
Perlahan kubuka mataku, aku bahkan tidak tahu berapa lama mataku terpejam. Tubuhku kini rasanya masih terasa begitu lemas.
Aku pun begitu terkejut saat melihat sekelilingku setelah mata ini sepenuhnya terbuka. 'Dimana aku?' gumamku saat melihat sekelilingku yang tampak berwarna putih.
'Apakah aku ada di rumah sakit? Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku? Astaga, aku memang benar-benar ada di rumah sakit. Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku sampai aku ada di sini?' gumamku kembali sambil menatap cairan infus yang menetes di sampingku.
Aku kemudian melihat ke arah jendela, sudah gelap. Sepertinya ini sudah malam. Aku lalu menatap ke arah nakas yang ada di samping kiri brankar tempat aku tidur dan melihat ponselku yang ada di atas nakas.
'Mama Aini memang sangat baik, dia bahkan membawakan ponselku saat ada di rumah sakit seperti ini,' batinku dalam hati.
Perlahan, aku pun menggerakkan tanganku dan mengambil ponselku yang ada di atas nakas. Aku pun begitu terkejut saat melihat layar di ponselku yang sudah menunjukkan tanggal 14.
"Astaga, ini sudah tanggal 14? Jadi aku sudah pingsan selama tiga hari?" ucapku lirih.
"Oh, sebenarnya apa yang telah terjadi padaku? Kenapa aku bisa sampai seperti ini? Tidak sadarkan diri selama tiga hari?" ucapku kembali.
"Kau sudah sadar, Shakila?" sapa sebuah suara yang tiba-tiba mengagetkanku. Aku lalu mengalihkan pandanganku ke arah samping kananku. Tiba-tiba aku melihat seorang wanita tua yang terlihat begitu anggun sedang tersenyum padaku.
'Siapa wanita itu? Sepertinya aku baru pernah melihatnya,' gumamku sambil menelan salivaku dengan kasar. Rasa cemas, kini pun mulai merasuk ke dalam hatiku apalagi saat melihat wanita itu yang kini berjalan mendekat ke arahku.
"Kau tidak usah takut sayang, aku bukanlah orang jahat. Saat ini Aini sedang pulang ke rumah untuk mengurus Roy dan Tristan, jadi untuk sementara aku yang menunggumu di rumah sakit ini. Nanti jika Aini sudah selesai, dia juga akan kembali lagi ke rumah sakit ini. Perkenalkan, aku salah satu keluarga Mamamu yang berasal dari Jogja, namaku Fitri. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Oma Fitri. "
"Oma Fitri?" tanyaku. Wanita tua yang menyebut namanya dengan nama Fitri itu pun mengangguk.
"Ya, aku Oma Fitri," jawabnya kembali. Namun, di saat itu juga setetes air matanya lolos begitu saja dari sudut matanya membasahi wajah keriputnya yang masih terlihat cantik.
"Kenapa Oma menangis?" tanyaku kembali.
"Tidak apa-apa, Nak. Tidak apa-apa. Aku hanya tidak menyangka bisa bertemu denganmu kembali setelah kejadian itu. Kejadian yang merenggut kebahagiaan keluargaku, dan saat terakhir aku bertemu denganmu ketika usiamu baru menginjak usia dua tahun. Shakila, tahukah kau jika aku sangat merindukanmu?" ucapnya kembali disertai air mata yang mulai berlinang.
__ADS_1
"Oma, kenapa Oma menangis? Kenapa Oma bersedih? Tersenyumlah, apa Oma tahu jika senyuman Oma sangat manis, meskipun Oma sudah tidak lagi muda, tapi Oma masih terlihat sangat cantik. Apalagi jika Oma tersenyum."
"Tapi sudah tidak bisa secantik dirimu," sahut Oma Fitri yang membuatku tersenyum.
"Kau juga sangat cantik Shakila sayang. Apa kau tahu, kau membuat Oma begitu sedih saat mendengar kondisimu seperti ini. Apa kau tahu apa yang dikatakan oleh dokter saat orang tuamu membawamu ke rumah sakit? Kau tidak memiliki penyakit apapun Shakila, kau hanya mengalami tekanan dan derita batin yang amat dalam. Kau sangat stres hingga membuat kondisimu begitu menurun. Bahkan ada salah seorang dokter yang mengatakan jika kau seperti sudah tidak memiliki harapan hidup. Sebenarnya apa yang telah terjadi, Shakila? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Mendengar perkataan Oma Fitri, hatiku pun terasa begitu sesak. Ingin rasanya aku menceritakan segala gundah dan lara di dalam hatiku, namun kuurungkan niatku karena aku takut, aku pasti akan disalahkan, karena rasa cinta ini sebuah rasa yang salah.
"Tidak apa-apa, Oma. Aku hanya merasa kehilangan dengan kepergian Kak Darren. Sejak kecil kami hidup bersama, kami begitu akrab dan tidak pernah terpisahkan. Hingga akhirnya, Kak Darren mengambil keputusan untuk melanjutkan studinya ke Australia. Mungkin aku merasa sangat kehilangan. Jadi kondisiku menurun seperti ini."
"Jadi kau kehilangan Darren? Anak pertama Roy dengan Diana?"
"Ya, dia kakakku."
Kulihat sebuah senyuman pun tersungging di bibir Oma Fitri. "Kenapa Oma tersenyum?" tanyaku.
"Apa kau menyukai laki-laki itu?"
Jantungku pun seakan berhenti berdetak saat mendengar perkataan Oma Fitri. "Tidak Oma, aku tidak mungkin menyukai Kak Darren."
"Kau tidak usah berbohong Shakila, kondisimu sampai seperti ini karena memikirkan seorang lelaki, apa itu namanya jika bukan cinta?"
"O... Oma, tidak Oma. Aku tidak mungkin mencintai Kak Darren karena dia adalah kakakku. Aku tidak mungkin mencintai kakakku sendiri," kilahku.
"Kakakmu? Darren kakakmu? Apa kau yakin?"
"Oh begini, Kak Darren adalah anak dari Papa Roy dan Almarhum Mama Diana, sedangkan aku anak dari Papa Roy dan Mama Aini, kami memang bukan saudara kandung. Hanya saudara tiri, kami memang berbeda ibu tapi ayah kami sama yaitu Papa Roy."
Mendengar perkataanku, Oma Fitri pun hanya tersenyum kecut. "Apa kau yakin? Bagaimana jika Darren bukanlah kakakmu. Bukan kakak kandung ataupun kakak tirimu?"
__ADS_1
'Astaga, kenapa Oma Fitri sampai berkata seperti itu?' gumamku.
"Oh.. Emh, Oma, sebenarnya apa yang Oma katakan?" tanyaku karena merasa penasaran dengan perkataan Oma Fitri. Namun, saat akan membuka bibirnya, tiba-tiba pintu kamar perawatanku pun terbuka.
CEKLEK
Setelah pintu itu terbuka, kulihat wajah cantik Mama Aini yang kini berjalan menghampiriku. "Kau sudah sadar, Shakila?" tanya Mama Aini sambil memeluk dan menciumku.
"Sudah, Ma," jawabku.
"Tante Fitri, terima kasih banyak," ucap Mama Aini.
"Sama-sama Aini. Sudah sepantasnya aku ada di sini, dan mungkin sudah sepantasnya Shakila saat ini pulang bersamaku," ucap Oma Fitri yang membuatku terkejut.
'Pulang bersama dengan Oma Fitri? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud dari perkataan Oma Fitri? Kenapa semuanya terasa begitu penuh misteri?' gumamku kembali sambil menatap Mama Aini yang kini terlihat salah tingkah setelah mendengar perkataan Oma Fitri.
"Tante, kita bisakah kita bicara sebentar?" kata Mama Aini. Oma Fitri pun tampak menganggukkan kepalanya.
"Shakila, beristirahatlah. Ada sesuatu yang ingin Mama dan Oma Fitri bicarakan." Aku pun menganggukkan kepalaku.
Mereka kemudian duduk di sofa yang terletak di pojok ruang perawatan ini. Sesekali, aku mengamati perbincangan mereka yang terlihat begitu serius.
'Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Ah sepertinya itu bukan urusanku,' gumamku.
Aku kemudian melihat ke arah luar jendela, menatap bintang yang bertebaran. 'Kak Darren, kau memang telah jauh di sana, tapi aku yakin, kau pasti melihat langit yang sama denganku. Oh bintang di langit malam, tolong katakan pada pemilik hatiku jika aku akan belajar untuk merelakan. Aku akan merelakan dirinya seikhlas daun yang gugur dari tangkainya. Seikhlas awan yang merelakan hujan membasahi bumi, karena hanya dengan keikhlasan aku mampu untuk bertahan hidup. Dan, alasanku bertahan hidup itu karena ingin melihat kembali senyuman di wajahmu,' batinku hingga tanpa terasa, air mata kembali mengalir membasahi wajahku.
NOTE:
Ada yang inget ga Oma Fitri itu emaknya siapa? Yang jelas bukan emaknya Mak Weny yak 😂😂😂
__ADS_1
Idihhhh 🤣🤣🤣