Bed Friend

Bed Friend
Kecebong


__ADS_3

Delia masih terisak dan berlutut di hadapan Luna, sedangkan Luna hanya bisa terdiam dan masih berusaha mencerna apa yang dia alami saat ini. Baginya, semua ini terasa bagaikan sebuah mimpi. Ya, dia memang tahu kalau dia memang bukanlah anak dari Rahma, bahkan dia juga tahu asal-usulnya yang ditemukan di dalam gerbong oleh Rahma. Tapi, dia juga tidak menyangka jika ternyata orang tua kandungnya adalah Delia.


Delia, wanita yang pernah dia temui sebelumnya di rumah Vallen tetangganya, ternyata adalah ibu kandungnya. 'Mama?' batin Luna, air matanya kini pun mulai mengalir deras membasahi wajah cantiknya.


"Maafkan aku, Luna. Maafkan aku, maafkan wanita bodoh ini yang tak bisa menjagamu dengan baik, maafkan aku," hanya itu yang berulang kali terucap dari bibir Delia.


"Saat itu, aku hanya ingin kalian tumbuh dengan baik, di lingkungan yang sehat, dan terhindar dari cemoohan dari lingkungan sekitar karena memiliki orang tua seperti kami," sambung Delia.


Luna masih terdiam, merasakan sakit dan sesak yang ada di dalam hatinya. Ingin rasanya dia memeluk wanita yang sedang menangis di hadapannya. Tapi, tubuhnya terasa begitu kaku, kejadian yang dia alami hari ini begitu diluar dugaannya.


Melihat Luna yang kini begitu kebingungan, Shakila kemudian mendekat ke arah Luna. "Luna tolong maafkan Mama, dia tidak sengaja melakukan semua itu. Semua terjadi di di luar kendali Mama, Luna. Saat itu kondisi mama benar-benar memprihatinkan," ucap Delia.


"Maafkan aku," ucap Delia lirih. Luna berusaha menegarkan dirinya, menghalau rasa sakit yang begitu menyesakkan dada, perlahan dia pun mendekatkan tubuhnya pada tubuh Delia lalu memeluknya.


"Mama," ucap Luna saat memeluk Delia, disertai tangis yang kini terdengar begitu menyayat hati.


"Luna, kau mau memanggilku dengan sebutan Mama?" tanya Delia.


"Tentu saja, Ma,"jawab Luna sambil menganggukan kepalanya.


"Kau mau memaafkan Mama kan?" tanya Delia. Luna pun hanya menganggukkan kepalanya, sambil memeluk Delia kian kencang.


"Mama... "


"Iya Lunaaaa... "


Keduanya, kini pun larut dalam pelukan dan isak tangis. Shakila yang melihat mereka berpelukan kemudian ikut memeluk Luna. "Adikku," ucap Shakila. Luna yang masih terisak kemudian menganggukkan kepalanya "Iya, Kak. Kak Shakila," jawab Luna sambil menatap Shakila, yang kini juga ikut terisak. Ketiganya larut dalam pelukan dan isak tangis dalam waktu yang cukup lama.


Perasaan mereka begitu campur aduk, antara bahagia, haru, dan sedih. Meskipun rasa bahagia begitu dirasakan oleh mereka bertiga, tapi tidak dipungkiri ada rasa sedih dalam hati masing-masing saat mengingat perpisahan yang pernah mereka alami selama dua puluh tahun. Apalagi bagi Delia, meskipun dia sudah menemukan Luna atau Sachi tapi rasa bersalah masih begitu menyelimuti hatinya.


Kini, Delia duduk di samping Luna sambil tersenyum dan membelai wajahnya. "Kau cantik sekali, Nak. Maaf karena kesalahan dan kekhilafan yang pernah mama lakukan, mama tidak bisa melihat kalian tumbuh dewasa."


"Tidak apa-apa," jawab Shakila dan Luna bersamaan.


"Yang sudah berlalu, biarlah berlalu Ma. Tidak usah diungkit lagi semua kejadian buruk di masa lalu, karena yang paling penting adalah saat ini dan masa depan."


"Ya, masa depan. Mama mau memperbaiki semua kesalahan mama dengan menjadi nenek yang naik untuk cucu mama," ucap Delia sambil mengelus perut Luna.

__ADS_1


"Masih lama, Ma. Usia kandunganku saja baru dua bulan."


"Tapi Mama sudah tidak sabar. Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Devano?" tanya Delia.


"Devano?" ucap Luna sambil mengerutkanya.


"Ya Devano, bukankah suamimu adalah Devano?"


"Ya, suamiku adalah Devano. Tapi, bagaimana mama bisa tahu kalau suamiku adalah Devano? Bukankah saat kita bertemu aku tidak menyebutkan nama suamiku?"


Delia kemudian tersenyum. "Mama sudah tahu semuanya, Nak. Mama sudah tahu semuanya. Beberapa hari yang lalu, kakakmu Shakila pergi ke rumah Bu Rahma, dan dia sudah menceritakan semuanya pada Shakila. Semua kejadian dia ceritakan pada Shakila, mulai dari menemukanmu di gerbong kereta api, menitipkan anak kandungnya yang bernama Dea disebuah panti asuhan karena dia mengidap penyakit jantung bawaan, dan akhirnya memilih untuk merawatmu. Bu Rahma juga menceritakan kalau kau sudah menikah dengan Devano."


"Jadi, Mama Rahma sudah menceritakan semuanya?"


"Iya Luna, Bu Rahma sudah menceritakan semua itu. Emh..., begini Luna, sebenarnya kau sudah dijodohkan."


"Dijodohkan? Bagaimana mungkin Ma?"


"Iya sejak dulu, sebenarnya kau sudah dijodohkan dengan seseorang, Luna."


"Tidak, Ma. Tidak bisa, karena aku sudah menikah dengan Devano."


"Tidak mungkin, Ma. Bukankah Mama tahu kalau aku sedang mengandung darah daging Devano?"


"Luna, kau tetap harus meneruskan perjodohan itu, Nak. Kau harus menikah resmi dengan jodohmu itu."


"Mama, apa maksud Mama sebenarnya? Aku tidak mungkin meninggalkan Devano begitu saja, dan menikah dengan laki-laki lain karena saat ini aku juga sedang mengandung darah daging Devano, kami juga saling mencintai, Ma."


"Luna, memangnya nama menyuruhmu menikah dengan laki-laki lain? Mama hanya menyuruhmu menikah dengan orang yang sudah dijodohkan denganmu."


"Aku benar-benar tidak mengerti."


"Luna, tahukah kau, namamu yang sebenarnya adalah Sachi. Dan Sachi, sudah dijodohkan dengan Devano."


Luna hanya bisa termenung sambil membuka mulutnya. "Kau dengar perkataan mama kan Sachi? Sejak dulu, kau sudah dijodohkan dengan Devano. Jadi, itu artinya kau sudah menikah dengan orang yang dijodohkan denganmu."


"Astaga..."

__ADS_1


"Ya kau sudah menikah dengan orang yang tepat, yaitu Devano."


Shakila kemudian tersenyum. "Ya, kau sudah dijodohkan dengan Devano, dan kau ternyata memang benar-benar jodohnya Luna."


"Kakak, aku tahu Devano sudah dijodohkan, tapi aku terlanjur mengandung darah dagingnya, jadi Devano menikahiku. Tapi setahuku, bukankah nama wanita yang dijodohkan dengan Devano itu adalah Shakila bukan Sachi?"


"Ya, awalnya seperti itu, tapi kakakmu juga sudah menemukan orang yang dicintai, dan kami tidak bisa memisahkan mereka karena kami juga banyak berhutang budi pada orang tua Darren, pacar dari Shakila."


"Oh, jadi tidak ada masalah antara hubunganku dengan Devano?"


"Tentu tidak, Nak. Nanti mama bicarakan semua ini dengan orang tua Devano."


Saat Delia baru saja menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka. "Neng Luna, Abang datang Neng!" teriak Devano sambil berjalan ke arah ruang tamu.


Melihat Delia dan Shakila yang duduk di ruang tamu bersama dengan Luna, Devano pun begitu terkejut. Sadar akan kedatangan Devano di belakang mereka, Shakila lalu tersenyum dan memanggil namanya.


"Devano!" panggil Shakila. Devano yang tak bisa menghindar, pun hanya bisa meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Delia kemudian membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada Devano. Selamat sore Tante Delia, selamat sore Shakila."


"Kemarilah Devano! Duduklah bersama kami!"


Meskipun melangkah dengan ragu, Devano akhirnya mendekat pada mereka. Delia kemudian berpindah duduk disamping Shakila.


'Astaga, apa yang harus kulakukan? Ah tidak apa-apa biarkan saja mereka tahu kalau aku sudah menikah dengan Luna. Toh aku juga aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Sachi,' batin Devano. Delia menatap Devano sambil tersenyum simpul.


"Devano, akhirnya kau sudah bertemu dengan Sachi."


"Apa maksud Tante Delia?"


"Ya, ternyata kau bahkan sudah menikah dengan Sachi, karena Luna adalah Sachi. Sachi putriku yang hilang."


"Apa? Luna adalah Sachi? Benarkan itu?" teriak Devano.


"Iya Devano, istrimu adalah Sachi!"


Mendengar perkataan Delia, Devano kemudian berteriak. "LUNAAAA TERNYATA KAU MEMANG BENAR-BENAR JODOHKU! KITA MEMANG SUDAH BERJODOH! BAHKAN SAAT KITA MASIH JADI KECEBONG, KITA SUDAH BERJODOH LUNA!"

__ADS_1


NOTE:


Wkwkkwkwk udah cukup uwu uwu nya Devano sama Luna di sini ya. Cerita uwu mereka selanjutnya di novel sebelah 😂😂


__ADS_2