Bed Friend

Bed Friend
Sweet Kiss


__ADS_3

"Apa maksudmu, Shakila?"


"Lakukan itu, Kak."


"Apa kau sudah gila, Shakila. Ini sebuah dosa besar," jawab Kak Darren yang begitu terkejut mendengar perkataanku. Dia tampak begitu bimbang, tapi rasanya aku tidak peduli.


Malam ini aku tidak memandang Kak Darren bukan sebagai kakakku tapi sebagai laki-laki dewasa yang aku cintai. Salah, ini memang sangat salah. Tapi aku tidak peduli itu.


"Kak!" panggilku yang membuyarkan lamunan Kak Darren.


"Apakah aku salah menginginkan perpisahan termanis diantara kita berdua? Kak, aku ingin menjalani dosa termanis sebelum kita berdua berpisah. Lakukan dosa termanis itu Kak, bisakah kita bersikap layaknya sepasang kekasih selama satu minggu? Biarkan kita menjalani dosa termanis selama satu minggu. Satu minggu saja, kau mau kan? Kau mau kan, Kak?" pintaku kembali. Mungkin, di depan Kak Darren saat ini aku adalah wanita terbodoh di dunia, tapi aku tidak peduli. Aku pun melihat Kak Darren menganggukkan kepalanya meskipun dengan sedikit ragu.


Entah setan apa yang merasuki kami berdua. Tiba-tiba saja Kak Darren seperti terhipnotis oleh permintaaku. Dia kemudian mencium bibirku kembali dengan begitu bergairah yang membuatku tak segan untuk menddesah.


"Kakak," dessahku di sela ciuman itu saat Kak Darren sedang melepaskan ciumannya. Mendengar dessahan dariku Kak Darren mulai menggigit telingaku yang membuatku mendongak dan memanggil namanya kembali.


Kak Darren semakin menarik pinggangku. Jarak yang semakin dekat membuat deru nafas hangat ini begitu terdengar jelas di telingaku.


"Akh..," lenguhhanku lolos saat Kak Darren menciumi leherku. Aku membiarkan apapun yang dia lakukan. Bukankah aku sudah menyerahkan sepenuhnya jiwa ini padanya?


"Kau cantik sekali, Shakila. Kau sangat cantik. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak dulu, aku sangat mencintaimu Shakila, aku menyukai semua yang ada padamu. Aku suka semua yang melekat padamu."


Mendengar perkataan Kak Darren, aku merasa menjadi wanita yang paling cantik dan spesial di dunia. 'Sedalam itukah perasaan Kak Darren padaku?' gumamku saat melihat wajah tampannya yang kini tersenyum di hadapanku.

__ADS_1


"Kak, bolehkah aku meminta perpisahan termanis?" pintaku kembali.


"Shakila, kehormatanmu, harga dirimu hanya untuk suamimu. Jangan lakukan hal bodoh hanya untuk memenuhi nafsumu, Shakila. Jangan lakukan hal itu,"


"I'm yours, Kak," pintaku kembali di telinga Kak Darren yang membuat Kak Darren menutup matanya.


Perlahan, mata Kak Darren pun terbuka. Dia kemudian menatapku dan langsung mencumbu bibirku dengan begitu bergairah, seakan mengeluarkan hasrat di dalam dadanya yang sudah lama terpendam.


Tangan nakal Kak Darren pun mulai membuka kancing piamaku sampai kancing terakhir hingga terpampang tubuhku, dan menyisakan dua buah gunung kembar yang tertutup bra berwarna merah.


Tangan Kak Darren lalu meraba punggungku, melepas kait bra pengait itu dan menurunkan bra warna merahku. Aku pun hanya bisa memejamkan mataku. Sedangkan Kak Darren mulai mencumbu dan mengisapp gunung kembarku. Perasaanku begitu tak menentu karena ini pertama kalinya ada laki-laki yang menyentuhku.


"Kak," ucapku di sela cumbuan manis Kak Darren di seluruh bagian tubuhku. Kak Darren pun mendongakkan kepalanya lalu melummat kembali bibirku. Sungguh malam ini aku benar-benar hanyut dan terlena dalam kenikmatan dunia. Kenikmatan yang menjadi sebuah dosa. Itu yang ada di pikiranku saat ini, dan aku merelakan tubuhku hanyut oleh sebuah dosa besar yang kusebut perpisahan termanis.


Aku sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, semua seperti terjadi di luar nalar dan akal sehatku.


Entah kenapa malam ini aku melihat Kak Darren terlihat sangat seksi. Apalagi saat mendengar dessahku. Dia terlihat begitu bergairah yang semakin membuatku merasa tidak waras.


Kecapan, dessahan pun terdengar lirih diantara kami berdua, dan kami melakukan hal itu tanpa Kak Darren merenggut kesucianku.


Saat ini tubuh kami yang kelelahan terkapar di atas ranjang. Saat kami mencapai *******, Kak Darren memang pergi ke kamar mandi sebentar. Mungkin untuk mengeluarkan cairan miliknya yang sempat tertahan.


Kak Darren menarik tubuhku ke dalam dekapannya. "Sekarang, tidurlah Shakila. Tidurlah," ucapnya sambil mengecup kepalaku. Aku pun hanya bisa mengangguk lalu memejamkan tubuhku yang kini terasa begitu lelah.

__ADS_1


Saat aku terjaga, kulihat sinar matahari sudah masuk melalui celah tirai kamar. Tidurku terasa sangat nyenyak, mungkin karena aku tidur dalam dekapan Kak Darren. Kurenggangkan semua ototku lalu aku bergerak membuka jendela dan kulihat jam di dinding.


'Oh sudah hampir pukul tujuh pagi. Aku baru pernah bangun sesiang ini,' gumamku.


Aku kemudian berjalan ke arah cermin besar yang ada di dalam kamarku, lalu menatap seluruh tubuhku dan mengingat kejadian tadi malam bersama Kak Darren. Aku pun tersenyum manis sambil menggumamkan namanya kembali di dalam hatiku.


Namun senyum itu pun memudar saat mengingat kembali jika waktu kebersamaan kami tinggal satu minggu lagi.


Tiba-tiba kerongkongan ini pun begitu kering. Aku lalu keluar dari kamar kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum.


Saat aku sedang meminum segelas air dingin yang baru saja kuambil dari dalam kulkas. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutku.


"Selamat pagi, Shakila sayang," ucap sebuah suara yang membuatku terkejut.


"Kak Darren," jawabku sambil tersenyum manja. Jika dipikir hal ini sebenarnya begitu menjijikan dilakukan oleh sepasang kakak beradik tapi entahlah. Tingkah kami memang sudah berada di luar batas kewajaran.


Perlu digaris bawahi jika tadi malam kami tidak sampai melakukan hubungan intim karena Kak Darren tidak mau merenggut kesucianku. Dan aku sangat menghargai sikap yang menurutku begitu luar biasa itu, padahal aku sudah merelakan diriku sepenuhnya padanya. Namun Kak Darren mengatakan jika aku harus melakukan hubungan ini hanya dengan suamiku. Suamiku? Ah mengingatnya saja terasa begitu menyesakkan dada.


Tentu aku sangat menginginkan Kak Darren menjadi suamiku tapi itu hal yang sangat mustahil terjadi. Kami tidak akan pernah bisa menikah, dan kami menyadari itu. Biarkan saja saat ini kami menikmati sebuah rasa yang salah. Biarkan saja kami menjalani sebuah dosa yang besar, aku tidak peduli lagi itu karena yang ingin kami rasakan hanya sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan sebagai dua insan yang saling mencintai satu sama lain.


"Lepas Kak!" perintahku saat Kak Darren belum juga melepaskan pelukannya.


Akhirnya Kak Darren pun melepaskan pelukannya dari tubuhku. Namun tiba-tiba dia memajukan kepalanya lalu mengecup kening, bibir, dan pipiku.

__ADS_1


"Sweet kiss for you my beautiful girl," bisik Kak Darren setelah mencium wajahku yang membuatku kembali tersenyum.


"Darren! Shakila!" apa yang sedang kalian lakukan?" ucap sebuah suara yang mengagetkan kami berdua.


__ADS_2