
"Mama benar-benar pernah bertemu dengan Luna?"
"Iya Shakila."
"Memangnya di mana Mama bertemu dengan Luna, Ma?"
"Di rumah Vallen, Shakila. Mama bertemu dengan Luna di rumah Vallen saat Mama dan Papa minta tolong Vallen saat sedang mencari Sachi."
"Di rumah Tante Vallen? Kenapa Luna atau Sachi bisa bertemu dengan Mama di rumah Tante Vallen?"
"Iya Sakila, Mama bertemu dengan Luna di rumah Vallen, karena Luna adalah tetangga Vallen.
"Astaga jadi Papa dan Mama pernah bertemu dengan Sachi? Kalian bertemu dengan anak kandung yang kalian cari lewat sebuah pertemuan yang tak disengaja?"
"Iya, Shakila. Kami pernah bertemu dengan Luna," ucap Delia sambil terisak. Shakila kemudian menggengam tangan Delia.
"Jadi, Mama sudah percaya kan kalau Luna adalah anak kandung Mama?"
"Mama yang sudah bodoh, Shakila. Mama yang sudah bodoh. Kami terlalu cepat mengambil kesimpulan, kami bahkan tidak melakukan penyelidikan seperti yang kau lakukan. Apalagi, saat Mama tahu golongan darah kami berbeda. Rasa ragu itu semakin besar merasuk ke dalam hati Mama."
"Iya Mama, percayalah padaku. Semua yang kukatakan itu benar. Kita tinggal menunggu hasil tes DNA itu saja agar bisa memberikan bukti pada Papa, Oma, dan Dea."
"Iya mama tahu itu, dan mama percaya padamu. Shakila, ayo kita temui Luna secepatnya!"
"Ayo Ma, tapi jangan sampai Dea tahu kalau Mama sudah tahu yang sebenarnya jika anak kandung Mama adalah Luna, bukan Dea."
"Iya Shakila, mama tahu itu. Mama juga tidak ingin menyakiti perasaan Dea karena semua ini terjadi akibat kecerobohan Mama dan Papa."
"Iya Ma."
"Ayo kita pergi sekarang, Mama sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Luna."
Shakila kemudian menganggukkan kepalanya, mereka lalu keluar dari rumah itu. Shakila tampak mengendarai mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi menuju ke rumah Luna. Namun, saat dalam perjalanan menuju ke rumah itu, tiba-tiba Delia berteriak.
"Tunggu Shakila!"
Mendengar teriakan Delia, Shakila kemudian menghentikan mobilnya dan memarkirkan mobil tersebut ke sisi jalan.
"Ada apa Ma? Kenapa tiba-tiba Mama berteriak?"
"Shakila, mama baru ingat sesuatu hal."
"Apa yang Mama ingat, Ma?"
"Saat itu, saat mama bertemu dengan Luna di rumah Vallen, Luna mengatakan pada Mama kalau kondisi kandungnya bermasalah karena memikirkan suaminya. Shakila, Mama baru ingat ternyata Luna sudah memiliki suami! Lalu bagaimana dengan perjodohan itu? Bagaimana perjodohannya dengan Devano, Shakila."
"Tenang saja Ma."
__ADS_1
"Tenang saja bagaimana Shakila? Apa yang harus kita katakan pada papamu dan Oma Fitri? Lalu bagaimana dengan pernikahanmu dengan Darren? Posisimu dan Darren akan semakin sulit, Shakila."
Shakila kmudian tersenyum, dia kemudian menatap Delia dan menggenggam tangannya. "Mama, tolong lihat aku, dan dengarkan perkataanku baik-baik, Ma. Luna memang sudah menikah, tapi dia menikah dengan Devano."
"APAAAA? Bagaimana? Bagaimana itu bisa terjadi, Shakila?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu bagaimana kisah mereka yang sebenarnya, Ma. Bu Rahma hanya mengatakan kalau Luna sudah menikah dengan Devano. Mereka juga melewati kisah cinta yang tidak mudah."
"Pantas saja, pantas saja saat itu mama pernah melihat Devano di rumah Luna. Jadi Devano suami dari Luna? Jadi mereka ada di dalam rumah yang sama?" ujar Delia lirih. Delia pun tampak meneteskan air matanya.
"Shakila, mama benar-benar tidak mengerti, mengapa kisah mereka seindah ini?"
"Iya Ma, ini sudah suratan takdir. Mereka sudah terikat perjodohan keluarga. Meskipun Luna terpisah dari keluarga kita, tapi suratan takdir itu juga yang sudah membawa dia hingga bertemu dengan jodohnya. Jodoh yang sudah terikat dalam takdir Tuhan, dan dalam ikatan keluarga."
"Iya," jawab Delia sambil terisak.
Setelah melihat Delia tampak lebih tenang, Shakila kemudian mengendarai mobilnya menuju ke rumah Luna.
****
Devano tampak memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Setelah itu, dia bergegas masuk ke rumah tersebut lalu memanggil Luna.
"Lunaaaa!"
"Neng Lunaaaa sayang, Abang datang!" panggil Devano.
"Neng Luna, Abang datang Neng!" teriak Devano.
Devano yang melihat Luna sedang sibuk di dapur, lalu mendekat ke arah Luna. "Eh Neng Luna lagi masak? Abang datang Neng!"
Namun Luna masih terdiam. "Neng kok cemberut terus sih?"
"Bukankah kau sudah tahu jawabannya Devano? Aku akan tetap bersikap seperti ini sampai kau bisa mengambil keputusan! Kau memilih tunanganmu itu atau aku dan anak yang ada di dalam kandunganku!"
Devano kemudian memdekat ke arah Luna, lalu melingkarkan tangannya di perut Luna. "Devano lepaskan aku!"
"Aku memilihmu! Aku memilih kalian!" bisik Devano di telinga Luna sambil mengecup telinga Luna.
"Aku perlu bukti!"
"Kita ke rumah Oma Fitri besok!"
"Kau tidak bohong kan?"
"Apa aku terlihat sedang berbohong? Jika aku berbohong...."
"Maka perusahaanmu akan bangkrut dan kau berubah jadi buruk rupa? Itu maksudmu?"
__ADS_1
"Ecieee, cieee, Neng Luna masih inget aja kata-kata Abang. Ecie, cieeee.... " kekeh Devano sambil terus mendekap tubuh Luna, dan menyapukan lidahnya ke leher dan pundak Luna.
"Hentikan Devano!"
"Tidak mau! Tanggung!"
"Astaga, kau manja sekali!"
"Neng... "
"Apa?"
"Kangennnn..." Luna hanya menjulurkan lidahnya.
"Astaga, Luna. Memangnya tidak boleh? Aku suamimu, Luna... "
Luna masih terdiam.
"Lunaaaa..."
"Apa?"
"Ciummm... "
Luna kemudian mengecup bibir Devano.
"Tanggung, Neng. Neng, coba tanyakan pada Dora kangen nggak sama Bang Joni? Neng Luna kan lagi hamil, biasanya Dora makin chuby, Neng. Joni kangen kepengin ketemu Dora Neng..."
"Astaga, kenapa aku harus memiliki suami gila seperti ini?"
"Tapi Neng suka kan? Ecie, cie, cie... "
Luna pun tetap mengatupkan bibirnya, meskipun ingin rasanya dia tersenyum. Rasanya memang sudah begitu lama dia tidak tidak bermesraan dengan Devano. Meladeni sifat manja Devano, dan kesal karena sifatnya yang menyebalkan, sebenarnya Luna sangat merindukan semua itu. Saat sedang termenung, tiba-tiba Devano sudah menempelkan bibirnya pada bibir Luna, lalu melahapnya dengan begitu rakus. Luna pun membalas ciuman itu, ciuman khas dari Devano yang sangat menggebu-gebu, dan tak segan beberapa kali menggigit bibirnya.
"Ecieee, cieee, kangennn nih yeee," ucap Devano setelah melepaskan ciumannya. Luna pun ikut tersenyum simpul. Dia memang begitu merindukan semua yang ada pada diri Devano.
"Lunaaaa...."
"Apa... "
"Gelli-gellian..." ucap Devano sambil tersenyum genit. Namun, belum sempat Luna menjawabnya, tiba-tiba suara bel pun terdengar.
TETTT TETTTT
"Mengganggu saja!" gerutu Devano.
Sementara Shakila dan Delia yang berdiri di depan pintu, tampak begitu cemas menunggu pintu itu terbuka.
__ADS_1
NOTE:
Bonus nih, othor kasih adegan uwu Devano sama Luna, biar ga kebawa tegang sama hubungan mereka di novel sebelah 😅😅😅