Bed Friend

Bed Friend
Permintaan Queen


__ADS_3

[Halo.] jawab Sharen.


[Halo.]


[Halo.] jawab Sharen beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Dia kemudian menaruh ponsel milik Vansh di atas ranjang kembali. Beberapa saat kemudian, Vansh pun tampak keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


"Kau sudah selesai mandi, Kak Vansh?"


"Sudah."


"Beristirahatlah Kak, aku mau membantu Mama Inara untuk memasak makan malam."


"Oh iya Sharen."


Sharen lalu berjalan ke arah pintu, namun tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya kembali.


"Kak Vansh, tadi ada seseorang yang menelponmu."


"Siapa?"


"Entahlah, nomernya tidak tersimpan di ponselmu, maaf aku sudah lancang mengangkat panggilan itu, kupikir itu penting. Namun, saat aku mengangkatnya tidak ada jawaban seseorang dari orang yang meneleponmu."

__ADS_1


"Oh, mungkin orang iseng, terima kasih banyak, Sharen."


"Iya Kak, aku ke bawah dulu."


Vansh lalu menganggukan kepalanya. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya panjangnya.


'Sudah beberapa hari aku pulang, tapi aku belum bisa melakukan apapun untuk memenuhi permintaan dari Queen. Aku harus secepatnya menyelesaikan urusanku, aku ingin tahu apa maksud dari surat yang Queen berikan sebelum kematiannya. Meskipun ini sedikit terlambat karena aku larut dalam keterpurukan dan kesedihanku tapi setidaknya aku bisa melakukan permintaan dari Queen, hal yang pertama harus kulakukan adalah menemui orang tua Queen,' gumam Vansh sambil memijit keningnya dan memejamkan matanya.


"Hufttt. Tapi sepertinya urusan itu pun harus tertunda karena aku harus berpura-pura menjadi suami Sharen untuk beberapa hari ini. Lalu, siapa yang sudah meneleponku? Apakah gadis lancang itu?" ucap Vansh sambil mengerutkan keningnya. Vansh lalu mengambil ponselnya kemudian mengecek panggilan masuk ke ponsel itu.


"Benar kata Sharen, nomornya tidak tersimpan di ponselku, sepertinya gadis lancang itu. Untuk apa dia meneleponku? Lebih baik aku meneleponnya."


Vansh lalu mengutak-atik ponselnya untuk menelepon Maya.


Mendengar suara seorang wanita yang menjawab panggilan telepon darinya, Maya kemudian menutup panggilan teleponnya.


"Barangkali tadi yang mengangkat telepon itu Nyonya Calista, sebelum tahu aku yang meneleponnya lebih baik kututup saja telepon itu, aku malu jika Nyonya Calista sampai tau aku menghubungi Tuan Dingin itu," ucap Maya sambil meringis. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang kembali sambil menatap liontin hati di tangannya.


"Ksatriaku, hanya ini yang kupunya darimu, aku memang terlalu pengecut untuk mengetahui kejadian yang telah terjadi di hari itu. Entahlah, mungkin aku terlalu mencintaimu, atau aku takut kehilanganmu. Padahal cintamu saja tidak pernah kudapatkan, apalagi memilikimu. Aku memang tidak waras ksatriaku, tapi aku selalu berharap dan tidak pernah berhenti berdoa kau masih hidup sampai saat ini, karena hanya itu yang bisa kulakukan untukmu."


Maya lalu menaruh liontin itu di atas dadanya sambil tersenyum dan menatap langit-langit kamar hingga dering suara ponsel pun membuyarkan lamunannya. Dia kemudian mengambil ponselnya dan melihat nama Vansh di ponselnya.

__ADS_1


[Halo.] jawab Maya.


[Maaf, anda siapa? Ada perlu apa tadi anda menghubungi saya?] tanya Vansh.


[Tuan, apa anda sudah lupa padaku? Beberapa saat yang lalu anda baru saja mengantar saya pulang.]


[ Oh kau, gadis lancang? Ada perlu apa?]


[Tuan, jaket milik anda sudah saya cuci, besok saya kembalikan. Tapi tolong bisakah kita bertemu di luar sana? Terus terang saya malu jika mengembalikan jaket itu ke rumah Tuan Leo, saya juga malu jika harus bertemu dengan Nyonya Calista, mereka sudah terlalu baik pada saya. Bisakah besok kita bertemu di luar? Saya juga ingin mentraktir anda makan siang besok sebagai ungkapan terima kasih saya, bagaimana Tuan?]


[Mentraktirku? Besar juga nyalimu.] jawab Vansh sambil tersenyum kecut.


[Oh, jadi karena saya orang miskin, saya tidak boleh mentraktir anda? Kupikir anda orang yang sangat baik tapi ternyata anda sama saja dengan orang kaya yang lain, picik!] sahut Maya.


[Dasar lancang, aku sudah menolongmu dan kau berani sekali berkata seperti itu padaku!]


[Oh E.., maafkan aku Tuan.Maaf, saya memang sudah sangat lancang.]


[Aku tidak tahu besok bisa bertemu denganmu atau tidak, besok kau kuhubungi lagi.] jawan Vansh.


[Jadi, anda menerima tawaran saya?]

__ADS_1


[Besok kuhubungi lagi.] jawab Vansh kemudian menutup teleponnya.


"Dasar gadis lancang! Ada-ada saja!" gerutu Vansh.


__ADS_2