
Kak Darren pun menjauhkan wajahnya dari wajahku. Kami pun tampak begitu gugup dengan kedatangan Mama Aini yang begitu tiba-tiba. Takut, hanya itu yang aku rasakan. Dan aku yakin, Kak Darren juga memiliki perasaan yang sama sepertiku.
"Ma... Mama, sejak kapan Mama berdiri di situ?" tanya Kak Darren memberanikan diri meskipun aku bisa mendengar jelas jika bibirnya saat ini bergetar.
"Baru saja, mama baru saja di sini dan melihatmu sedang membisikkan sesuatu pada Shakila," jawab Mama Aini yang membuatku menghembuskan nafas panjangku.
'Syukurlah jika Mama Aini tidak melihat perbuatan yang dilakukan oleh kami berdua,' gumamku sambil tersenyum pada Mama Aini yang sudah terlihat rapi. 'Akh rapi? Kenapa Mama Aini sudah terlihat rapi sepagi ini?' gumamku kembali. Akhirnya aku pun mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Mama, Mama mau kemana?" tanyaku.
"Mama mau ke rumah Tante Laras. Ada oleh-oleh dari Oma dan Opa untuk mereka. Apa kalian ada yang mau ikut?"
Aku dan Kak Darren lalu saling berpandangan dan tersenyum. Ya, bagi kami pergi ke rumah Tante Laras itu bagaikan sebuah bencana karena harus bertemu dengan anak satu-satunya Tante Laras yaitu, Dennis. Melihat kami yang tertawa terbahak-bahak, Mama Aini pun tersenyum dan sudah paham dengan sikap kami yang selalu menghindar dari Dennis.
"Oke, Mama paham apa maksud kalian. Sekarang Mama pergi dulu. Darren jangan lupa antar Shakila ke kampus!"
"Iya Ma," jawabku dan Kak Darren. Setelah Mama Aini pergi, kami lalu menghembuskan nafas panjang.
"Syukurlah. Untung saja Mama Aini tidak melihatmu saat sedang menciumku, Kak. Kau memang benar-benar ceroboh!" keluhku kesal. Melihatku yang terlihat kesal, Kak Darren malah mencubit kedua pipiku lalu memeluk tubuhku.
Hangat, nyaman. Itu yang kurasakan saat ada di dalam pelukan Kak Darren, dan aku sangat menikmatinya. Meskipun kenyamanan ini hanya untuk satu minggu saja. Ya, untuk satu minggu saja. Dan setelah ini, aku tidak tahu apa yang harus terjadi pada hubungan ini. Mungkin kami sama-sama harus belajar mengikhlaskan, ya mengikhlaskan dan dan melupakan lebih tepatnya.
Aku menutup mataku sambil merasakan sentuhan lembut Kak Darren di punggungku, sesekali dia mencium puncak kepalaku. Entah berapa lama kami berpelukan, tapi untuk saat ini aku tidak mau melepaskan pelukan ini.
"Shakila! Ayo mandi, sebentar lagi kau harus berangkat kuliah. Aku akan mengantarmu!" Mendengar ucapan Kak Darren, aku hanya terdiam.
"Tidak, untuk hari ini aku sedang ingin denganmu Kak," ucapku lirih. Aku kemudian mengangkat wajahku lalu menatap wajah tampan Kak Darren.
"Tapi Shakila!"
"Kak Darren! Please!" pintaku kembali disertai dengan raut wajah mengiba.
"Please! Waktu kebersamaan kita tidak lama, Kak. Tolong ijinkan aku untuk bersamamu, ijinkan aku untuk melewati akhir kebersamaan ini. Bukankah ini akhir dari kebersamaan kita? Setelah ini, kita akan memiliki kehidupan masing-masing, kita akan melepaskan dan mengubur rasa ini. Jadi, tolong ijinkan aku untuk seutuhnya mendapatkan kebahagiaan darimu yang singkat ini."
Aku kembali mengencangkan pelukanku. Begitu pula dengan Kak Darren, dia semakin menarik tubuhku ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Maafkan aku Shakila, maafkan aku karena aku sudah berani mencintaimu. Maafkan aku yang tidak bisa memaksakan keadaan untuk terus bisa mencintai, tapi kadang kita harus tau kapan waktu yang tepat untuk berhenti karena dipaksa oleh keadaan itu sendiri."
"Tidak usah minta maaf padaku, karena terkadang kita memang harus menyerah pada keadaan," jawabku. Kak Darren lalu mengangguk. Kami pun melepaskan pelukan kami. Kak Darren kemudian memegang wajahku dan menghapus air mata yang membasahi pipiku. Begitu pula aku yang menghapus air mata di wajahnya.
Di saat itulah, tiba-tiba suara bel pun terdengar.
TETTT TETTTT
Mendengar suara bel yang berbunyi, spontan kami pun sedikit menjauh. Apalagi melihat Bibi yang kini sedang berjalan dengan begitu tergesa-gesa dari arah belakang untuk membuka pintu rumah.
Tak lama kemudian, Bibi pun mendekat ke arah kami.
"Siapa Bi?" tanya Kak Darren.
"Nona Jane," jawabnya.
"Terima kasih Bi, buatkan minum untuknya!" perintah Kak Darren.
Mendengar nama Jane disebut, aku lalu membalikkan tubuhku, bermaksud masuk ke dalam kamarku. "Mau kemana?" tanya Kak Darren.
"Tidak, untuk saat ini tetaplah di sampingku. Kemarin aku hanya sedang mengukur cintamu padaku!"
"Apa maksudmu, Kak?"
"Tidak usah banyak bertanya, ayo ikut!" perintah Kak Darren sambil menarik tanganku dan berjalan ke arah ruang tamu. Kami lalu mendekat ke arah Kak Jane yang sedang duduk dengan begitu manis di ruang tamu.
"Selamat pagi, Jane!" sapa Kak Daren.
"Selamat pagi, Darren. Selamat pagi Shakila!" sapa Kak Jane yang membuatku salah tingkah.
"Kalian memang kakak beradik yang sangat manis," puji Kak Jane yang dijawab senyum kecut oleh Kak Darren.
"Terima kasih, kami memang sangat cocok kan?" tanya Kak Darren.
"Tentu saja, kalian memang sangat cocok sebagai kakak beradik."
__ADS_1
"Bagaimana kalau sebagai sepasang kekasih?" tanya Kak Darren yang membuatku dan Kak Jane terkejut.
Aku lalu menatap Kak Darren yang saat ini tersenyum nakal sedangkan Kak Jane terlihat membuka mulutnya.
"Apa maksudmu Darren?"
"Ya, maksudku jika kami bukan sepasang kakak beradik tentu kami cocok menjadi sepasang kekasih kan?"
Mendengar jawaban Kak Darren, Kak Jane pun tersenyum. "Kau ada-ada saja, Darren," ucap Kak Jane sambil terkekeh.
"Ada perlu apa Jane? Ada perlu apa kau sampai datang ke rumah? Apa ada sesuatu yang penting? Bukankah kemarin aku sudah bilang padamu jika aku tidak bisa menerima cintamu lagi? Apa jawabanku belum cukup bagimu?" kata Kak Darren dengan begitu lantang yang membuat Kak Jene tertegun, dia pun tersenyum getir. Tak dapat dipungkiri jika saat ini Kak Jane terlihat malu apalagi ada aku yang saat ini masih berdiri di samping Kak Darren.
Sedangkan aku, aku juga tak kalah terkejutnya mendengar perkataan Kak Darren. Ternyata kemarin Kak Darren bukannya ingin bermesraan dengan Kak Jane saat menyuruhku masuk ke dalam kamar, tapi untuk menolak kembali cinta Kak Jane.
'Maafkan aku Kak, maafkan aku yang sudah salah paham padamu,' gumamku sambil melirik pada Kak Darren.
"Jane, pulanglah. Hari ini aku sedang sibuk. Jadi kumohon tolong jangan ganggu aku!" ucap Kak Darren dengan nada yang sedikit tinggi. Kulihat Kak Jane mulai bangkit dari atas sofa, namun dia bukannya pergi tapi justru mendekat ke arah kami.
Tatapan matanya terlihat kosong, sebutir air mata lolos begitu saja dari sudut matanya. Dia kemudian berdiri di depan Kak Darren.
"Enam tahun, Darren. Enam tahun lamanya, kau ada di dalam hati ini dan tidak pernah terganti. Enam tahun lamanya aku merelakan diriku menjadi wanita bodoh yang selalu mengemis cinta darimu. Tidakkah ada sedikit rasa iba darimu untuk membalas rasa cintaku padamu? Kenapa kau tidak pernah memberikan sedikit saja ruang di dalam hatimu padaku? Kenapa Darren, kenapa?" tanya Kak Jane yang saat ini sudah berurai air mata.
"Jane, tolong hentikan dramamu dan hapus air matamu. Cinta tidak akan pernah bisa dipaksakan, Jane! Cinta tidak akan pernah bisa dipaksakan!" bentak Kak Darren.
"Tapi kenapa, Darren? Kenapa? Apa kurangnya aku? Bukankah aku cantik? Aku pintar, dan aku juga menarik! Apa kurangnya aku, Darren?"
"Kau memang cantik, menarik, dan memiliki segalanya. Tapi maaf, aku tidak mencintaimu."
"Kenapa Darren? Apa tidak ada alasan lain selain itu? Apa yang membuatmu tidak bisa mencintaiku?"
Kak Darren kemudian mengatur nafasnya sambil menutup wajahnya. Setelah Kak Darren membuka matanya, dia lalu menatap tajam ke arah Kak Jane.
"Aku tidak pernah mencintaimu karena aku mencintai wanita lain. Sejak dulu, hanya ada dia yang ada di dalam hatiku, dan aku tidak pernah mencintai wanita lain selain dirinya. Hanya dia pemilik hatiku untuk saat ini dan selamanya. Apa kau mengerti, Jane? Sekarang pulanglah!"
Kak Jane saat ini hanya bisa menangis. Namun melihat kemarahan di wajah Kak Darren, dia bukannya pergi tapi malah menjatuhkan tubuhnya di atas lantai, lalu mengambil sesuatu dari tasnya. Aku yang mengamati gerak-gerik Kak Jane pun begitu terkejut melihat sebuah benda yang dikeluarkan oleh Kak Jane.
__ADS_1
'Astaga, pisau,' gumamku saat melihat Kak Jane mulai mengayunkan tangannya.