Bed Friend

Bed Friend
Rahasia Masa Lalu


__ADS_3

"Oh.. E... Maaf Tuan, maksud saya apakah anda ingin memakan kue cokelat buatan saya?"


"Tentu saja, bukankah kau sudah berjanji untuk memberikan kue cokelat padaku!"


Maya pun tersenyum mendengar dengusan kesal Vansh. "Tuan, ini jaket milik anda," ucap Maya sambil memberikan sebuah jaket berwarna biru tua pada Vansh. Di saat itulah, seorang pelayan cafe datang dan menghidangkan makanan yang dipesan oleh mereka berdua.


"Terima kasih," kata Vansh pada pelayanan tersebut dengan begitu sopan yang membuat Maya semakin terpana.


'Ksatriaku, kau berasal dari kalangan yang berada. Tapi sikapmu sungguh berbeda dengan yang lain, mungkin inilah salah satu alasannya aku begitu mengagumimu sejak sekolah dulu,' gumam Maya sambil tersenyum.


"Ayo makan!" perintah Vansh yang membuyarkan lamunan Maya. Maya pun menganggukan kepalanya lalu menyantap makanan yang ada di depannya. Sepintas Maya melirik pada Vansh yang tidak terlalu bersemangat menikmati makanan yang ada di depannya.


"Saya sudah mencucinya dan membersihkan noda darahnya, anda bisa langsung menyimpannya," ujar Maya saat sudah selesai menyantap makanannya.


"Terima kasih."


"Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih pada anda, anda sudah menolong saya kemarin, jika tidak saya mungkin sudah dihabisi preman-preman itu."


"Kau memang wanita bodoh, selain pengecut karena tidak bisa melupakan masa lalumu, kau juga menyimpan dendam pada Sharen kan? Dan preman itu adalah preman bayaranmu untuk memberikan pelajaran pada Sharen? Lalu apa yang kau dapat? Kau tidak mendapatkan apapun selain merugikan dirimu sendiri. Itulah akibatnya jika menyimpan dendam di dalam hatimu, kau tidak akan mendapatkan apapun. Ingat itu!"


"Iya Tuan, saya sudah menyadari itu."


"Semua yang terjadi pada sahabatmu, Aleta adalah sebuah suratan takdir. Dan kau tidak boleh menyalahkan siapapun. Apa kau mengerti?"


"Iya saya mengerti, terimakasih banyak atas semua nasehatnya, Tuan. Saya memang saat itu merasa sangat marah karena saya sangat prihatin dengan kondisi teman saya, Aleta. Dia sudah saya anggap seperti adik kandung saya sendiri, sejak kecil kami hidup bertetangga, dan kami sudah sangat dekat."


"Temanmu sudah tenang Maya, semua yang terjadi pada dirinya adalah takdir yang sudah digariskan oleh-Nya. Dan, kau tidak boleh menyesali takdir. Bukankah kau pernah berkata padaku. Jika kau pernah kehilangan seseorang yang begitu berarti di dalam hidupmu, tolong jangan pernah sesali itu, karena memang waktumu yang sudah habis dengannya dan kau tidak berhak untuk menyalahkan takdir. Apa kau sudah melupakan kata-katamu sendiri?"


Maya pun tersenyum mendengar perkataan Vansh, irama denyut jantungnya yang berdetak semakin kencang terasa sangat sulit untuk dikendalikan.


'Oh Tuhan, bagaimana ini? Berada di dekatnya sebentar saja sudah semakin membuatku jatuh cinta padanya,' gumam Maya.


"Tuan, kenapa anda tidak menghabiskan makanan anda?" tanya Maya untuk menutupi rasa gugupnya.

__ADS_1


"Oh aku sudah kenyang."


"Sudah kenyang? Apa anda sudah makan siang?"


"Sebenarnya belum, hanya saja tadi aku mampir ke rumah mantan mertuaku dan disana aku sempat memakan beberapa potong kue fudge brownies yang ada di ruang tamu rumah Mama Reni."


'Memakan kue brownies?' gumam Maya sambil menelan ludahnya dengan kasar.


'Bukankah kue itu, kue yang kubawa untuk Tante Reni? Apakah dia tidak mengingat sesuatu tentang kue itu?' gumam Maya kembali. Dia kemudian menatap Vansh disertai perasaan yang begitu tak menentu.


"Tu.. Tuan, jadi anda sudah makan kue di rumah mantan mertua anda? "


"Ya, memangnya kenapa?"


"Ba... Bagaimana perasaan anda setelah memakan kue itu?"


"Emh.., biasa saja."


"Benarkah? Benarkah anda tidak merasakan sesuatu setelah memakan kue itu?"


"Tidak Tuan, itu tidak sama!" teriak Maya.


"Heh, gadis lancang. Kenapa kau membentakku? Lalu bagaimana bisa kau mengatakan itu bukan kue yang sama seperti yang dijual di toko? Memangnya kau pernah memakan kue yang baru saja kumakan di rumah Queen!" gerutu Vansh.


"Tentu saja saya tahu karena saya lah yang membuat kue itu, Tuan!"


"Apa maksudmu, gadis lancang?" tanya Vansh sambil menautkan alisnya. Namun saat Maya akan menjawab pertanyaannya, tiba-tiba ponsel Vansh pun berbunyi.


"Mama Reni," ucap Vansh saat melihat sebuah nama di ponselnya. Dia kemudian mengangkat panggilan telepon itu.


[Halo Ma.] jawab Vansh.


[Vansh, apakah kau tadi ke rumah mama?]

__ADS_1


[Ya, tapi Mama sedang pergi, jadi aku keluar sebentar.]


[Oh, sekarang mama sudah pulang Vansh. Apa kau bisa datang ke rumah mama lagi? Sebenarnya ada sesuatu yang ingin mama bicarakan denganmu.]


[Iya Ma, tentu saja. Sebentar lagi aku datang ke rumah Mama.]


[Iya Vansh, mama tunggu.]


Vansh lalu menutup panggilan telepon itu. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah Maya yang saat ini sedang mengutak-atik ponselnya.


"Ayo pulang, aku harus pergi sekarang. Aku ada urusan penting, Maya."


"Tapi saya belum menjelaskan kata-kata saya tadi, Tuan."


"Kau bisa menjelaskannya di lain kesempatan."


"Jadi suatu saat kita bisa bertemu lagi?"


"Tentu saja!"


"Yesss!" teriak Maya spontan yang membuat Vansh menatapnya sambil mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Apa aku sangat berarti bagimu? Sepertinya kau sangat bahagia jika kita bertemu. Apa ada sesuatu di dalam hatimu yang kau simpan untukku?"


"Enak saja!" gerutu Maya.


"Tidak usah berbohong, katakan saja jika sebenarnya kau mengagumiku, iya kan?"


"Anda terlalu percaya diri, Tuan. Saya senang bertemu dengan anda karena anda selalu mentraktir saya makan siang, itu alasannya!"


"Alasan yang tidak logis!" jawab Vansh sambil tersenyum kecut. Mendengar perkataan Vansh, Maya lalu berjalan meninggalkan Vansh begitu saja untuk menutupi rasa malunya.


'Astaga, kenapa jadi seperti ini? Kenapa terkadang aku tidak bisa mengerem mulutku ini?' gumam Maya.

__ADS_1


Sementara Vansh, kini ikut berjalan di belakang Maya sambil bergumam dalam hati. 'Semoga setelah aku bertemu dengan Mama Reni, aku bisa tahu tentang rahasia yang disembunyikan oleh Queen. Queen, apakah rahasia ini ada hubungannya dengan masa lalu kita?'


__ADS_2