
Dea pun membalikkan tubuhnya, dan melihat sosok wanita paruh baya yang baru saja turun dari mobil sedan mewah warna hitam.
"Bu Rahma," ucap Dea yang sedang berjalan menghampirinya.
'Mobil Bu Rahma bagus sekali, apakah sebenarnya Bu Rahma juga orang kaya?' batin Dea.
"Dea, apa kabarmu, Nak?"
"Baik Bu."
"Apa ibu tinggal di daerah sini?"
"Tidak Nak, ibu mau pergi ke rumah sakit diantar oleh supir, dan kebetulan lewat jalan ini dan ibu lihat kau sedang berjalan keluar dari rumah itu, Nak."
"Oh iya, Bu. Bu Rahma, sekarang saya tinggal di sini. Ini rumah orang tua saya, beberapa hari yang lalu, akhirnya saya bertemu dengan orang tua kandung saya."
"Oh jadi kau sudah bertemu dengan orang tua kandungmu?"
Dea pun menganggukan kepalanya. "Iya Bu, aku sudah bertemu dengan kedua orang tua kandungku."
"Syukurlah, Nak."
"Iya, mereka sangat sayang padaku, Bu Rahma."
"Emh Dea, apakah kau yakin mereka adalah orang tua kandungmu?"
"Bu Rahma, kenapa Bu Rahma berkata seperti itu padaku?" tanya Dea sambil mengerutkan keningnya, dan tampak begitu kaget mendengar perkataan Rahma.
"Dea, maafkan aku. Bukannya aku meragukan mereka sebagai orang tua kandungmu. Tapi..."
"Tapi apa Bu Rahma? Dari kronologis yang mereka ceritakan saja sama seperti yang diceritakan oleh Ibu Panti. Bahkan tanggal dititipkannya aku di panti itu oleh Bu Rahma, sama seperti saat mereka kehilangan bayi mereka saat di dalam kereta api."
"Tapi Dea, bukankah kita perlu data yang valid untuk membuktikan sebuah kebenaran?"
"Apa maksud Bu Rahma? Kenapa Bu Rahma mengatakan seperti itu? Apa karena Bu Rahma yang menemukan aku di dalam kereta jadi ibu tidak mempercayai begitu saja kalau mereka adalah orang tuaku?"
"Maaf kalau ibu membuatmu tersinggung, Dea. Ibu bukannya tidak percaya padamu atau orang tuamu. Tapi, bukankah sebaiknya akan lebih baik kalau kita meyakini kebenaran tersebut dengan data yang valid. Jadi, kalau suatu saat terjadi padamu, kau bisa menggunakan data itu sebagai bukti, Nak."
"Data yang valid? Apa sebenarnya yang sedang ibu bicarakan?"
"Tes DNA. Apakah kau dan kedua orang tuamu sudah melakukan tes DNA?"
"Tes DNA?" gumam Dea.
"Iya Dea. Tes DNA sangat diperlukan untuk membuktikan sebuah kebenaran, Dea. Apa kau sudah melakukan tes DNA dengan mereka?"
__ADS_1
Dea pun hanya diam termenung mendengar perkataan Rahma. "Tes DNA," ujarnya kembali.
"Dea!"
"O-oh iya Bu Rahma. Emh, aku memang belum melakukan tes DNA dengan kedua orang tuaku. Tapi, suatu saat aku pasti akan melakukannya," jawab Dea sambil mengulaskan senyum tipis di bibirnya.
"Iya Dea, kalau begitu ibu pergi dulu. Ibu harus pergi ke rumah sakit sekarang."
"Iya Bu, Rahma. Hati-hati di jalan."
"Dea, bolehkah aku memelukmu?"
"Tentu saja."
Rahma kemudian menghambur memeluk Dea, disertai perasaan yang begitu sesak. Ingin rasanya dia berteriak sekencang-kencangnya dan mengatakan aku ibumu, tapi itu sama saja bumerang baginya karena saat ini dia tidak mempunyai bukti yang kuat, dan hanya akan membuat Dea membenci dirinya.
Entah mengapa Dea pun merasa begitu nyaman berada dalam pelukan Rahma. Namun, perasaan itu dia tepis begitu saja.
'Kenapa aku selalu merasa begitu nyaman dalam pelukan Bu Rahma? Bahkan rasanya jauh lebih nyaman dibandingkan saat aku berpelukan dengan Mama Delia? Ah, mungkin hanya perasaanku saja karena aku sudah lama mengenalnya, sejak aku bayi. Bahkan, dia yang menemukan aku di dalam kereta api, jadi kami mungkin memang punya chemistry yang kuat,' batin Dea.
Rahma kemudian menghapus air mata yang hampir saja lolos dari kedua sudut matanya. Setelah itu dia melepaskan pelukannya agar Dea tidak curiga padanya.
"Dea, ibu pergi dulu."
Rahma kemudian meninggalkan Dea, berjalan masuk ke mobil yang sudah menunggunya. Sebuah mobil mewah milik Darren yang akan mengantarkannya menuju ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.
'Sebentar lagi, Dea. Sebentar lagi aku akan membuktikan kalau aku adalah ibumu. Mungkin, aku tidak pantas di sebut ibu, aku memanglah bukan ibu yang baik karena sudah membuangmu. Tapi percayalah tidak ada seorang pun ibu di dunia ini yang ingin melihat anaknya menderita. Tidak ada seorangpun ibu yang mau melihat putrinya terluka. Dan, percayalah aku melakukan semua ini untuk kebaikanmu putriku Dea,' batin Rahma saat menatap Dea dari kaca mobil yang dia naiki.
Sementara Dea yang masuk ke dalam rumah, tampak begitu kesal saat melihat Shakila yang sedang duduk di ruang televisi bersama Delia. Sebenarnya dia ingin berlalu dan masuk ke dalam kamarnya. Namun, tiba-tiba Delia memanggilnya.
"Dea!" panggil Delia.
Dengan begitu terpaksa, Dea pun menghentikan langkahnya. "Ada apa, Ma?"
"Apa kau ingat Mama pernah bercerita padamu kalau kami sudah menjodohkanmu dengan Devano?"
Dea pun tersenyum getir mendengar perkataan Delia. "Ya," jawab Dea lirih.
"Apa kau sudah siap bertemu dengan Devano?"
DEG
'Oh tidak,' batin Shakila.
Dea pun hanya bisa terdiam mendengar perkataan Delia. 'Aku tidak menyukai Devano, apa yang harus kulakukan? Melihat fotonya saja, aku tidak tertarik. Dia terlihat begitu flamboyan, dan tatapan matanya sangat messum,' batin Dea.
__ADS_1
"Dea! Kenapa kau diam?"
"Mama, mungkin Dea belum siap bertemu dengan Devano, benar kan Dea?" ucap Shakila sambil tersenyum kecut.
'Kenapa tiba-tiba Shakila membelaku,' batin Dea.
"I-iya Ma, benar apa yang dikatakan Kak Shakila. Aku belum siap bertemu dengan Devano. A-aku baru saja menjadi bagian dalam keluarga ini, dan aku tidak mau terburu-buru. Aku butuh sedikit adaptasi."
Delia pun tampak berfikir. "Kau benar, mungkin kami harus memberimu waktu untuk beradaptasi dengan semua ini. Aku bicarakan ini dengan Oma kalian dulu," ujar Delia. Dia kemudian bangkit dari atas sofa lalu tampak menelepon Fitri di dekat kolam renang.
Sementara Dea kini mendekat ke arah Shakila. "Ada apa Kak? Kenapa kau tiba-tiba membelaku?"
"Cih, jangan pikir aku membelamu. Aku melakukan itu semua karena aku yakin kau bukanlah adikku. Jadi hanya adik kandungku lah yang pantas menikah dengan Devano, bukan kau!"
"Jaga kata-katamu, Kak. Aku adalah adik kandungmu!"
"Kalau kau benar-benar adik kandungku, apakah mau berani melakukan tes DNA?"
"Tes DNA?"
"Ya, tes DNA. Apa kau berani melakukan itu? Kalau kau berani dan hasil tes DNA menunjukkan kalau kau adalah adikku. Maka aku baru mau mengakui kalau kau adalah adikku."
DEG
'Tes DNA? Kenapa hari ini sudah ada dua orang yang menantang tes DNA padaku? Bahkan Kak Shakila begitu lantang memintanya padaku. Apakah sebenarnya aku bukan bagian keluarga ini?' batin Dea.
"Dea, kenapa kau diam? Ayo tes DNA!"
'Kau diam apa kau takut? Asal kau tahu, Dea. Diam-diam aku sudah melakukan tes DNA padamu. Akan kubuktikan siapa kau sebenarnya saat tes DNA itu keluar Dea,' ucap Shakila dalam hati.
"Dea!"
"Oh, apa Kak?"
"Tes DNA!"
'Tidak, aku tidak mau. Apapun yang terjadi aku harus tetap menjadi bagian dari keluarga ini. Aku tetap harus menjadi bagian dari keluarga ini, apapun caranya,' batin Dea.
BRUKKKK
Tiba-tiba tubuh Dea pun terjatuh dan terkulai lemas di atas lantai.
"Sachhhhiiiiii!"
"Shakila apa yang sudah kau lakukan hingga membuat adikmu seperti ini!" bentak Delia.
__ADS_1