
Mendengar perkataan Darren, Shakila kemudian mendekat padanya dan duduk di sampingnya, tapi Darren mengalihkan pandangannya.
"Kau memang sangat keras kepala, Kak! Kalau kau belum ingin pulang, setidaknya tolong kabari kedua orang tuamu! Kasihan Mama Aini!"
"Ponselku mati. Tolong tinggalkan aku Shakila, dan tolong beri tahu pada Mama jika aku baik-baik saja, tolong katakan padanya jika aku sedang berlibur. Aku tidak ingin mereka mencemaskanku. Tolong tinggalkan aku sekarang juga!"
"Sampai kapan? Sampai kapan kau seperti ini?"
Darren pun tersenyum kecut. "Sampai kapan Shakila? Setiap hari aku juga seperti ini. Setiap hari aku hidup tersiksa seperti ini. Memangnya kau pikir mudah melupakan orang yang sangat kucintai di dalam hidupku? Kau pikir itu mudah, Shakila?"
"Jika kau mencintaiku kenapa kau selalu mengabaikan pesan ataupun panggilan dariku? Kenapa kau bersikap seperti itu padaku, Kak? Kau bahkan seperti patung bagiku."
"Shakila, bukankah kau tahu jika dulu kita beranggapan kita adalah seorang kakak adik? Apa kau sudah lupa jika kau juga pernah menolakku saat aku mengatakan cinta padamu? Apa kau juga sudah lupa alasan kepergianku ke Australia? Itu semua kulakukan untuk melupakanmu. Aku hanya ingin kau melupakanku sebelum cinta itu semakin dalam. Aku hanya tidak ingin kau tersakiti. Apakah kau tahu bagaimana tersiksanya hatiku? Sakit, sungguh sakit hingga tubuhku bagaikan mati rasa. Tahukan kau bagaimana aku menahan rinduku padamu? Rasanya bahkan sampai tidak bisa bernafas. Tahukah kau terkadang rasanya aku ingin memecahkan kepalaku agar berhenti memikirkanmu. Kau tidak tahu bagaimana tersiksanya diriku. Itulah alasannya aku tidak pernah membalas pesanmu karena aku pasti tidak akan bisa sanggup menahan gejolak di dalam hatiku, aku pasti tidak bisa menahan rinduku, dan semakim tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku minta maaf, karena keegoisanku ini aku terlambat mengetahui semua ini. Aku memang pengecut Shakila. Aku memang pengecut karena telah takut semakin jatuh ke dalam cintamu."
Shakila pun mulai meneteskan air matanya. 'Maafkan aku, Kak,' batin Shakila.
__ADS_1
"Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk berusaha melupakanmu Shakila, dan setiap saat aku selalu mencobanya, meskipun ternyata tak pernah bisa. Sebenarnya aku sadar jika kita tidak berjodoh. Aku sadar akan hal itu sejak dua tahun lalu saat kau sakit setelah kepergianku. Tahukah kau, saat mendengar kau sakit, perasaanku begitu tak menentu. Aku semakin tidak pernah bisa berhenti memikirkanmu, karena itulah aku memutuskan untuk kembali. Saat itu aku sudah bertekad untuk mengabaikan semua norma yang ada. Saat itu aku sudah tidak peduli lagi jika kita adalah saudara, dan saat itu yang ada di pikiranku adalah aku akan menikahimu, mengatakan pada dunia jika aku mencintaimu, dan kau hanyalah milikku seorang. Tapi sayangnya nasib berkata lain, saat aku akan pulang ke Indonesia, aku begitu tergesa-gesa, aku tidak menyadari lalu lintas di sekelilingku hingga akhirnya sebuah mobil menabrakku. Saat aku bangun, Papa dan Mama sudah ada di sampingku, dan saat aku menanyakan keadaanmu yang sedang sakit mereka mengatakan jika kau sedang dijaga oleh salah seorang kerabat yang akan menjadi bagian keluargamu karena kau sudah dijodohkan. Shakila, sejak saat itulah aku sadar jika kau memang bukan milikku, kau bukanlah jodohku, karena kita memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersama. Sejak hari itu juga aku memutuskan untuk menutup segala bentuk komunikasi denganmu, termasuk membuatmu cemburu dengan kehadiran Jane. Kau sudah tahu alasannya kan mengapa aku melakukan semua itu. Terlalu sakit bagiku, Shakila."
Darren kemudian menghapus air matanya dengan kasar, sedangkan Shakila kini begitu larut dalam isakkan yang begitu menyayat hati.
"Shakila, tolong tinggalkan aku. Tinggalkan laki-laki pengecut ini yang begitu takut jatuh cinta padamu. Kau sudah memilih, dan aku bukanlah lelaki yang kau pilih. Iya kan Shakila? Pulanglah dan kembalilah pada keluargamu Shakila," ujar Darren sambil melirik cincin yang melingkar di jari Shakila.
Melihat cincin itu hati Darren pun terasa begitu sakit. "Tolong tinggalkan aku Shakila!" ucap Darren sambil tersenyum kecut diiringi air mata yang kembali lolos dari sudut matanya.
Namun tiba-tiba Shakila memeluk tubuh Darren dengan begitu kencang. "Maafkan aku, Kak. Maafkan aku," ujar Shakila dengan begitu terisak.
Darren kemudian mencoba melepaskan pelukan Shakila, tapi Shakila bersikeras untuk tetap memeluknya. "Shakila, tolong lepaskan pelukanmu, kau sudah menjadi milik orang lain, kita tidak pantas bersikap seperti ini Shakila!"
"Tidak Kak, tidak!"
"Shakila, apa kau lupa cincin yang sudah melingkar di jarimu? Lihat cincin itu Shakila, lihat cincin itu dan ingat jika kau saat ini sudah bertunang dengan Devano!"
__ADS_1
Shakila kemudian menggelengkan kepalanya. "Bukan, Kak. Bukan," ucap Shakila lirih.
"Bukan? Apa maksudmu Shakila?"
"Kakak, ini bukanlah sebuah pertunangan tapi hanyalah sebuah kesepakatan," jawab Shakila lirih.
"Kesepakatan apa maksudmu, Shakila?"
Shakila kemudian melepaskan pelukannya pada Darren, lalu memandang laki-laki tampan yang ada di depannya. Melihat wajah sendu yang kini menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam. Darren pun tak sanggup lagi untuk menahan gejolak hatinya.
Dia kemudian membelai wajah Shakila secara perlahan lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Shakila.
"Maaf," ujar Darren saat menyadari sikapnya yang telah lancang menyentuh Shakila kembali.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa karena kami belum resmi bertunangan. Status Devano saat ini adalah tunanganku tapi yang kami lalukan hanyalah sebuah kesepakatan, hanya sebuah kesepakatan."
__ADS_1
"Apa maksudmu Shakila?" tanya Darren sambil mengerutkan keningnya.