
"Mungkin itu Papa dan Mama sudah pulang, ayo kita keluar sekarang!" perintah Kak Darren yang dijawab anggukan kepala olehku.
Kak Darren lalu bangkit kemudian keluar dari kamarku. Sedangkan aku, hanya bisa menatap punggungnya sambil merasakan sesak di dada mendengar perkataannya.
Aku kemudian ikut bangkit, berjalan di belakang Kak Darren, dan saat kami selesai menuruni anak tangga, tampak Papa dan Mama sudah masuk ke dalam rumah sambil berjalan ke arah kami berdua.
"Apa kabar kalian?" tanya Mama Aini yang langsung memelukku.
"Baik Ma," jawabku.
"Darren, kau menjaga adikmu dengan baik kan? Kau tidak pergi kemana-mana kan?" tanya Papa pada Kak Darren.
"Tidak, aku tidak kemana-mana Pa. Kami di rumah saja," jawab Kak Darren sambil melirik padaku. Sakit, kembali rasa ini hadir dalam hatiku, sebuah rasa yang mungkin tidak pernah ada ujungnya, dan entah sampai kapan akan selalu kurasa. Namun ternyata tidak hanya rasa sakit, tapi juga rasa bersalah karena selain rasa sakit karena aku tidak akan pernah bisa memiliki orang yang kucintai, aku juga memiliki rasa bersalah pada orang tuaku.
Apalagi saat melihat wajah kedua orang tua kami. 'Papa, Mama, maafkan kami,' gumamku saat berada dalam pelukan Mama Aini.
"Papa, Mama, bisakah aku bicara sebentar?" ujar Kak Darren yang tiba-tiba mengagetkanku.
"Ada apa Darren?" tanya Papa Roy.
"Sebenarnya bukan hal yang terlalu penting Pa," sahut Kak Darren. Namun, entah mengapa tiba-tiba aku merasa begitu cemas mendengar perkataannya. Kami lalu berjalan menuju ke sofa yang ada di ruang tengah.
Aku pun mengikuti langkah kedua orang tuaku dan Kak Darren. Biasanya, aku tidak pernah ingin tahu tentang pembicaraan Kak Darren dan kedua orang tuaku, tapi entah kenapa tiba-tiba hari ini aku sangat ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Kak Darren.
"Ada apa, Darren?" tanya Mama Aini saat kami sudah duduk di atas sofa. Sedangkan aku, aku merasa sangat takut, saat ini yang bisa kulakukan hanya meremas pakaianku sambil menahan berbagai perasaan yang begitu campur aduk. Hatiku rasanya begitu cemas memikirkan apa yang akan dia katakan. Saat melihat Kak Darren yang mulai membuka bibirnya, ingin rasanya kutulikan telinga ini tapi aku juga ingin mendengar perkataannya.
__ADS_1
"Papa, Mama. Satu minggu lagi, aku lulus kuliah. Bolehkah aku meneruskan program master ke Australia?" ucap Kak Darren yang membuat tubuhku terasa begitu lemas.
'Benarkah ini? Apa aku tidak salah dengar? Kak Darren akan ke Australia? Bukankah ini artinya kami harus berpisah?' gumamku sambil menatapnya dengan tatapan kosong. Kak Darren tahu saat ini aku sedang menatapnya tapi dia sepertinya sengaja tidak menatapku, bahkan hanya sekedar untuk melirikku. Dia benar-benar memenuhi janji yang baru saja dia ucapkan padaku untuk menjauhiku, dan akulah yang memintanya, tapi kenapa rasanya hati ini tak rela? Lihat, betapa egoisnya aku. Aku memang sangat egois.
Aku menghembuskan nafas panjangku sambil menutup mata. Ya, bukankah ini keputusan yang paling benar? Sudah sepantasnya kami berpisah untuk mengubur semua rasa ini? Untuk melupakan semua yang telah terjadi? Ini adalah keputusan terbaik, meskipun aku tahu ini pasti akan sangat sulit untuk dijalani.
Namun, sepertinya aku sudah tidak bisa menahan sakit ini. Aku kemudian menundukkan wajahku untuk menyembunyikan air mata yang sudah menetes membasahi wajahku.
'Tuhan, kenapa hidupku saat ini hanya dipenuhi kesedihan dan air mata? Tidak bisakah aku merasakan sebuah kebahagiaan? Meskipun sebentar saja? Tapi bagaimana aku bisa bahagia jika cinta yang kurasakan ternyata adalah sebuah kesalahan dan dosa?' gumamku sambil menghapus air mata ini sebelum mereka tahu saat ini aku sedang menangis.
"Papa, Mama, aku sedikit pusing. Aku masuk dulu ke kamar," ucapku sebelum mendengar jawaban dari Papa dan Mama mengenai rencana Kak Darren, karena aku yakin Papa dan Mama pasti akan menyetujui rencana itu. Ya, sebelumnya Papa dan Mama memang menyuruh Kak Darren untuk kuliah di Australia, tapi Kak Darren tidak mau dan memilih kuliah di sini saja, mungkin karena dia tidak ingin jauh dariku, ah kenapa tiba-tiba aku jadi terlalu percaya diri seperti ini?
"Pusing? Apa kau sakit Shakila?" tanya Mama Aini disertai raut wajah yang begitu cemas.
"Oh baiklah, istirahat saja sayang," kata Mama Aini.
Aku kemudian meninggalkan mereka begitu saja, saat aku berjalan menuju ke kamarku secara tidak sengaja aku melirik ke arah Kak Darren yang ternyata sedang menatapku. Ah tatapan mata itu, pasti aku akan sangat merindukan tatapan mata itu.
Aku yang saat ini sudah ada di dalam kamar, lalu berjalan ke arah balkon kamar dan menangis dengan sejadi-jadinya.
'Bukankah ini yang memang aku inginkan? Tapi kenapa rasanya membayangkan pun aku tidak sanggup? Oh bagaimana rasanya aku menjalani hidup tanpa melihat wajahnya? Tanpa melihat senyuman di bibirnya, dan tanpa merasakan hembusan hangat nafasnya? Apakah aku sanggup? Oh Tuhan, bolehkah aku memilih untuk menjadi egois meskipun hanya untuk sebentar saja? Oh Tuhan, untuk kali ini saja ijinkan aku untuk merasakan dosa terbesar sepanjang hidupku, untuk kali ini saja, ijinkan aku untuk bisa bebas mencintai kakakku. Sekali ini saja Tuhan,' gumamku sambil menutup mataku.
Aku kemudian mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Perlahan, aku membuka mataku dan saat kubuka mata ini Kak Darren sudah ada di depanku.
Kenapa tiba-tiba dia sudah ada di balkon kamarku? Entahlah aku tidak ingin memikirkan itu, yang ada di dalam pikiranku saat ini hanyalah ingin merasakan keegoisanku, kebodohanku dan dosa terbesarku.
__ADS_1
Melihat senyuman itu, aku pun tidak sanggup lagi untuk menahan gejolak di dalam hatiku. Aku kemudian berhambur memeluknya dan membiarkan tubuhku jatuh ke dalam dekapan hangatnya.
"Kakak," ucapku lirih.
"Kenapa kau menangis? Jangan menangis, Shakila. Tangisanmu hanya akan membuatku merasa semakin hancur."
Aku pun terdiam, bibirku rasanya begitu kelu, bahkan hanya sekedar untuk menjawab pertanyaannya saja. "Shakila!" panggil Kak Darren lagi.
"Benarkah kau ingin pergi, Kak?"
"Bukankah itu yang kau inginkan? Hanya itu cara satu-satunya untuk melupakan semua perasaan yang ada di dalam hatiku padamu."
"Tapi..." ucapku tertahan. Rasanya lidahku semakin kelu saja.
"Tidak ada cara lain, Shakila. Tidak ada cara lain, hanya ini satu-satunya jalan. Dan aku harus belajar untuk merelakan dan mengikhlaskan."
"Bukan hanya kau, tapi juga aku, Kak."
"Apa maksudmu?"
"Aku juga sangat mencintaimu, Kak. Sangat mencintaimu," ucapku sambil terisak. Mendengar perkataanku Kak Darren pun semakin mengencangkan pelukannya padaku.
"Benarkah kau juga mencintaiku?" tanya Kak Darren yang saat ini juga meneteskan air matanya. Aku pun hanya bisa menganggukan kepalaku karena untuk mengucap kata "Ya" saja rasanya sudah begitu sakit.
Akhirnya, aku pun memberanikan diri untuk mengangkat wajahku. "Kak, bisakah kau tetap di sini? Bisakah kita lanjutkan saja dosa ini?"
__ADS_1