
Hari Minggu Pagi...
Dea tampak mematut penampilannya di depan cermin. Tubuhnya kini terbalut dress floral berwarna pink, wajahnya terlihat begitu segar dengan sapuan make up tipis di wajahnya, sedangkan rambutnya kini dia gerai begitu saja, dengan ujung rambutnya dia ikalkan dengan menggunakan catok curly.
"Perfect," ujarnya saat melihat penampilannya di cermin.
Di saat itulah, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
CEKLEK
Sosok wanita paruh baya pun masuk ke dalam kamar tersebut. "Dea!"
"Ibu Panti," jawab Dea sambil tersenyum.
"Kau cantik sekali, Nak? Apa kau sedang jatuh cinta?"
Dea pun tampak malu-malu, seutas senyum tipis pun tersungging di bibirnya. "Jadi benar kau sudah jatuh cinta? Hingga pagi-pagi sudah membuatmu berdandan seperti ini?"
"Tidak Ibu Panti, aku sedang tidak jatuh cinta pada siapapun."
"Kalau kau tidak sedang jatuh cinta, lalu untuk apa kau pagi-pagi sudah berdandan secantik ini?"
"Ibu Panti, bukankah tempo hari sudah kuceritakan jika bosku akan mengunjungi Panti ini?"
"Mengunjungi Panti ini, atau mengunjungimu Dea? Hahahaha."
"Ibu Panti bisa saja."
"Eh, ngomomg-ngomong, bosmu sudah memiliki istri apa belum, Dea?"
Dea pun terdiam. "Entahlah, sepertinya belum."
"Belum? Sangat aneh, di usia matang seperti Kenzo jika dia belum memiliki seorang istri."
"Emhhh, sepertinya begitu. Selama satu minggu aku bekerja dengannya, dia juga belum pernah membawa seorang wanita pun datang ke kantor."
"Jadi, Kenzo sepertinya memang belum memiliki seorang istri?"
"Ya, sepertinya belum."
"Jadi, itu alasanya kau berdandan cantik seperti ini? Kau tertarik pada Kenzo, kan Dea?"
"Ah, Ibu Panti bisa saja. Aku sadar siapa diriku, aku dan Tuan Kenzo berbeda."
"Jangan berkata seperti itu, Dea. Jika benar Kenzo belum memiliki seorang istri, tidak ada yang mustahil jika suatu saat nanti dia jatuh cinta padamu."
"Ibu Panti bisa saja, aku sadar siapa diriku sebenarnya Bu."
"Memang kau siapa, Dea? Kau adalah gadis tercantik dan termanis yang pernah kutemui."
"Sekaligus bayi yang orang-orang temukan tergeletak di dalam gerbong kereta api kan, Bu?"
"Stttt, jangan berkata seperti itu lagi, Dea. Ingat, kau istimewa bagiku."
"Tapi tidak bagi kedua orang tuaku."
"Setiap anak pasti istimewa dan memiliki tempat tersendiri di hati orang tuanya, Dea. "
"Tidak Bu, jika aku istimewa, tidak mungkin mereka membuangku begitu saja."
"Pasti mereka memiliki alasan untuk itu, Dea. Tidak ada yang tahu bagaimana kondisi psikologis orang lain. Terkadang mereka menyembunyikan duka dengan tawa dan senyuman di bibir mereka. Bahkan ada pepatah yang mengatakan jika orang yang paling kencang saat mereka tertawa, itu adalah orang yang saat itu sedang menyembunyikan luka yang begitu dalam di hatinya."
Dea pun terdiam. "Apapun yang terjadi di masa lalu, aku tetap membenci kedua orang tuaku," jawab Dea. Saat dia baru saja menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba suara klakson mobil pun terdengar.
__ADS_1
TIN TIN TIN
Dea yang mendengar suara klakson mobil, menyunggingkan senyum di bibirnya. "Kau dengar itu, Dea. Kenzo sudah datang! Jangan bersedih lagi. Apa kau mau wajah cantikmu itu terlihat sedih di depan Kenzo?" ucap Ibu Panti yang membuat Dea tersipu malu.
"Ayo kita keluar, Bu!"
"Iya Dea."
Mereka kemudian keluar dari kamar Dea lalu berjalan ke arah ruang tamu, dan menyambut kedatangan Kenzo yang saat ini keluar dari mobilnya
DEG
Jantung Dea pun seakan berhenti berdetak saat melihat Kenzo yang saat ini terlihat begitu tampan dan muda yang mengenakan kaos berwarna putih disertai rangkapan hem monochrom dengan celana jins berwarna biru tua, dan kaca mata hitam yang bertenger di atas hidungnya.
"Dia Kenzo?" tanya Ibu Panti. Dea pun menganggukan kepalanya. "Dia tampan sekali, Dea. Pantas jika kau jatuh cinta padanya."
"Aku tidak jatuh cinta padanya, Bu. Aku sadar siapa diriku yang sebenarnya."
"Terserah kau saja, tapi sorot matamu menunjukkan jika kau sangat mencintainya."
"Ibu Panti bisa saja!"
Kenzo tampak berdiri di belakang mobil, dan terlihat menunggu sesuatu. Senyum pun tersungging di bibirnya saat melihat sebuah mobil yang juga berhenti di depan Panti tersebut.
Mobil yang ada di belakang Kenzo, ternyata membawa berbagai barang-barang yang akan Kenzo berikan pada Panti tersebut. Anak buah Kenzo lalu menurunkan barang-barang tersebut, dan membawanya ke dalam panti.
Setelah barang-barang yang akan Kenzo berikan pada Panti tersebut sudah ada di dalam Panti, Dea kemudian mengamati Kenzo yang saat ini sedang berjalan ke arah samping kiri mobil.
'Apa Tuan Kenzo tidak datang sendirian? Apa dia datang bersama dengan Nyonya Amanda?' batin Dea.
Tak berapa lama, tampak Kenzo berjalan dengan menggandeng tangan seorang wanita, dan tampak mendorong sebuah stroller.
Di dalam stroller tersebut, tampak bayi berusia satu setengah tahun sedang tertidur dengan begitu lelap. Dea hanya bisa menatap dengan tatapan kosong seorang wanita yang sangat cantik di samping Kenzo. Wanita cantik dengan potongan rambut loose wavy serta mengenakan jumpsuit warna hijau lumut dan kaca mata hitam yang sama dengan Kenzo.
"Dea, tegarkan hatimu. Ternyata dia tidak seperti yang awalnya kau pikirkan?"
"Aku tidak apa-apa, Bu. Bukankah sudah kukatakan jika aku tidak memiliki perasaan apapun pada Tuan Kenzo?"
"Benarkah? Tapi matamu mengatakan yang sebaliknya."
"Ibuuu Pantiiii," rengek Dea.
Di saat itulah, Kenzo tepat berhenti di hadapan Dea. Wanita cantik tersebut, lalu tersenyum.
"Selamat Pagi, Dea. Selamat Pagi Ibu Panti, perkenalkan saya Kenzo, ini istri saya Cleo, dan ini anak kami Shane," ujar Kenzo saat mengulurkan tangannya pada Ibu Panti tersebut.
'Istri? Ja-jadi benar Tuan Kenzo sudah memiliki istri? Jadi Tuan Kenzo sudah menikah dan memiliki keluarga kecil? Jadi selama ini aku sudah jatuh cinta pada seorang laki-laki beristri?' Lalu salahkah aku jika aku jatuh cinta pada seorang pria beristri?' batin Dea.
NOTE:
Akun medsos othor:
Fb: Weny Hida
Ig: queenweny
Mampir juga ya ke karya bestie aku, novelnya Kak Kai Sora, dijamin ceritanya keren dan bikin baper deh 😭😍
Blurb:
Sementara itu di Roof top, Asha dan Yara berusaha menenangkan Evelyn yang sudah menumpahkan tangisnya saat sampai di sana.
__ADS_1
"Lyn jangan nangis dong, kita juga ikut nangis nanti," bujuk Yara.
"Kalau emang Rafael tulus cinta sama Lo, dia nggak mungkin belain perempuan itu," kesal Asha.
"Terus gue harus gimana Sha, hikss ... hikss ...,"
"Udah Lyn, lupain dia aja deh. Sebelum Lo sama dia jadi nikah, gue nggak mau Lo tersiksa sama dia Lyn," ucap Asha.
"Jadi maksudnya Lo Sha, Evelyn harus batalin pernikahan mereka gitu?" tanya Yara memastikan.
Asha pun mengangguk, "Untuk apa di pertahanin kalau kelakuannya gini, belum apa-apa udah belain perempuan lain. Padahal dia juga liat kalau itu cuman akal-akalan Monica,"
Evelyn pun terdiam mendengar saran dari sahabatnya itu, jujur dia juga tau jika sang Ayah tidak menyukai Rafael. Tapi harus bagaimana? Evelyn sudah terlanjur mencintai Rafael, dia tak mau kehilangan Rafael.
Asha dan Yara yang memperhatikan Evelyn melamun segera menyadarkannya dari lamunan.
"Lyn! Lo nggak papa kan?"
Suara Yara membuyarkan lamunannya, "Ha, nggak papa kok." ucap Evelyn.
"Bener ngga papa," ucap Asha memastikan jika Evelyn dalam kondisi yang baik-baik saja.
"Santai Sha, Ra, gue nggak papa kok, beneran,"
"Yaudah kalau gitu, kita bertiga nunggu di sini aja sampai jam pulang, males gue ketemu sama tuh nenek lampir,"
Evelyn hanya tersenyum tipis, akhirnya mereka bertiga pun memutuskan untuk berada di Roof top sampai jam pulang. Bisa saja mereka bertiga langsung pulang, tapi jika Evelyn pulang dengan mata merah dan sembab, itu akan membuat Ayahnya cemas.
Saat mereka bertiga sedang bersantai sambil menunggu jam pulang, tanpa mereka bertiga sadari ada seorang perempuan yang mendekat ke arah mereka.
Perempuan itu berjalan dengan santai sambil menampilkan senyum tipis di bibirnya, perempuan tersebut mendekat ke arah Evelyn dan yang lainnya.
"Evelyn!" panggilnya.
Merasa namanya dipanggil, Evelyn pun menoleh ke arah sumber suara tersebut, begitupun dengan Yara dan Asha.
"Monica," gumam Evelyn.
"Bisa bicara Lyn," ucap Monica.
"Mau ngapain lagi si lo ke sini, belum puas udah bikin Evelyn sama Rafael berantem, ha?" ucap Asha.
"I .. itu ...,"
"Udah deh mending Lo pergi dari sini, mau muntah gue liat muka Lo," usir Asha.
_'apa tujuan Monica datang ke sini, ingin meminta maaf atas kejadian tadi atau hanya ingin menambah sakit hati Evelyn. Sekarang aku ragu dengan sifatnya, entah bisa dipercaya atau tidak,'_ gumam Yara.
"Lyn bisa tidak?" tanya Monica lagi.
"Gue bilang ngga ya ngga, Lo ngerti bahasa manusia ngga sih," bentak Asha.
"Sha udah, ngga enak nanti kalau di denger orang lain," ucap Yara.
"Bicara di sini saja," ucap Evelyn dingin.
"Nggak bisa Lyn, harus bicara berdua,"
"Kalau tidak bisa disini, maka pergilah!"
"Cukup Evelyn!" ucap seseorang.
"Rafael?"
__ADS_1