Bed Friend

Bed Friend
Saat Yang Tepat


__ADS_3

Nathan lalu beberapa kali melihat ponselnya karena seseorang yang dia hubungi tidak menjawab panggilan darinya.


"Sial! Kenapa papa tidak menjawab panggilan dariku di saat-saat seperti ini?" gerutu Nathan. Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sia-sia sudah, sia-sia yang kulakukan selama dua tahun ini, sia-sia usahaku yang sudah sengaja menggiring Cleo agar pergi ke Paris malam itu dengan mengirimkan penawaran pekerjaan ke ponselnya setelah dia bertengkar dengan wanita itu, sia-sia aku menyuruh seorang preman untuk berpura-pura menjambret ponselnya sebelum dia pergi ke Bandara agar Cleo lost contact dan tidak berhubungan kembali dengan keluarganya, sia-sia semua yang kulakukan agar aku terlihat menjadi seorang yang berjasa saat kami berada di Paris, sia-sia semua tipu daya yang kulakukan selama kami berada di Paris agar dia semakin membenci mantan kekasihnya itu kalau ternyata semua berakhir seperti ini!"


Nathan lalu menghembuskan nafasnya.


"Secara tidak langsung aku sudah memisahkan kalian berdua tapi kenapa kau dengan mudahnya kembali pada laki-laki sialan itu, Cleo! Memang apa hebatnya laki-laki itu sampai semua yang kulakukan selama dua tahun ini jadi begitu sia-sia?" gerutu Nathan lalu berjalan menuju ke mobilnya. Dia kemudian memacu mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi, beberapa saat kemudian dia pun sudah sampai di rumahnya lalu bergegas masuk ke dalam rumah itu.


BRAKKKK


Nathan membanting pintu rumah hingga memantul ke arah dinding dan mengeluarkan suara yang cukup keras.


"Nathan apa yang kau lakukan!" teriak Calista yang begitu terkejut melihat kedatangan Nathan sambil mendekat ke arahnya.


"Ma, Papa dimana?"


"Tentu saja ke kantor, Nathan! Apa kau sudah lupa ini bukan hari libur! Memangnya kau kenapa? Apa sebenarnya yang telah terjadi hingga membuatmu terlihat sangat kacau seperti ini?"


"Aku memerlukan bantuan Papa dan anak buahnya."


"Untuk apa Nathan?"


"Menghabisi seseorang."


"APAAAA? TIDAK NATHAN! BIARPUN PAPAMU DULU SANGAT BEJAT, DIA TIDAK PERNAH MENGHILANGKAN NYAWA SESEORANG!"

__ADS_1


"Tapi aku harus melakukan ini, Ma!"


"TIDAK NATHAN!" bentak Calista. Di saat itulah tiba-tiba seseorang masuk ke rumah tersebut.


"Ada apa ini ribut-ribut? Nathan, apa yang ingin kau bicarakan? Tadi saat kau menelponku, aku sedang meeting dengan klien."


"Emhh begini Pa..."


"Leo, putramu ingin menghabisi seseorang! Kau harus mencegahnya, jangan sampai dia melakukan perbuatan terkutuk itu!"


Leo lalu menatap tajam ke arah Nathan. "Apa alasanmu berniat menghabisi nyawa seseorang? Bukankah papa tidak pernah mengajarkanmu berbuat hal seperti itu?"


"Tapi aku harus melakukan itu karena dia sudah merebut tunanganku!"


"Wanita yang mati-matian kau pertahankan selama berada di Paris?"


Nathan kemudian menganggukan kepalanya. "Apa kau yakin saat dia menerima lamaranmu dia sudah mencintaimu?"


"Kenapa Papa berkata seperti itu?"


"Karena Papa juga pernah mengalaminya, Nathan! Dan akhirnya Papa tidak mendapatkan wanita tersebut karena hati wanita itu tidak pernah Papa miliki! Jadi lebih baik kau lupakan saja wanita itu, dia bukan wanita yang baik untukmu! Untuk apa kau memaksakan keadaan untuk memiliki wanita yang hatinya tidak pernah bisa kau miliki."


Calista lalu mendekat ke arah Nathan. "Benar apa yang Papamu katakan, Nathan. Jangan memaksakan suatu hal, apalagi masalah cinta. Cinta tidak bisa dipaksakan."


"Tapi aku sangat mencintai wanita itu, Ma! Dua tahun berbagai cara kulakukan untuk mendapatkan cinta dari wanita itu!"


"Tapi dia tetap tidak bisa mencintaimu? Lalu untuk apa kau melakukan itu? Kau hanya menyia-nyiakan hidupmu saja." ucap Leo sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Papa, aku mohon. Aku mohon bantu aku untuk memberikan pelajaran pada laki-laki itu. Tolong bantu aku, Pa."


Leo kemudian terdiam, dia kemudian mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


"Memangnya siapa laki-laki itu? Kalau sekedar memberi pelajaran Papa mungkin bisa membantu, tapi tidak lebih dari itu."


"Kenzo, Kenzo Mahendrata pewaris Mahendrata grup."


Mendengar perkataan Nathan, Leo dan Calista lalu saling berpandangan.


"Tidak Kenzo, Papa tidak akan bisa menyakiti Kenzo."


"Memangnya kenapa? Papa takut pada mereka? Bukankah mereka tidak jauh lebih kaya dibandingkan dengan kita?"


"Bukan masalah itu Nathan!"


"Lalu apa?"


Nathan lalu mendekat ke arah Calista. "Mama tolong bantu aku untuk membujuk Papa!"


Namun Calista malah meneteskan air matanya. "Maaf Nathan, mama tidak bisa."


"Nathan, sebaiknya kendalikan emosimu. Hapus dendam yang ada di dalam hatimu, cari kebahagiaanmu dan jangan merusak kebahagiaan orang lain, tidak baik memisahkan dua orang yang saling mencintai hanya untuk memenuhi ambisimu. Calista, ayo kita ke kamar ada sesuatu yang ingin kubicarakan," ucap Leo. Calista lalu mendekat ke arah Leo kemudian berjalan ke arah kamar mereka, meninggalkan Nathan yang masih terdiam sambil menahan emosi yang semakin berkecamuk di dadanya.


"Apa tidak sebaiknya kita mengatakan yang sebenarnya saja, Leo?"


"Tidak Calista, ini belum saatnya. Dia sedang sangat marah, hatinya dipenuhi emosi dan kebencian. Percuma mengatakan padanya kalau Kenzo adalah adik angkatnya, adik yang sangat dia sayangi dulu sebelum Amanda menjemputnya."

__ADS_1


"Lalu kapan kita akan mengatakannya?"


"Tunggu saat yang tepat."


__ADS_2