Bed Friend

Bed Friend
Ketukan Pintu


__ADS_3

"Kenzo, apa sebenarnya alasanmu tidak mengangkat telepon dari Aleta? Pasti ada alasan lain kan?" tanya Cleo saat tidur di atas dada Kenzo.


"Saat ini aku sudah bersamamu, aku hanya tidak ingin ada wanita lain diantara kita."


"Apa dia menyukaimu?"


"Tidak bukan begitu, selama ini aku selalu membantu dirinya, aku hanya tidak ingin kebaikanku pada Aleta ditafsirkan lebih olehnya, apalagi saat ini aku sudah bersamamu. Aku tidak ingin ada wanita lain yang menghubungiku saat sedang bersamamu, aku hanya ingin dia tahu itu, sekarang sudah ada batasannya tidak sama seperti saat aku sendiri dulu. Aku juga tidak ingin kau berfikiran yang macam-macam padaku."


"Jadi tadi merupakan sebuah isyarat agar dia tidak menghubungimu lagi dengan bebas?"


"Ya, bisa dibilang seperti itu. Aku sengaja agar dia tahu kita telah berbohong padanya, agar dia memahami kondisiku, aku bukanlah Kenzo yang dulu, aku hanya menjadi milikmu, apa kau mengerti?"


Cleo pun menganggukkan kepalanya. "Lalu kenapa kau sering membantunya, Kenzo?


"Dulu saat kami masih bersekolah, ayahnya meninggal karena kecelakaan kerja saat bekerja di perusahaan mamaku. Uang santunan yang mama berikan memang cukup besar tapi itu tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhannya, apalagi mamanya sakit-sakitan dan dua orang adiknya masih balita, jadi aku sering membantu keuangan keluarganya. Namun sebelum aku berangkat ke London, aku sudah membantu mengoperasi mamanya dan memberinya pekerjaan, aku rasa itu hal yang cukup. Apalagi saat ini dia sudah mendapatkan posisi yang cukup bagus di perusahaan mama, aku hanya ingin membatasi diriku menjalin hubungan dengannya sebagai seorang teman."


"Ya, semua ini kau lakukan karena kau sangat mencintaiku kan?"


Kenzo pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Lalu, sebenarnya kapan kau mulai menyukaiku Kenzo? Kau mulai berbeda saat kita kuliah di London, dulu kau sangat ketus padaku, tapi coba kau lihat dirimu saat ini, sekarang kau bahkan tidak pernah bisa jauh dariku," ucap Cleo sambil terkekeh.


"Agatha."


"Hei kau sudah lama tidak memanggilku dengan nama itu."


"Aku sudah menyukaimu saat aku memanggilmu dengan nama Agatha, saat kita masih kecil dulu. Aku tidak bisa memanggilmu Cleo karena aku tidak bisa berbicara dengan lancar dulu."


"Tapi kenapa saat sekolah kau terlihat sangat membenciku?"


"Itu karena kau lebih pintar dariku, nilaimu selalu jauh lebih tinggi dariku, dan mama selalu menyanjungmu, karena itulah rasa cintaku tertutup oleh rasa kesalku padamu, saat itu jiwaku masih labil, tidak seperti sekarang."


"Lalu sejak kapan pandanganmu berubah dan mulai menghilangkan rasa kesalmu itu?"


"Sejak kita makan malam bersama setelah kelulusan, saat itu aku baru sadar kau wanita yang spesial. Kau sangat cantik dan pintar, itu hal yang tidak bisa dimiliki oleh setiap wanita, betapa bodohnya aku jika terus-menerus mengabaikanmu padahal di luar sana banyak laki-laki yang mengejarmu."

__ADS_1


"Hahahaha jadi saat itu kau sudah merasakan cemburu saat teman-temanmu akan mendekatiku?"


"Ya."


"Termasuk kejadian di bandara saat ada seseorang yang ingin berkenalan denganku?"


"Ya, saat itu aku mulai sangat takut untuk kehilangan dirimu, karena itulah aku sangat protektif padamu selama kuliah, bahkan meminta kita untuk pura-pura berpacaran, itu karena aku sangat takut kehilanganmu. Kau mengerti?"


"Hahahaha ya aku mengerti, terimakasih Kenzo sayang. Aku sudah yakin sebenarnya kau sudah menyukaiku sejak dulu, tapi aku tahu kau selalu menampik perasanmu, karena gengsimu terlalu tinggi untuk mengakui semua itu."


"Ya, setelah kita lulus kuliah aku akan segera menikahimu, aku ingin menikah secepatnya denganmu, aku tidak ingin ada yang mengganggu hubungan kita, dan kau hanya menjadi milikku."


"Ya, kalau begitu cium aku sekarang."


"Hahahaha, apa kau mau melakukannya lagi?"


"Kenzo, kita sudah melakukannya dua kali."


"Sepuluh kali pun aku sanggup, hahahaha."


"KENZOOOO!!"


Abimana memasuki kantor Amanda bersama dengan Inara. Tampak beberapa orang yang mengenal Abimana pun tersenyum padanya, namun tetap saja diantara mereka ada yang memandang Abimana dengan tatapan sengit. Inara yang melihat respon beberapa orang tersebut pun menggenggam tangan Abimana.


"Tidak apa-apa, Abi. Ini adalah sebuah proses, kau tidak perlu menjelaskan dirimu pada para pembencimu karena apapun yang kau katakan, mereka akan tetap membencimu, dan kau akan tetap tampak buruk di mata mereka, namun itu semua tidaklah penting karena yang terpenting adalah kau di hadapan Tuhanmu."


"Iya Inara aku mengerti, aku juga tidak marah pada mereka yang saat ini masih membenciku."


Inara pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, akhirnya mereka pun sampai di depan ruangan Amanda.


TOK TO TOK


"Masuk!"


Abimana pun membuka pintu ruangan itu. Amanda yang kini sedang mengetik di laptopnya pun menghentikan pekerjaannya.

__ADS_1


"Hai Inara, Abimana, kalian datang ke sini? Silahkan duduk."


"Iya Amanda, maaf jika kedatangan kami mengganggumu."


"Oh tidak apa-apa, aku juga sedang tidak terlalu sibuk," ucap Amanda sambil mendekat pada Inara dan Abimana yang kini sudah duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Ada apa? Apa ada hal penting yang ingin kalian bicarakan?"


"Iya Amanda, kami ingin membicarakan tentang Kenzo dan Sharen."


"Ya, apa kau ingin bertemu dengan mereka? Tapi saat ini mereka sedang kuliah di London."


"Emh iya Amanda, kami memang berniat menemui mereka."


"Silahkan, kalian bisa menemui mereka di London. Tapi jika kalian ingin menunggu mereka sampai pulang, kalian harus menunggu satu tahun lagi sampai mereka selesai lulus kuliah."


"Jadi kami boleh menemui mereka?"


"Tentu saja Abimana, kau adalah ayah kandung mereka berdua, tapi maaf Abimana jika kau bertemu dengan mereka, tolong jangan bicara mengenai kebenaran tentang dirimu terlebih dulu. Saat ini mereka sedang mengerjakan tugas akhir, aku tidak ingin hal seperti ini sedikit mengganggu kondisi psikologis mereka, aku tidak ingin mereka sedikit overthinking karena memikirkan hal ini, aku tidak ingin menambah beban pikiran mereka saat mengerjakan tugas akhir kuliah, karena mengerjakan tugas akhir itu bukan hal yang mudah."


"Iya, aku tahu itu Amanda. Aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu, aku tidak mau menambah beban pikiran mereka untuk saat ini, aku hanya ingin bertemu dengan mereka, aku hanya ingin meminta ijin padamu karena kau yang lebih berhak dibandingkan aku, selama ini kau sudah mengasuh mereka dengan baik, Amanda."


"Silahkan kau temui putra-putrimu kapanpun kau mau Abimana, aku tidak akan melarangnya."


"Terimakasih Amanda, terimakasih banyak."


Di saat itulah suara ketukan pintu pun kembali terdengar.


TOK TOK TOK


"Masuk."


Perlahan pintu itu pun terbuka, seorang wanita muda pun masuk ke ruangan Amanda. Melihat kedatangan wanita itu, Amanda pun menyunggingkan senyumannya.


"Aleta, kau sudah datang ke kantor? Apakah kau sudah sembuh?"

__ADS_1


NOTE:


💖 "Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu." ( Ali Bin Abi Thalib).


__ADS_2