang anda berikan pada saya."


"Iya sama-sama, aku pulang dulu Aleta."


"Iya Nyonya Amanda, hati-hati di jalan."


Amanda kemudian menutup kaca mobilnya meninggalkan Aleta yang kini menatap kepergian mobil itu sambil tersenyum kecut.


"Kau benar-benar bodoh, Amanda. Kau mudah sekali tertipu daya oleh kebaikanku, lebih tepatnya kebaikan pura-puraku, hahahaha."


Aleta kemudian mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang. "Kerja bagus, aku sudah mentransfer imbalan untuk kalian hari ini, kalian akan kuhubungi lagi jika aku membutuhkan bantuan kalian," kata Aleta pada orang yang dia telepon, dia kemudian menutup teleponnya sambil tersenyum menyeringai.


"Lihat saja Kenzo, aku pasti bisa merebutmu dari wanita manja itu lewat tangan mamamu sendiri. Hahahaha."

__ADS_1


__ADS_2