Bed Friend

Bed Friend
Perjalanan Hidup


__ADS_3

Nathan pun tersenyum. "Tidak apa-apa, aku tidak keberatan."


"Terimakasih."


"Lebih baik kau beristirahat saja terlebih dulu," tambah Nathan.


"Ya, aku masuk ke kamar dulu," jawab Clarissa kemudian bangkit dari atas sofa. Namun saat sedang berdiri, tiba-tiba Nathan mencekal tangannya.


"Mau kubacakan komik?" tanya Nathan yang membuat keduanya tersenyum.


🍒🍒🍒


Kenzo menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah besar di sebuah komplek perumahan mewah. "Mama Amanda, Cleo, Kenzo, aku turun dulu. Kalian tidak ingin mampir sebentar?"


"Tidak Kak Sharen, kami ingin mengurus pernikahan kami. Pernikahan kami tinggal lima hari lagi."


"Ya, masih banyak persiapan yang harus kami urusi, Kak," tambah Cleo.


"Baiklah, hati-hati di jalan."


Sharen kemudian memeluk Amanda. "Sebenarnya aku masih sangat merindukan Mama, aku ingin menginap di rumah kalian tapi Papa Abimana sedang sakit jadi aku tidak tega membiarkan merawat Mama Inara merawat Papa sendirian."


"Kau bisa menginap di rumah kami kapanpun kau mau jika Papamu sudah sembuh, Nak," jawab Amanda sambil membelai rambut Sharen.


"Ya, aku juga ingin bermain bersama Shane. Setelah Kenzo dan Cleo menikah aku akan menemani Mama selama mereka bulan madu."


Amanda pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sharen lalu turun dari mobil, dan melambaikan tangannya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah setelah mobil milik Kenzo pergi dari rumah itu.

__ADS_1


Cleo kemudian melirik pada Kenzo. "Persiapan pernikahan kita sudah hampir selesai, Kenzo. Kau tidak mau turun karena kau tidak ingin bertemu dengan Papa Abimana kan?" tanya Cleo.


"Kau sudah tahu jawabannya, Cleo. Sebaiknya tidak usah membicarakan dia lagi," jawab Kenzo.


"Tapi dia ayah kandungmu, dia juga sudah menyadari semua kesalahannya dan sudah lama melakukan pertaubatan, Kenzo. Bukan begitu Ma?" tanya Cleo pada Amanda yang duduk di jok belakang mobil.


"Oh ya, iya Cleo. Kenzo, benar apa yang Cleo katakan, bagaimanapun juga Abimana adalah ayah kandunhmu, dia juga sudah meminta maaf padamu dan sudah lama melakukan pertaubatan. Belajarlah memaafkan dan menerima Abimana, Kenzo. Kau sekarang sudah memiliki seorang putra, kau harus mengajarkan kebaikan pada putramu."


"Mama bukankah sudah pernah kukatakan jangan samakan aku dengan Abimana. Aku sangat menyayangi Shane, sangat jauh berbeda dengannya yang sudah membuat putra kandungnya sendiri."


"Tapi Shane juga membutuhkan kakeknya, Kenzo. Aku tidak akan membiarkan Shane kehilangan kasih sayang dari kakeknya, apa kau mengerti?" gerutu Cleo yang membuat Kenzo kini terlihat semakin kesal.


"Dan satu lagi, Kenzo. Papa Abimana juga harus datang ke pesta pernikahan kita."


"Tidak Cleo!"


Sementara itu, salah seorang laki-laki yang melihat kepergian mobil Kenzo hanya bisa menatapnya dengan tatapan sendu, beberapa saat kemudian butiran bening pun menetes membasahi wajahnya yang kini terlihat pucat, hingga sebuah tepukan di bahunya pun membuyarkan lamunannya.


"Abimana, bersabarlah yang dia butuhkan hanya waktu untuk menerimamu."


"Jika saja waktu tidak bisa membuktikan jika dia bisa menerimaku, aku ikhlas Inara. Aku ikhlas jika dia membenciku sampai sisa akhir hidupku, aku memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu."


"Aku sudah mengenal Kenzo sejak dia masih kecil, dia anak yang baik. Aku yakin dia pasti bisa menerimamu, bersabarlah. Apa kau sudah lupa bagaimana Mama Vera dulu sangat membencimu? Menjelang akhir hidupnya, dia menerima permintaan maafmu karena bagaimanapun juga kau adalah darah dagingnya, dia ibu yang sudah mengandung dan melahirkanmu. Begitupula dengan Kenzo, dia darah dagingmu. Meskipun di bibir mereka terucap kata benci, aku yakin di dalam hati mereka pasti ada rasa sayang padamu, Abimana. Bagaimanapun juga, ikatan batin orang tua dan anak kandungnya itu kuat, dan tidak bisa disepelekan begitu saja."


Abimana pun hanya tersenyum mendengar perkataan Inara. "Lebih baik sekarang kau istirahat, beberapa hari lagi Kenzo menikah, kau harus sudah sehat kembali untuk menghadiri pernikahan mereka."


"Apa Kenzo mau menerima kehadiranku di hari pernikahannya, Inara? Aku siap menerima konsekuensi jika dia tidak mengijinkanku datang di hari pernikahannya karena inilah harga yang harus kubayar dari kejahatan di masa laluku, sebuah harga yang begitu mahal dalam perjalanan hidupku."

__ADS_1


"Kau dan Kenzo sama-sama sedang menjalani sebuah perjalanan untuk menemukan jawaban dari kisah hidup kalian, dan pasti akan ada pelajaran dari setiap perjalanan yang telah kalian lalui," jawab Inara kemudian berjalan menjauhi Abimana untuk menutupi air mata yang kini sudah mengalir membasahi wajahnya.


'Aku tidak tega melihatmu setiap hari tersiksa seperti ini, Abimana. Semoga putramu bisa memaafkanmu secepatnya,' gumam Inara.


🍒🍒🍒


Nathan menutup komik Doraemon yang ada di tangannya setelah melihat Clarissa yang kini sudah terlelap. Dia kemudian tersenyum sambil membelai wajah Clarissa yang tidur di hadapannya. Dia kemudian melihat jam di dinding kamar Clarissa.


'Sudah pukul satu siang, mungkin Kenzo dan Cleo sudah pulang ke rumah, mumpung Clarissa sedang tidur lebih baik aku pergi ke rumah mereka saja, tidak perlu menunggu esok hari. Lebih cepat pasti lebih baik, aku juga bisa membuktikan pada Papa jika aku sudah menyesali semua perbuatanku,' gumam Nathan. Dia kemudian membelai kembali wajah Clarissa yang kini terlihat semakin pulas.


"Anak nakal, istirahatlah. Aku pergi dulu sebentar, nanti saat kau bangun aku pasti sudah ada si sini untuk menemanimu lagi," ucap Nathan. Dia kemudian keluar dari kamar Clarissa kemudian bergegas menuju ke basemen apartemen untuk mengambil mobilnya.


Tak berselang lama, dia pun sudah sampai di rumah Kenzo yang masih terlihat sepi. Dia kemudian melangkahkan kakinya ke dalam rumah tersebut.


TOK TOK TOK


Seorang pembantu rumah tangga lalu membuka pintu tersebut. "Maaf, apa Kenzo sudah ada di rumah?"


"Mereka belum pulang, Tuan. Tapi beberapa saat yang lalu Nyonya Amanda sudah menghubungi saya untuk menyiapkan makan siang, mungkin sebentar lagi mereka pulang."


"Oh, baiklah. Apa boleh saya menunggu di dalam?"


"Ya, tentu saja. Silahkan masuk, Tuan,"


Nathan pun menganggukkan kepalanya lalu berjalan memasuki rumah tersebut. "Silahkan duduk, Tuan. Saya ambilkan minum terlebih dulu," ujar pembantu tersebut. Dia kemudian masuk ke dalam rumah, sedangkan Nathan kini duduk di dalam ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Dia kemudian mengalihkan pandangannya sambil melihat-lihat seisi rumah tersebut, hingga tiba-tiba netranya tertuju pada sebuah foto keluarga yang ada di dalam ruang tamu itu, apalagi saat ini dia merasa tidak asing dengan salah seorang wanita muda yang ada di dalam foto tersebut. Nathan lalu bangkit dari atas sofa lalu perlahan mendekat ke arah foto keluarga tersebut. Jantungnya pun seakan berhenti berdetak saat melihat sosok wanita yang terlihat berdiri di samping Kenzo sambil tersenyum dengan begitu manis.


"Clarissa."

__ADS_1


__ADS_2