Bed Friend

Bed Friend
Tuan Dingin


__ADS_3

"Kak Vansh?" tanya Sharen sambil mengerutkan keningnya.


"Berikan saja tanganmu padaku!"


Sharen lalu menempelkan tangannya pada tangan Vansh. Vansh kemudian menggenggam tangan itu sambil menggosok-gosokkan tangannya.


"Bagaimana? Ini jauh lebih baik kan?" tanya Vansh. Sharen pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih banyak, Kak."


"Hai kalian mesra sekali!" teriak sebuah suara.


"Mungkin kita terlalu mengganggu mereka, sebaiknya kita biarkan saja mereka masuk ke dalam kamar," sahut yang lain.


"Iya Sharen dan Vansh, sebaiknya kalian masuk ke dalam kamar saja dan beristirahatlah!" timpal Inara.


"Akhirnya," bisik Vansh pada Sharen yang membuat Sharen tersenyum.


"Terimakasih banyak Ma," jawab Vansh. Mereka lalu bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan ke arah tangga kemudian masuk ke dalam kamar Sharen.


"Huftttt, fiuhhhh!" ucap Vansh sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sharen pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Vansh.


"Kau lega, Kak?" tanya Sharen.


"Ya, ternyata saudaramu sangat cerewet Sharen."


"Mereka juga merepotkan kan?" tambah Sharen yang membuat Vansh tersenyum.


"Maaf, Kak. Maaf jika kami membuatmu dalam posisi sulit seperti ini."


"Tidak apa-apa, Sharen. Aku sudah mengambil keputusan untuk menolongmu dan kedua orang tuamu, jadi aku harus menerima semua konsekuensi atas keputusan yang aku ambil."

__ADS_1


"Terimakasih banyak, Kak. Kau baik sekali,"


"Sama-sama Sharen, ini sudah malam. Sebaiknya kau beristirahat, aku tidur di sofa saja," ucap Vansh sambil bangkit dari atas ranjang.


"Jangan Kak, kau tidur di sini saja. Kita bisa menaruh guling sebagai pembatas, sofa itu sempit, sedangkan tubuhmu sangat kekar, badanmu bisa pegal-pegal, Kak."


"Jadi kau percaya padaku?"


"Apa maksudmu?"


"Apa kau yakin aku tidak akan berbuat hal yang macam-macam padamu?"


"Haruskah aku curiga dengan orang sebaik dirimu?" jawab Sharen yang membuat Vansh tersenyum.


"Terimakasih banyak, Sharen."


Mereka kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan menggunakan guling sebagai pembatas.


"Ada apa Sharen?"


"Bolehkah aku bertanya padamu?"


"Ya, tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Bagaimana hubunganmu dengan Nathan?" tanya Sharen sambil menatap langit-langit kamar. Mendengar perkataan Sharen, Vansh lalu melihat ke arah samping kirinya dan melihat Sharen yang tengah meneteskan air matanya.


"Sedalam itukah hingga kau tidak bisa melupakan Nathan meskipun hanya sebentar saja?"


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu padamu, padahal kau sudah berulangkali menasehati aku agar berjuang untuk melupakan masa laluku."


Vansh pun tersenyum. "Kami sangat dekat, aku sangat menyayangi Nathan seperti saudara kandungku sendiri, apalagi dia hampir seumuran dengan adikku, Laurie. Sejak kecil, kami sudah tumbuh bersama. Saat itu aku juga mengenal Kenzo yang sudah diasuh oleh Tante Calista."

__ADS_1


"Oh, sudah cukup Kak. Jangan diteruskan lagi, rasanya semakin sakit. Aku memang sangat pengecut dan bodoh, tadi aku bertanya tentang dirinya tapi saat kau menceritakan tentang dia, aku merasa sangat sakit."


"Lebih baik sekarang kau tidur, ini sudah malam."


Sharen lalu menganggukan kepalanya, sedangkan Vans tampak masih menatap langit-langit kamar. Dia kemudian mengambil ponselnya lalu mengutak-atik nomor ponsel seseorang.


...***...


"Selesai!" teriak Maya saat mengeluarkan sekotak kue dari dalam oven sambil mencium wangi brownies yang ada di tangannya.


"Tuan Dingin itu pasti tidak akan berani mengejekku lagi saat memakan kue yang sangat lezat ini!"


Maya lalu menaruh fudge brownies itu di atas nampan sebelum dimasukkan ke dalam kotak mika. Dia kemudian duduk di meja makan lalu membuka akun media sosial miliknya dan mencari seseorang di akun media sosial itu. Beberapa saat kemudian, di layar tersebut, tampak sebuah foto dua orang wanita berseragam putih biru terlihat sedang berpelukan disertai tawa di bibir mereka masing-masing.


"Queen, aku benar-benar tidak menyangka jika kau telah tiada meninggalkanku. Queen, tahukah kau jika aku sangat menyayangimu, saat itu aku memang sangat kesal padamu karena kau telah berbuat curang di belakangku. Aku memang tidak meminta ksatriaku bisa menyukaiku karena aku sadar siapa aku dan siapa dirinya. Aku juga tidak butuh pengakuan, tapi setidaknya aku hanya ingin kejujuran darimu, Queen. Tapi sayangnya setelah kecelakaan itu kau juga menghilang, dan setelah itu, aku tidak tahu ksatriaku masih hidup atau sudah meninggal."


Air mata kini mulai membasahi wajah Maya. 'Mungkin seharusnya aku membuang rasa pengecut di dalam hatiku dan mencari keberadaan ksatriaku. Besok aku akan pergi ke rumah Queen dan menyelidiki tentang semua ini. Tuhan, mungkinkan masa lalu yang kembali terbuka itu sebagai petunjuk darimu agar aku mengikuti jalan takdir ini? Terlepas bagaimana akhirnya kisah yang tertulis di penghujung cerita, meskipun hanya rasa kecewa dan kehilangan adalah jawabannya, aku seharusnya tidak menjadi manusia pengecut yang mencintainya dalam diam,' gumam Maya sambil menghapus air matanya.


Lamunan Maya pun buyar saat mendengar suara ponselnya yang berbunyi. Dia kemudian mengambil ponsel itu dan melihat sebuah nama di layar ponsel itu yang membuatnya berteriak. "Tuan Dingin!" teriak Maya. Dia kemudian mengangkat panggilan itu.


[Halo Tuan Dingin!] jawab Maya.


'Tuan Dingin?' gumam Vansh di ujung sambungan telepon sambil mengerutkan keningnya.


NOTE:


Maaf beberapa hari ini, othor up nya sedikit ga lancar ya karena kehidupan RL othor yang lagi sibuk banget di akhir tahun pembelajaran sekolah karena tugas othor sebagai ketua organisasi paguyuban sebuah sekolah.


Mampir juga ya ke karya bestie aku kisah horornya Mak Chika Ssi dijamin ceritanya keren dan seru abis deh.


__ADS_1


__ADS_2