
[Siapa itu Tuan Dingin?] tanya Vansh dengan nada sedikit kesal.
'Astaga, bodoh sekali aku. Aku lupa memanggilnya dengan Tuan Dingin,' gumam Maya sambil mengigit bibirnya.
[Apa maksudmu? Kau memanggilku dengan sebutan Tuan Dingin?]
[Oh tidak Tuan, emh begini maksud saya. Saat saya mengangkat telepon anda saya sedang mengambil es di dalam freezer, jadi saat mendengar suara anda, saya spontan mengatakan Tuan dingin, kerena saya juga sedang memegang es yang saya ambil, Tuan.]
[Oh, semoga kau tidak berbohong padaku.]
[Untuk apa saya berbohong pada anda Tuan. Tentu saja saya tidak berani membohongi orang yang begitu terhormat seperti anda.]
[Bagus jika kau sadar. Begini, sebenarnya aku menghubungimu untuk memberitahumu jika sepertinya besok kita tidak bisa bertemu, maaf aku sedang sangat sibuk.]
[Jadi, besok kita tidak bisa bertemu? Kejam sekali!]
[Kejam? Lancang sekali kau mengatakan aku kejam!]
[Tentu saja anda sangat kejam karena hari ini saya sudah membuat kue untuk anda sampai larut malam, tapi anda bersikap seperti ini pada saya, anda sudah ingkar janji!]
[Hei kenapa kau harus marah padaku? Bukankah tadi sudah kukatakan jika kau harus menunggu kabar dariku, kenapa kau tiba-tiba marah-marah padaku seperti ini dan mengatakan aku ingkar janji! Janji mana yang sedang kuingkari? Lancang sekali!]
[Owh iya, anda benar juga. Astaga, kenapa aku jadi seperti ini?]
[Mungkin kau terlalu merindukan aku.]
[Haiiii, anda terlalu percaya diri, Tuan]
__ADS_1
[Bukankah memang kenyataannya seperti itu?]
[Sudahlah, saya tidak mau berdebat dengan anda. Selamat malam, Tuan Vansh yang terhormat.] ucap Maya sambil menutup teleponnya dengan kesal.
'Dasar, menyebalkan! Kenapa aku jadi ceroboh sekali? Bukankah dia memang mengatakan jika besok akan memberi kabar lagi kenapa tiba-tiba aku sudah membuat kue untuknya? Ah lebih baik kue ini kubawa ke rumah Queen saja, jadi aku tidak sia-sia membuat kue ini. Dan, lebih baik sekarang aku tidur saja daripada memikirkan laki-laki dingin itu, benar-benar menguras waktu!' gerutu Maya kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Vansh menatap layar ponselnya sambil mengerutkan keningnya. "Aneh sekali wanita lancang ini! Bukankah tadi aku sudah mengatakan jika nanti akan kuberi kabar? Tapi kenapa dia malah marah-marah padaku? Dasar aneh!"
Vansh kemudian memejamkan matanya. 'Queen, besok aku akan pergi ke rumahmu. Aku akan menyelidiki tentang teka-teki masa lalu kita, semoga saja aku belum terlambat,' gumam Vansh sambil memejamkan matanya.
...***...
Maya tampak mengamati ponselnya sambil mengamati sebuah rumah dengan bangunan minimalis yang ada di depannya saat turun dari sebuah taksi online.
"Sepertinya benar ini alamat yang dikirimkan oleh Tante Reni," kata Maya lalu berjalan ke arah rumah tersebut. Dia kemudian membuka pintu gerbang rumah itu lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu rumah tersebut, dan memencet bel yang ada di depan pintu.
Beberapa saat kemudian, pintu rumah itu pun terbuka. Seorang pembantu rumah tangga tampak berdiri di depan Maya sambil tersenyum padanya.
"Selamat pagi,"
"Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
"Emh Bi, benarkah ini rumah Nyonya Reni?"
"Iya benar ini rumah Nyonya Reni."
"Bisakah saya bertemu dengan Nyonya Reni?"
__ADS_1
"Oh tentu saja, sebentar saya panggilkan, silahkan duduk, Nona," jawab pembantu rumah tangga tersebut. Dia kemudian masuk ke dalam ruang tamu, sementara Maya masuk ke dalam rumah tersebut lalu duduk di atas sofa sambil mengamati sekeliling rumah tersebut.
Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya pun keluar dari dalam rumah sambil mendekat ke arah Maya disertai raut wajah sendu.
"Apa kabar Maya?" sapa wanita tersebut.
Maya kemudian berdiri lalu tersenyum pada wanita paruh baya itu. "Baik Tante Reni, kita sudah lama tidak bertemu. Kabarku sangat baik, sebelumnya saya mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya, Queen. Maaf saya terlambat mengetahui tentang semua ini," jawab Maya sambil tersenyum getir.
Mendengar jawaban Maya, wanita itu pun terlihat menetaskan air matanya. "Tante, kenapa Tante menangis? Apa ada yang salah dengan kata-kataku, Tante? Tolong maafkan aku jika ada ucapanku yang menyinggung Tante Reni."
Wanita paruh baya itu lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak apa-apa. Kita sebaiknya duduk saja terlebih dulu," ucap wanita paruh baya itu pada Maya.
Mereka kemudian duduk bersebelahan di atas sofa. Reni kemudian tersenyum sambil menggenggam tangan Maya. "Jangan berbohong padaku, Maya. Kau tidak mungkin merasa baik-baik saja setelah putriku menyakitimu. Aku tahu, pasti kau telah memendam perasaan sakit itu selama bertahun-tahun, tolong maafkan putriku Maya. Aku pun terlambat mengetahui tentang semua ini. Mungkin inilah karma yang harus diterima oleh putriku. Dia sudah merebut seseorang yang seharusnya menjadi milikmu, dan saat mereka menikah, dia harus meninggal di hari pernikahannya. Bagiku, ini seperti sebuah karma yang diterima olehnya."
"Me... Menikah? Ja.. Jadi Queen menikah dengan..." ucap Maya dengan bibir bergetar.
"Ya, Queen menikah dengan laki-laki yang sama-sama kalian cintai saat kalian remaja dulu."
"Ja.. Jadi dia masih hidup? Dia tidak meninggal karena kecelakaan tragis setelah menolongku saat itu?" ucap Maya disertai perasaan yang begitu campur aduk.
"Ya, laki-laki itu masih hidup setelah kecelakaan tragis itu. Memang dia sempat mengalami gegar otak ringan yang menyebabkan amnesia disosiatif yang menyebabkan kehilangan ingatannya pada suatu trauma tertentu, terutama yang berkaitan dengan kecelakaan itu. Tapi setelah itu, kondisi kesehatannya berangsur-angsur pulih."
'Astaga, jadi ksatriaku masih hidup? Ksatriaku masih hidup?' gumam Maya sambil menutup mulutnya. Butiran bening kini pun mulai mengalir dari sudut matanya.
NOTE:
Mampir juga ke karya bestie aku ya Karya Mamak Mega Risma yang cihuy abis, dijamin ceritanya keren abis
__ADS_1