Bed Friend

Bed Friend
Kepada Logika


__ADS_3

Cleo lalu mengulurkan tangannya untuk menyalami Ibu Panti dan Dea. "Cleo," ujar Cleo saat menyalami Ibu Panti dan Dea.


Dea pun terpaksa menarik sudut bibirnya, mencoba tersenyum meskipun hatinya terasa begitu sakit. "Dea," ucapnya saat membalas uluran tangan Cleo.


"Halo Dea, Kenzo sudah menceritakan sekretaris barunya padaku. Terima kasih banyak Dea, karena kaulah kami jadi mengingat apa yang seharusnya sudah kami lakukan sejak dulu. Kami sampai lupa untuk berbagi pada sesama karena terlalu mementingkan urusan kami."


"Iya Nyonya Cleo, terima kasih banyak," ucap Ibu Panti.


"Sama-sama Dea, semoga yang kami berikan bisa berguna untuk semua penghuni panti."


"Iya Nyonya Cleo, Tuan Kenzo, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak."


"Sama-sama Ibu Panti, lebih baik sekarang kita bagikan barang-barang ini untuk anak-anak di panti ini."


"Iya Nyonya Cleo," jawab Ibu Panti. Cleo lalu menatap Dea yang kini terlihat begitu murung.


"Dea!" panggil Cleo.


"Oh, oh iya Nyonya Cleo."


"Ada apa Dea? Kenapa kau tampak sedih? Kau juga sudah berdandan dengan cantik dan rapi, apa kau ada janji dengan pacarmu?"


Dea pun tertegun mendengar perkataan Cleo. "Oh, emhhh tidak Nyonya Cleo. Saya hanya ingin menyambut kalian berdua saja. Tidak mungkin saya menyambut kehadiran tamu terhormat seperti Tuan Kenzo dan Nyonya Cleo dengan penampilan seadanya."


"Kau bisa saja, Dea. Kami hanya orang biasa, kita semua sama."


"Ya, kita semua sama, lebih baik kita bagikan oleh-oleh ini untuk anak-anak panti. Bagaimana?" sambung Kenzo.


"Ya, ayo kita bagikan sekarang!" sahut Cleo. Mereka kemudian menuju ke ruang tengah tempat anak-anak sudah menunggu mereka. Sedangkan Dea hanya bisa menatap Kenzo yang saat ini berdiri di samping Cleo sambil sesekali menatap Cleo dan menyunggingkan senyumnya.


'Cleo, nama yang sangat cantik. Secantik pemilik nama itu sendiri. Tidak perlu banyak alasan untuk bisa jatuh cinta pada wanita secantik Cleo. Sempurna, sebuah kata yang menggambarkan dia, dan aku sadar jika dibandingkan dengan diriku, kami memang tidak ada apa-apanya. Tapi apa sebuah cinta adalah sebuah kesalahan?' batin Dea.


Bergegas dia menghapus air matanya yang kini mulai jatuh membasahi pipinya agar tidak ada yang melihatnya, termasuk Cleo dan Kenzo, apalagi Ibu Panti.


'Mencintai seseorang memang begitu menyesatkan, nyata dan fana terkadang tidak ada bedanya. Padahal terkadang cinta itu menghanyutkan, membuat gila, dan menghancurkan. Bahkan terkadang hati ini tidak peduli menahan rasa sakit, demi sebuah menjaga sebuah rasa yang disebut cinta,' batin Dea kembali yang kini mulai terisak menahan rasa sakit. Apalagi saat ini Kenzo dan Cleo terlihat begitu mesra.


"Dea! Ayo ke sini!" panggil Cleo.


Dea terpaksa berjalan arah Cleo dan Kenzo sambil menghapus air matanya dan menahan rasa sakit di dalam hatinya, rasa sakit itu bahkan merembet ke seluruh tubuhnya yang saat ini terasa begitu lemah.


"Dea, ayo duduk di sini!" ujar Cleo sambil menepuk sofa di dekatnya.

__ADS_1


Dea lalu duduk di sofa itu, meskipun saat ini tubuhnya terasa begitu bergetar. 'Oh Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini? Tapi bukankah ini semua karena kesalahanku? Aku jatuh cinta padanya, jika aku menderita, ini bukan salahnya karena hatikulah yang telah memilihnya. Meskipun aku harus menikmati rasanya tenggelam dalam sakitnya cinta ini,' batin Dea kembali saat melihat Kenzo yang saat ini tengah menggenggam tangan Cleo, dan memainkan jarinya di telapak tangan Cleo.


"Dea, setiap hari kau berangkat kerja dari Panti?"


"Iya Nyonya Cleo, ada apa?"


"Bukankah tempat ini sangat jauh dari kantor suamiku?"


Dea pun tersenyum. "Ya, saya berangkat pukul enam pagi karena saya harus naik kendaraan umum untuk menghemat ongkos."


"Astaga, kasihan sekali," gerutu Cleo.


"Kenapa kau tidak kost saja Dea?"


"Kost? Oh tidak Nyonya Cleo, itu hanya akan memperbanyak pengeluaran. Sedangkan anda tahu, gaji saya juga saya pergunakan untuk membantu keuangan panti."


"Ya, kau benar. Kau memang sangat baik, Dea."


Cleo lalu menatap Kenzo. "Kenzo, bukankah kita punya sebuah rumah kecil yang ada di dekat kantormu? Yang dulu sering digunakan oleh Mama Amanda untuk menyimpan barang-barang kantor yang belum ingin Mama buang."


"Memangnya kenapa Cleo?"


"Kita suruh saja Dea tinggal di rumah itu? Bukankah rumah itu sudah bersih dari barang-barang milik Mama? Bagaiman kalau kita suruh saja Dea untuk tinggal di rumah itu, Kenzo."


"Kenapa? Kau keberatan padaku? Apa kau tidak merasa iba melihat Dea yang setiap hari harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk bekerja di kantor kita?"


"Tapi Cleo?"


"Tapi apa? Kau belum bicara pada Mama? Kalau begitu, aku saja yang bicara pada Mama Amanda! Mama Amanda tidak mungkin untuk menolak perkataanku karena sejak kecil dia lebih sayang padaku dibandingkan denganmu!" ujar Cleo sambil terkekeh.


"Baiklah, terserah kau saja, Cleo!"


"Bagus, itu namanya suamiku! Hahahhaha," ujar Cleo sambil mencubit pipi Kenzo.


Cleo lalu mengalihkan pandangannya pada Dea. "Dea, bagaiman? Kau mau kan menempati rumah itu?"


"Maaf Nyonya Cleo, apa ini tidak terlalu berlebihan?"


"Berlebihan? Tentu saja tidak, Dea. Anggap saja ini sebagai fasilitas rumah dinas yang kami berikan untukmu. Bagaimana? Kau mau kan?"


Dengan sedikit malu-malu, Dea pun menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, Nyonya Cleo, Tuan Kenzo."

__ADS_1


"Sama-sama, Dea."


Dea menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum manisnya, meskipun hatinya terasa begitu perih.


'Jika seperti ini, haruskah aku cemburu dan membenci pada wanita sebaik Nyonya Cleo? Logikanya seharusnya aku mulai menghapus rasa ini, dan mencoba berfikir dengan jernih jika laki-laki itu sudah menjadi milik wanita lain. Tapi bukankah hati tidak pernah berlogika? Logika? Ya, logika. Kepada logika, mengapa kau merasa paling benar? Menghakimi kalbu yang menurutmu tersesat, lalu mengucilkannya ke dalam sebuah tempat paling rendah, sebuah titik yang biasa disebut dengan sebutan bodoh. Dan bodoh, itu adalah aku,' batin Dea.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit pulang dulu," ujar Kenzo.


"Iya Tuan Kenzo, sekali lagi terima kasih banyak. Semoga kebaikan Tuan Kenzo dibalas oleh Tuhan."


"Sama-sama," jawab Kenzo. Setelah dia dan Cleo berpamitan, mereka kemudian melangkahkan kakinya keluar dari Panti tersebut. Namun, baru saja beberapa langkah mereka keluar dari panti, sebuah suara sesuatu yang terjatuh dan teriakkan pun terdengar.


BUKKKKK


"DEAAAAA!"


Bersambung...


NOTE:


Mampir juga dong ke karya bestinya othor, novelnya Kak Arandiah, dijamin ceritanya keren banget loh. Nyesel 7 turunan kalo nggak mampir ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚



Blurb:


Sungguh ini mahakarya luar biasa dari tangan seorang masterpiece @aran_diah yg membuatku sangat terpukau, terperanjat, hingga diam membisu karena membaca karya seindah ini. Bahkan jauh lebih indah dari kata indah itu sendiri.๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Blurb:


โ€œAda apa?โ€ tanya Rissa sambil menatap Vano penasaran.


โ€œApa besok aku boleh menjemput mu ke sini?โ€ bukannya menjawab, Vano malah bertanya pada Rissa, dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


โ€œHm, tentu saja,โ€ jawab Rissa dengan santai sambil tersenyum ramah ke arah Vano.


โ€œBaiklah, kalau begitu aku akan antar jemput dirimu. Bagaimana?โ€ tanya Vano dengan menampilkan raut wajah bahagia.


โ€œApa itu tidak merepotkan mu? aku takut ada yang salah paham jika kita terlalu dekat,โ€ ucap Rissa dengan nada menyesal.


โ€œTentu saja tidak. apa kau sudah punya kekasih?โ€ tanya Vano berharap jika Rissa tidak memiliki seorang kekasih.

__ADS_1


โ€œBukan aku, tapi istrimu,โ€ jawab Rissa dengan nada yang sedikit manja. Membuat pria yang ada di sampingnya tersebut terkekeh gemas, saat melihat tingkah Rissa yang manja.


โ€œAkan aku pastikan dia tidak akan tahu,โ€ kata Vano sambil mengacak rambut milik Rissa, hingga membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya gemas.


__ADS_2