Bed Friend

Bed Friend
Takut Pada Suamiku


__ADS_3

Melihat Bu Rahma yang tampak terkejut mendengar perkataannya, Shakila dan Darren lalu berpandangan sambil tersenyum kecut. Shakila kemudian menatap ke sekeliling rumah itu dan melihat ada foto seorang wanita cantik yang seumuran dengan Dea.


DEG


Jantung Shakila pun seakan berhenti berdetak. Sebuah getaran hangat kini merasuk ke dalam hatinya.


'Wanita muda itu? Siapa wanita muda itu? Apakah dia adik kandungku?' batin Shakila yang hanyut dalam suasana.


"Shakila!" panggil Darren.


"Are you okay?" tanya Darren kembali.


"Yes," jawab Shakila. Dia kemudian memandang Bu Rahma yang masih termenung. Wajahnya kini begitu pucat.


"Bu Rahma, ada apa? Kenapa tiba-tiba wajah anda jadi pucat seperti ini?"


"Oh tidak, tidak apa-apa. Saya hanya terkejut sekaligus bahagia kalau Dea sudah bertemu dengan keluarga kandungnya."


"Iya, dan saya juga berterima kasih anda begitu menyayangi dan selalu memberikan perhatian pada adikku Dea."


"Ba-bagaimana anda tahu kalau saya memberikan perhatian pada Dea?"


"Ibu Panti, dia sudah menceritakan semuanya padaku. Dia mengatakan kalau sejak anda menitipkan Dea di panti asuhan tersebut, anda sangat menyayanginya dan memberikan perhatian lebih padanya. Saya mewakili keluarga dan kedua orang tua saya mengucapkan banyak terima kasih pada anda."


"I-iya sama-sama."


"Bu Rahma. Maaf kalau saya bertanya hal seperti ini pada anda. Bisakah anda menceritakan pertemuan anda dengan Dea? Jadi anda menemukan Dea di dalam gerbong itu kan? Kenapa anda tidak memberitahu pada pihak stasiun kalau ada bayi yang tertinggal di dalam gerbong kereta api dan langsung mengambil keputusan untuk membawa bayi itu begitu saja ke panti asuhan. Apakah anda tidak berfikir tentang keluarga bayi itu? Bagaimana kalau keluarga yang kehilangan bayi itu mencari keberadaan anak kandungnya yang hilang dan menanyakan pada pihak stasiun tersebut? Apakah anda tidak berfikir sejauh itu?"


"Ma-maafkan saya. Saat itu saya memang berfikiran pendek. Saya hanya tidak tega melihat Dea yang saat itu menangis di atas kursi kereta. Jadi, saya langsung membawa Dea dari kereta tersebut dan menitipkannya di panti asuhan agar mendapatkan penanganan."


"Oh begitu? Tapi saya rasa, pikiran anda saat itu memang sedang benar-benar kacau, karena setahu saya jika ada seseorang yang menemukan bayi, biasanya mereka membawa bayi itu ke puskesmas, klinik, atau ke rumah sakit, dan tempat umum lainnya, karena biasanya kalau ada laporan kehilangan pada pihak kepolisian, mereka langsung mengecek keberadaanya di fasilitas umum seperti itu. Terus terang saja, kalau anda membawa Dea ke panti saya rasa itu bukan pilihan yang tepat karena lebih terkesan untuk menyembunyikannya. Maaf kalau saya berkata seperti ini, bukannya saya tidak tahu terima kasih, tapi karena kecerobohan anda kami jadi sangat kesulitan mencari jejak Dea."


"Maafkan saya, Nona. Sekali lagi maafkan saya."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sudahlah. Semua sudah berlalu, yang terpenting adalah kami bisa bertemu dengan Dea, karena sebentar lagi dia akan menikah."


"Me-menikah?"


"Ya, sebenarnya dia sudah dijodohkan dengan salah seorang laki-laki. Keluarga kami dan keluarga laki-laki itu sudah memiliki kesepakatan tentang perjodohan itu."


'Oh tidak, astaga. Ini tidak boleh terjadi,' batin Rahma.


"Ja-jadi nanti Dea akan dinikahkan oleh orang tua anda?"


"Tentu saja. Bukankah dia anak dari kedua orang tuaku? Tentu saja nanti Papa yang akan menikahkan dia dan calon suaminya."


"La-lalu bagaimana dengan penyebutan walinya saat ijab qabul?"


"Kenapa anda bertanya seperti itu, Bu Rahma? Bukankah Dea adik kandungku? Tentu saja wali saat pernikahan adalah Papa, penyebutan nama orang tua di belakang nama Dea juga nama Papa. Bukankah seharusnya seperti itu, Bu Rahma?"


"I-iya."


'Oh tidak, ini tidak boleh terjadi. Penyebutan nama orang tua di belakang nama Dea tidak boleh menggunakan nama orang tua dari Shakila karena sama saja itu tidak sah. Pernikahan Dea dan laki-laki itu tidak sah karena Dea bukanlah adik kandung dari Shakila dan bukan merupakan bagian dari keluarga mereka,' batin Rahma kembali sambil menelan salivanya dengan kasar.


"Oh tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? Lihat, muka anda saja begitu pucat. Bahkan, sepertinya anda mulai berkeringat. Ada apa Bu Rahma? Apa ada yang anda tutupi? "


"Tidak, saya tidak apa-apa. Tidak ada yang saya tutupi juga."


"Benarkah? Semoga anda tidak berbohong Bu Rahma."


"Kenapa? Kenapa sejak tadi anda berkata seperti itu, Nona? Kenapa seolah-olah anda menekan saya?"


"Menekan? Menekan bagaimana? Saya benar-benar tidak mengerti."


"Nona, semua perkataan anda bagaikan kiasan. Dia awal pertemuan, anda berterima kasih pada saya. Tapi setelah itu anda memojokkan saya dengan mengatakan keputusan saya salah sudah menitipkan Dea di panti asuhan tersebut. Lalu anda juga seperti curiga kalau ada sesuatu hal yang saya tutupi. Maaf, saya merasa tidak nyaman dengan apa yang anda sampaikan."

__ADS_1


"Memojokkan bagaimana? Saya hanya bicara kenyataan. Bukankah biasanya setelah seseorang menemukan bayi, dia biasanya membawa ke tempat umun? Bukannya disembunyikan di dalam panti."


"Nona, saya rasa anda sudah sangat lancang. Seharusnya anda berterima kasih pada saya karena saya sudah menemukan adik anda dan membawanya ke tempat yang layak untuknya. Coba anda pikir, bagaimana kalau orang lain yang menemukan Dea? Mungkin saja dia sudah dibawa preman ataupun pengemis jalanan."


"Bu Rahma, apa anda lupa kalau seorang preman tidak mau mengasuh seorang bayi?"


Rahma pun kembali terdiam, kini raut wajahnya tampak begitu frustasi.


"Bukankah begitu Bu Rahma? Tidak ada preman yang mau mengasuh seorang bayi begitu saja. Mana ada preman yang mau direpotkan dengan mengasuh bayi yang baru lahir, bahkan membelikan popok dan susu untuknya."


"Apa yang sebenarnya anda inginkan, Nona?" tanya Rahma lirih.


"Saya hanya ingin sebuah kejujuran yang terucap dari bibir anda."


"Jadi kau pikir, saya sudah bohong tentang Dea?"


"Bukan Dea, tapi SACHI! Adik kandungku bernama Sachi bukan Dea. Sekarang lebih baik katakan padaku dimana adikku yang sebenarnya?"


"Apa maksud anda, Nona? Saya benar-benar tidak mengerti."


"Tidak usah berbasa-basi. Bukankah anda tahu, pernikahan tanpa penyebutan nama orang tua kandung itu tidaklah sah. Apa anda mau seumur hidupnya, pernikahan Dea tidak sah dimata agama?"


"Tidak," gumam Rahma lirih.


"Kenapa? Kenapa wajah anda semakin pucat? Apa susahnya mengakui kalau Dea bukanlah adik kandungku. Dea bukan adik kandungku kan? Anda sengaja menaruh Dea di panti asuhan karena sejak kecil Dea sudah menderita penyakit jantung bawaan dan anda tidak sanggup untuk memberikan pengobatan pada Dea, jadi anda menukar Dea dengan adikku kan?"


Rahma kemudian menggelengkan kepalanya. Air mata pun kini membanjiri wajahnya.


"Tolong jangan berbohong lagi. Apa anda mau putri kandung anda Dea terjerumus dalam kenistaan karena pernikahannya tidak sah? Anda menukar adik saya dengan anak anda karena anak anda, Dea menderita penyakit jantung bawaan kan? Itulah alasannya anda membawa Sachi diam-diam dan tidak melaporkannya pada pihak stasiun ataupun rumah sakit terdekat. Anda ingin menyembunyikan kebenaran ini sendiri! Iya kan?"


"Tenang Shakila!" ujar Darren.


Rahma hanya terdiam, hanya isakan dan air mata yang membanjiri wajahnya.

__ADS_1


"Cepat jawab Bu Rahma! Kenapa anda tega sekali melakukan seperti itu?"


"Aku takut, aku takut pada suamiku."


__ADS_2