
"Aleta," ucap Amanda sambil tersenyum.
"Saya sudah mendengar semuanya Nyonya Amanda, saya sadar siapa saya. Saya minta maaf pada kalian semua yang ada di sini, terutama kau Kenzo, maaf jika aku sudah berbuat hal yang tidak pantas padamu."
Aleta kemudian tersenyum pada semua orang yang ada di ruangan itu.
"Saya akan pergi dari sini sekarang juga, saya tidak ingin kalian semua beranggapan kalau kedatangan saya disini untuk mengganggu rencana pernikahan Kenzo dan Cleo."
"Eh.. E.. Aleta, bukan itu maksud kami, tapi maaf ini memang acara keluarga jadi kami hanya ingin dihadiri oleh anggota keluarga saja."
"Iya saya mengerti Nyonya, saya akan mengemasi barang-barang dan pulang sekarang juga."
Amanda pun kini terlihat salah tingkah, sedangkan Aleta berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengemas barang-barangnya. Beberapa saat kemudian, Aleta pun keluar dari kamar lalu berpamitan pada semua yang ada di ruangan itu. Amanda dan Inara pun memeluk Aleta, namun Kenzo dan Sharen menatap Aleta dengan tatapan sinis. Setelah selesai berpamitan, Aleta pun kemudian berjalan menuju ke arah pintu.
"Tunggu Aleta," ucap Sharen kemudian berjalan mendekat ke arahnya.
"Awas saja jika kau masih berulah setelah pergi dari sini, aku tidak segan-segan dengan ancamanku padamu! Kau mengerti!"
Aleta pun menganggukkan kepalanya sambil bergumam dalam hati. 'KAU MEMANG BENAR-BENAR BRE*GSEK SHAREN! TUNGGU SAJA PEMBALASANKU KARENA AKU TIDAK PERNAH TAKUT PADAMU!'
Aleta kemudian membalikkan tubuhnya lalu berjalan pergi dari apartemen tersebut. Setelah kepergian Aleta, mereka semua yang ada di dalam apartemen pun saling berpandangan.
"Aku jadi merasa tidak enak pada Aleta," ucap Amanda yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Kenzo dan Sharen.
"MAMAAAAA!!" teriak Kenzo dan Sharen bersamaan sambil bersungut-sungut.
"Ada apa ini ribut-ribut," ujar sebuah suara dari arah pintu. Tampak Cleo dan Vallen memasukki apartemen sambil membawa belanjaan di tangan mereka.
"Oh kalian sudah selesai berbelanja?" tanya Amanda.
"Ya, ini sangat menyenangkan hahahaha, aku sudah lama tidak belanja di sini, untung saja kami tidak pergi bersama Firman, dia bisa marah kalau menunggu kami berbelanja. Kalau saja kalian ikut, pasti akan lebih menyenangkan."
"Tante Vallen, tadi kami sedang ada urusan."
"Urusan apa Sharen?"
__ADS_1
"Mengusir benalu," ucap Sharen diikuti gelak tawa Kenzo dan Inara.
"Benalu apa?" tanya Cleo.
"Tidak usah dipikirkan, Cleo. Kita duduk ke balkon saja," ujar Kenzo kemudian menarik tangan Cleo.
"Siapa yang jadi benalu Amanda?" tanya Vallen, namun Amanda hanya terdiam.
"Aleta," jawab Sharen.
"Aleta?" tanya Vallen lalu dijawab anggukan kepala oleh Sharen.
"Sudah Vallen jangan dipikirkan, lebih baik kau pamerkan saja pada kami apa saja yang kau beli tadi," ucap Inara sambil mengedipkan matanya pada Amanda.
"Ya, benar apa yang dikatakan Inara, lebih baik kau pamerkan barang-barang belanjaanmu pada kami, Vallen."
"Ya, tentu saja hahahaha, kalian pasti akan menyesal karena tidak ikut denganku," ucap Vallen sambil berjalan ke arah sofa.
Sementara Kenzo kini tampak membelai wajah Cleo sambil tersenyum. "Aku merindukanmu,"
"Memangnya salah?"
"Tidak, memang seharusnya begitu. Hei tapi dimana Aleta? Aku tidak melihatnya, apa dia masih di kamarnya?"
"Dia sudah pulang."
"Sudah pulang?"
Kenzo pun menganggukkan kepalanya. "Jadi yang Sharen maksud benalu itu Aleta?"
Kenzo pun mengangguk lagi sambil tersenyum. "Hahahaha, kalian memang benar-benar jahat. Pasti kau dan Kak Sharen yang meminta Tante Amanda untuk memulangkannya."
"Ya, kami tidak ingin dia ada di sini."
"Kalian benar-benar jahat," ucap Cleo sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tidak usah membicarakannya Cleo," ucap Kenzo sambil mendekatkan wajahnya pada Cleo lalu mencium bibirnya.
"Kenzoooo!! Apa kau tidak lihat ada mama di dalam," teriak Cleo saat melepaskan ciuman Kenzo.
"Hahahaha."
🍒🍒🍒
"Kenapa aku tiba-tiba merasa mual sekali?" gerutu Cleo saat bangun dari tidurnya. Dia kemudian melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam, namun tiba-tiba dia merasa begitu mual yang teramat sangat. Cleo pun bergegas ke arah wastafel yang ada di dalam kamar mandi di kamarnya.
"HOEKKKK HOEEEKKK...."
Cleo lalu memuntahkan cairan-cairan bening yang terasa begitu pahit di mulutnya.
"Jangan-jangan aku sakit? Ah tidak aku tidak boleh sakit, besok pagi aku akan wisuda. Ini adalah hari yang paling penting sepanjang hidupku, aku tidak boleh sakit," ucap Cleo sambil mengusap wajahnya. Namun tiba-tiba dia mengerutkan keningnya saat melihat sebuah tanggalan yang ada di dalam kamarnya. Cleo lalu mendekat ke arah tanggalan tersebut.
"Oh tidak, aku ternyata sudah telat tidak haid selama sepuluh hari," gerutu Cleo sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ya Tuhan, apa yang kutakutkan sepertinya akan terjadi. Ah lebih sekarang aku pergi ke apotek, tapi tidak boleh ada yang tahu karena mereka semua pasti akan mencemaskanku," ucap Cleo. Dia kemudian mengganti pakaiannya lalu berjalan mengendap-endap keluar dari apartemennya lalu berjalan menuju ke arah apotek yang tidak jauh dari apartemennya tersebut. Dia kemudian membeli sebuah tespack dan obat sakit kepala karena sekarang kepalanya terasa begitu sakit, apalagi mual di perutnya pun semakin membuatnya merasa tersiksa. Namun saat akan memasuki apartemennya kembali tiba-tiba Cleo dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggilnya.
"CLEO!!"
Cleo lalu membalikkan tubuhnya, dan melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
"Kau?" ucap Cleo.
"Maaf jika aku sudah mengganggumu, bisakah aku berbicara sebentar denganmu?"
NOTE:
Mampir juga ke karya bestie aku yuk, Kak Shan Neen judulnya Gadis Buruk Rupa, dijamin ceritanya keren abis 😍🥰❤️
Seorang gadis belia bernama Liana Yu, harus kehilangan kedua orang taunya diusia yang masih sangat muda. Dia terpaksa tinggal dengan bibi dan sepupunya yang selalu menyusahkan setiap hari, hampir selama sepuluh tahun terakhir. Karena merasa iri dengan paras cantik Liana yang selalu menjadi pusat perhatian, sepupunya dengan kejam menyiram gadis itu dengan air mendidih, hingga membuat wajah Liana melepuh dan menyisakan bekas di beberapa bagian, hingga dia menjadi buruk rupa. Dengan kegigihan dan sikap pantang menyerahnya, Liana terus berusaha mengumpulkan modal agar bisa mewujudkan impiannya, yaitu mengambil kembali benda peninggalan orang tuanya dan pergi dari rumah bak neraka itu, serta mengobati wajahnya yang buruk rupa. Suatu ketika, sang bibi ingin menjual Liana kepada seorang pria tua, untuk dijadikan istri yang ke sekian, sebagai penebus hutang. "Aku mau dibawa ke mana?" tanya Liana gemetar. "Tentu saja pulang ke rumah calon suamimu. Bibi akan kirimkan semua barang-barangmu kesana. Cepat pergi lah!" seru Bibi Carol. "Tidak, Bi. Tolong jangan lakukan ini. Aku mohon," pinta Liana. Namun, disaat keputusasaan menghampiri, sebuah kejadian tak terduga terjadi, dan mengubah hidup gadis itu. Apa yang menanti Liana dikemudian hari? Akankah gadis itu mampu meraih bahagia di hidupnya?
__ADS_1